DIARY ZARA

DIARY ZARA
6. Awal kehancuran



Aku kembali belanja ke SR Grosir. Seperti biasa sambil nunggu barang belanjaan selesai dipacking. Zara duduk di kursi dan Rangga duduk di atas motor yang diparkir di depan toko.


"A Rangga kalo di sini gajinya gimana? " Tanya Zara.


"Tergantung gimana bagiannya. Mau nyari yang kerja bukan?" Tanya Rangga.


"Iya, baru rencana sih. Aku kan ga tau gaji ditoko sembako berapa." Jelas Zara dengan senyum dan bingung nya.


"Kalo pertama masuk tuh 60 ribu sehari sampai 90 ribu sehari. Uang makan 20 ribu per hari itu beda bayaran nya, seminggu sekali. Gaji Dua minggu sekali, dulu pernah sih sebulan sekali bayar gaji nya. Kadang aturan nya rubah-rubah sih." Jelas Rangga.


"Oh gitu. " Jawab Zara.


"Pertama masuk tuh jangan langsung didepan kaya gitu tuh. Mulai dari ngemasin barang kiloan dulu, majang barang, nah baru pindah lagi pindah lagi nanti bagiannya sesuai kan aja. Tapi A Fadli itu pake nya sodara semua sih kalo yang didepan. Kasir yang pegang rokok-rokok itu sodara semua. " Jelas Rangga.


"Oh iya, terus kenapa ga pake barcode scanner aja sistem kasirnya? " Tanya Zara.


"Dulu pernah dicoba, cuman pusing Jadinya terlalu banyak pembelinya terus belum tau caranya ngebarcode barang yang dus dusan gitu sama tepung tepung itu tuh susah. Jadinya manual dulu aja. " Jelas Rangga.


"Oh gitu. " Zara sih bengong-bengong aja mendengarkan penjelasannya.


"Mau nyari yang kerja aja? Sayang loh tokonya ditutup terus pas ditinggal belanja. Konsep nya gimana disana grosir apa eceran? " Tanya Rangga.


"A Rangga aja deh kerja di tempat aku. Ha.. ha.. " Zara tertawa.


"Dasar. " Jawab Rangga.


"Toko ku tuh jual grosir ok, jual ecer ok. Kan biar untungnya macem-macem gitu. Jadi semuanya dapet. " Jelas Zara.


"Oh iya Bagus itu. " Jawab Rangga


"Ya udah aku pulang dulu udah selesai juga. Mau buka toko. " Zara beranjak dari tempat duduk.


"Iya. " Jawab Rangga.


Ditoko aku bertanya pada Ditto.


"Udah ada jawaban dari Ayah? " tanya Zara.


"Belum. " jawab Ditto.


"Besok jadi berangkat ke Cirebon?" Tanya Zara.


"Jadi. " Jawab Ditto.


Setelah pulang dari Cirebon jawabannya apa.


"Ga jadi ngomong sama Ayah nya juga. Ngomong sama mamah aja, biar mamah nanti yang bilang ke Ayah. Kebanyakan kata mamah 300 juta. " Jelas Ditto.


"He.. he... Lucu untuk apa memberi harapan kalo tidak ada hasil. ZONK.. " Zara bicara dalam hati.


"Gayanya mau bikin basement, lucu sekali Ditto Ditto ngomong ke Ayah sendiri ga berani. " Gerutu Zara dalam hati. "


Dari sini lah awal mula Zara tak percaya lagi omongan-omongan Ditto. Lebih sering saling diem aja. Males ngomong asli. Karena kalo ngomong pasti ujung-ujung nya ribut.


Karena sudah berapa kali akhir-akhir ini setiap kali gajian Ditto selalu memberikan uang setor mobilnya kurang. Dengan Alasan uang nya kepake inilah itulah, ga cukup buat ongkos angkot lah segala macem.


Setiap setelah gajian pasti cekcok karena uang untuk cicilan mobil selalu kurang. Aku nambahin lagi dan lagi dari uang toko. Sedangkan uang toko jika di ambil terus dan terus pasti berpengaruh pada stock barang.


Coba kalo ngomong baik-baik sama Ayah Handoko mungkin Ayah Handoko bisa mengerti masalah join usaha. ini kan omong doang dan halu menghayal desain minimarket tapi tak ada tindakan yang nyata.


Beberapa bulan terus saja uang gaji nya tak pernah ngasih ke aku sesuai kesepakatan di awal. Ga tau nya mungkin sudah punya 2 dapur waktu itu.


Karena Ditto selingkuh nya dari Oktober temanku bilang sedang kan dari akhir-akhir tahun itu memang uang gajinya jadi aneh. Yang menimbulkan perselisihan antara Zara dan Ditto.


Zara ga pernah pegang uang gaji semuanya. Zara hanya dititipkan uang untuk setor mobil aja, bahkan itu juga selalu kurang. Zara ingin nya ada keterbukaan masalah keuangan jika memang Ditto kekurangan gaji.


Yang jelas di perinci ada catatan nya. Gaji berapa pengeluaran berapa, aku harus nambah berapa. Pengeluaran apa yang harus dikurangi dari dulu Zara selalu menjelaskan itu semua pada Ditto tapi Ditto tidak pernah menerangkan soal keuangannya itu.


Ya sudah Zara muak akhirnya biarkan semaunya dia saja. Masing-masing kebutuhan rumah pisah. Daripada Zara bosen berdebat terus dan terus tak pernah berujung. Padahal selama menikah Zara tidak pernah tidak menghasilkan uang. Semaksimal mungkin Zara membantu keuangan keluarga.


Istri mana yang mau, belanja grosiran sembako buluk kaya gitu, bawa gas LPG bawa Galon. Yang ada mungkin mereka sibuk belanja online dan pergi ke salon nerima gaji suami.


Sampai Zara memutuskan untuk mengambil KUR Mandiri dikarenakan ingin menambah stock toko dan membuka kembali Agen Mandiri.


Desember KUR Mandiri Cair ini sepenuhnya jadi tanggung jawab ku Cicilan 1,5 perbulan selama 3 tahun. Bismilah.. Daripada menunggu Modal dari Ayah Handoko yang tak tau kapan. Aku beranikan diri mengambilnya dengan Jaminan sertifikat rumah.


Aku mulai renovasi toko memasang plafon karena jika tidak ditutup banyak tikus yang loncat dari Grosir a Nandi. Jadinya banyak barang yang rusak.


Selama renovasi, aku input barang ke komputer sendiri bergadang tiap malam sampai jam 12 malam karena aku input sendiri. Butuh waktu 1 minggu untuk aku input barang ke komputer kasir. Dirumah sudah seperti kapal pecah barang berserakan, Show case baru yang aku beli berdiri ditengah-tengah ruang makan berserakan dengan kardus dan baju yang belum sempat aku setrika.


Aku sudah tidak memperdulikan Ditto karena aku akan fokus dengan usaha ku sendiri.


"Teh pulang kondangan? " Tanya A Rangga menyambutku didepan tokonya.


"Bukan, belum sempat nyetrika baju. Jadi pake baju yang ada aja." Aku menjawab nya kaya orang teler saking mata ku ngantuk ga bisa di kondisikan semalam nginput sampe jam 1.


"Kasian. " Jawab A Rangga.


Zara pun berlalu masuk untuk mulai belanja.


"Zara tidur sana pulang. Mata kaya gitu aja masih Bisa belanja. " A Fadli memperhatikan muka ku yang acakadul pokoknya.


"Nanti pulang dari sini deh a. " Jawab Zara unjuk gigi. Mau ketawa tapi sudah tak ada tenaga.


Sambil duduk dikursi depan beberapa kali aku memejamkan mataku karena ga kuat ngantuk banget belum lagi aku harus nyetir mobil pulang ke toko.


"Tidur dulu lah. " A Rangga mengagetkan Zara karena tiba-tiba duduk disamping aku.


"Oh.. kaget aku. ga apa-apa tenang tenang masih aman kok mataku. " Jawab Zara.


"Emang malem ngapain gadang? " tanya Rangga.


"Iya aku nginput barang ke sistem kasir satu satu kan ternyata lama ya. Item barang sembako kan banyak juga ternyata. " jelas Zara.


"Iya itu, makanya Aku bilang A Fadli masih pilih manual karena belum sempat program. Tau sendiri disini tiap hari rame. "Jawab Rangga.


"Iya. aku juga yang toko kecil mabok apalagi disini. " Jawab Zara.


"Udah beres, nih bon nya. " Rangga memberikan bon belanja nya padaku.


"Iya makasih ya. " Jawab Zara.


Sampai ditoko aku harus kembali merapikan barang belanjaan ku karena baru selesai renovasi pasang plafon juga. Jadinya aku harus extra beres-beres.


"Kamu masih ada kan uang dari mandiri. Aku pinjem lagi butuh banget. " Tanya Ditto.


"Apa? Pinjem? Buat apa?" tanya Zara heran.


"Pokoknya aku lagi butuh banget. " Jawab Ditto.


"Ga ada. " Zara menjawab ketus.


Males setiap denger aku punya uang pasti jelalatan matanya. Mending kalo jelas untuk apa aku paham pasti aku kasih. Ini ga jelas untuk apa.


Sudah terlalu baik aku selama ini, aku mau berbuat apapun semauku sendiri sekarang.


"Ya udah mobil aku bawa tiap hari kerja. Kalo nggak kamu yang nyicil full. " Jawab Ditto.


"Apa? Kamu gila ya? untuk apa mobil di bawa kerja tiap hari? aku belanja gimana? Jarel sekolah gimana?"Jawab Zara.


"Aku gak mau naik angkot terus uangnya kurang buat ongkos." keluh Ditto karena motor nya memang sudah lama sekali rusak.


"Kenapa baru ngeluh sekarang. Dulu baik-baik aja, semenjak uang gaji kamu ga pernah kasih full untuk setor mobil aku tambahin kok. Sekarang mau bawa mobil tiap hari. Mau apa? Pamer? Gengsi? bawa cewek? "


"Pokoknya kalo mobil ga aku bawa tiap hari, kamu yang nyicil mobil mulai sekarang. " jawab Ditto.


Ya Allah Ditto benar-benar gila. Ga bisa kasih aku bernapas sebentar saja. Selalu aja ngajak ribut.


"Kalo memang kamu ga punya ongkos, aku anter tiap hari. Pagi aku anter kamu ke tempat kerja, pulang dari tempat kerja aku anter Jarel sekolah, pulang dari sekolah Aku langsung belanja ke SR. Sorenya aku jemput kamu Pulang kerja. mau ga? Mulai sekarang aku kontrol pengeluaran gaji kamu, biar semuanya baik-baik saja." Zara memberikan saran pada Ditto.


"Ga mau. " Ditto menjawab dengan tegas.


Berapa hari kemudian setelah perdebatan itu. muncul lah pesan Di Whats app.


Gugatan cerai Ditto pada Zara secara sepihak.