
Dengan ini saya menggugat cerai Zara dengan alasan karena kita sering bertengkar dan sudah tidak bisa sejalan lagi.
Bersamaan dengan ini saya tidak akan menafkahi Zara lagi dan akan pisah rumah.
Adapun untuk harta gono gini dan kebutuhan Jarel rincian nya sebagai berikut.
Mobil akan diserahkan sepenuh nya kepada Zara, cicilan ditanggung Zara.
Untuk rumah akan dijual dengan ketentuan uang renovasi akan dibagi 2.
Kebutuhan jarel
Tanah warung akan diganti nama atas nama Jarel Arsenio Ariwibowo.
Biaya Jarel sehari-hari dan sekolah akan ditanggung bersama sampai Zara menikah lagi.
Dikarenakan sertifikat tanah dalam jaminan bank, untuk perkara nomer 2 dan 3 akan diselesaikan ketika sertifikat tanah keluar.
Zara berhak menempati rumah yang ditinggali sekarang hingga sertifikat tanah keluar.
Demikian gugatan saya, kiranya dapat dipahami.
Terima kasih
Ditto.
Bak disambar petir di pagi buta, setelah 10 menit Ditto keluar rumah tiba-tiba ada pesan whats up masuk seperti itu.
"Ya Allah aku bercerai, apa Zara mimpi ya?" Zara bertanya-tanya dalam hati.
Memang dari dulu Zara selalu ingin bercerai dengan Ditto. Tapi bukan benar-benar bercerai seperti sekarang.
Setelah mengantar Jarel ke sekolah Zara belanja dulu ke SR. Dengan pikiran yang terus bertanya-tanya.
"Apa beneran aku akan bercerai ya?"
Aku langsung masuk dan memilih barang belanjaan ku. Aku lewat meja kasir ada A Rangga, Yuda dan Sarah mereka seperti nya baru jadian, cinlok sepertinya, kerja nya sambil pacaran gitu.
"Kasian a Rangga ga punya pacar ih, masa kalah sama A Yuda." si kecil anaknya teh Syifa asyik berceloteh pada Rangga yang duduk bersebrangan dengan anak ini.
"Biarin dong, emang kenapa? " Tanya Rangga pada si kecil.
"Tuh liat aja A Yuda aja seneng pacaran sama teh Sarah. Masa A Rangga ga punya sih? " Si kecil ini bawel tapi lucu.
Aku aja yang lagi pusing dengan gugatan cerai ditto tiba-tiba tertawa mendengar celotehan anak ini.
"Eh, kamu anak kecil jangan ngomong pacar-pacaran pamali tau, mendingan belajar sana." Jawab Rangga sambil tertawa.
"Udah belajar nya tadi sama bunda, A Rangga jelek, kasian ga punya pacar. " si kecil ini masih aja berceloteh dengan lucunya.
Aku kembali ke meja kasir dan tak kuat menahan tawa. Karena memang melihat Yuda dan Sarah mereka asyik berdua sambil sesekali input barang. Mungkin lagi bucin-bucin nya mereka.
Tiba-tiba Jarel datang sambil menangis karena tadi aku tinggal di mobil tertidur sendiri.
Nangis tak berhenti sampai-sampai muntah di depan meja kasir. Aku panik dan langsung keluar. Tidak ada kain apapun untuk membersihkan muntah Jarel. Aku langsung membuka kerudung ku untuk membersihkan muntahan Jarel dan menggendongnya.
"Teh ini bon sama rokoknya, terus ada barang yang kosong ada uang kembali." tiba-tiba a Rangga datang menghampiri aku.
"Oh, simpen ke mobil aja ya, tolong. Aku bersihin Jarel dulu, ga dikunci kok. " Jawab Zara yang sedang panik, mau nangis juga. Udah pikiran sedang kalut Jarel malah seperti ini.
"Ok." A Rangga langsung menuju mobil ku dan menaikan semua barang belanjaan.
Setelah selesai urus Jarel, Aku kembali ke kasir.
A Rangga menghampiri ku di meja kasir.
"Udah beres kok, ini kembalian uangnya. Ini obat-obatan udah di kantong, biar aku anter ayo. " Rangga membawa kan kantong belanja aku. Zara mengikutinya sambil menggendong Jarel.
"Zara, kirain kita tuh siapa dari tadi diperhatiin. A Rangga sama siapa tuh." mang Dedi yang sedang duduk bersama anak-anak lain menyapa ku di pintu depan.
"Aneh ya mang ga kenal. Maaf ya, buka kerudung. Kerudung nya dipake bersihin Jarel muntah. Ga lagi-lagi nanti buka kerudung, ini karena darurat mang. " Aku malu karena tidak terbiasa seperti ini.
"Udah semua masuk, di jok tengah sebagian karena dibelakang udah penuh." Kata a Rangga yang sedang merapikan barang di jok tengah mobilku.
"Iya, makasih a. " Jawab Zara.
Rangga menatap ku agak lama, aneh mungkin ya baru pertama kali melihat aku buka kerudung.
"Darurat A, gak lagi-lagi kok. " Aku mengagetkan nya sambil masuk ke mobil ku.
"Oh iya. Hati-hati. " Jawab Rangga.
Aku kembali ke rumah dan membicaran tentang WA itu pada ibu. Ibu syok tidak menyangka aku digugat cerai Ditto. Ibu memutuskan untuk membicarakan semuanya dengan Ditto.
Sepulang Ditto bekerja aku langsung bertanya pada Ditto.
"Apa kita benar-benar mau bercerai? "
"Iya. " Jawab Ditto dengan wajah tertunduk.
"Coba liat mata aku, apa kamu yakin dengan keputusan kamu? " Aku memegang pipi Ditto berharap dia bisa menatapku.
"Terlambat. " Ditto terus mengalihkan pandangannya dari mataku.
"Apa nya yang terlambat? Maaf kan aku kalo selama ini aku salah memperlakukan kamu, kita perbaiki kasian Jarel kalo kita sampai bercerai." Jelas Zara.
"Perbaiki ya, bisa kok." Jawab Zara.
Tiba-tiba Ditto berubah jadi sangar dan mencoba untuk memukul wajah ku. Untung saja aku bisa menahannya.
Karena dulu setiap berantem di awal pernikahan kita pasti perang pukul-pukulan, saling cakar, bahkan terkadang tangan ku dan tangan Ditto pun sama-sama biru lebam dan terkadang sampai berdarah. Tambah barang-barang rumah tangga pun ikut rusak, bahkan hp pun pecah jika Zara dan Ditto berperang.
Tapi untuk sekarang aku udah cape menjadi keras seperti itu. Aku berusaha lebih baik, bicara dengan baik-baik agar rumah tangga ini bisa dipertahankan. Aku ingin rubah diriku agar tidak cepat emosi.
"Aa sini coba mamah mau tanya. " Ibu ku datang ke rumah dan ingin Ditto menjelaskan semuanya.
Ditto masih mondar mandir dengan tingkah Arogannya.
"Duduk. " Ibu ku membentak Ditto sambil memegang dadanya. Karena memang ibuku sakit jantung tak bisa mendapat kabar mengejutkan seperti ini.
Akhirnya Ditto pun duduk ditengah-tengah ibu dan ayahku.
"Aa benar mau cerai? " Tanya ibu ku pada Ditto.
"Iya mah. " Jawab Ditto tertunduk.
"Emang gak bisa dperbaiki selesai kan baik-baik masalah nya seperti apa? " Tanya ibu.
"Terlambat. " Jawab Ditto sambil menggelengkan kepala.
"Udah nikah lagi kamu, selingkuhan mu hamil? " tanya ibu.
"Nggak? " Jawab Ditto.
"Ya terus apa? Kalo dede punya salah maafin, dede juga maafin kesalahan aa. Kasian Jarel kalo sampe kalian bercerai." tanya ibu.
"Kemarin aa mau pinjam uang dede ga kasih mah. " Jawab Ditto.
"Untuk apa? Itu kan modal usaha? memangnya kamu butuh uang untuk apa? gaji kamu kemana? " Tanya ibu.
"Aku punya pinjol, ibu pinjam uang 5 juta, makanya aku ngambil pinjol. "Jawab Ditto.
"Astagfirullah kenapa kamu ga terus terang dari awal. Udah tau kita punya 2 cicilan mobil dan BNI atas nama kamu, dan 1 cicilan KUR atas nama ku. Tambah pinjol ya mati kamu. Apa kamu tidak menjelaskan pada ibu mu tentang tanggungan kita? Kalo kita mampu kita bisa bantu ibu mu, tapi kamu tau sendiri kita aja pas-pasan sekarang. " Jawab Zara agak sedikit emosi
"Ok. Sekarang terus terang sama mamah, aa punya pinjol berapa? biar kita selesai kan semuanya baik-baik." Jawab ibuku.
"Pokoknya aa mau pisah. Coba tanya Zara mah apa dia masih cinta sama Ditto?" Jawab Ditto.
"Nggak. " Zara jawab jujur. Memang kamu tau sendiri kita hidup demi tanggung jawab rumah tangga. bukan berdasarkan Cinta kan.
"Zara coba minta maaf sama Ditto sekarang, Ditto juga minta maaf sama Zara sekarang. Saling perbaiki diri masing-masing. " Ayah mulai berbicara.
"Itu mau nya ayah. " jawab Ditto sambil melayang kan tangan nya ngajak duel Ayah.
"Cukup... cukup.. kalian mau liat ibu mati disini hah? " Ibu ku berteriak sambil memegang dada.
"Kalo kalian mau cerai, cerai saja. " Jelas ibuku.
"Besok aa mau pergi dari rumah. " jawab Ditto.
"Asal aa tau aja, kita tidak pernah nyuruh aa untuk keluar dari rumah ini. " Jelas ibuku.
"Iya. " Jawab Ditto.
"Ayah, Ditto mau cerai dari aku, aku udah tahan tapi Ditto tetap ga mau. " Aku telpon ayah Handoko sambil nangis.
"Masalah nya apa? " Tanya Ayah Handoko.
"Udah ga mau hidup bareng aja. "Jawab Zara.
"Coba mana aa, kasiin Telpon nya. Atau nanti ayah telpon aa. Ayah kan kurang ngerti kalo ngobrol sama kamu." Ayah Handoko biasa ngomongnya pake bahasa Jawa. Aku tidak bisa bahasa Jawa.
"Ayah, mamah pinjem uang aa bukan kemarin 5 juta. " Tanya Zara.
"Apa? kapan? ayah ga tau. Mah kamu pinjam uang Ditto tah kemarin istri nya ga tau itu. Ayah juga ga tau. " Terdengar suara ayah mertua ku dari sebrang telpon menanyakan pada ibu mertua ku.
"Iya katanya pinjam 2 juta tapi udah dibalikin. " Jawab Ayah Handoko.
"Ditto bilang nya 5 Juta yah. " jelas Zara, ternyata Ditto berbohong.
"Nanti ayah telpon Ditto. Ayah gak mau ikut campur rumah tangga kalian terlalu dalam. Serahin sama aa aja. " Jawab Ayah Handoko.
"Maafkan Zara Ayah, Zara udah ga sanggup lagi. "
Kata-kata terakhir Zara untuk ayah mertua ku yang telah menitipkan Ditto padaku 7 tahun yang lalu.
Talak 3 aku terima dari Ditto, Cicilan mobil 3,4 juta, cicilan KUR Mandiri 1,5 juta. Masa depan Jarel, Masa depan toko. Membuat ku gila.
Ketika pulang jualan dari pabrik aku berniat untuk bunuh diri. Aku injak gas mobil ku, dan aku mulai melepas tangan ku perlahan dari pegangan setir mobil ku.
Aku terus injak gas mobilku dan aku melihat dari arah berlawanan ada truk aqua yang sedang melaju. Kurasa ini cara bunuh diri ku yang terakhir karena dulu 2 kali minum obat ga pernah mempan sama sekali.
Tiba-tiba terdengar suara Jarel anakku dan terbayang senyum nya.
"Mamah. "
"Peeemmmmm... " Truk itu membunyikan klakson dan menyalakan lampunya.
Aku langsung membanting setir ku mencoba menghindari truk itu dan mengurangi kecepatan mobil ku.
Aku terus melanjutkan perjalanan ku pulang ke rumah dari pabrik tempat jualan sementara ku waktu itu sambil menangis kencang sepanjang jalan dan terus menyebut nama anakku.
"Jarel.. mamah ga akan mati.. mamah ga akan meninggalkan kamu. "