
"A Eko order, barangnya di antar si om ya." Zara kembali mengirimkan pesan WA orderan Zara ke A Eko.
"Oke, Siap." Balas A Eko.
Gercep memang responnya padahal Zara kirim orderan tuh jam 12 siang mungkin di SR lagi sibuk, tapi A Eko selalu menyempatkan membalas pesan orderan Zara, Alhamdulilah.
Sambil nunggu order barang datang, Zara menunggu toko dan Agen, gantian. Karena pegawai Zara hanya satu, Ayah ku aja. sedangkan tempat usaha Zara sekarang jadi dua. Terkadang Zara di Tempat Agen, terkadang Zara di Toko sembako J Store milik Zara. Lebih harus bisa pinter-pinter ngatur waktu aja. Belum lagi antar jemput sekolah dan pekerjaan rumah tangga juga. Belum menulis Novel juga. Alhamdulilah Zara jadi sibuk sekarang. Tidak banyak waktu terbuang sia-sia.
"Assalamu'alaikum." Ada pesan masuk di What's app nomor nya tak dikenal.
Zara tidak membalas nya.
"Zara ini bibi." Ada pesan masuk lagi dari nomor yang sama.
Oh ternyata pesannya dari saudara ku, istri almarhum Om Zara.
"Oh maaf, kirain Zara siapa ga kenal. he.he.." Balas Zara.
"Ga apa-apa, Zara bibi punya kenalan. Mau nyari calon istri, Zara udah punya calon belum? he .he.. " Tanya bibi pada Zara.
Zara balas emoticon tertawa aja.
"Statusnya apa?" Tanya Zara.
"Duda muda, Pegawai punya gaji. Punya anak 1 laki-laki umur 2 tahun, Orang Bekasi." Jelas bibi pada Zara.
"Oh Duda ya, ga mau Zara bi." Jawab Zara.
"Oh iya ga apa-apa. Barangkali mau gitu Zara, maaf ya." balas bibi Zara.
"Kenapa ga sama bibi aja, bibi juga kan janda. he..he.." Balas Zara.
"Kan bibi mu udah tua Zara, ga pantas lah. Masa iya mau ke berondong. Usia 30 tahun cantik, masa ga mau sih?" Tanya bibi ku merayu.
"Ha..ha... Duda muda. Ga mau Zara bibi, tetep ya." Jawab Zara.
"Apa lagi bibi, mana mau orang nya sama bibi mu yang udah tua kaya gini, ga nafsu kali.ha..ha..." Jawab Bibi Zara.
"Belum mau Zara, makasih banyak buat tawaran nya bibi sama Zara. Mungkin belum waktunya sekarang Zara mendapatkan suami lagi ya bi, nanti pasti ada kalo udah waktunya." Jelas Zara.
"Amin, Insya Allah. Do'a terbaik untuk Zara ya cantik." Balas bibi Zara.
"Amin, makasih ya." Balas Zara.
"Duda lagi, Duda lagi." Zara ketawa dan menggerutu.
Zara tidak mau Duda punya anak, ribet. Panjang urusan nya, Belum tentu membuat Zara bahagia juga. Sendiri aja Zara sudah merasa nyaman sekarang. Santai aja, sampai nanti bertemu dengan laki-laki pilihan Zara, dan laki-laki itu juga memilih Zara. Laki-laki yang akan menjadi partner hidup, teman bercerita di kala susah maupun senang, sekaligus panutan, seorang imam yang akan menuntun, menemani sisa hidup Zara sampai tua, jangan lah orang sembarangan, perlu pemikiran yang matang, karena bukan hanya soal cinta. Tapi harus satu tujuan, satu visi misi biar tidak meninggalkan dan ditinggalkan ditengah perjalanan kehidupan.
Si om Dateng jam setengah 9 malem.
Alhamdulilah sekarang orderan barang Zara lancar.
"A Eko si om udah Dateng, bayarnya udah transfer ya." Zara kirim pesan ke A Eko.
"Oh iya, makasih Zara." Balas A Eko.
"Sama-sama. Barang nya di cek besok ya." balas Zara
"Siap." Balas A Eko.
"A Eko kayanya ini bumbu harga bon sama barangnya beda, salah ya."
Siang hari setelah Zara nganter Jarel sekolah, Zara input barang ke komputer kasir sambil Ayah ku menata barang belanjaan Zara yang tadi malem dikirim si om.
"Walah iya, itu sih harusnya harga yang 250 gram." Balas A Eko.
Zara balas emoticon nyengir aja. Hebatnya mau nanya barang jam berapa pun A Eko selalu respon. Alhamdulilah Nemu juga partner seperti ini.
"Nanti kembali uang aja ya." Jawab A Eko.
"Ok." Zara balas singkat.
"Salah ngasih mang Dedi nya Zara. wkwkwk..." Balas A a Eko.
Semangat Zara kembali, melihat perkembangan toko dan Agen alhamdulilah sedikit sedikit mulai membaik omset nya.
Begitu juga dengan partner usaha baru Zara A Eko, tidak ada hari terlewatkan untuk kirim pesan what's app sekedar kirim orderan.
Terkadang Zara penasaran dan ingin tahu A Eko lebih dekat, tapi ketika Zara cari tau info tentang dia, Zara tidak mendapatkan informasi apapun. Ya sudahlah ya yang penting dia mau bantu orderan Zara aja udah alhamdulilah. Suka wajar tapi jangan pernah mencintai sebelum akad itu sih prinsip Zara sekarang.
Keesokan harinya Zara kirim pesan Orderan lagi ke A Eko.
"A Eko order, dikirim si om ya nanti barang nya." Jam setengah 7 pagi Zara kirim orderan barang ke what's app a Eko.
"Ok Siap Zara." Balas A Eko.
"Ok Terimakasih." Balas Zara.
Seringan itu obrolan kami setiap hari. Tapi Zara senang sekali akhirnya ada orang yang bisa Zara jadikan partner, partner usaha kita. Saling menguntungkan sebetulnya. A Eko memang kerjaannya mengelola SR mungkin di sana. Dan Zara bisa memenuhi kebutuhan stock barang toko Zara berkat bantuannya sambil melayani pelanggan Zara di Agen Bank Mandiri usaha baru Zara.
"Zara bumbu renceng nya mau apa kata Citra?" Ada pesan masuk dari A Eko jam 11 siang.
"Apa aja bebas, campur boleh." Jawab Zara.
"Emang nya A Eko ga sibuk gitu, sempet nanyain orderan lagi ke Zara jam segini." Pikir Zara
Malamnya si om pun kembali mengirim kan barang seperti biasa, rutinitas Zara sekarang seperti itu lah. Toko dan Agen bolak balik aja.
Pas di cek ternyata ada satu pak barang yang ga masuk di bon.
"A Eko barang udah Dateng, makasih. Tapi ini obat nya ga masuk di bon satu pak, ga kebayar berarti ya?" Tanya Zara.
"Wah iya ga ke input tadi, Citra tadi kelewat input nya dia." Disertai emoticon tertawa A Eko.
"Untung aja Zara jujur, coba kalo ga jujur ga akan deh Zara bilang ke A Eko. ha..ha.." Pikir Zara.
"Tambahin ke bon besok aja ya." Balas Zara.
"Iya ih maaf ya Zara. Makasih juga info nya." Balas A Eko.
"Minyak curah juga kurang satu kantong loh, sama detergen bubuknya salah. Ha..ha..." Ternyata banyak kesalahan di orderan Zara hari ini.
Tiba-tiba ada telpon masuk dari A Eko, Zara kaget.
"Ayah.. ayah... A Eko nelpon." Zara yang sedang duduk didepan komputer Zara mendadak gugup melihat Layar handphone Zara muncul nama kontak A Eko.
"Angkatlah." Jawab Ayah yang sedang merapikan barang sambil ketawa.
"Assalamu'alaikum." Jawab Zara dengan nada gugup. karena baru pertama kali ngobrol langsung di telpon dengan A Eko.
"Wa'alaikum salam, Jadi gimana Zara?" A Eko langsung bertanya. Memang orang ini tegas tidak suka bertele-tele. Tapi suaranya kok mirip Ditto banget, Masya Allah Zara gugup sekali bener deh.
"Ini loh a, tadi Obat nya belum ke bayar ya, terus aku tuh pesen minyak kan 10 kilo ya, harus nya 40 kantong yang 1/4, ini cuman ada 39, berarti kurang satu kantong ya. Terus Detergen nya aku pesen Soklin si Om malah bawa nya Daia, jadinya aku balikin lagi ke si om detergennya." Jelas Zara, sebetulnya hati Zara dag Dig dug ga jelas itu sambil ngomong nya, entah A Eko paham atau tidak.
"Oh iya, berarti besok si om bawa tukeran detergen nya jadi nya soklin kan yang bener, tambahin minyak 1 kantong, terus tambahin bayar obat yang 1 pak di bon ya." A Eko mengulang perkataan Zara tanda dia mengerti.
"Iya betul." Jawab Zara.
"Ok siap Zara, maaf ya banyak yang salah tadi rame banget di toko soalnya." Jelas A Eko.
"Iya ga apa-apa." Jawab Zara
Terdengar suara anak kecil juga rame di telpon a Eko tuh. Mungkin memang udah di rumah kan ya kalo jam 9 malem begini. Itu suara Adiknya yang main lato-lato itu mungkin.
"Ayah........" Zara menutup telpon A Eko sambil kipas kipas gerah ga jelas.
"Ha .ha ... kenapa kamu kepanasan ya, baru ditelpon begitu juga." Tanya Ayah sambil ketawa.
"Kaget ayah, kirain ga bakalan nelpon A Eko nya. Tapi kok suaranya Ditto banget loh yah." Jawab Zara.
"Ha .ha... mungkin Ditto kembali dengan versi lebih baik." Jawab Ayah.
"Mungkin." Jawab Zara
Malam ini sepertinya Zara ga bisa tidur nih gara-gara denger suara A Eko.