DIARY ZARA

DIARY ZARA
58. Akhir berarti Awal



"Jarel Ranking 1." Zara mengirim kan foto Jarel memegang buku rapotnya ke Ditto.


"Wih pinter, tanyain mau hadiah apa? " Jawab Ditto.


"Rekreasi sekolah Rencana berangkat rabu,15 februari


Pilihan 1.Taman safari 370rb/orang



Park and zoo dan Lembang wonderland 270rb/orang." Zara mengirimkan screenshoot pesan Whats app dari sekolah Jarel ke Ditto.



"Februari ada wisata dari sekolah. Kaos seragamnya harga 120 ribu. " Zara kirim kan foto desain kaos seragaman untuk wisata lembang.


"Lah kan cuman berdua. " Jawab Ditto.


"Iya maksudnya model kaos nya kaya gitu. kalo ga ke taman Safari berarti ke Lembang." Jelas Zara.


"Wuhh kemarin dimintain pinjem ga ada wey, bantu ingetin Si bapa yang ambil mobil tuh. Biar aku bisa pinjem ke Bank. Ntar aku transfer 500 ribu. " Jawab Ditto.


"Astagfirullah si Ditto bener-bener ya, masa buat ongkos ke lembang aja harus pake pinjaman ke bank, emang nya uang gaji nya kemana, abis di pake pacaran kali ya. Masih aja ngurusin mobil." Pikir Zara.


"Udah di tanya ke si Bapak nya, belum bales. Kalo ada terus mau ngasih boleh, nggak juga ga apa-apa hanya sekedar informasi aja dari Zara." Jawab Zara.


"Mana si Jarel nya? Insya Allah ada." Tanya Ditto.


Zara kirim kan foto Jarel, kebetulan Zara dan Jarel baru aja mau berangkat ke rumah sakit jemput ibu pulang kontrol.


"Mau ngapain ke rumah sakit. " tanya Ditto.


"Jemput nenek. " Jawab Jarel dengan Voice note.


"Oh iya Hati-hati. " Ditto membalas.


Zara dan Jarel berangkat ke rumah sakit sore ini, jemput ibu pulang kontrol. Ibu sih tadi berangkatnya pagi sendiri. Berhubung pulang nya malam, makanya aku jemput ibu aja pulang nya bisa pesan taksi online.


"Mamah aa mau makan laper. " Jarel minta makan sebelum sampai di rumah sakit.


"Iya nanti kita ke nenek dulu ya. " Jawab Zara.


"Ok. " Jarel pun menjawab.


Zara dan Jarel sampai di lobi rumah sakit langsung menuju lantai 4 tempat ibu kontrol di poli spesialis Jantung.


"Bu udah di panggil belum? " Zara menghampiri ibu yang duduk di kursi tunggu bersama pasien yang lainnya, menunggu panggilan dokter.


"Belum, masih lama kayanya. Tadi sih dokter datangnya telat dari jam praktek biasanya." Jelas Ibu.


"Oh gitu. " Jawab Zara.


"Mamah makan. " Jarel meminta makan lagi.


" Ya udah makan dulu aja, masih lama ini antrian dokter nya juga. " Jelas ibu pada Zara.


"Ya udah Zara kebawah dulu ya bu, cari makan. " Jawab Zara.


"Iya. " Ibu menjawab.


"Aa mau makan apa? " Tanya Zara pada Jarel.


"Nasi padang. " Jawab Jarel.


"Ok. " Akhir-akhir ini Zara baru tau kalo Zara ternyata suka sekali makan Nasi padang padahal dulu sih Zara ga suka banget dengan yang namanya Nasi padang. Entahlah ya, mungkin karena keadaan berubah, makanan favorit juga jadi berubah sekarang.


Zara menuju rumah makan padang yang terkenal enak di depan Rumah sakit. Mungkin gara-gara kemarin pas ibu dirawat di rumah sakit ini Zara makan nya nasi padang ini, eh jadi nya keterusan suka sampai sekarang.


Jarel mengirimkan foto selfie nya ke Ditto ketika makan.


"Makan di mana? " jawab Ditto.


"Nasi padang sebrang rumah sakit. " jawab Zara.


"Oh iya. " Jawab Ditto.


Benar saja Beres kontrol dokternya ternyata jam 9 malam. Zara langsung pesan taksi online langsung ke rumah. Selalu seperti itu, tapi enak juga sekarang. Zara tidak perlu repot-repot jadi sopir lagi. Tinggal pesen udah langsung duduk manis aja, turun tinggal bayar. Tidak perlu pikir Cicilan mobil, pajak mobil, service mobil. Belum lagi biaya biaya tak terduga yang harus dikeluarkan saat berkendara selalu aja harus pegang uang. Apalagi bahaya kecelakaan di jalan, selama Zara nyetir mobil sendiri Zara tidak pernah berfikir akan hal seperti itu. Sekarang Alhamdulilah lebih tenang meskipun mobilnya menghilang, jadi milik orang lain sekarang.


"Ribet ih urusan Mobil. " Keesokan hari nya Ditto mengirimkan pesan.


"Kenapa emang. " apalagi sih Zara males juga sebetulnya balas pesan Ditto.


"Mobil masih belum dilunasin, aku masih ditelpon pihak leasing." Jawab Ditto.


"Ya udah ga usah diangkat aja telponnya." Jawab Zara.


"Ga usah diangkat gimana? Nanti aku kirim KTP ke rumah, buatin surat kuasa pake materai. Biar nanti si bapak nya ambil ke rumah. Ribet, tadi dia ke leasing tapi ngelunasin yang lain bukan punya ku. Nanti aku kasih KTP bikinin surat kuasa. Kamu yang urus. " Jelas Ditto.


"Kemaren aku udah telpon si bapak nya, katanya udah ngobrol sama kamu. " Jelas Zara.


"Kan aku udah ga di Sukabumi sekarang, jadi pake surat kuasa aja. " Jelas Ditto.


"Emang Pindah?" Tanya Zara.


"Pindah, ga punya uang. " Jawab Ditto.


"Pindah sama ga punya uang apa urusannya, bukannya dia punya gaji." Pikir Zara.


"Oh. " Jawab Zara singkat.


"Bikinin surat kuasa." Perintah Ditto.


"Buat ngambil BPKB bukan? " Tanya Zara.


"Iya nanti KTP nya aku kirim ke rumah." Jawab Ditto.


" Iya buat pelunasan, kan harus ada KTP asli. " Jelas Ditto.


Karena kredit mobil dulu atas nama Ditto, jadi KTP yang dibutuhkan KTP nya Ditto, dan sekarang Ditto pindah kerja, makanya KTP nya harus di kirim paket aja.


"Emang sekarang kamu dimana? " Tanya Zara.


"Di Bogor. " Jawab Ditto.


"Kenapa di Bogor juga? " Tanya Zara.


Ga ada kota lain apa ya, Rangga ke Bogor dan Ditto juga ke Bogor.


"Ga apa-apa. " Jawab Zara.


Tidak pernah menyangka sebelumnya kalo Ditto pindah dari tempat kerja nya. Melihat Jabatan nya yang sudah tinggi, gaji besar. Untuk apa pindah ke tempat lain. Entah apa yang menjadi alasan dia keluar dari tempat kerja nya dulu, Zara kira Ditto masih ada di Sukabumi ternyata pindah ke Bogor.


Begitu juga Rangga, tidak pernah menyangka dia akan meninggalkan SR, padahal Rangga orang kepercayaan A Fadli, saudara juga. Tanggung jawab kerjaan nya pun sepertinya banyak. Entah apa yang membuatnya memutuskan untuk meninggalkan SR setelah Zara rasa SR lebih baik sekarang, lebih rapi juga penataan barangnya. Entah lah apa alasan dia keluar dari SR Zara tidak tau.


"Keterimanya di sini, ke tempat lain harus pake uang. " Jawab Ditto.


Ditto aja yang ada pengalaman kerja di perusahaan besar susah dapet kerja baru apalagi Rangga yang paklaring nya mungkin dari Grosir.


"Oh ok. " Jawab zara.


"Mau pinjem ke bank ga bisa, jadinya pindah. " Jawab Ditto.


"Bukannya keluar dapet uang pesangon? " Tanya Zara.


"Iya buat pinjol. " Jawab Ditto.


"Oh gitu. Jadinya lunas? " Tanya Zara.


"Pusinglah, makanya pindah. " Jawab Ditto.


"Apanya yang jadi pusing ya, gaji gede pengeluaran cuman buat sendiri. Mana ada dia ngasih uang jajan buat Jarel, tapi masih aja pusing, Aneh." Pikir Zara.


"Ga akan pusing kali." Jawab Zara.


"Itu rumah gimana? " Tanya Ditto.


"Dibaya pake uang jajan jarel gitu? " Tanya Zara.


"Ya duit mobil siniin, DP sama cicilan. " Jawab Ditto.


Hahaha.. bisa bisanya dia minta uang DP sama cicilan mobil kembali. Siapa suruh dia selingkuh, kalo ga selingkuh masa depan ku dan Ditto ga akan berantakan seperti ini. Senakal nakal nya dia diluar kalo Ditto tidak menggugat cerai Zara, rumah tangga ini tidak akan hancur seperti ini, Semua terjadi diluar rencana. Jika dia nakal pun jika dia kembali ke rumah Zara tidak akan tau apa yang dia perbuat di luar. Tapi mungkin Allah memang baik pada Zara, sehingga lebih baik rumah tangga ini hancur dari pada suami istri ini saling tersakiti, memang seharusnya jalan terbaik nya adalah berpisah.


"Duit mobil itu hasil over kredit ada 12 juta, udah aku pake makan dari bulan Juni sampe Desember aja Jarel udah abis 6 juta. " Jelas Zara.


"30 juta duit mobil. " Jawab Ditto.


"30 juta yang mana. Mobilnya juga udah ga ada." Pikir Zara.


"Lah itu 30 juta. Sekarang riweuhnya ke aku. Masih minta jajan."


30 juta apaan pa, orang Zara over kredit mobil bulan Juni itu dapat uangnya 20juta. Itu juga over kreditnya bulan Juni. Coba kalo over kreditnya Februari, ga akan Zara dapat uang pengembalian. Karena uang cicilan yang belum itu 3 tahun masih lebih besar nominalnya dari pada uang cicilan yang udah masuk leasing selama 2 tahun.


Uang 20 juta itu di potong uang pinjaman dari ibu dan tante ku 8 juta, mereka yang bantu aku nyicil mobil selama Februari, Maret, April, Mei.


Berhubung aku minta tolong ke Rangga, tapi Rangga nya tidak bisa bantu, sebisa mungkin Zara bertahan sendiri di bantu keluarga. Tapi hasilnya apa dari Rangga Zonk kan.


Akhirnya mobil Zara pun keluar juga. Juni Zara dapet uang bersih dari over kredit mobil itu 12 juta, uang itu untuk menyambung hidup Zara dan Jarel. Karena ternyata tidak bisa kita berharap bantuan dari manusia, yang didapatkan hanya rasa kecewa dan direndahkan. Sebisa mungkin Zara akan buktikan kepada semua orang, Zara bisa bangkit sendiri dengan bantuan Allah SWT.


"Ga minta kok, hanya memang nafkah anak itu masih kewajiban ayahnya meskipun sudah bercerai. Kalo kamu anggap Zara mengemis ya sudah ga apa-apa Zara hanya mengingatkan kewajiban mu saja. " Jawab Zara.


"600 ribu x 2 tahun masih lebih, nanti rumah di jual. " Jawab Ditto.


"Seumur hidup Jarel berapa? Emang nafkah anak cukup hanya materi? Bagaimana dengan pendidikannya, kesehatan nya, kasih sayang dan perhatian seorang ayah, apa semua itu cukup diganti dengan uang. Berapa yang mampu kamu keluarkan untuk semua hak yang seharusnya jarel dapatkan yang sekarang hilang begitu saja. Gak bisa gitu. "Jelas Zara.


"Sekarang kita sama-sama mulai dari nol masing-masing. Yang sudah hancur ga akan bisa diperbaiki. Bukan maunya kita juga akhirnya seperti ini. Tidak ada niat aku dari awal ngambil mobil juga rumah tangga akan berantakan seperti ini. Makanya kenapa selama ini Zara bekerja keras untuk membantu biar kamu nyicil mobil aku yang urus kebutuhan Dapur. Tapi kenyataan nya sekarang seperti ini. Mau gimana lagi? Kalo nanti Ada Rezeki Zara nikah lagi, barang kali rumah ini dibeli sama Suami Zara yang baru, kita kan gak pernah tau. Tunggu dan lihat saja nanti." Jelas Zara.


"Ya ga usah bawa-bawa nafkah Jarel. Aku utang sana sini gaji juga minus. " jawab Ditto.


"Ha. ha.. ha.. " Zara hanya tertawa.


"Aku itungin kok pengeluaran Jarel, bukannya apa-apa biar jelas aja nanti nya. Ya pasti uang abis, orang jalan-jalan terus. Kuliner, Nginep di vila dan hotel-hotel. Semua ada di you tube nya Lidya. Bukannya itu semua pake uang ya. " Jawab Zara.


"Puguh jalan-jalan. Jelas uangnya abis. " Jawab Ditto.


"Ya Bagus, abis karena di pake. " Jawab Zara.


" 600 ribu x 12 dapat 14 jutaan. Masih sisa banyak buat Jarel sekolah. Nanti kalo rumah di jual aku lanjut Nafakahin Jarel. "


"Rumah yang di tempatin anaknya mau di jual. Emang buat apa sih uangnya. Orang Ayah Handoko aja kaya Raya emang butuh ya uang segitu. Zara ga ngerti sama pemikiran Ditto. " Ga habis pikir Zara.


"Ga akan di jual rumahnya. Umur Jarel masih panjang. Iya kalo kamu ga berubah pikiran selama hidup Jarel kedepan, Kita kan ga tau. Apalagi kita udah hidup masing-masing, emang ada yang jamin kamu bisa tanggung jawab sama jarel selamanya atau nggak. Buktinya selama ini kamu hanya beri nafkah Jarel 3 bulan awal saja pas Zara masih dalam masa iddah 500 ribu perbulan sedangkan perjanjian awalnya 600 ribu perbulan, uang yang masuk hanya 1,5 juta sedangkan jarel sekarang udah habis 6 juta, biaya mut'ah Zara pun 10 juta janji dibayar akhir desember tidak ada kabarnya sama sekali. Sekarang akhir Desember loh, apa kabar. Pokoknya biar ga pusing-pusing. Sekarang gaji kita berapa pengeluaran berapa perbulan. Bisa cukup atau nggak, itu aja sih. Zara sudah sering bilang kan dari dulu, sampai Zara punya catatan pengeluaran bulanan dan harian di handphone untuk apa, biar jelas. Uang kita habis itu untuk apa aja sih. Tapi kan kamu ga pernah peduli dan ga pernah mau dengar apa yang aku katakan. Sekarang ya wasalam atur aja sendiri. Alhamdulilah Zara sudah bebas. Emang nya besok kita masih hidup juga kita ga pernah tau. Jadi ngapain pusing mikirin uang uang dan uang yang ga akan pernah ada habisnya untuk dibahas. " Jelas Zara.


"Ya sok beli aja rumahnya, sama ayah suruh di jual. Mau aku kasiin uangnya. Udah ga punya duit dia. " jawab Ditto.


"Nanti lah di urus lagi, sertifikatnya aja di Bank. " Jawab Zara.


Mungkin memang Ayah Handoko tidak punya uang, Tapi apa benar sawah dan tanah berhektar hektar itu juga abis. Dipake apa? Ayah Handoko kan orang kaya, ternak sapi nya banyak belum dari pertanian juga. Suruh siapa kemarin aku ajak kerja sama ga mau.


"Jarel kalo mau hidup sama aku juga ga apa-apa aku sanggup. " Jawab Ditto.


"Kalo anaknya mau silahkan. Tapi kamu harus urus dengan tangan mu sendiri. Jangan dibantu orang lain, kerja bawa, pacaran bawa. Sebisa mungkin kamu urus dengan tangan mu sendiri. Seperti aku urus Jarel sekarang dengan tangan ku sendiri. Tidak aku tinggal kerja. Setiap hari aku ada untuk Jarel. Apa kamu sanggup. " Tanya Zara.


Ditto tidak membalas pesan Whats appa Zara yang ini.


Asal semua tau aja, tidak mudah bagiku menjadi seorang single mom untuk Jarel. Harus bisa mendidik, merawat dan menjaga anakku seorang diri bahkan menafkahinya juga. Tapi Zara yakin Allah tidak akan memilih Zara untuk menjalani hidup seperti ini jika tidak ada kebaikan didalam nya.


Semoga Zara selalu kuat menjalani takdir ketetapan yang Allah berikan kepada Zara. Karena setiap apapun yang berakhir pasti akan ada awal yang Indah didepan sana untuk Zara dan Jarel suatu hari nanti.


Percaya dan yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk Zara. Dan semoga Allah selalu melindungi Zara dan Jarel.