DIARY ZARA

DIARY ZARA
49. Klarifikasi



Setelah 10 hari berlalu tanpa kabar Rangga, sampai saat ini masih aja terlintas ingatan tentang dirinya. Mungkin memang tidak akan bisa semudah itu lupa.


Butuh waktu lama memang. Tak apa memang apapun butuh proses.


Apalagi anakku yang selalu saja mengingatkan, tak apalah Zara sudah mulai berdamai.


Jam 22.00 setelah tutup toko. Zara buka whats app Rangga.


Astagfirullah, ternyata online. Kayanya tangan ini gatel aja, mau nya ngetik sesuatu untuk dikirimkan kepada A Rangga.


Astagfirullahaladzim. selalu istighfar deh Zara kalau ingat Rangga.


5 hari berlalu lagi, menjadi 15 hari. Kaya nya serius deh Zara harus tanya lagi kepada A Rangga. ga apa-apa mungkin ya untuk sekedar klarifikasi aja.


Zara ga mau terus-terusan memikirkan Rangga, sepertinya memang Zara perlu sebuah jawaban.


"A Rangga apa kabar? " Zara mengirim pesan.


Ya Allah ampuni Zara ya, karena Zara ga punya harga diri, masih saja mengirimkan A Rangga pesan. Siapa yang bisa membohongi perasaan hati sendiri, Ga bisa.


"A Rangga tolong kasih tanda kalo sekarang kamu bahagia, atau kamu udah punya wanita lain yang kamu cintai, atau kamu udah nikah, atau apapun itu yang bisa meyakinkan aku untuk tidak memikirkan kamu lagi. Aku cape, aku mau berhenti. " Zara mengirimkan pesan whats app pada Rangga Sabtu malam jam 22.47 karena Zara tidak bisa tidur.


"Se nggak nya kalau aku lihat kamu bahagia sama orang lain, aku bisa berhenti. Ga akan ganggu kamu lagi. " Jelas Zara.


Astagfirullah ya Allah, Zara benar-benar memang ga punya harga diri, tapi daripada Zara terus membohongi perasaan Zara sendiri, Zara tidak bisa juga.


"Tanda? ga cukup emang dari kemaren saya ga respon? saya diemin? " Rangga membalas.


"Bahagia itu ga harus selalu sama wanita kan?


Saya bahagianya dengan cara saya. " Jawab Rangga.


Tuh kan bener, ga ada wanita lain kan. Sebenarnya apa sih yang terjadi pada Rangga.


"Ga cukup. Tapi se nggak nya biar aku bisa berhenti mikirin A Rangga aja." Jawab Zara.


"Terus mau nya? " Tanya Rangga.


"Gimana caranya biar aku bisa lupa, biar aku bisa berhenti ga mikirin kamu, gimana caranya?" Tanya Zara.


"Ga ada yang nyuruh kamu buat mikirin saya kan. Teteh udah dewasa, baik, cantik pasti banyak yang mau sama teteh. Jangan terus terusan terpaku pada saya ya Zara. Dari kemarin saya diemin, ga saya respon, Biar teteh tau. Ga usah pake kata, cukup perbuatan kalo saya ga mau diganggu, Harusnya paham. " Jelas Rangga.


"Jangan tanya saya bagaimana cara melupakan saya, saya ga tau. Karna bukan saya yang membolak balikan hati. Tapi sang kuasa. " Jawab Rangga.


"Aku juga ga mau mikirin kamu terus, udah mencoba berulang kali menghindar dan melupakan, tapi ga bisa. " Jawab Zara.


"Blokir saja semua sosmed saya sama kamu. Dan coba berhenti buat stalking semua tentang saya. " Jawab Rangga.


Astagfirullah, ya Allah mengapa begitu sakit untuk mencintai orang ini dan mengapa diriku tidak pernah menyerah meski pikiran ingin menyerah namun hati memaksa terus untuk bertahan.


"Udah berkali-kali. " Jawab Zara.


"Ya jangan di buka lagi lah. " Tegas Rangga.


"Udah di hapus juga nomor nya berkali-kali. " Jawab Zara.


"Apa perlu saya bantu buat blokir semuanya. Sekalian minta saudara buat blokir FB kamu. " Tanya Rangga.


"Ga perlu, Ga ada yang didapat juga dari sosmed, buat apa. Mau di blokir atau nggak juga sama aja. " Zara membalas pesan Rangga.


"Banyak yang lebih baik dari saya, coba lihat sekeliling dalam hidup teteh. Coba buka mata, coba buka hati juga. " Jelas Rangga.


"Udah. " Zara tidak bisa berkata lebih banyak lagi.


"Keep going." Balas Rangga.


Zara menyerah entah harus berkata apalagi pada Rangga.


"Oh iya, Novel masih sama kaya cerita kamu? percakapan nya sama kaya kenyataan yang kamu alami? " Tiba-tiba Rangga menanyakan tentang Novel ku. Mungkin sampai saat ini diam-diam Rangga masih membaca novel ku.


" Boleh nanya tentang Hilmi? " Tanya Rangga.


"Kenapa dengan a Hilmi? Kemarin A Hilmi ke toko anter barang bareng si om. " Jawab Zara.


"Maaf ya, takutnya salah atau gimana. Seandainya percakapan kamu sama bapak itu bener. Maaf banget takutnya kamu ga tau, Hilmi sudah menikah. Takut nya ada salah paham. Cuma mau ngasih tau itu aja sih. Kalo Kamu udah tau ya Alhamdulilah. " jelas Rangga.


"Belum tau. " Jawab Zara.


Zara tidak tau Kalo sebenarnya A Hilmi sudah beristri, jika A Hilmi masih single Zara berniat membuka hati untuk A Hilmi, karena memang A Hilmi juga baik. Namun apa peduli mu Rangga.


"Oh ok. Makanya saya ngasih tau. Takutnya ada salah paham aja gitu, kalo dia udah nikah. " Jelas Rangga.


"Ya sudah, biarin aja. Alhamdulilah, berarti memang A Hilmi lebih beruntung dari pada kamu. Memang A Hilmi kelihatan udah dewasa, wajar kalau dia sudah menikah, ga kaya kamu. Mencla mencle ga jelas." Jawab Zara.


"Kalo ga percaya. Boleh tanya langsung ke orang nya. "Jawab Zara.


"Ha. ha... aku ga sekepo itu kalo untuk orang lain. Ga perlu lagian hanya berteman baik. Kalo A Hilmi udah menikah ya syukur Alhamdulilah. Berarti aku ga akan lanjutin buka hati ke A Hilmi. Simple kan? "Jawab Zara.


"Ya. " Rangga jawab singkat.


"Berarti A Hilmi gugur, karena sudah menikah. A Adit supervisor minimarket ga bertemu lagi dengan Zara sekarang karena pindah tugas. A Awan temen Zara dari tiktok juga menghilang. Gimana Zara mau buka hati lagi. Setiap yang diniatkan untuk buka hati. Orangnya semua menghilang. Saya menyerah. " Jelas Zara.


"Pelajaran buat kamu. Jangan semudah itu buat membuka hati. Inget setiap orang punya watak dan cerita hidup yang berbeda beda. Kamu terlalu mudah untuk buka hati tanpa tau bagaimana status dia, kehidupan dia, watak dia. Dengan ngeliat dia baik lalu dengan mudahnya buka hati. Ga gitu konsepnya. "Jelas Rangga.


"Ok. Terus Zara harus bagaimana?" Tanya Zara.


"Kamu yang tau tentang diri kamu sendiri. " Jawab Rangga.


"Nyatanya aku salah, Selama ini aku anggap dirimu baik. Aku terima segala keburukan yang kamu lakukan padaku, aku mencoba memahami segala sikapmu padaku, sampai-sampai diri Zara di anggap gila oleh ibuku sendiri. Zara tidak pernah benci padamu, walaupun segala perlakuan yang telah kamu perbuat selama ini pada Zara, berharap kamu berubah, berharap kamu menjadi orang baik, seperti yang selalu aku do'akan. seperti apa yang pernah kamu katakan, kita sama-sama perbaiki diri dan saling memantaskan diri. Semua orang juga pasti pernah melakukan kesalahan. Ujung nya apa, kamu memilih menghilang dan pergi. " Jelas Zara.


Bagaimana bisa Zara membuka hati untuk orang lain yang belum Zara kenal. Sedangkan dirimu pun Rangga, Zara mencoba mengenalmu melalui petunjuk shalat istikharah, setiap malam Zara memohon kepada Allah, untuk diberikan petunjuk tentang dirimu. Sampai Zara mendapatkan 10 rangkaian petunjuk mimpi tentang dirimu. Mungkin itu saja tidak cukup bagi mu.


Andai kamu tau, aku mencintai dirimu tulus. Tidak memerlukan alasan apapun, dan tidak memerlukan penjelasan apapun tentang masa lalu mu, Aku mencintai mu untuk hari ini dan nanti ke depan. Bagaimana dirimu sekarang, dan bagaimana dirimu menuju masa depan bersamaku, itu saja cukup.


Namun jika kamu tidak menginginkan hal itu, Zara bisa apa, mungkin saja Zara memang harus kehilangan orang yang sangat Zara Cintai saat ini, namun ingatlah mungkin kamu akan kehilangan Zara, orang yang sangat mencintai dirimu dengan tulus, apa adanya kamu saat ini. Dan Zara yakin Allah akan menggantikan dengan menghadirkan seseorang yang mampu menghargai Zara dan mencintai Zara suatu saat nanti walaupun itu bukan dirimu Rangga.


"Lah memang saya bukan orang baik. Kan sering bilang kalo saya ga baik. Bukan sombong seperti yang kamu bilang di novel. Ketika saya berkata mati 1 tumbuh 1000. Bukan sombong tapi harus nya kamu berpikir kalo saya memang tidak baik untuk kamu. " Jawab Rangga dengan emoticon tertawa.


"Bukan salah juga. Hanya saja mimpi yang kamu terima benar karena sang khaliq atau karena yang ada dalam pikiran kamu selalu saya dan saya. Bukan meragukan istikharah apalagi menyalahkan. " Jawab Rangga.


Wallahu 'a lam, Zara tidak tau.


"Sombong bener playboy. " Tegas Zara pada Rangga.


"Coba buang dulu segala tentang saya. Toh selama ini juga ga ada yang bisa disebut kenangan kan? menurut saya pribadi. Selama ini juga kita cuma selewat selewat doang kan?" Tanya Rangga.


"Kan saya sudah sering bilang. Saya ga sebaik yang selama ini kamu pikirkan. Terserah sih, mau bilang sombong, mau bilang arogan. What ever. " Jawab Rangga dengan 3 emoticon tertawa.


"Astagfirullah, ternyata ada ya manusia seperti ini. " Zara hanya bisa mengelus dada dan menghela nafas yang terasa sesak di dada.


"Andai saja bisa aku buang, udah aku buang ke tong sampah dari dulu, dirimu Rangga serius. karena tempat yang cocok untuk mu mungkin memang tong sampah. Atau buang saja ke laut. "Jawab Zara.


"Allah yang maha mengetahui. Ga anggap mati aja seperti yang ada di novel " Jawab Rangga.


"Sudah, tapi hidup lagi hidup lagi. Katanya dibolkir tapi ini masih bisa balas chat Zara. Oh iya mana coba tunjukin koleksi cewek kamu biar aku bisa percaya. Kalo memang koleksi cewek kamu banyak, mungkin kamu mudah untuk memilih siapa yang akan kamu jadikan istri, dan pasti kamu sudah menikah sekarang. A Adit aja saudara ku sudah punya anak 2 dia seumuran sama kamu, lah kamu masih gitu-gitu aja. Pusing karena terlalu banyak wanita. Dipilih saja dipilih, bila perlu jajarin seleksi mana yang sangat sempurna untuk dijadikan pendamping hidup arjuna tampan seperti mu. Kalo memang banyak koleksi. " Zara greget banget ingin menampar nya keras-keras andai kan Rangga ada di depan ku sekarang.


"Mau anggap saya mati. Oke, Anggap saja saya mati selamanya."Jawab Rangga.


"Adakah yang lebih parah dari itu, type wanita nya istri orang ternyata. " Tanya Zara.


"Emang apa yang lebih parah? " Tanya Rangga.


"Entahlah, kamu sendiri yang tau, apa yang kamu lakukan pada wanita. " Jawab Zara.


"Jujur aja ya, seberapa pun sering kamu chat aku, ga akan buat hati ku luluh Zara, yang ada risih. " Jelas Rangga.


Astagfirullah. Kuat kan hati Zara ya Allah.


"Ok bye, Assalamu'alaikum. " Zara membalas.


"Wa'alaikumsalam. " Jawab Rangga.


"Jangan baca novel aku terus, kepo. "Pesan Zara.


"Lagian bukan cuma novel kamu doang, Selama itu ada tentang saya. Apalagi anak-anak di toko. Contohnya Hilmi, Kalo ga tau, pasti terus berlanjut kan. Salah paham dalam rumah tangga orang lain, Kasian Hilmi yang ga tau apa-apa." Jawab Rangga.


"Oh iya, terima kasih banyak aa playboy atas informasinya tentang Hilmi. " Jawab Zara.


"Iya. " Balas Rangga.


"Tenang aja, ga bakalan di apa-apain kok, A Hilmi. Semoga saja kamu segera bertaubat ya Rangga. " Do'a Zara.


"Bukan urusan mu. "Jawab Rangga.


"Mau di apa-apain juga Hilmi terserah kamu, Baik jeleknya tau kan? " Tanya Rangga.


"Hanya mendo'akan, dan maaf Zara bukan tipe pelakor. Hanya ingin mendapatkan suami yang sholeh. " Jawab Zara.


"Amin. " Jawab Rangga.


"Kalo kamu ga sholeh juga ga mau. " Jawab Zara.


"Udah salam kan? ya udah. " Tanya Rangga.


"Emang, ya udah jangan diinget-inget lagi ya. " Jelas Rangga.


"Udah. iya. " Jawab Zara.


Zara menghapus semua chat dari Rangga.


"Udah bersih semua, selesai. " Zara mengirim kan screen shoot story chat dengan Rangga.


" Itu chat suami kamu kan? " Tanya Rangga, karena memang nama kontaknya My Husband.


"Iya. " Zara balas dengan mengirimkan no kontak dirinya. Asal kamu tau saja, itu chat Zara dengan Rangga bukan dengan Ditto.


Jam 23.45 Zara akhiri chat Zara dengan Rangga.


Namun Zara masih saja tidak bisa tidur. Sejahat itu Rangga padaku. kata-katanya sangat menyakitkan.


Jam 00.56 Zara mengirimkan Rangga pesan kembali.


"Kok kamu bisa sejahat itu sih?" Tanya Zara.


"Jahat. saya memang jahat. Biar teteh sadar, biar teteh paham. Ga selamanya apa yang kita inginkan di dunia ini selalu bisa kita dapatkan. Ga selamaya apa yang kita harapkan di dunia ini bisa terkabulkan. Ga selamanya berharap pada manusia bisa terealisasikan. " Jawab Rangga, langsung membalas chat Zara, Zara kira Rangga sudah tidur ternyata belum juga.


"Betul, memang ada alasan kenapa Allah ngasih kamu sama aku, ya untuk itu. Keren. " Jawab Zara.


"Mungkin benar ya, ga semua mantan santri itu Sholeh. Ini buktinya ada satu. yang modelnya begini. " Jawab Zara.


"Ha.. ha.. mantan katanya. Silahkan mau menjelekan aku seperti apa. Seperti yang sudah aku katakan. Jangan pernah merasa kenal seseorang hanya dengan kenal sebentar. Teteh lucu ya. " Jawab Rangga.


"Setidaknya kamu orang yang tau ilmunya, ga seperti aku, Zara termasuk orang jahiliyah, yang tak tau banyak tentang ilmu agama, hanya sekarang Zara ingin belajar untuk memperbaiki diri. "Jawab Zara.


"Zara ga akan menjelek-jelekan kamu, Zara bicara sesuai fakta yang dialami dan dirasakan. Zara beruntung pernah kenal dengan orang aneh seperti dirimu. Zara memang lucu, baru tau ya, kemana aja?" Jawab Zara.


"Ga usah bawa-bawa nama santri dalam hidup seseorang yang bahkan teteh ga tau tentang seseorang itu. Ga usah merasa bahwa anda mengenal seseorang melebihi orang itu sendiri. lebih baik kenali diri sendiri. " Jelas Rangga.


"Belum sepenuhnya kenal sama diri sendiri kan? baiknya pasti tau. Jelek diri sendiri udah tau? Tanya Rangga.


Kan barusan baru dikasih tau sama orang nya sendiri, iya kan? " Tanya Zara.


"Wkkkwkwk.. Dan langsung percaya gitu? " Tanya Rangga tertawa.


Sumpah ribet banget hidup nya Rangga, bicara nya berbelit-belit. Zara pusing. Zara tidak sanggup lagi.


"Sekali lagi saya ingatkan. Jangan merasa mengenal seseorang melebihi orang itu sendiri. Dan sampe bawa nama sang kuasa kaya kemarin. Kenali diri sendiri aja dulu. Udah ya capek jangan chat lagi. " Jawab Rangga.


"Setidaknya orang yang punya pendidikan agama sedari kecil, kelakuan nya ga akan seburuk itu. Terkadang kita perlu orang lain, untuk menilai bagaimana baik-buruk nya diri kita terhadap orang lain. untuk cerminan diri, sebagai teguran agar kita bisa memperbaiki diri. Kita tidak bisa serta merta menilai diri kita sendiri tanpa pandangan orang lain, namun kita juga tidak bisa mengandalkan hanya pendapat orang lain terhadap diri kita pribadi. Dua duanya sangat penting untuk proses perbaikan diri. Karena manusia mahluk sosial, bagaimana cara dirinya berhubungan baik dengan manusia mahluk Allah, dan bagaimana hubungan baik dirinya dengan Allah." Jelas Zara.


"Sedari kecil? Emang saya pernah bilang dari kecil? Buruk ya? ya... ya.. ya.... terserah dengan semua pemikiran anda saya tidak perduli. " Jawab Rangga dengan emoticon tertawa.


"Ga pernah bilang, tapi pasti Ayahmu mendidik agama sejak kecil, sampai beliau meninggal. Barulah setelah beliau meninggal kamu belajar sendiri, kamu tidak punya bimbingan kemana arah kamu akan melangkah. Semua orang tua pasti seperti itu. " Jawab Zara.


"Udah lah, saya memang orang jahat, saya memang orang yang buruk. Mau apa lagi?" Tanya Rangga.


"Ga apa-apa, alhamdulilah kamu mampu mengakui. Itu tidaklah mudah." Zara paham Zara hargai itu.


"Pasti mendidik, emang iya? kok kaya anda tau tentang keluarga saya ya? Tanya Rangga.


"Semua orang tua juga pasti seperti itu A Rangga. " Jawab Zara.


"Iya emang. Kata siapa? " Tanya Rangga.


"Kata Zara barusan. " Jawab Zara.


"Udahlah, kamu ga akan pernah paham. sudah jangan chat lagi. Anggap ga pernah kenal, anggap gak pernah ada. Kan sudah dianggap mati juga." Jawab Rangga.


"Kenal ya kenal aja, ga ada salahnya. Emang aku menuntut apa? ga menuntut apa-apa juga dari kamu, iya kan? " Tanya Zara.


"Ga menuntut tapi kok saya merasa terganggu dengan chat anda. Tau kalimat terganggu? paham artinya?" tanya Rangga.


"Iya Zara minta maaf. " Jawab Zara.


"Biasanya orang yang paham kata itu, akan berhenti menganggu. Terimakasih. " Jawab Rangga.


"Sama-sama. " Zara menjawab.


jam 1.36 tengah malam chat Rangga Zara berakhir.


Astagfirullah, gempa.


Zara kaget. Karena tempat tidur ku bergetar. Ada gempa yang lumayan cukup terasa, tapi tidak membuat ayahku bangun juga.


Zara menyimpan handphone Zara untuk tidur.


Terimakasih banyak A Rangga atas klarifikasinya. Zara tau Zara mencintai orang yang salah selama ini, Zara mengharapkan orang yang salah selama ini. Terima kasih atas penjelasan yang begitu panjang lebar. Tak ada lagi perasaan unfinished bussines dalam hati Zara. karena semua pertanyaan di hati dan pikiran Zara selama ini sudah terjawab. Bahwa memang kenyataannya Rangga tidak baik untuk Zara.