
"A Rangga. " Zara mengirim pesan kepada A Rangga.
"Kulan." A Rangga langsung membalas pesan Whats up Zara.
"Nemu akun kamu di tiktok. " Zara membalas
Zara menemukan akun Rangga di tik tok, walaupun tidak memakai nama aslinya tapi Zara nemu juga ternyata akun tiktok Rangga.
"Pada akhirnya Zara suka pengen ketawa sendiri, lucu aja gitu. Segitu bucin nya Zara ke a Rangga. Padahal A Rangga nya nggak sama sekali. Cerita kisah nyata hidup aku yang benar-benar seru ya A Rangga. Terserah A Rangga juga mau nanggapinnya gimana. Zara udah biasa. he.. he.. " Jelas Zara.
"Dasar." Jawab Rangga singkat.
"Jadi malu deh Zara. " Jawab Zara.
"Ga usah malu, ga apa-apa. Bukan kemauan kamu juga kan. Perasaan yang datang dengan sendirinya. " Jawab Rangga.
"Iya. Benar-benar diluar kendali, Maaf. " Jawab Zara.
Perasaan Zara kepada Rangga tidak pernah hilang, walaupun sekuat tenaga, berusaha menghindar, menjauh, menolak perasaan ini, namun semuanya percuma. Semua usaha dan do'a yang selalu Zara panjatkan kepada Allah SWT untuk melupakan Rangga, menghilangkan rasa Cinta Zara kepada Rangga. Semuanya tidak bisa merubah apapun, Tidak bisa.
Sudah 4 hari ibu ku bolak balik rumah sakit untuk mendapatkan no antrian dokter spesial jantung untuk ibu kontrol setiap bulannya, Namun selalu saja gagal. Padahal ibu berangkat dari rumah setelah shalat subuh. Tapi no antrian dokter selalu saja habis.
"A Rangga punya sodara ga di rumah sakit? " Tanya Zara.
"Ga punya kalo ga salah. " Jawab Rangga.
"Oh ya udah ga apa-apa. " Balas Zara.
"Si ibu udah 4 hari bolak balik rumah sakit mau ambil no antrian dokter, Ga kebagian terus. Padahal subuh berangkat ke Rumah sakitnya juga. Katanya harus jam 12 malam ngambil no nya kalo mau kebagian. Sedangkan dari rumah aku kan ga ada angkutan umum kalo tengah malem kaya gitu. Seperti nya harus nyari orang yang kenal. " Jelas Zara.
"Ke security minta pisahin no nya, bisa nggak? "Tanya Rangga.
"Kemarin subuh juga ibu minta ke security kebagian no 6 katanya. Terus siangnya ibu balik ke rumah sakit. Pas di bagian daftar ulang, perawatnya bilang, ibu ga terdaftar, suruh pulang aja." jelas Zara.
Peraturan rumah sakit dirubah-rubah, mungkin saking banyak nya pasien jantung sekarang. Sampai kapasitas pemeriksaan dokter pun kewalahan untuk menangani pasiennya.
Pulang mengantar Jarel dari sekolah aku mampir rumah ibu.
"De sepertinya ibu ga kuat kalo besok harus ke Rumah sakit lagi sendiri. " Ibu berkata padaku.
"Obat abis bukan? " Tanya Zara.
"Abis, mana batuk lagi. Kemarin bolak balik subuh, cape, angin juga. Jadi badannya sakit semua. " Jelas ibu.
Zara agak kesal sih sama ibu, karena kalo sehat, omongan ibu padaku selalu menyakitkan. Tapi kalo udah sakit kaya gini siapa lagi yang bisa bantu, aku biarin lama-lama juga ga tega.
"Ya udah nanti Zara yang ambil no antrian nya tengah malem aja ke rumah sakit. " Jawab Zara.
"Gimana caranya, kamu mau di anter siapa ke rumah sakit? " Tanya ibu.
"Ga tau. nginep aja kali Zara di lorong rumah sakit semalaman sampai dapet no antrian, bukan nya harus jam 12 malam teng kan ngambilnya? " Tanya Zara.
Untuk satu hari kuota pasien jantung di batasi hanya bisa periksa 50 orang, biasanya satu hari dokter periksa 100 orang, dikarenakan dokter nya juga sakit, jadinya jumlah pasien pun dibatasi.
"Masa kamu nginep di Rumah sakit? "Tanya ibu.
"Ya udah gimana nanti aja, Zara cari cara dulu." Jawab Zara.
Sampai ditoko ada pesan masuk dari Pa penghulu.
"Zara besok berangkat ke pengadilan jam 6 pagi ya? " Pa penghulu mengirim pesan.
"Iya pa siap. " Jawab Zara.
"Oh iya, besok ayah kan ke pengadilan bareng a Adit saudara ku, nanti malem aku ajak a Adit aja ke Rumah sakit." Zara berkata dalam Hati.
"A besok ke pengadilan jam 6 pagi, siap ya?" Zara nelpon a Adit.
"Ok, nanti A Adit ke rumah pagi-pagi." Jawab kakak ku ini.
"Oh iya A, nanti malem mau ga anter Zara ambil no antrian dokter buat ibu kontrol? " Tanya Zara.
"Kemana? Jam berapa?" Tanya A Adit.
"Ke Rumah Sakit. Jam 1 malem ya? " Jawab Zara.
"Serius jam 1?" a Adit kaget.
"Iya, ada motor kan? " Tanya Zara.
"Ada, cuman kamu emang serius kuat jam 1 masih melek? bukan nya jam 8 juga udah tidur kamu." Tanya A Adit.
"Eh, ga tau ya, Zara sekarang udah gede, Tidur nya lewat tengah malam a. " Jawab Zara.
"Oh, kirain masih bocah 5 tahun. ha.. ha.. " Jawab A adit.
A Adit saudara ku, dari kecil dititipin pada ibuku, karena korban perceraian ayah dan ibu nya, kakak ibu ku. Jadi masa kecil A Adit selalu bersama Zara. Sampai Zara umur 5 tahun A Adit umur 8 tahun. Semenjak Zara dikandung ibu A Adit udah tinggal bareng bersama ibu ku, karena Ayahnya di arab saudi, dan ibunya lagi nakal-nakalnya waktu itu.
Setelah tinggal bersama ibu, A Adit pindah tinggal bersama nenek, sekarang udah berkeluarga makanya kita jadi jauh, punya kehidupan masing-masing.
Zara bisa dibilang nikah muda, Zara punya Jarel ketika Zara usia 21 tahun, banyak yang selalu ngatain Zara anak punya anak. Tapi beda, sekarang Zara udah dewasa. he.. he..
"Jangan lupa pasang Alarm, nanti a Adit ke rumah Zara jam 1 malam, ok. " A Adit berkata.
"Ok, siap. " Jawab Zara.
Besok juga ada acara maulid nabi di sekolah Jarel, Ayah dan Adit juga berangkat ke pengadilan bareng pa penghulu. Jadi toko tutup dulu sehari besok.
"A Rangga aku mau ke Rumah sakit sekarang, berpetualang ngambil no antrian. " Zara mengirim pesan pada Rangga, namun tak ada balasan.
Entah kenapa, selalu saja Zara ingin memberikan kabar kepada A Rangga, tentang apa yang Zara kerjakan, bagaimana perasaan Zara. Padahal ga penting-penting juga kan. Entahlah Zara juga tidak mengerti. Mungkin ini kesalahan Jempol. he.. he..
"A Siap? " Zara kirim Whats app ke A Adit.
"Ok. Ditunggu. " Jawab A Adit.
Tak lama a Adit pun tiba di depan rumah Zara. Memang rumah nya tidak terlalu jauh sih dari rumah Zara.
"Pake jaket, pake helm dingin. " A Rangga berkata pada Zara.
"Jaket udah, ada jaket peninggalan Ditto nih, lumayan dari pada tunggu lemari. Aku pake aja deh. Ha... ha.. " Jawab Zara.
"Helm? " Tanya a Adit.
"Dimana yah, kayanya dibawa Ditto a. Tunggu Zara cari dulu. " Zara mencari helm.
Ternyata ada satu tapi kotor, karena udah lama ga di pake juga.
"Ga apa-apa ga akan ketemu orang juga jam segini. " Zara berkata, sambil membersihkan helm bekas Ditto yang tidak dia bawa.
"Udah, hayu. "Zara keluar rumah.
"Siap. " Jawab A Adit
Benar saja, dijalan Zara tidak berpapasan dengan satu kendaraan pun, karena rumah Zara dikampung jadinya jika keluar tengah malam begini pastilah sepi tidak ada orang sama sekali dijalan.
"De, kalo ada begal gimana kita minta tolong ya? " Tanya A Adit sambil bawa motor.
"Hey, jangan ngomong gitu a, Zara takut asli. " Zara menjawab sambil menepuk punggung a Adit karena takut juga sih emang.
"Tenang, A Adit bawa golok buat jaga-jaga, nih. "Jawab A Adit.
Ternyata benar, A Adit bawa golok, dasar ada-ada aja dia.
Sampai di depan Rumah sakit Zara langsung menghampiri Security Jaga.
"Pa mau daftar ke dokter Jantung untuk hari ini bisa? " Zara tanya langsung pada Security.
"Oh iya boleh bu, isi formulir ini aja. " Security memberikan selembaran, ternyata nama ibu kebagian antrian no 14.
Masya Allah, sampai harus seperti ini perjuagan mau diperiksa dokter juga. Harus banyak bersyukur jika kita diberi kesehatan oleh Allah SWT. Karena diluar sana banyak sekali orang yang menderita sakit bahkan mau berobat pun harus dengan perjuangan seperti ini dulu.
"Udah bu, besok pasien nya dateng untuk daftar ulang ke sini jam 8 harus udah ada di tempat." Jelas security padaku.
"Daftar ulang lagi pa?" Tanya Zara.
"Iya bu, karena no ini tidak berlaku untuk besok pagi. Ini hanya untuk kuota nya saja. Biasanya sampai jam 3 pagi kuota 50 orang ini terisi penuh. Nah besok pagi jam 8 pasien nya daftar ulang kembali di lantai 3, no 14 ini bisa jadi no 1 atau bisa jadi no 50. Gimana pasien nya daftar ulang besok." Jelas Security.
"Tapi pasti kebagian diperiksa hari ini kan pa?" Tanya Zara.
"Iya bu." Jawab Security.
"Jangan sampai nanti siang, nama ibu tidak terdaftar lagi." Jelas Zara.
"Iya bu, untuk hari ini." Jelas Security.
"Ok, terimakasih pa." Zara keluar kembali ke A Adit yang menunggu di parkiran depan.
"Udah?" Tanya a Adit.
"Udah, tapi besok daftar ulang lagi." Jelas Zara.
"Ribet ya? " A adit berkata.
"Banget, ayo ah pulang." Zara naik motor A Adit.
"Ayo." A Adit menyalakan motor nya.
"Berhenti a sebentar." Zara berhenti di depan penjual kue basah.
"Mau apa?" Tanya A adit.
"Beli kue, buat ke sekolah besok acara maulid nabi disekolah Jarel." Jawab Zara
Zara turun dari motor membeli kue basah, ternyata penjual kue basah ini jualan 24 jam. ini Jam setengah 2 malam aja masih sibuk produksi. Hebat orang padang usahanya tidak seperti orang sunda yang kebanyakan konsumtif, tidak banyak yang suka berjualan.
Sampai dirumah Zara jam 02.00 malem.
"Besok jam 6 ya A." Zara mengingatkan A adit berangkat ke pengadilan besok.
"Siap. Nanti a tunggu didepan aja. kalo udah siap kabarin." Jawab A Adit.
"Ok."
Zara masuk rumah, ternyata Jarel bangun dan nangis, tau aja dia ibunya keluar.
"Mamah ga ajak aa, aa mau ikut." Jarel nangis mukul-mukul aku, karena ditinggal.
"Malem aa, nanti aa sakit kalo keluar malem pake motor. Ayo tidur lagi, besok kan mau ada acara disekolah." Zara mengajak Jarel masuk kembali ke kamar.