DIARY ZARA

DIARY ZARA
65. New chapter in my life



Tak terasa sudah hampir satu tahun Zara menyandang status Janda. Sekarang Januari 2023, Zara belum mendapatkan jodoh penggantinya dari Allah. Mungkin memang belum waktunya.


Semua sudah diatur, Nanti jika memang waktu nya sudah tepat mungkin Allah akan mengabulkan do'a Zara. Zara selalu meminta sama Allah, Semoga Zara dipertemukan dengan jodoh terbaik pilihan Allah.


"Yah, kelamaan ayah nungguin Zaranya, udah mau satu tahun aja. Kalo mau berhenti nginep juga ga apa-apa kok yah, Zara ga akan nakal, serius." Zara bicara pada ayah sambil menunggu toko.


"Ha..ha.. iya bener, Ayah kira nungguin kamu hanya selama 3 bulan masa iddah aja. Karena setelah masa iddah selesai kamu akan menikah dengan Rangga, Eh nyatanya Hoaks. Ayah jadi kebablasan nungguin kamu kelamaan. "Jawab Ayah Zara sambil ketawa.


Memang sejak tanggal 9 februari 2022 sampai sekarang sudah Januari 2023, ayah ku tidak pernah absen menunggu Zara. Siang bantu di toko, malam menginap di rumah Zara. Pulang ke rumah ibu sore hari saja. Sedangkan ibu sendirian di rumah, terkadang menginap di rumah kak Maria atau di rumah Zara juga. Memang Ayah ku itu yang terbaik. Siapakah nanti laki-laki terbaik yang mampu menggantikan posisi ayah ku. Menjaga Zara, Melindungi Zara, Menjadi Imam terbaik untuk Zara dan Ayah sambung terbaik untuk Jarel. Zara tidak tahu, apakah itu ada suatu saat nanti atau tidak semua kembali kepada takdir. Manusia hanya berencana tuhan yang menentukan.


Kehidupan itu seperti suatu perjalanan. Begitu banyak fase yang telah dilewati. Tawa dan tangis, Susah dan senang silih berganti. Kecewa, Marah, Harapan, cacian, pujian, Pahit manis kehidupan, jatuh bangun perjuangan Zara selama ini telah dilewati. Pertemuan dan perpisahan pun silih berganti. Semua tidak akan pernah akan ada yang abadi, begitulah kehidupan. Maka yang terpenting adalah menjalani sebaik-baiknya, menikmati dan mensyukuri itulah hal yang terpenting untuk Zara saat ini.


Hari ini sepertinya Zara ingin sekali berbenah rumah, membuang segala barang yang sudah tak diperlukan lagi, menganti dekorasi dan mengganti cat rumah agar terasa baru, suasana baru tahun baru, menyambut kehidupan Zara yang baru.


Sebelumnya Zara harus mengirimkan orderan barang dulu ke A Eko.


"A Eko order." Zara kirimkan order barang Zara dari aplikasi SRC setiap pagi ke A Eko.


"Oke Zara. " A Eko pun selalu gercep balas pesan Zara.


Memang terbaik deh A Eko. Dan memang terbukti dengan kata-kata yang pernah Zara baca. "Pada akhirnya Allah akan memberikan orang yang kita butuhkan, bukan orang yang kita inginkan. "


Selama ini laki-laki yang Zara inginkan itu adalah Rangga, yang Zara kejar itu Rangga. Tapi apakah itu berhasil, tidak sama sekali. Dan apakah Rangga ada ketika Zara membutuhkannya dulu, tidak sama sekali. Dia hanya menghindar, tidak peduli lalu pergi.


Lalu Zara menginginkan A Deni. Apakah itu berhasil? Lagi-lagi tidak. A Deni mungkin tidak pernah tau bahwa Zara pernah suka sama dia dan mungkin tidak akan pernah tau, tapi justru ini lebih baik dari pada yang dulu bersama Rangga.


Sekarang A Eko. Dia hadir secara tiba-tiba, menawarkan bantuan untuk membantu memudahkan pekerjaan Zara. Padahal dari dulu juga udah ada A Eko, hanya saja Zara tidak pernah berpikir bisa dekat dengannya karena memang secara penampilan dan ekonominya juga mungkin beda level ya dengan Zara dan anak-anak SR yang lainnya. Sehingga tidak mudah untuk akrab dengannya. Dia itu mungkin saja istimewa.


Namun sekarang justru setiap hari Zara komunikasi nya malah dengan A Eko, Barang belanjaan Zara tanggung jawab A Eko. Terima kasih banyak ya Allah akhirnya engkau menghadirkan seseorang yang tepat untuk Zara. Namun Zara takut nantinya Zara mempunyai perasaan yang lebih. Dan akhirnya Zara kecewa karena mungkin saja A Eko tidak akan suka pada Zara karena status Zara.


"Oke terimakasih." Balas Zara.


Zara mulai berbenah dari kamar Zara. Zara keluarkan baju baju yang sudah tidak terpakai lagi dari lemari. Masih tersisa juga baju-baju Ditto. Zara pisahkan yang masih layak pakai dan yang sudah harus dibuang. begitu pula dengan perabotan rumah tangga lainnya.


7 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak cerita yang tertinggal di rumah ini bersama Jarel dan Ditto. Sebaiknya Zara mendekorasi ulang agar setiap kenangan di sudut rumah ini sedikit menghilang walaupun tidak akan sepenuhnya menghilang.


"Ayah Zara mau ke Home Center dulu ya beli cat dan ada beberapa kran Wastafel juga yang mesti di ganti karena rusak." Zara bicara pada Ayah.


"Memangnya uangnya ada? dari Bank kan belum Pencairan." Tanya Ayah.


"Ada, paling cuman berapa, ga mahal kok yah. " Jawab Zara.


"Mungkin iya, nunggu WA dari A Eko aja nanti barangkali pas dijalan ngabarin." Jawab Zara.


"Ok. Jarel tunggu di rumah?" Tanya Ayah.


"Iya lagi maen dirumah tetangga bersama anaknya." Jawab Zara.


"Sama-sama Zara. Orderan nya udah beres disiapin, tinggal diambil aja. " Ada pesan masuk dari A Eko ketika Zara masih diangkot.


"Iya makasih. Berasnya ada ngga? " Tanya Zara karena lagi butuh sekali beras untuk para pelanggan Zara.


"Duh lupa, kalo ga salah sih ada tadi. Soalnya aku nya lagi Isoma dulu Zara." Jawab A Eko.


Sesibuk apapun masih sempat A Eko balas pesan Zara.


"Oke, bentar lagi di ambil. " Jawab Zara.


"Siap. " Balas A Eko.


Pulang dari beli bahan untuk renovasi rumah Zara langsung mampir sekalian ke SR ambil barang belanjaan. Ternyata A Eko nya tidak ada, beneran lagi istirahat.


Zara langsung bayar ke A Fadli dan mengambil barang Zara yang sudah disiapkan Mang Dedi.


Sampai dirumah Zara langsung memberikan bahan-bahan untuk sedikit renovasi rumah pada ayahku.


"Tumben kamu mau ganti cat rumah? " Tanya Ayah sambil ketawa karena sudah lama belum Zara ganti cat rumahnya.


"Biar keren ya. " Jawab Zara.


"Nanti yang mau ngelamar takut dong?" Tanya Ayah.


"Biarin yah, Zara udah ga peduli. Lihat Pagar rumah aja takut kaya si Rangga dulu yah, apalagi sekarang?" Jawab Zara.


Pagar rumah Zara pake kaca. Untuk rumah dikampung seperti Zara sekarang hanya Rumah Zara yang pake, tidak ada tetangga lain yang model rumahnya seperti rumah Zara.


Makanya, banyak laki-laki yang mau mendekati Zara pun segan hanya karena lihat pagar rumah Zara aja. Padahal sebetulnya Zara tidak semenakutkan itu. Makan ikan asin pun Zara suka. Hanya entah lah orang lain memandang Zara seperti apa Zara pun tidak tahu.


Mungkin saja suatu saat nanti ada laki-laki yang siap bertemu Zara. Siap menerima apa adanya Zara, siap menerima segala kekurangan Zara. Percayalah Zara tidak semenakutkan seperti yang orang bayangkan mungkin.


Tidak terlalu melihat materi, jika memang laki-laki itu satu visi dengan Zara, Zara siap menemani dan kita tumbuh bersama dalam hal karir dan kehidupan itu yang Zara inginkan.