DIARY ZARA

DIARY ZARA
56. Rutinitas



"Yah aku mau langsung belanja ya, Jarel aku turunin di Sekolah. " Sebelum berangkat ke sekolah Zara bicara dengan ayah.


"Iya, sekalian tanyain obat yang kurang kemarin. " Jawab Ayah.


"Siap, Ayo Jarel berangkat. " Zara berangkat mengantar Jarel sekolah.


Sampai di SR, ada A Deni yang sedang duduk dikursi depan seperti biasa.


"Biasa aja ya Zara, a Deni nya kan udah punya pacar. Jadi Zara ga boleh suka sama a Deni, terus terlalu muda juga dia untuk Zara." Zara bicara dihati sambil masuk ke SR melewati A Deni yang sedang duduk dikursi depan.


Zara langsung membawa keranjang belanja yang tersedia di depan.


Selesai belanja, waktu nya Zara menelpon a Adit sambil menunggu antrian pembayaran didepan kasir. Ada teh Syifa dan A Eko disana.


"A dimana? " Zara tanya A Adit di telpon.


"Aduh de aa lagi bawa anak sekolah Renang, ga bisa jemput. "Jawab A Adit.


"Oh ya udah ga apa-apa a, biar Zara cari angkot lain aja diterminal. " Jawab Zara.


"Ok siap. " A Adit menjawab dari sebrang telpon sana.


"Ini teh uang nya. " Zara memberikan uang belanja Zara ke teh Syifa.


"Oh iya. " Jawab teh syifa.


"A ini kemarin obat harusnya 10 ini cuman ada 5, ada dua macem ini yang kurang." Zara memberikan bon belanja Zara kepada A Eko yang sedang menyiapkan belanjaan rokok.


"Oh iya gitu? mana coba liat bon nya." Jawab A Eko.


"Ini. " Zara memberikan bon nya.


"Oh iya maaf aku salah, kurang 5 ya, tunggu sebentar ya." Jawab a Eko.


"Ok. " Zara berdiri didepan nya sambil menunggu rokok dan obat-obatan yang dia siapkan.


"A kalo tahun baru nanti tutup ga? " Tanya Zara.


"Nggak lah, ngapain tutup. Paling tutup nya sehari aja pas hari Raya idul Fitri. " Jawab A Eko.


"Emang nya ga liburan gitu? tahun baruan. " Tanya Zara.


"Nggak, liburan kemana. Mending jaga toko lah. " Jawab A Eko ketawa.


"ha.. ha.. Iya juga sih, Ya udah berarti besok kalo Zara belanja ada gitu, toko nya ga libur. " Jawab Zara.


"Iya, tutup nya hari lebaran aja satu hari. " Jawab A Eko.


"Ok siap. " Jawab Zara.


"Ini udah, dicek lagi ya. Barangkali ada yang salah atau lupa ketinggalan. " Jelas A Eko sambil memberikan kantong kreseknya.


"Siap A. " Jawab Zara.


"Eh tunggu, Zara udah masuk SRC belum? " Tanya teh Syifa.


"Belum. Emang kenapa? " Jawab Zara.


"Daftarin aja, biar nanti kalo ada program dari Sampoerna bisa ikutan." Jelas teh Syifa.


"Caranya gimana teh? " Tanya Zara.


"Ko, Ajarin Zara nanti yang SRC ya, biar gampang belanjanya juga. " Teh Syifa nyuruh A Eko mengajarkan Zara tetang SRC.


"Hahh, iya teh Siap. " Jawab A Eko yang sedang sibuk menyiapkan barang belanjaan para pelanggan.


"Nanti aja ya, A Eko nya juga lagi sibuk teh. " Zara bicara pada teh Syifa karena melihat toko nya juga yang lumayan lagi rame.


"Oh ya udah. " Jawab teh Syifa.


Zara berjalan ke luar SR sambil berfikir. "SRC apa sih, grup atau apa ya? " Zara bertanya-tanya dalam hati.


"Ya udah lah gimana nanti aja, ga ngerti Zara. " Zara bicara terus dalam hati.


"A titip dulu, mau cari angkot ke terminal. " Zara titip barang belanjaan Zara ke A Deni di depan.


"Iya." Jawab A Deni singkat.


"Hahhh ya sudah Zara jangan berharap aa godeg mau sama kamu, terlalu muda. " Zara bicara sendiri sambil berjalan ke terminal angkutan umum.


Aa Godeg itu panggilan kesayangan Zara untuk A Deni karena mukanya ada cambang sama kumisnya tapi ganteng kelihatan nya menarik, karena warna kulit nya juga putih jadi pas aja gitu, good looking sekali.


Zara kembali ke SR dengan Angkot yang Zara ajak dari terminal.


" A diambil." Zara membawa belanjaan Zara sendiri yang di kumpulkan di depan a Deni karena memang dia bagian gudang dan checking keluar masuk barang di SR Grosir. "


"Iya. " Jawab A Deni.


"Peka dong Den, peka. Itu cewe bantuin kenapa. Kan berat. " A Hilmi yang sedang packing barang menggoda a Deni yang dari tadi hanya duduk diam di situ sambil memegang bon yang sedang dia cek juga.


"Oh ya udah, biar sama aku aja. " A Deni langsung berdiri membantu aku mengangkat barang belanjaan ku ke dalam angkot, karena sopir nya agak manja ga mau bantu Zara angkat-angkat barang belanjaan.


"ga apa-apa a biar aku aja. " Jawab Zara berusaha membawa dus yang dipegang a Deni.


"Ga apa-apa ayo. " A Deni tetep melanjutkan langkahnya ke angkutan umum yang terparkir didepan.


"Ya sudah. " Zara mengikuti nya aja dari belakang.


"Ha.. ha.. hayu a pulang dulu. " Zara berlalu sambil tertawa.


"Makasih a. " Zara bicara pada a Deni didepan pintu masuk angkot nya.


"Iya sama-sama. " Jawab A Deni tersenyum.


Sampai di Toko zara kembali merapikan barang belanjaan Zara, sambil cek barangnya satu persatu.


"Idih, ko ini Cream nya ga ada sih 2 renceng. " Zara mencari 2 barang cream kosmetik sachet yang ga kemasukin nih sepertinya.


"Apa lagi? " Kata ayah.


"Ini cream nya ga ada, padahal udah dibayar. lupa lagi atau ga tau gimana nih. A Eko A Eko ada-ada aja. " Zara bicara sendiri.


"Gagal fokus mungkin. " Tanya Ayah.


"Ga tau, saking rame nya kali yah jadinya kelewat barang nya ga dimasukin kantong belanja. " Jawab Zara.


"Mungkin. " Ayah menjawab.


"Ya sudah besok Zara tanya lagi ke A Eko nya." Jawab Zara.


Tiba-tiba ada telpon masuk dari saudara ku yang ngurusin Over kredit mobil ku dulu.


"Hallo Bah, Assalamu'alaikum. " Jawab Zara di telpon.


"Wa'alaikumsalam, gimana Zara sehat? " Tanya saudara ku disebrang telpon sana.


"Alhamdulilah bah, ada apa?" Tanya Zara.


"Gimana Ditto masih nanyain masalah mobil ga sekarang?" Tanya nya abah.


"Nggak sih bah udah aman sekarang." Jawab Zara.


"Oh syukur lah kalo gitu, mau mobil apa sekarang Zara?" Tanya Abah sambil tertawa.


"Pajero bah." Jawab Zara sambil tertawa.


"Yahhh, adanya Fortuner ini. Mau nggak?" Tanya abah pada Zara.


"Ha..ha... uangnya dari mana bah, Zara ga punya uang kalo buat beli mobil sekarang." Jawab Zara sambil tertawa.


"Eh...bukan, ini serius." Jawab Abah saudara ku itu.


"Waduh...serius serius apa bah? " Tanya Zara sedikit curiga.


"Ini ada temen abah lagi nyari calon istri, ini lagi ada di rumah lagi main, mau kenal sama Zara. Boleh?? " Tanya Abah.


"Statusnya bah? " Tanya Zara.


"Duda. " Jawab Abah.


"Ga mau. " Zara menjawab tanpa berfikir lama.


"Kenapa ga mau, masih muda. Punya Fortuner bos batu, temen Abah, dia pengusaha. " Jelas Abah sambil tertawa.


"Ga mau. " Jawab Zara tertawa.


"Yakin? kenalan aja dulu, video call ya. " Si abah kekeuh nih membujuk Zara.


"Ga mau abah, Zara ga suka video call sembarangan sama orang. " Jelas Zara.


"Tidak akan mengecewakan kok, tenang Abah jaminan nya, pengusaha sukses dia. " Jelas abah lagi pada Zara.


"Ga mau abah, Zara ga mau sama Duda. " jawab Zara kesel.


"Ha.. ha.. ya sudah emang kamu susah ya, kalo sekalinya ga mau ya udah ga bisa dipaksa. "Jawab Abah sambil tertawa aja dia.


"Kalo mau nawarin jodoh doang jangan nelpon Zara lagi, Zara ga mau. Ok.." Zara tegaskan pada saudaraku itu.


"Ha..ha...ya udah nggak ga akan deh." Jawab Abah sambil ga berhenti tertawa.


"Pinter Abah, itu baru saudara Zara." Jawab Zara sambil menutup telpon nya.


"Siapa?." Tanya Ayah.


"Itu si Abah, kirain mau nanya masalah mobil lagi ga tau nya nawarin duda." Jawab Zara pada Ayah.


"Oh yang tadi mobil nya parkir didepan rumah nya kali, Fortuner." Jawab Ayah.


"Iya, bos batu katanya." Jawab Zara ketus.


"Terus kamu jawab apa." Tanya Ayah.


"Ya ga mau lah." Jawab Zara.


"Tapi kan punya mobil." Jawab Ayah.


"Ogah punya mobil juga kalo statusnya Duda, ga mau Zara." Jawab Zara.


"Dasar kamu." Jawab Ayah.


Udah ah Zara males kalo udah ditawarin Duda duda kaya gitu.


Zara berlalu dari Ayah, pergi ke rumah.