
Sudah 1 Minggu Si om tidak pernah mengantar barang belanjaan Zara ke toko. Karena Zara lebih memilih untuk belanja sendiri ke SR sekarang, Zara tidak mau terus-terusan mengandalkan orang lain seperti si om.
Ternyata setelah dijalani belanja dengan naik angkutan umum pun bisa. Tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya.
Zara juga merasa senang bertemu dan berkumpul lagi dengan anak-anak SR, ngobrol bareng sambil nunggu barang belanjaan di depan SR. Bercanda tertawa, Zara seperti menemukan rumah kedua sekarang. Meskipun SR sekarang berubah, namun suasana kebersamaannya masih tetap sama, meskipun di awal Zara kembali masih ada rasa canggung dan aneh, sekarang udah nggak, yang ada malah rame aja. Yuda, Wisnu, A Hilmi, A Eko, Mang Dedi, Om, A Fadli, Teh Syifa, dan A Deni sudah seperti keluarga aja kita.
"Tuh kan dateng lagi. " A Yuda menyapa di depan pintu SR ketika Zara datang.
"He.. he... "Zara hanya tersenyum, membawa keranjang belanja langsung masuk ke area tempat kopi.
"Eh, ada A Deni lagi, baru selesai majang snack di rak. "
"Aduh deg-degan." Zara bicara dalam hati karena harus berpapasan dengan A Deni.
"He. he. " Zara hanya senyum aja sambil langsung mencari barang yang Zara butuhkan.
A Deni nya juga hanya tersenyum.
Zara dan A Deni hanya terhalang rak gondola snack. Masing-masing sibuk dengan kerjaannya. Namun telinga Zara tetap di pasang. terdengar percakapan A Deni dan mang Dedi di lorong yang terhalang satu rak gondola dari tempat Zara berdiri.
Zara kembali ke meja kasir. Ada Wisnu yang merapikan barang belanjaan Zara ke dalam kardus bersama si Aa Kasir yang baru.
"Teh si aa gak ikut? " Tanya Wisnu pada Zara.
"Emmm. aa mana ya?" Zara menjawab.
"AA kecil. he.. he.. " Jawab Wisnu.
"Oh, kirain aa gede. Ha.. ha.. Lagi maen sama temennya, ga mau ikut. " Jawab Zara.
"Oh iya." Jawab Wisnu.
Zara memilih duduk di depan meja kasir yang kosong. Dari pada kursinya nganggur, mending dipake nongkrong Zara dulu sambil nunggu barang belanjaan Zara selesai di packing.
Sesekali Zara mencuri pandang ke Arah A Deni yang sedang mengecek barang belanja di pintu depan SR.
"Eh, ternyata dia juga lagi ngeliatin Zara. Aduh lucu ya, Zara jadi malu. Senyum senyum sendiri akhirnya. Ha.. ha.. Ampun deh Zara.. zara.. " Zara bicara dalam hati.
"Wisnu sehat? " A Eko bertanya dari meja kasir yang berseberangan dengan meja kasir tempat duduk aku dan Wisnu.
"Alhamdulilah a. " Jawab Wisnu tertawa.
"Kok kaya lemes gitu kerjanya. " Jawab A Eko bercanda.
"Belum tidur a udah 2 hari. " Jawab wisnu.
"Ha.. ha... " Zara hanya tertawa mendengar candaan mereka.
"Zara sehat?" Tanya A Eko.
"Alhamdulilah sehat a, he.. he.. " Jawab Zara.
"Teh, beli hansaplast banyak banget. Emang luka teteh bisa di obati dengan hansaplast? " Tanya Wisnu.
"Alhamdulilah udah minum betadin 1 box kemarin, jadi nya luka hati Zara sembuh sekarang. Ha.. ha... " Jawab Zara sama-sama gila.
"Oh iya Alhamdulilah ya teh." Jawab wisnu.
"Eh siapa ini Wisnu? " Tanya Yuda yang lewat di depan Zara yang sedang duduk di samping Wisnu.
"Teteh cantik apa kabar? " Tanya Yuda, mulai dengan kekonyolannya.
"Baik aa ganteng. " Jawab Zara.
"Aw.... aw... aw.... ha.. ha.. " Yuda tertawa. Dan semua ikut tertawa. Bener-bener rame kembali nih suasana SR sekarang.
"A ini bon nya? " Zara memberikan bon belanja pada A Deni yang berdiri didepan pintu SR.
"Oh iya. " Jawab A Deni yang sedang sibuk.
Zara duduk di kursi menunggu barang dus-dusan belanjaan Zara di siapkan.
"Zara ya? " Tanya salah satu pelanggan.
"Iya, aduh kirain udah ga kenal a, ternyata masih kenal juga. " Tanya Zara kepada laki-laki itu.
"Kenal dari mata, meskipun bercadar namun sorot matanya masih sama. " Jawab aa ini yang entah siapa namanya.
"Cantik ya a, beda sekarang. Baru keluar dari pesantren kemarin kan lama ga belanja kesini, mondok dulu katanya a. Pas keluar berubah. " Jawab A Hilmi.
"Ha.. ha...pesantren nya di kamar bukan a, sambil nangis di bantal gitu ya." Zara menjawab A Hilmi.
"Iya bener. " A Hilmi tertawa.
"Mobil kemana? " Tanya si aa itu.
"Di jual. " Jawab Zara.
"Udah nikah lagi belum? " Tanya si aa itu lagi.
"Belum, masih mencari. " Jawab Zara.
"On proses a. " A Hilmi ikut menjawab.
"ha. ha... Tuh a di bantuin jawab kan." Jawab Zara.
"Kirain udah ga jualan, soalnya ga pernah liat belanja lagi kemarin. " Si aa ini berkata pada Zara.
"Kan di anter si om, cuman sekarang si om nya sibuk makanya belanja kesini lagi Zara sendiri." Jawab Zara.
"Oh iya, duluan ya. Udah selesai saya belanjaanya. " Si aa ini pamit.
"Oh iya a. " Jawab Zara.
"A Den, duduk aja bisa kan? Bonnya sini, saya yang bawain barang-barang Zara. Ampun deh.. " Yuda datang sambil membawa bon Zara yang sedang a Deni pegang, karena baru saja keluar dari gudang, A deni menyiapkan barang belanjaan Zara.
"Ha.. ha.. " Zara hanya tertawa aja, melihat kelakuan mereka. Bener-bener seneng Zara kalo lagi ada di SR kaya gini bersama mereka, Rame.
"Ok. duduk ya. " Akhirnya A Deni memilih duduk di kursi disamping tempat duduk Zara.
Ada anak kecil yang ikut belanja, udah kenal dengan A Deni juga, dibawa bercanda a Deni. Ternyata dia suka anak kecil juga.
Karena bercanda dengan anak kecil nya, jadinya A deni duduk nya bergeser terus bergeser lebih mendekat dengan Zara.
"Hey a jangan terlalu dekat duduknya bahaya. " A Hilmi selalu aja ikut-ikutan.
"Oh iya nggak. " A Deni langsung memilih berdiri dan mengambil bon belanja Zara dari tangan Yuda yang baru datang dari gudang.
Zara sih hanya bisa senyum aja. Bahkan ketika melihat wajah A Deni pun Zara ga bisa kalo ga senyum. Karena wajahnya tuh selalu senyum. Kaya ga ada manyun-manyun nya gitu. Bawaan nya happy aja.
"Titip dulu ya. Mau nyari angkot ke terminal. " Zara memberikan kantong belanjaan rokok Zara ke A Deni.
"Iya. " Jawab A Deni.
Zara ke terminal untuk mencari angkot yang mau bawa barang belanjaan Zara dari SR karena A Adit sakit.
Ternyata tidak sulit, bapak angkotnya mau di ajak Zara untuk membawa barang belanjaan Zara dari SR.
Sampai ditoko Zara merapikan barang belanjaan Zara.
Jarel dijemput Ayah, karena Zara belum selesai merapikan barang belanjaan Zara ditoko, Jarel pun pulang ke rumah nenek. Mau main karena udah lama juga tidak main di rumah nenek.
Zara mulai kepo dengan sosmed A Deni.
Zara menemukan postingan foto-foto lamanya di facebook Rangga. Ternyata memang mereka saudara dekat mungkin. Banyak juga foto-foto keluarga mereka yang sedang liburan dan hari Raya.
Keluarga besar memang mereka, tapi sepertinya A Deni lebih muda umurnya dari Rangga.
Bahkan Zara ingat, Rangga pernah berkata. Kalo motornya Rangga dan Deni sama, mereka berdua ambil motornya dulu barengan, plat nomor motornya pun hanya beda 1 angka belakangnya saja.
Setiap berangkat kerja mereka berdua barengan karena rumahnya berdekatan A Deni pernah berkata seperti itu. Salah satu membangunkan salah satu dari mereka jika bangunnya kesiangan.
Kenapa setelah Zara terluka, sakit hati kecewa, patah hati dengan kelakuan Rangga. Zara hampir putus asa, Zara kira Zara tidak akan bisa membuka hati lagi untuk orang baru.
Eh tiba-tiba setelah Zara kembali ke SR dan bertemu A Deni. Zara kembali bersemangat, Zara kembali tersenyum, bahkan Zara kembali tertawa. Dan hati ini mulai kembali bergetar ketika melihat A Deni. Zara suka.
Namun Zara takut terluka lagi, Zara takut kecewa lagi. Itulah yang Zara rasakan sekarang. Biarlah suka hanya sekedar suka, sampai Allah benar-benar memberikan jalan terbaiknya.