
Dalam keadaan terpuruk, tak ada satu orangpun yang berani aku mintai pertolongan.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran ku satu nama "RANGGA" bukan sodara, bukan teman atau kerabat. Hanya pernah mengobrol beberapa kali ketika belanja.
Zara meminta petunjuk kepada Allah dengan shalat istikharah dan mendapatkan mimpi yang sepertinya mimpi itu terus bersambung.
Mimpi pertama yang menjadikan Zara berani untuk lebih mendekatkan diri pada Rangga.
Zara tiba di SR Grosir. Keadaan SR Grosir berbeda dari SR Grosir yang di dunia nyata.
"A hilmi, A Rangga kemana? " Tanya Zara bertanya kepada a Hilmi yang sedang jongkok merapikan kardus.
"Ada teh lagi sibuk di gudang. " Jawab a Hilmi.
"Oh yaudah, aku belanja dulu. " Jawab Zara.
"Iya boleh ambil aja teh. "
"A kok sepi barang-barang nya pada kemana ini baru renovasi ya. "
"Iya, di barukan teh baru selesai renovasi, biasa lah lagi berbenah. A Rangga juga lagi sibuk beresin gudang. " Jawab a Hilmi.
Suasana di dalam SR grosir tidak seperti di dunia nyata, Agak aneh, Berbeda.
Ternyata apa, Kemarin setelah 3 bulan Zara tidak menginjakan kaki di SR grosir secara nyata. Tiba-tiba pas Zara ke SR lagi, suasana nya itu dirubah benar-benar persis seperti apa yang terlihat di awal mimpiku itu.
"Kok bisa sama sih penataan barang nya, raknya, persis seperti apa yang terlihat dalam mimpiku. " Zara berbicara sendiri dalam hati ketika kemarin untuk pertama kalinya Zara menginjakkan kaki lagi secara nyata di SR Grosir.
Kembali kedalam mimpi ku.
"Zara ayo pulang, udah selesai kan belanjanya? " terdengar jelas suara A Rangga tapi wajahnya tidak terlihat jelas.
"Udah. " Jawab Zara.
Zara berjalan pulang bersama Rangga. Disamping SR Grosir ada sebuah bangunan 2 lantai yang mencuri perhatian Zara.
Bangunan ruko tua dua lantai, tanpa kaca, tanpa pintu, dinding penuh dengan lumut hijau, dalamnya sangat gelap, sungguh bangunan ini tak terawat atau bahkan tak tersentuh. seperti bangunan tua yang terbengkalai.
Hanya tertuliskan nama yang terpangpang di atas bangunan itu sebuah neon box besar bertuliskan "SUMBER REZEKI 2" dengan latar belakang warna kuning mustard, warna tulisan hitam, disamping kiri bertuliskan logo SR yang hurufnya berkaitan antara S dan R didalam kotak bergaris putih.
"A Rangga itu bangunan apa? Zara baru liat." tanya Zara yang sedang berjalan dibelakang A Rangga.
"Oh, itu bangunan yang akan kita isi, kita isi bareng-bareng nanti soalnya aku mau keluar dari tempat ini. ini tempat kakakku, Aku mau pindah ke tempat itu sama kamu." Jawab Rangga.
"Oh iya." Jawab Zara, sambil terus memperhatikan bangunan itu.
Apa kamu yakin Rangga akan mengisi bangunan itu, sepertinya butuh proses renovasi yang lama untuk bisa digunakan kembali bangunannya. " Zara berbicara dalam hati.
Mimpi ini yang menjadikan awal mula Zara mendekatkan diri pada Rangga waktu itu.
Mimpi ke dua.
Zara belanja ke SR seperti biasa, Di kasir Zara bercanda tertawa dengan a Fadli karena melihat sesuatu hal yang lucu, namun di sisi lain a Rangga yang sejak tadi mengemas minyak curah, jongkok sambil menatapku dengan tatapan kosong.
"Rangga, kerja yang bener. masa itu minyak tumpah kemana-mana. " A Fadli berteriak sambil tertawa mengagetkan Rangga yang sejak tadi tidak fokus kerja.
Zara hanya melirik nya dan tersenyum.
"Udah selesai Zara. " a Fadli memberikan bon nya.
"Iya makasih a." Zara keluar toko menuju mobil lalu menyalakan mobil.
"Tok.. tok.. tok.. " tiba tiba Rangga mengetuk kaca samping pintu mobil ku.
"Kenapa? " Zara bertanya dan menurunkan kaca mobil ku.
"Tunggu aku, ada yang perlu aku jelaskan. " Rangga berkata dengan tatapan mata dan wajahnya yang sangat kacau.
"Apa lagi yang harus dijelaskan. " Tanya Zara kesal.
"Tunggu aku, aku mau bicara. " Rangga terus bicara seperti itu.
"Sudahlah. " Zara menutup kaca mobil dan pergi dari parkiran SR grosir.
Di dunia nyata, ternyata setelah Zara mencoba mendekatkan diri pada Rangga, ternyata sangat sulit. Bahkan tak seakrab dulu seperti sebelum aku berkirim pesan setelah kejadian perceraian aku dan Ditto.
Dulu ketika Aku masih istri Ditto, Zara akrab dan bisa ngobrol nyambung dengan Rangga, tak serumit sekarang.
Mimpi ketiga.
Masih ditempat yang sama SR Grosir.
Setelah selesai belanja, A Fadli menyuruhku untuk membawa indomie sendiri ke gudang karena pembeli rame sekali.
"Zara bisa ambil mie nya sendiri kan. ada Rangga kok digudang." Tanya a Fadli
"Siap a, Ga apa-apa Zara bisa." Jawab Zara
Pintu gudang tertutup, aku coba ketuk pintunya.
"A Rangga.. A Rangga.. " Zara memanggil tapi tak terdengar suara apapun dari dalam.
Zara coba buka pintunya.
"Ya Allah, berantakan banget." Zara berbicara sendiri sambil melangkah mencoba masuk melewati kardus kardus yang berserakan bahkan untuk melangkahinya pun sulit."
"A Rangga.. A Rangga.." Zara terus memanggil dan mencari keberadaannya.
"Apa?" A Rangga menjawab ternyata sedang duduk dia di atas kardus sedang memegang bon merah di tangannya.
"Aku mau ambil indomie, yang lain sedang sibuk, suruh ambil sendiri. " Jawab Zara.
"Tuh ambil aja dipojokan sana. " tunjuk Rangga.
"Ok. makasih. " Jawab Zara.
Zara kembali membawa 2 dus mie instant.
Tiba-tiba Rangga menarik tangan ku dengan erat.
"Jangan pergi.. " Rangga menatap ku sangat dalam.
"Kamu kenapa A Rangga? " tanya Zara.
Rangga menarik ku untuk duduk disampingnya.
"Jangan pergi lagi.. Aku perlu menjelaskan sesuatu sama kamu?" Rangga berkata dengan tatapan yang dalam dan wajahnya terlihat sangat kacau.
A Rangga... A Rangga.. Mobil barang datang di tunggu di luar.
Mang Dedi tiba-tiba masuk ke gudang.
"Ya sudah aku pulang. " Zara melepaskan tangan Rangga yang masih menggenggam tangan Zara dengan erat, Sakit sekali.
Beberapa hari kemudian, kejadian itu terjadi di dunia nyata. Ketika aku menemui Rangga secara nyata di gudang pertama ketika ibu ku belum masuk rumah sakit, kedua ketika ibuku sedang berada di ICU rumah sakit.
Semua kejadian bersama Rangga selalu terlihat lebih dulu dalam mimpi ku.
"Mungkin itu semua hanya kebetulan. " Zara selalu bicara dalam hati seperti itu.
Mimpi ke empat.
Ada perayaan pernikahan di rumah ku.
Zara di kelilingi kakek, nenek, ua, paman, bibi semua keluarga ku yang telah meninggal menyuruh aku untuk memilih gaun pengantin untuk aku pake.
"Zara coba kamu pilih mau yang mana? " Tante ku menunjukan beberapa gaun pengantin yang sangat Indah.
"Dari awal mata Zara tertuju pada gaun hitam dan mencoba nya. " Yang ini ya Tan, Zara suka.
"Masa gaun pengantin hitam?" kakek ku menyarankan untuk memilih lagi yang lain.
Zara mencoba semua gaun yang disediakan. Namun pilihan Zara kembali pada gaun hitam yang pertama kali Zara inginkan.
"Tante Zara tetap mau pake yang ini ga mau yang lain." Zara keukeuh dengan pilihannya. Ga mau berubah.
"Memang kamu keras kepala ya. Ya sudah terserah kamu aja. Buruan pake keburu mulai nanti akadnya." Kakek ku berkata dengan sedikit rasa kesal.
Jika dilihat di dunia nyata. Setelah Zara mencoba mencari dan mencari jodoh yang lain, tetap saja hati kecil Zara ingin nya menikah dengan Rangga, karena hanya Rangga satu satunya orang yang ada di hati Zara selama ini. Seberapa keras pun menolak, menjauh, menghindar. Hati Zara tetap yakin memilih Rangga terlepas sifat baik buruk nya Rangga. Tidak mengubah apapun. Namun Zara juga harus menerima kenyataan bahwa Rangga tidak pernah mencintai Zara. Rangga tidak pernah menginginkan Zara. Zara sedang berusaha berdamai dan menerima kenyataan ini.
Mimpi ke lima
Zara kembali ke SR Grosir.
"Hay Zara." Sapa Teh Syifa yang diduduk dimeja kasir.
"Hay teh,, suasana baru ya teh. Keren bagus sekali. " Zara berkata pada teh Syifa.
Zara melihat perubahan SR Grosir menjadi 3 lantai dengan menggunakan lift.
Lantai pertama di mulai dari pajangan baju, furniture, optik kacamata dan apotek. Semua sibuk menata barang untuk grand opening satu minggu lagi.
Lantai kedua berisi snack semua makanan ada dengan menggunakan rak gondola.
"Ayo teh ikut aku lihat-lihat semuanya." Citra mendampingi ku untuk melihat-lihat susana di dalam.
Lantai 3 masih kosong.
"Citra ini mau di isi apa?" Tanya Zara.
"Ini khusus untuk gudang stock barang dusan teh, semuanya di tata disini. Cuman belum selesai, masih ada waktu seminggu lagi untuk grand opening." Jelas citra padaku.
"Oh iya. A Rangga mana?" Tanya Zara
"Tadi sih lagi didepan ngobrol dengan supplier." Jawab Citra.
"Oh ya udah ga apa-apa. Aku mau lanjut lihat ke bawah. " Zara menuju lift untuk kembali ke lantai 1.
Zara berjalan ke belakang. Ada beberapa ruangan yang disekat. Ternyata disini dikhususkan untuk sembako kelas berat, satu blok terigu, satu blok minyak curah, dan kawan-kawan nya.
"Eh Zara, sini-sini. Aku yang tanggung jawab ini sekarang." Wisnu mengajak ku untuk melihat khusus area tepung.
"Oh kamu yang pegang tepung ya." Tanya Zara sambil ketawa.
"Iya, A Rangga tega banget Zara bagi bagi tugasnya. Mentang mentang badan aku paling besar, aku kebagian kelas berat nih." Keluh Wisnu.
"Ga apa-apa. kamu kan strong." Zara tertawa.
"Udah beres liat nya?" Rangga menghampiri ku dan langsung duduk didepan aku yang sedang berdiri.
"Udah. Jadi luas banget ternyata ya sekarang?" Jawab Zara.
"Iya. Aku cape...cape banget." Rangga merengek didepan ku seperti anak kecil.
"Ga apa-apa, semangat." Zara menepuk-nepuk pundaknya dengan wajah tersenyum
"A Rangga bisa kedepan sebentar ada yang nyariin. "
A Eko memanggil bersama seorang bapak-bapak.
"Heuuh.. bisakah istirahat sejenak. " Gerutu Rangga.
"Ga apa-apa aku juga mau pulang kok. " Jawab Zara.
Zara berjalan keluar melalui bapak-bapak itu.
"Itu siapa? " tanya seorang bapak kepada A Eko.
"Istrinya A Rangga pa." Jawab a Eko.
"Mari pa. "Zara berpamitan pada bapak-bapak itu.
Diluar terlihat si om sedang menaikan barang belanjaan ke dalam mobil.
"Om lagi apa? "Tanya Zara.
"Eh Zara... Mau anter barang dulu. Mau kemana, pulang bukan? "
"Iya om Zara pulang duluan. " Jawab Zara
"Hati-hati. "
Zara berjalan sambil melihat sebuah kertas putih yang aku pegang. Sebuah kartu nama putih bertuliskan tinta hitam.
"RANGGA - Suvervisor"
Zara tersenyum dan berbicara sendiri.
Selamat ya A Rangga, kamu sukses, kamu hebat. Segala kerja keras mu kini terbayar lengkap.
Good Job.