DIARY ZARA

DIARY ZARA
37. Ulang tahun Jarel



Hari ini seperti biasa Zara mengikuti kajian rutin setiap minggu sore bersama ibu-ibu tetangga Zara. "


"Minggu depan di rumah siapa?" Tanya Umi Asiah.


Ibu-ibu pada ga mau, alasan belum siap.


"Zara di rumah kamu aja ya?" Tanya Umi Asiah.


"Boleh umi, tapi ga akan dikasih apa-apa nanti, Paling juga air putih aja. he.. he.. " Jawab Zara, Zara ga enak hati karena biasa nya jika kajian di rumah, pasti selalu ada konsumsinya. Sedangkan Zara bulan ini banyak banget pengeluarannya.


"Iya ga apa-apa, tidak memberatkan yang penting kita berkumpul bersilaturahmi jauh lebih penting. Bukan masalah konsumsinya di kasih apa. Ga usah, jangan pernah memberatkan. " Jelas Umi Asiah kepada semua ibu-ibu yang mengikuti kajian.


"Iya, umi. Sekalian Zara juga minta do'anya kebetulan Jarel minggu depan kan ulang tahun. Tapi Zara ga bisa ngasih apa-apa. Paling juga air putih sama teh aja. Mudah-mudahan ada rezekinya ya Umi. " jawab Zara.


"Amin... kami semua selalu mendo'akan Zara. Semoga banyak rezekinya meskipun berjuang sendirian. Semoga usahanya lancar dan rezekinya selalu ditambah oleh Allah SWT. " Kata Umi.


"Tuh kan, belum apa-apa udah dido'ain ya umi, orang baik pasti selalu di kasih rezeki yang baik dari Allah, percaya deh Zara. " Ustadzah Salma ikut berbicara.


"He. he. terimakasih banyak do'anya ibu-ibu semua. Aduh.. Zara jadi terharu. " Jawab Zara sambil ketawa.


"Mamah aa mau ulang tahun di sekolah kaya temen-temen aa. " Sampai di rumah Jarel bicara pada Zara.


"He.. he.. Uangnya mana? Kan kalo ulang tahunnya di sekolah harus ngasih bingkisan buat temen-temen aa, beli bingkisan nya harus punya uang banyak. " Jawab Zara.


"Oh iya ya. Ga usah deh mah. " Jawab Jarel.


"Nanti aja kalo mamah udah ada rezeki punya uang banyak, baru bisa undang teman aa ke rumah. Kalo sekarang kan belum ada uangnya. " jelas Zara.


"Di do'ain ibu-ibu aja ya, mau ga? biar aa nya jadi anak Soleh dan pinter. Kalo mau pesta uangnya harus banyak mamah nya belum punya kalo sekarang. " jelas Zara.


"Iya ga apa-apa. Nanti aja a mau nabung dulu aja ya mah. " Jawab Jarel.


"Boleh. Pinter banget anak sholeh mamah, terimakasih ya. " Jawab Zara.


"Tapi aa mau beli kue ya. he.. he.. " Jawab Jarel.


"Hahhh...Kue ulang tahun, Maple bakery yang biasa bukan? " Jawab Zara.


"Mmmm.... ga usah deh, mahal. Kue biasa aja mamah. Biar bisa di kasih sama ibu-ibu juga. Bukan kue ulang tahun buat anak kecil."Jawab Jarel.


"Ok siap. Nanti kita beli. " Jawab Zara.


Hari minggu pagi Zara berangkat ke SR untuk belanja. Sekalian belanja buat Kajian juga. Zara beli mie Instan aja buat ibu-ibu sama minuman dan biskuit. Karena Zara tidak terbiasa jika kajian di rumah Zara, Zara tidak memberikan apa-apa pada ibu-ibu ketika pulang.Terasa ada yang kurang.


"A Adit Jalan ga? Zara mau belanja ke SR." Zara telpon A Adit sebelum berangkat.


"Jalan de. Jemput sekarang bukan? tanya A Adit.


"Nanti aja a, ini baru berangkat, Nanti kalo udah selesai belanja Zara kabarin." Jawab Zara.


"Ok siap." Jawab Zara.


Sebelum Sampai di SR. Zara mampir ke toko kue, membeli brownis, dan bolu gulung 3, Ukuran nya lumayan besar, sepertinya cukup untuk menjadi teman ibu-ibu minum teh nanti.


Sampai di SR Zara langsung masuk, Lumayan rame juga pembelinya. Mungkin karena hari minggu juga.


Jarel seneng banget ke SR lagi, setelah sekian lama.


"Mamah tempat nya baru, bagus? " Tanya Jarel.


"Iya. " Jawab Zara.


"A Rangga mana ya? " Tanya Jarel.


Eh.. ini anak kirain ga akan nanya, udah tau mamah nya juga nyariin ga tau A Rangga dimana, ga keliatan Batang idung nya.


"Ngumpet kali di gudang a, ketutupan kardus. " Jawab Zara.


"Ha.. ha... masuk ke dalam dus kali ya mamah. " Jawab Jarel tertawa.


"Eh... aa ikut. Ayo ambil yang banyak mau jajan apa? " Mang dedi yang sedang merapikan stock barang pajangan menyapa Jarel.


"Nggak ah, udah beli kue aa. Nih liatin. " Jarel menunjukan kue nya ke mang Dedi, Jarel udah akrab dengan mang Dedi karena sering ke toko Zara mang dedi nya bareng si om.


"Amang minta satu boleh? " Tanya mang Dedi.


"ga boleh, buat nanti ibu-ibu. Aa ulang tahun. " Jawab Jarel.


"Oh Jarel ulang tahun. Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun... " Mang Dedi bernyanyi sambil tepuk tangan.


Jarel dan Zara pun tertawa.


"Makasih mang Dedi. " Jawab Zara.


"Sama-sama. " Jawab Mang dedi.


"Mamah pinjem handphone aa mau main game di kursi depan sambil nunggu. " Jarel berkata.


"Boleh. " Zara memberikan handphone Zara.


Zara mengahampiri meja kasir, ada Adik a Fadli yang menjadi kasirnya hari ini.


"Siapa teh namanya?" Tanya adik A Fadli.


"Oh ini ya, yang namanya Zara. Tau nama ga tau muka, yang belanjaan nya suka di anter si om kan? Tanya Adik A Fadli.


"Iya a. " Jawab Zara yang duduk disamping Adik a Fadli.


"Sekarang mau dianter apa gimana? " Dia bertanya lagi.


"Langsung di bawa aja a. " Jawab Zara.


"Oh iya, sebentar ya teh, nunggu orang yang packing nya dulu, masih pada sibuk. " Jelas si aa kasir ini.


"Iya. " Jawab Zara.


Semakin bertambah antrian, ibu-ibu berdiri berjajar didepan meja kasir. Si aa kasir ini malah bengong ga jelas. Karena tidak bisa packing barang ke dus, plenga plengo nunggu orang untuk packing.


Zara sih senyum aja Sambil duduk di samping si aa ini. Merhatiin keadaan sekitar.


"Kok aneh ya, meskipun SR rame, tapi Zara rasa ada yang kurang." Zara bertanya dalam hati.


"A Rangga kamu dimana? apa kamu lagi libur? apa kamu sakit?" Zara bertanya dalam hati.


Dimanakah suara lantang itu yang selalu terdengar, menggelegar terdengar di seluruh ruangan SR grosir. Suara siapa lagi kalo bukan Suara A Rangga.


Dimanakah orang yang selalu memegang bon dari distributor ketika barang-barang itu turun dari mobil.


Dimanakah suara teriakan memanggil nama Mang Dedi, Yuda, Hilmi..


Dimanakah orang yang terkadang kelakuannya aneh, pecicilan, riweuh gak jelas itu.


Dimanakah orang yang terkadang mengangkut dus-dusan itu dipunggungnya, yang tertawa lepas ketika dus-dusan itu dia jatuhkan ke lantai dan berserakan.


Dimana kah dia yang selalu duduk dikursi depan itu, memegang bon untuk mengecek barang-barang belanjaan pelanggan dengan bahasa-bahasa anehnya ketika menyebutkan satu persatu nama barang sembako. yang terkadang hanya Mang dedi, Yuda, hilmi dan wisnu yang mengerti dengan apa yang A Rangga sebutkan itu.


Sepi, meskipun banyak orang namun SR terasa menjadi sepi sunyi dan asing.


"Hayo gas keun a. " Akhirnya a Hilmi datang membawa beberapa kardus kosong, untuk packing barang-barang yang berjajar didepan meja kasir.


"Hey. Sehat Zara? " Tanya A Hilmi pada Zara.


"Alhamdulilah a. "Jawab Zara.


"Zara memperhatikan a Hilmi yang sedang packing barang-barang Zara.


Apa Zara harus tanya A Hilmi, Rangga kemana. Tapi kayanya nggak deh, Zara ngerasa canggung. Ga enak gimana gitu. Mungkin karena udah lama ga ketemu juga. Karena A Hilmi satu-satu nya orang yang baik dari dulu pada Zara. Tapi sekarang Zara ngerasa canggung aja, kalo Zara tanya A Rangga pada A hilmi.


"Hey bengong..Udah nih. " A Hilmi menganggetkan Zara.


"Oh iya." Tuh kan, Si A Hilmi suka ngagetin Zara emang dari dulu juga. Kalo Zara bengong gitu.


Zara duduk di kursi depan, menunggu A Adit jemput.


Zara merhatiin semua motor yang terparkir. Sepertinya memang motor A Rangga ga ada.


"A Rangga kamu dimana? kok SR sepi tanpa kamu. Apa kamu baik-baik saja. Kamu ga sakit kan A Rangga?" Tanya Zara dalam hati.


Tak lama A Adit pun datang menjemput Zara.


Sampai di rumah, Zara langsung beres-beres rumah. Biarkan ayah jaga toko sendiri. Zara siap-siap untuk acara ibu-ibu nanti sore.


Jam 4 sore ibu-ibu pengajian datang. Kami semua berkumpul. Alhamdulilah Acaranya berjalan lancar, meskipun seadanya. Zara tidak bisa menjamu mereka dengan istimewa.


"Terimakasih Zara. Selamat ulang tahun Jarel, semoga jadi anak sholeh, pinter, banyak rezekinya ya. " Ibu-ibu semua mendo'akan Jarel.


"Amin... Terima kasih ibu-ibu semua udah dateng, terimakasih juga kadonya anak-anak. Padahal Jarel kan ga ada acara ulang tahun yang gimana-gimana, ngerepotin bawa kado segala. " Jawab Zara.


Anak-anak yang datang bawa kado, padahal Jarel juga ga ngadain pesta ulang tahun. Zara sangat berterima kasih kepada semuanya.


"Ini hadiah dari nenek. " Ibu ku memberi hadiah uang jajan pada Jarel.


"Ini dari ua, chira dan teteh ya. " Kak Maria memberikan Jarel amplop berisi uang juga.


"Ini dari kakek. " Ayah ku memberi Jarel uang juga.


"Ahhhhh kalian semua bikin Zara terharu banget sih, pengen nangis asli... " Mata Zara mulai berkaca-kaca.


"Tuh.. mamah kamu aneh Jarel, ga punya uang nangis, dikasih kado nangis, di kasih duit juga nangis, sepertinya jika nanti mamah mu nikah lagi juga nangis pasti.. Dasar orang cengeng yang so kuat. " Ayah ku berkata kepada kami semua.


"Haha.. ha.... Zara ketawa. "


"Tuh aneh kan, mau nangis apa ketawa. " Tanya ka Maria pada Zara.


"Ga tau lah kak. " Jawab Zara.


"Asiiikkk... mamah uang aa jadi banyak, sama kado juga. " Jarel seneng banget terlihat dari raut wajahnya.


"Simpen a uangnya, buat bayar ke pizza hut, bulan depan kan ada acara dari sekolah ke pizza, acara pizza maker junior, perlu uang lagi. " Zara bicara pada Jarel.


"Ok. aa simpen buat bayar ke pizza nanti. " Jawab Jarel.


Alhamdulilah, memang kalo kita mau sedekah itu, jangan takut, jangan ragu. Meskipun dalam keadaan kekurangan pun sedekah ga akan pernah merugikan kita. Harta yang kita keluarkan bukannya hilang malah makin bertambah. Contoh nyata nya ya itu. Ketika Zara memberikan konsumi pada ibu-ibu pengajian, Allah ganti secara langsung tanpa menunggu waktu lama, tanpa di sangka tanpa di duga. Jarel mendapatkan hadiah dari banyak orang. Kalo dihitung secara materi hadiah yang Jarel dapat lebih besar dari pada biaya yang Zara pake untuk membeli konsumsi.


Apalagi do'a, do'a tulus ibu-ibu untuk Zara dan Jarel, Zara tidak akan bisa membalasnya. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan semua orang kepada Zara, Dan hanya Allah juga yang bisa membalas keburukan yang orang berikan kepada Zara. Di mata Allah semua ada perhitungannya, semua ada balasannya. Allah maha adil lagi maha bijaksana.