
"Aa mamah mau ikut kajian dulu ya di madrasah. " Zara bicara pada Jarel
"Ikut. " Jarel mau ikut aku kajian.
Kajian di dekat rumah ku setiap minggu sore.
"Ya udah ayo kalo mau ikut." Zara berangkat ke madrasah belakang rumah.
Sampai di madrasah, ibu-ibu tetangga udah berkumpul. Memang aku agak telat juga sih datangnya.
"Umi, teteh ustadzah nya ga bisa hadir lagi halangan. Sama umi aja di pimpin baca Ratib nya. "tetangga ku datang memberi tau kalo Ustadzah Salma tidak bisa hadir.
"Aduh, kacamata umi juga ketinggalan. Ga bisa baca umi kalo ga pake kacamata, maklum faktor U.. he.. he. " Jawab umi Asiah kepada kami semua.
"Neng Zara aja ayo yang pimpin baca Ratib Al-Athos sekaligus tawasulan nanti lanjut terakhir Yasin. " Umi Asiah menyuruh Zara untuk membacakan Ratib.
"He.. he.. takut salah umi, Zara ga biasa, malu. " Jawab Zara nyengir.
"Ga apa-apa, masa ibu-ibu bubar, gara-gara ga ada Ustadzah Salma kan ga lucu. "Jelas Umi Asiah pada Zara.
"Ya sudah umi, Tapi Zara juga masih belajar ya, mohon maaf kalo bacaan nya kurang lancar, karena Zara bukan anak pesantren. he.. he.. " Jawab Zara.
"Iya ga apa-apa. " Jawab Umi Asiah.
Zara kemudian duduk di depan ibu-ibu memimpin pembacaan Ratib Al-Athos, tawasul dan pembacaan surat Yasin. Sebenarnya Zara suka sekali, karena di rumah juga Zara sering baca Ratib bareng Jarel, Belajar.
Setelah selesai, Waktunya Zara dan para ibu-ibu menikmati teh dan kue-kue yang biasa kami bawa ke madrasah.
"Neng Zara Bagus suaranya, udah keren itu mah asli. Pernah mondok dimana? " Tanya ibu Hani pada Zara.
"Ha.. ha.. pesantren kilat kali bu. Zara gak pernah mondok. " Jawab Zara ketawa.
"Tapi Bagus kok beneran, siapa gurunya?" Jawab bu Hani.
"Alhamdulilah, Belajar dari Ustadz Muhammad Rangga Nugraha bu, pesantren kilat. he.. he.. "Jawab Zara.
"Oh gitu ya, Baru denger ibu namanya Ustadz Rangga, Zara". Jawab Umi Asiah.
"Ha.. ha.. Bercanda bu, nggak ko. " jawab Zara.
A Rangga, aku banyak belajar dari kamu, untung saja waktu itu kamu mengajak aku untuk memperbaiki diri, memantaskan diri. Jaga diri, jaga hati, jaga kehormatan. Orang yang banyak memberikan Zara tausiah waktu itu. Dari situlah Zara memutuskan untuk berubah, meninggalkan segala sifat buruk Zara demi apa, demi menjadi wanita terbaik yang pantas untuk menjadi istri mu nanti.
Zara tau A Rangga seorang lulusan pesantren ternama,
bahkan pernah mengajar di pesantren juga. Ada sebagian orang yang memanggilmu pa Ustadz.
Dari situlah Zara bertanya pada diri Zara. Apa Zara pantas menginginkan Rangga dengan latar belakang seperti itu, Apa keluarga Rangga bisa menerima Zara, sedangkan status Zara pun hanya seorang single parent. Dari situlah Zara sadar, Zara harus menjadi wanita yang istimewa, terhormat, cerdas memiliki ahlak yang baik, agar tidak memalukan ketika bertemu dengan keluarga A Rangga.
Eh ternyata, eh ternyata. Rangga nya juga ga mau. Ya sudah lah, Zara merasa semua yang Zara lakukan tidak sia-sia, kalaupun misalnya nanti bukan Rangga yang menjadi suami Zara, pasti akan ada laki-laki yang lebih baik dari pada Rangga. Karena jodoh adalah cerminan diri. Allah tau yang terbaik untuk kita.
"Astagfirullahaladzim.. Zara ko kamu jadi ngelamun sih." Zara bicara dalam hati.
"Oh iya Neng Zara, untuk acara maulid Nanti, Neng Zara aja yang baca sholawat ya, pagi-pagi pas waktu pembukaan dilanjutkan baca Maulid Ad-Diba'i" Umi Asiah nyuruh Zara lagi.
"Hah...malu umi. Biasa nya kalo acara maulid, ibu-ibu yang datang kan banyak, nanti Zara grogi lagi." Jawab Zara.
"Ga akan, bareng Ustadzah Salma dan anak nya juga kok." Jawab Umi Asiah.
"Oh. Iya boleh." Zara menyanggupi.
Berhubung Zara ditugas kan baca sholawat pagi-pagi. Sepertinya jika aku masak 20 porsi dan 1 macam kue untuk acara maulid, Zara ga sanggup deh. Karena cateringan nya harus dikumpulkan jam 6 pagi.
"Biasa lah kalo mau ada acara maulid nabi, ibu-ibu patungan bikin besek, ompreng, berkat. Atau apalah itu namanya. Beda tempat beda sebutan biasanya. "
"Bu Zara pesen nasi 20 porsi ya diambil jam 6 pagi. " Pulang dari sekolah Zara mampir ke Warung nasi bu Endang langganan Zara beli makan.
"Untuk kapan? " Bu Endang bertanya.
"Hari sabtu besok bu. " Jawab Zara.
"Lamaran apa bu, calon nya aja ga punya Zara. " Jawab Zara tersenyum.
"Di do'ain sama ibu, cepet dapet jodohnya ya, Neng Zara cantik, masih muda, pinter. Laki-laki mana yang ga mau. Biar nanti ibu yang masakin buat acara nya. " Jelas bu Endang.
"Amin bu, mudah-mudahan ya. Do'ain aja. " Jawab Zara.
"Iya pasti, ibu do'ain." Jawab bu Endang
"Aa Jarel bangun. " Zara membangun ka Jarel anakku.
"Mmmmmm..... " Jarel masih merem
"Ayo bantuin mamah ambil nasi dari bu Endang. " Zara berkata pada Jarel.
"Ayo." Jarel langsung melek.
Zara dan Jarel berjalan kaki untuk membawa paket nasi dari bu Endang, lumayan Jauh juga sih tempat nya dari rumah Zara. Warung nasi nya deket sekolah Jarel.
"Bu.. " Zara panggil Bu endang dari luar pagar, karena masih terkunci.
"Iya masuk Zara, Tunggu sebentar ya. Aduh tadi tuh ibu kesiangan jadinya belum selesai ini sedikit lagi. " Jelas bu Endang pada Zara.
"Iya ga apa-apa bu Zara tunggu disini. Soalnya kalo Zara masih dirumah, banyak pembeli nanti ke toko, ga jadi pergi Zara. Ayah kan pulang dulu." Jawab Zara.
"Oh, setiap hari di temenin si Ayah dirumah?" Tanya bu Endang.
"Iya, karena khawatir katanya bu. " Jawab Zara senyum.
"Ya begitulah orang tua. " Jawab Bu Endang.
"Pake mobil apa motor?" Tanya bu endang.
"Jalan kaki bu." Jawab Zara nyengir.
"Aduh.. gimana bawanya ini 20 lumayan berat loh kalo jalan kaki. " Jelas bu Endang.
"Ga apa-apa bu di bantu sama Jarel aja. " Jawab Zara.
"Aa Jarel udah sarapan belum? Tanya bu endang.
"Belum bu, bangun tidur mandi langsung kesini. "
"Ya udah tunggu sebentar ya, ibu bungkusin nasi sama ayam nya dulu. Bonus. " Jawab bu Endang sambil menyiapkakan nasi untuk Jarel.
"Aduh ibu, banyak banget ini. " Zara menerima bungkusan nasi, ayam, tahu, tempe dan kerupuk. pemberian bu Endang pada Zara.
"Ga apa-apa buat sarapan ya. " jelas bu endang.
Bukan sarapan kalo segini, bisa buat sampe makan malam. Ga apa-apa rezeki anak sholeh terima aja.
Zara berjalan kaki langsung ke dapur madrasah membawa nasi kotak dan kue. Lumayan berat juga. Pegel tangan Zara.
Lalu kemudian Zara ke masjid, untuk memulai acara maulid nabi, dengan membaca sholawat terlebih dahulu bersama anak nya ustadzah Salwa, dilanjutkan dengan pembacaan maulid Ad-Diba'i.
Ibu-ibu yang hadir alhamdulilah banyak sekali, Zara senang melihatnya. Tidak sia-sia tadi pagi Zara jalan kaki bawa nasi kotak, walaupun berat juga.
Alhamdulilah.
Zara pernah menemukan satu ayam dalam Al-qur'an yang artinya.
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratua biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang dia kehendaki, dan Allah maha luas, Maha mengetahui - Al Baqarah ayat 261.
Bertepatan dengan Maulid nabi. Banyak masjid-masjid di sekitaran rumah Zara juga yang mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadi berkah untuk kita semua. Untuk apa? untuk bersedekah, menyumbangkan sebagian harta yang kita miliki, tenaga kita untuk acara Maulid nabi. Agar kita mendapatkan Syafaat dari Rasul di hari akhir nanti, dan di akui sebagai umatnya. Itulah sebenarnya yang kita perlukan untuk di akhirat nanti.
Jangan hanya mengejar Dunia, karena dunia hanya sementara, namun disisi lain kita juga harus mempunyai bekal untuk kehidupan akhirat nanti yang abadi.