DIARY ZARA

DIARY ZARA
38. Kehilangan



Alhamdulilah ulang tahun Jarel sudah, Senangnya meskipun di rayakan dalam kesederhanaan.


"Ayah inget ga ulang tahun kamu Jarel" Tanya ibu pada Jarel.


"Nggak mungkin. " Jawab Jarel.


Ibu hari ini nginep dirumah ku, setelah acara ibu-ibu selesai, ibu ga pulang ke rumahnya.


"Sudahlah bu, yang udah hilang ngapain masih ditanyain terus?" Jawab Zara.


"Ga ada nanyain sama sekali gitu. " Tanya ibu.


"Mau nanya gimana, no Ditto kan udah Zara blokir. " Jawab Zara.


"Tes." ada pesan masuk dari Izzan laki-laki yang Zara kenal dari aplikasi taaruf.co.id


Zara hanya baca saja pesannya karena Zara tidak tertarik Duda anak satu, Zara ga mau.


Kenapa orang lama pada kembali lagi, Kemarin Kevin sekarang Izzan. Entahlah Zara tidak tau.


Zara isi saldo ke minimarket biasa Zara isi saldo.


"A isi saldo. " Zara memberikan uang dan handphone Zara ke kasir minimarket ini, Rame banget.


"Pa Adit ini udah selesai ya saya Stock opname nya. " Ada banyak karyawan minimarket ini. Yang sedang beres-beres barang. Karena baru selesai renovasi masih berantakan barang juga.


"Iya. " Adit jawab singkat.


Oh ternyata si aa suvervisor minimarket yang dewasa itu namanya Adit. Lagi sibuk banget dia memegang bon stock opname sepertinya.


Ketika malam tiba, jam 22.00 perasaan melow Zara kembali muncul. Setiap malam pikiran Zara pasti tertuju pada Rangga.


Beda ketika siang hari, Zara sibuk dengan aktifitas Zara. Zara bisa kuat, ceria, tertawa. Namun ketika malam tiba saat semua terasa sunyi yang ada dipikiran Zara hanyalah nama Rangga.


"A Rangga, kamu dimana? Bagaimana kabarmu sekarang, apa kamu baik-baik saja? Zara terus bertanya dalam hati.


"A Rangga, masih kerja di SR ga? " Zara memberanikan diri untuk mengirim Rangga pesan, namun tak ada balasan dari Rangga.


"A Rangga sebenarnya kamu kenapa? " Zara makin khawatir.


Malam berikutnya Zara kembali mengirimkan pesan.


"A Rangga, masih kerja di SR nggak?"


Masih tak ada jawaban.


Ya Allah, sebenarnya A Rangga kenapa?


Rasa penasaran sekaligus khawatir semakin menyelimuti pikiran Zara.


"A Rangga, kenapa kamu ga bisa jawab. Masih kerja apa nggak? Kemarin beberapa kali Zara ke toko, tapi Zara ga liat A Rangga disana. Sibuk di gudang apa udah ga kerja? Mau nanya ke anak-anak ga enak. " Tanya Zara sekali lagi.


"Udah nggak." Rangga membalas singkat.


Tangan zara mulai gemetar memegang handphone. Dan air mata disudut mata Zara mulai keluar.


"Keluar. " Tanya Zara.


"Ya. " Jawab Rangga.


"Kenapa? udah lama? sekarang kamu dimana?" tanya Zara.


Dan sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan di kepala Zara yang ingin Zara tanyakan. Namun Zara tak kuasa lagi menahan air mata ini yang mengucur deras. Keluar tanpa bisa dibendung lagi.


"Ya Allah, kenapa engkau seperti ini. Kenapa engkau malah semakin menjauh kan Rangga dari ku." Zara bicara dalam hati.


"Jawab satu aja, sekarang kerja dimana? " Zara berusaha mengetik pesan walaupun tangan Zara gemetar hebat, dan tangis Zara semakin menjadi.


"Dimana-mana hatiku senang." Jawab Rangga.


"Ya Allah, kenapa Rangga jawab seperti itu. Kenapa dia meninggalkan SR setelah kerja kerasnya selama ini yang dia berikan pada SR. Apakah ada masalah besar yang menyebabkan A Rangga pergi." Zara bertanya dalam hati.


"Serius nanya? kapan keluar? " Tanya Zara.


"Udah ya jangan terlalu banyak nanya. jawab satu, ujungnya nanya lagi kan. " Jelas Rangga.


"Terus ga bisa bertemu lagi berarti. " Jawab Zara.


"Ya Allah, andai Zara tau waktu itu sepulang parenting dari sekolah Jarel. Ketika Zara belanja ke SR rokok aja, itu adalah pertemuan terakhir Zara dengan Rangga. Zara pasti akan mengatakan langsung kalo sebenarnya selama ini Zara sangat merindukan Rangga. Zara sangat menyayangi Rangga, Lebih dari apapun Zara tidak ingin kamu menghilang dari hidup ku selamanya. Namun waktu itu Zara hanya bisa bicara dalam hati."


"A Rangga kamu Cape ya, kelihatan dari wajah kamu. " Itu pun Zara hanya bicara dalam hati.


Zara menelpon Rangga berkali-kali, namun Rangga tidak mau menjawabnya.


Zara sudah tidak tau harus berbuat apa lagi. Yang Zara inginkan hanyalah bisa bicara langsung dengan Rangga sekarang.


"Sekali lagi nelpon, aku blokir ya. " Balas Rangga dengan emot senyum.


"Please. A Rangga, jangan kasih aku senyum di saat seperti ini. Aku sangat takut tidak bisa bertemu lagi dengan kamu selamanya. " Zara bicara sendiri.


Ya Allah kenapa begitu sulit untuk aku, kenapa begitu sakit mencintai orang ini. Apa memang engkau tidak mengijinkan aku untuk bersama Rangga. Apa memang engkau tidak mengijinkan Zara bahagia bersama Rangga. Sebentar saja ya Allah ku mohon, sebentar saja.


"Jangan diblokir, 22 September masih kerja kan? Berarti keluarnya baru-baru ini. Kalo memang A Rangga udah keluar dari SR sekarang. Bisa jadi mimpi dari shalat istikharah ku benar. " Jelas Zara.


-flash back-


Zara ayo pulang, udah selesai kan belanjanya? " terdengar jelas suara A Rangga tapi wajahnya tidak terlihat jelas.


"Udah. " Jawab Zara.


Zara berjalan pulang bersama Rangga. Disamping SR Grosir ada sebuah bangunan 2 lantai yang mencuri perhatian Zara.


Bangunan ruko tua dua lantai, tanpa kaca, tanpa pintu, dinding penuh dengan lumut hijau, dalamnya sangat gelap, sungguh bangunan ini tak terawat atau bahkan tak tersentuh. seperti bangunan tua yang terbengkalai.


Hanya tertuliskan nama yang terpangpang di atas bangunan itu sebuah neon box besar bertuliskan "SUMBER REZEKI 2" dengan latar belakang warna kuning mustard, warna tulisan hitam, disamping kiri bertuliskan logo SR yang hurufnya berkaitan antara S dan R didalam kotak bergaris putih.


"A Rangga itu bangunan apa? Zara baru liat." tanya Zara yang sedang berjalan dibelakang A Rangga.


"Oh, itu bangunan yang akan kita isi, kita isi bareng-bareng nanti soalnya aku mau keluar dari tempat ini. ini tempat kakakku, Aku mau pindah ke tempat itu sama kamu." Jawab Rangga.


"Oh iya." Jawab Zara, sambil terus memperhatikan bangunan itu.


Apa kamu yakin Rangga akan mengisi bangunan itu, sepertinya butuh proses renovasi yang lama untuk bisa digunakan kembali bangunannya. " Zara berbicara dalam hati.


"A Rangga, pindah ke tempat ku aja yuk, kembangin usaha aku bareng-bareng. Mau nggak? kita mulai semuanya dari nol.


Karena Rangga pernah bilang.


Rangga punya prinsip, mulai dari nol bareng-bareng.


Zara mau berjuang bareng sama kamu, jangan takut kita bisa hadapi segala kesulitan bersama. Zara yakin itu.


Bagaimanapun keadaan kamu, cerita aja. Dari pada dipendam sendirian. Karena dulu ketika Zara jatuh. Kamu menemani aku sampai aku bisa bangkit kembali. Jangan menghilang seperti ini. Zara juga tidak akan menuntut apapun dari kamu, apalagi menikah. Tidak sama sekali, karena sekarang belum saat nya.


Pasti ada sesuatu hal yang terjadi, tidak mungkin kamu melepas SR begitu saja. Setelah segala kerja keras mu selama ini untuk SR.


Yang terpenting sekarang bagaimana keadaan kamu A Rangga, apa kamu baik-baik saja. Tolong jangan pergi, jangan menghilang dari aku, ku mohon.