
Pagi ini seperti biasa aku mengantar Jarel ke sekolah. Di jalan ada mamah Salwa, temannya Jarel lewat.
"Jarel ayo ikut, takut kesiangan." Ajak mamah Salwa yang diantar kan suami nya di mobil.
"Aa mau ikut?" tanya Zara pada Jarel.
"Mau. " Jawab Jarel.
"Iya ayo naik, di belakang ya, maaf mobilnya agak berantakan, banyak boneka sama bantal belum diberesin. " Mamah Salwa yang duduk didepan berkata.
"Iya ga apa-apa. " jawab Zara.
Emang beneran jadi lebih banyak temen sekarang, Alhamdulilah. Orang-orang baik selalu ada untuk aku dan Jarel. Hampir semua teman Jarel yang rumahnya searah, selalu aja ngajak pulang atau berangkat bareng.
Ketika aku lupa jemput pun karena ibu gurunya rapat, sedangkan aku ga buka whats app. Mamah syisil langsung nganterin Jarel pulang ke rumah. Alhamdulilah.
Terimakasih banyak semuanya. Zara tidak akan pernah bisa melupakan kebaikan hati kalian.
"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula - Ar Rahman ayat 60."
Teruslah berbuat baik kepada semua orang, karena begitu banyak juga orang yang sayang kepada Zara sekarang.
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri - Al Isra ayat 7."
Tak ada lagi Zara yang dipandang rendah, tak ada lagi Zara yang dibully. Semuanya menghormati Zara, menyayangi Zara, tidak ada lagi orang yang ngeselin, orang-orang yang membuat emosi jiwa. semuanya secara otomatis menghilang dan menjauh dari hidup Zara. Berganti dengan orang yang sayang pada Zara sayang pada Jarel. Meskipun Zara hidup sendiri namun semua orang sayang pada Zara sekarang. Zara sangat bersyukur kepada Allah. Meskipun satu yang selalu Zara harapkan, satu yang selalu Zara inginkan, satu yang selalu Zara nantikan.
RANGGA
Bukan uang, bukan popularitas, bukan pengakuan dari banyak orang. Yang Zara inginkan hanya satu. satu hal yang tidak pernah berubah, di saat semuanya telah berubah, namun satu hal yang selalu Zara inginkan adalah Rangga.
Zara harus selalu belajar ikhlas, dan menerima kenyataan yang sulit. Rangga bukan untukku, Rangga bukan takdirku, Rangga bukan jodohku.
Itulah yang selalu aku katakan setiap hari didalam hati Zara. Agar Zara bisa menerima kenyataan bahwa semua nya tak lagi sama seperti dulu. Rangga telah pergi jauh meninggalkan. Zara kamu harus sadar.
Masih banyak orang yang sayang dan peduli pada dirimu. Untuk apa kamu selalu mengharapkan orang yang bahkan untuk bicara dengan mu pun dia tidak mau.
"Insya Allah nanti ke rumah." Kata-kata Rangga yang selalu terngiang-ngiang di kepala Zara.
Sekuat tenaga aku berdamai dengan harapan itu. Semoga pada akhirnya nanti aku benar-benar bisa menerima semuanya.
"Teh, sering banget ya isi saldo nya. " Tanya si aa suvervisor minimarket langganan Zara isi saldo.
"Iya. Soalnya saldo nya sedikit, yang beli banyak. Uang nya muter-muter a. " jawab Zara.
"Wiihh ganteng juga ini cowok, manis. " Zara berkata dalam hati.
"Zara, inget kamu lagi belajar hijrah sekarang, tundukan pandangan mu, agar tidak mudah baper ok. "Hati Zara berkata seperti itu.
"Udah masuk ya saldonya. " Tanya si aa suvervisor ini.
Ada dua suvervisor di minimarket ini yang mencuri perhatian Zara. Satu aa baik, satu aa playboy. Zara pasti suka nya ke aa playboy.
"Tuh kan Zara gimana kamu ga sakit hati terus, orang type kamu laki-laki yang kaya begitu-begitu terus. " Zara bicara terus dalam hati sambil menunggu struk pengisian saldo ku keluar.
Lucunya si aa suvervisor playboy ini sering godain cewek-cewek yang belanja. Tapi pas Zara yang dateng dan bilang mau isi saldo. Dia langsung diam dan salah tingkah sampai lupa struk lah, lupa kembalian lah. Ada aja tingkahnya yang bikin Zara senyum sendiri jika melihatnya.
Kalo si aa suvervisor baik, dia lebih dewasa, lebih rapi, lebih santun bicaranya. Lucu aja. Harus sering-sering bertemu banyak laki-laki baru Zara sekarang agar mudah untuk melupakan Rangga.
Alhamdulilahnya semua tidak ada yang berani menggoda atau meremehkan Zara sekarang. Mereka semua baik.
"Ga apa-apa biar sering maen kesini ya, kalo saldonya sering abis, semoga berkah ya teh usahanya." Si aa suvervisor ini nyerocos aja terus sambil senyum-senyum malu gitu.
"He.. he.. " Lucu liat tingkahnya asli. Zara ga baper dong sekarang. Aman...
"Oh iya. Minta no handphone nya ya biar kita masukin grup. Udah jadi member juga kan, Nanti kalo mau belanja kirim whats app aja, biar kita delivery ke rumah langsung. " Si aa suvervisor playboy itu menawarkan delivery belanja.
"Oh iya boleh, daftarin grup aja. Palingan juga Isi saldo aja, Belanja ga terlalu sering sih. " Jawab Zara.
"Isi saldo delivery aja gitu ya. " si aa itu tertawa.
"Kalo bisa sih mau Zara. Biar ga usah jalan kaki kesini. " Jawab Zara.
"He.. he.. " tertawa dia.
Pulang dari minimarket aku mampir ke rumah ka Maria dulu.
"De besok ibu kontrol ke RS, anter ya. Pulang sekolah Jarel aja berangkatnya. " Kata ka Maria pada Zara.
"Boleh, sekarang ibu kemana? "Tanya Zara.
"Ke Puskesmas dulu, bikin Rujukan. " Jawab Kak Maria.
"Ya udah besok pulang sekolah Jarel aku langsung ke rumah ibu aja. Soalnya aku juga belum ke rumah ibu lagi. Males pasti di tanya itu lagi, itu lagi. " Jawab Zara.
"Kapan nikah? Ditto transfer ga? " Ka Maria tau banget pertanyaan ibu. "
"Iya begitu, Males kan. "Jawab Zara.
"Zara yakin sih ka, bukannya ga ada yang mau nikah sama Zara. Tapi pertanyaan nya ada yang mampu ga? Iya kan pasti kaya gitu. " Zara percaya diri aja.. he. he..
Karena menurut Zara pribadi, wanita independen, mandiri secara financial itu keren.
Namun Terkadang ada banyak kaum laki-laki yang tidak bisa menerima, karena penghasilan sang wanita lebih besar dari pada penghasilan sang laki-laki.
Masalahnya itu sih.
Padahal simple sih bagi Zara. Asalkan ada laki-laki yang mampu menerima Zara apa adanya, mau berjuang bersama, mau menerima anakku, tanggung jawab, yang paling penting adalah seorang laki-laki yang bertaqwa.
Karena jika laki-laki itu paham agama, pasti laki-laki itu tau bagaimana memperlakukan seorang wanita.
Keesokan harinya Aku mengantar ibu ke RS untuk kontrol rutin lagi. Ketika masuk RS, aku merasa sedikit takut. Ada sedikit rasa trauma mungkin ketika melihat IGD dan ICU itu.
Terlihat jelas bayangan ku waktu dulu bolak-balik mengurusi ibu yang sedang dirawat disini. Pulang dari parkiran tengah malam, bawa mobil sendirian, tidak pegang uang, meminta bantuan Rangga tidak di respon sama sekali.
Astagfirullah, Allahuakbar
Betapa berat dan sakit yang ku rasakan waktu itu. Sampai aku tak sanggup membayangkan nya lagi.
Semua telah berubah, bahkan ruangan-ruangan di RS ini pun berubah.
Ternyata Jadwal daftar ulang dokter pun berubah, yang semula ibu mendapat no antrian kontrol no 16, dikarenakan perubahan sistem. Siapa yang datang lebih dulu daftar ke RS, dia lah yang mendapat no antrian dokter pertama.
Karena Zara dan ibu datang jam 12 siang. Jadinya ibu dapat no antrian dokter yang baru, no 51.
Pasrah, pasti pulang malam ini. Dokter mulai prakteknya jam 3.
"Shalat dzuhur dulu yuk bu, masih lama ini. " ajak Zara pada ibu.
"Ya udah. " Jawab ibu.
Ketika Zara dan ibu shalat, tiba-tiba Jarel nangis.
"Mamah.. mamah.. " Jarel menarik mukena aku.
"Aa pup dicelana. " Jarel nangis dan menarik mukena ku.
"Ya Allah aa, kenapa ga bilang, ayo ke toilet." Aku langsung bawa Jarel ke toilet. Padahal sebelum nya tadi udah pipis, barengan tadi aku wudhu, entah masuk angin atau gimana, ini anak ada-ada aja.
Celana nya kotor, ga bawa salin juga. Karena memang tidak pernah kejadian seperti ini. Lagian udah gede juga. Kalau mau pup ya pasti bilang.
Zara cuci celananya lalu suruh dipake lagi.
"Kamu mau pakein Jarel celana basah kaya gini sampe pulang, kasian. Masuk angin nanti. " Tanya ibu.
Jarel masih tetap nangis.
"Ya gimana, aku gak bawa salin juga. "
Celana Jarel benar-benar basah kuyup.
"Ya udah aku beli baju aja sama celana, kali aja ada toko deket sini. " Zara memutuskan untuk membeli baju dan celana untuk Jarel karena ga mungkin pake celana basah nyampe nanti malem si RS.
Zara berjalan kaki dan terus berjalan sampai jauh, ternyata tak ada toko baju anak dekat sini. Akhirnya Zara memutuskan untuk naik angkot. Tak lama kemudian aku menemukan toko baju anak.
Zara kembali ke RS.
Ibu dan Jarel sedang berjemur duduk depan RS lumayan panas juga disini. Anakku menggigil kedinginan karena celananya yang dipake basah kuyup.
Udah mau nangis aja Zara.
"Jarel ada-ada aja kamu ya, drama pup dicelana segala. Kaya yang pertama kali ke RS aja kamu. " Zara nyerocos terus sambil mengganti celana Dan baju Jarel.
Benar saja, selasai kontrol ibu jam 10 malem.
Zara mencoba pesan Taksi online.
"Awas ya Rangga, kalo aku ga bisa pesan taksi online, kamu harus jemput aku sekarang disini. " Zara bicara dalam hati sendiri, sambil tangan ku memegang handphone untuk memesan taksi online.
Karena Zara ingat kata-kata Rangga.
"Gampang kalo ibu kontrol ke RS, pesen taksi online aja. ga usah Khawatir. "
Alhmadulilah, ternyata ada taksi online nya yang mau, karena kalo udah jam 10 malem ga ada angkutan umum yang lewat rumah Zara. Karena rumah Zara di kampung.
"Zara, dikirim barangnya besok ya. " Ada pesan whats app dari si om, baru Zara buka.
"Ya udah ga apa-apa om. Zara juga masih di rumah sakit, baru mau pulang. " Jawab Zara.
Dijalan pas Zara lewat, Zara lihat mobil si om Masih terparkir di luar, Lampu SR masih menyala dan pintu nya masih terbuka.
"Jam 10, lembur kali mereka. " Zara bicara dalam hati sambil mata ku memperhatikan SR grosir dari dalam taksi online.