
Sendiri, Zara merasa sangat nyaman sekali, setelah semua hal mampu Zara lalui, Zara bersyukur dan Zara tak menyangka bisa sampai dititik ini, sekuat ini dan setabah ini.
Zara memang terlahir di bulan April yang memiliki Zodiak Taurus yang di lambangkan seekor banteng. Seekor banteng yang kuat.
"Bagai batu karang berdiri tegar, ditengah lautan yang mengamuk. tetap kokoh diterpa berbagai hantaman". Itulah seorang Zara Aprilia.
Zara tidak takut lagi akan masa depan, segala rezeki, jodoh, maut Allah lah yang maha menentukan. Tidak perlu sibuk mencari pasangan hidup. Sibuk memperbaiki diri itu jauh lebih bermanfaat. Mungkin saja Jodoh ku selanjutnya adalah kematian. Kita hanya manusia biasa yang tidak tau kapan Allah akan memanggil kita untuk kembali kepadanya.
Sebelum Zara pergi, Zara ingin mempersiapkan semuanya. Zara membangun usaha untuk masa depan anak dan orang tua ku nanti, sekarang ayah ku juga udah pinter berjualan di toko. Aku sudah tidak khawatir lagi. Ada bekal untuk masa depan anakku Jarel nanti.
Segala apapun yang aku inginkan dalam hidup telah aku dapatkan walaupun itu semua tidak lah mudah. Zara hanya ingin semua mengingat tentang kebaikan Zara jika Zara sudah tidak ada di dunia ini nantinya.
Persiapkan diri sebaik-baiknya Karena apa yang akan menemani kita nanti di akhir hanyalah amal. Segala kesenangan dunia akan kita tinggalkan.
Berbuat baik kepada semua orang, jauh membuat hati Zara bahagia, terutama melihat keluarga ku bahagia itu sudah lebih dari cukup untuk Zara sekarang.
Mungkin sejak dulu Allah tidak mengizinkan Zara mati konyol, mati bunuh diri. Karena Allah mempunyai alasan untuk Zara tetap hidup, memberikan kesempatan untuk Zara bertaubat, memberikan kesempatan untuk Zara memperbaiki diri, memberikan kesempatan untuk Zara berhijrah.
"Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan" Sebanyak 31 kali terus berulang-ulang dalam Al-qur'an surat Ar-Rahman.
Tak ada lagi hal yang Zara inginkan secara berlebihan di dunia ini, setelah segala pertolongan yang Allah berikan kepada Zara selama ini.
Zara hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi semua orang, tidak lebih dari itu. Sangat bersyukur masih diberi kesempatan bernafas sampai detik ini.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan Rahmat Allah. Allah maha pengampun, maha penyayang - Al-Baqarah ayat 218."
Sepulang dari sekolah mengantar Jarel aku mampir ke rumah ibu, karena sudah lama juga aku tidak ke rumah ibu.
"Zara kapan kamu mau nikah lagi. " Tanya ibu.
Ini lah pertanyaan yang membuat ku males untuk bertemu dengan ibu.
"Ga tau belum dipertemukan dengan jodohnya sama Allah bu. " Jawab Zara.
"Rangga gimana? Ada kabar ?" Tanya Ibu.
"Ga ada. " Jawab Zara.
"Ditto kirim uang buat Jajan Jarel? ini kan baru tanggal-tanggal gajian. " Tanya ibu.
"Gak ada. " Jawab Zara.
Ngapain masih berharap transferan dari Ditto, Zara juga masih mampu membiayai hidup Jarel sendiri. Kalo memang laki-laki bertanggung jawab pasti mampu biayai anaknya. Ini kan nggak sama sekali. Ga ada yang namanya bekas anak, kalo bekas istri ada.
Sepulang dari kajian, ibu bersama temannya. Ibu melihat teman nya itu dijemput oleh pacarnya pulang dari kajian. Aduhh memang kalo lagi pacaran ga kenal usia guyss.. ibu-ibu aja bisa gandengan tangan loh.. he.. he..
"Oh gitu ya bu. Kenapa ga nikah aja sekalian, apa bingung mau pilih yang mana?" Tanya Zara.
"Belum move on katanya dari mantan suami nya yang meninggal. Tapi mendinglah dari pada kamu, pacar ga punya, calon suami apalagi. " jawab ibu.
"Ha. ha. " Zara tertawa merasa konyol
Belum move on dari mantan suami yang sudah meninggal tapi pacar udah punya 6. Hebat betul si ibu ini. Zara tidak tertarik pacaran untuk apa hanya buang-buang waktu saja dan malah menimbulkan banyak fitnah nantinya untuk seorang janda seperti Zara sekarang. Nauzubillah.. Jauhkan lah ya Allah.
"Ibu ikut kajian kan, terus teman ibu juga ikut kajian kan. Apa pak ustadz tidak memberi tahu ibu Al-Isra ayat 32?" Tanya Zara.
"Nggak, ngebahas yang lain. " Jawab ibu.
"Ya sudah jangan banding-banding kan lagi Zara dengan teman ibu, Zara punya jalan sendiri. Zara tidak mau berbuat dosa. Jika memang sudah waktunya Zara menikah lagi Zara juga akan menikah lagi. Yang penting dapur ibu sekarang aman. Itu saja. " Jelas Zara pada ibu.
"Gimana kalo nanti keduluan menikah sama Ditto? " tanya ibu.
"Ya ga apa-apa. Bukan urusan Zara. " Jawab Zara.
"Udah ah Zara mau pulang. " Males lama-lama di rumah ibu, karena ujung-ujung nya pasti berdebat. merusak mood Zara aja.
Kapan nikah, kapan nikah, kapan nikah lagi? Hal itulah yang selalu ibu tanyakan berulang kali. Santai aja sih usia Zara juga masih 28. Masih ada teman Zara juga yang belum menikah satu kali pun. Ini yang udah satu kali juga ribut.
Bagaimana kalo Allah mentakdirkan Zara hanya menikah sekali seumur hidup. Kita kan manusia ga pernah tau takdir Allah seperti apa. Jalani aja sebaik-baiknya selama masih bisa bernafas, makan, tidur nyenyak, shalat, mengaji udah semuanya aman.
Karena menikah lagi itu butuh ilmu, Zara tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Menikah juga bukan hanya soal aku Cinta kamu, kamu Cinta aku. Yuk nikah. Ga semudah itu.
Zara juga baru tahu dari Rangga Kalo ternyata menikah itu bukan hanya menyatukan hati, namun juga menyatukan jiwa, ego, pribadi pemikiran yang berbeda demi tujuan yang sama. Itulah pernikahan.
Butuh proses, tak semudah mengedipkan sebelah mata.
Ditto dan Zara berpisah mungkin karena sudah tak saling Cinta dan memang dari awal pun tidak berdasarkan Cinta yang murni. Namun pernikahan dengan didasari Cinta saja juga tidaklah cukup, karena kebutuhan hidup tidak bisa dibayar pake Cinta. Buang air kecil aja bayar pake uang bukan pake Cinta. Jadi antara Cinta dan materi itu memang harus seimbang.
Kita sedekah juga dengan harta. bukan dengan Cinta, realistis aja dalam hidup.
Ummar bin khattab pernah berkata.
"Apakah hidup ini hanya tentang Cinta? Dimanakah rasa taqwa, dimanakah rasa malu terhadap Allah swt?
Nikahkan lah seorang Putri mu kepada laki-laki yang bertaqwa kepada Allah. Karena jika dia mencintainya, maka laki-laki itu pasti akan memuliakan putrimu, Jika laki-laki itu tidak mencintai Putri mu, maka dia tidak akan pernah menyakitinya."