
"Aduh materai sama karton abis Zara." Ayah memberi tahu aku.
"Ya udah Zara beli aja, sekalian antar sekolah Jarel nanti. "
Zara mengantar Jarel ke sekolah, langsung pergi ke toko ATK juga. Tapi si om juga semalem ga dateng anter barang belanjaanku, sedang kan stock rokok habis. Ya sudah lah sepertinya aku harus mampir ke SR dulu sebelum ke toko ATK.
Sampai di depan SR Grosir, Zara lihat si om masuk ke mobil dan menyalakan mobilnya.
Zara lari takut si om nya keburu berangkat.
"Om tunggu.. " Zara nyamperin si om sambil ngos-ngosan karena lari.
"Ha.. ha.. kenapa? " Si om tertawa sambil memegang setir mobil nya di dalem.
"Jangan dulu berangkat mau nambahin rokok. " Zara bicara di kaca mobil si om yang terbuka.
"Ha. ha.. nggak kok, nanti paling siang kebagiannya ke toko Zara. Sekarang mau ke jalur atas dulu. "Jawab si om unjuk gigi.
"Ihh... nyebelin kirain berangkat sekarang. " zara cemberut karena cape udah lari juga tadi.
"Bon nya ada di dalem, kedalem aja." Jawab si om ketawa.
"Ok. " Zara masuk ke SR, dipintu ada Wisnu yang sedang berdiri, melihat ke arah Zara dari ujung kaki sampai ujung rambut, Wisnu melongo tak berkedip.
"Hey.. " Zara kagetin aja dia.
"Oh... teh.. "Jawab wisnu kaget.
Abis ngeliatin nya gitu banget, ada yang aneh kah dengan Zara. Perasaan biasa aja, Zara pake baju panjang, kerudung panjang pake niqab juga.
Aneh kali ya, cantik kah? ha.. ha.. Zara tertawa dalam hati. Untungnya A Rangga ga ada.
"A Eko Zara mau bayar bon yang pesenan kemarin. " Zara bilang ke a Eko yang sedang sibuk di meja kasir. A Fadli dan teh Syifa juga ga ada.
"Sebentar ya teh. "
"Aduh maaf ya belum dianter, kemarin sakit gigi ga kuat om nya. Nih baru ke kirim sekarang belanjaan yang dua hari yang lalu juga, punya orang. " Si om memberikan alasannya seperti biasa.
"He.. he.. makanya kalo kerja gigi nya di simpen aja dulu om biar ga sakit. " Jawab Zara tertawa.
"Ah kamu bisa aja, ya udah sok aja kalo mau di tambahin, kumpulin aja biar nanti om anter sekalian. " Jawab si om.
" Iya." jawab Zara.
"A Eko masih lama ga, Zara ke Sukabumi aja dulu ya. Nanti kesini lagi, takutnya Jarel keburu bubar juga nanti disekolahnya. " Zara menjelaskan kepada A Eko.
"Oh iya boleh teh. " Jawab a Eko.
Zara belanja ATK dulu, terutama karton dan materai barang yang wajib Zara beli.
Lumayan cape juga kalo bawa barang belanjaan ATK itu karena berat-berat. Tokonya lumayan jauh juga dari tempat angkutan umum, jadinya Zara harus jalan terlebih dahulu. Ditambah lagi bawaan rokok dari SR.
Jam 10.45 aku sampai di pangkalan ojeg depan rumah ku, aku jalan cepat-cepat untuk menyimpan barang belanjaan ku ke toko karena takut Jarel keburu pulang. Jika tau mamah nya belanja sendiri pasti marah dia dan nangis mau ikut.
"Nih yah, beresin barang belanjaan nya. Aku mau balik ke sekolah jemput jarel. " Sampai ditoko aku simpan barang belanjaan ku, lalu balik lagi jalan kaki ke sekolah untuk jemput Jarel.
Zara sampai sekolah tepat waktu, Jarel baru keluar kelas. Lagi pake sepatu sendiri.
Zara dan Jarel pulang ke rumah Jalan kaki. Yah meskipun Cape tapi Zara harus terlihat kuat di hadapan Jarel.
Sorenya si om pun dateng ke toko, bawa barang belanjaan ku yang dus-dusan.
Setelah shalat magrib tiba-tiba saja kepala ku pusing dan mata berkunang-kunang. Dada sesak dan perutku seperti di peras, di aduk-aduk, mual sekali.
Tiba-tiba saja Zara muntah, udah ga bisa ditahan lagi, mimisan pula. udah lemes banget perut terasa perih tulang belakang terasa panas, dari mulai pinggang ke punggung, udah tidak bisa di ungkapkan kata-kata, sakit luar biasa.
"Seperti nya magh ku kambuh. " Zara bicara dalam hati.
Tangan gemetar memegang pinggiran wastafel, keringat dingin mulai terasa. Setelah lama Zara duduk di depan wastafel, Zara berusaha baik-baik saja, minum air putih hangat, dan kembali buka toko.
Padahal ini badan udah ga bisa di ajak kompromi sepertinya, Sakit banget.
"Zara kamu kenapa?" Ayah datang ke toko.
"Abis muntah yah, pusing sakit perut juga yah, " Jawab Zara lemes banget.
"Makan belum, minum obat. " Tanya Ayah.
"Udah. tapi makin sakit yah, kayanya hernia ku kumat ini yah, soalnya ada benjolan lagi, sakit banget. " Jawab Zara.
"Terus gimana? Mau periksa?" Tanya Ayah.
"Ga mau, mau dikompres aja nanti. " jawab Zara.
Sudah lama sekali Zara divonis hernia, namun belum terlalu parah, jika kambuh saja terdapat benjolan kecil. Yang sakitnya luar biasa, bahkan berdiri pun ga bisa, tiduran juga ga bisa. Dikarenakan usus yang kejepit sobekan didalam perut bagian bawah, jika terlalu lama jalan kaki, kecapean, angkat-angkat berat pasti kambuh. Sebelum si usus kembali ketempat semula, sakitnya luar biasa. Namun ketika usus itu kembali ketempatnya maka sakitnya pun hilang dan tidak terlihat seperti orang sakit. Seperti itulah Zara.
Hernia pada wanita memang termasuk jarang sih, namun faktor keturunan juga kuat, kakek dari ayah dan ayah punya penyakit yang sama.
Dulu ketika Zara masih bekerja dan masih jadi istri Ditto pernah kambuh beberapa kali.
Dengan santainya Zara pergi ke Rumah sakit, setelah rasa sakitnya mereda, periksa sendiri, dan ternyata dokter spesialis bedah langsung menjadwalkan Zara operasi dan meminta persetujuan keluarga.
Zara kaget dan langsung kabur dong, ga mau. Karena memang Zara waktu itu periksa nya sendiri, dan sampai sekarang Zara ga pernah periksa lagi.
Ketika USG Jarel terlihat, terdapat luka sobekan yang terkadang menyebabkan usus kejepit. Hal itulah yang mengakibatkan rasa mual, dan perih yang luar biasa yang Zara rasakan ketika penyakit itu kambuh.
Ditambah lagi GERD yang jika kambuh, tidak pernah kenal tempat. Bahkan Zara pernah tiba-tiba muntah di terminal, ketika pulang kerja turun dari angkot dan langsung muntah di pinggir jalan. Hal yang sangat memalukan sekali.
Dokter bilang, untuk menghindari hernia nya kambuh, Zara tidak boleh kecapean apalagi angkat-angkat berat. Itu yang sering Zara lupa.
"Mungkin tadi Zara kebanyakan Jalan. " Zara bicara dalam hati.
Untung saja Jarel udah tidur jadinya ga rewel.
Zara coba ambil botol minum yang diisi air panas. dikompreskan ke perut bagian bawah. Memang inilah yang selalu Zara lakukan jika hernia ku kambuh.
Karena tidak ada obat yang bisa menyembuhkan selain operasi.
Ayah juga tidak mau operasi sampai sekarang. Apalagi Zara. Jika Zara di rumah sakit siapa yang urus.
Kak Maria operasi Caesar Zara yang urus, Ibu di ICU Zara yang urus. Nah kalo Zara yang operasi masa Zara urus sendiri kan ga mungkin.
"Ya.. Allah Zara kuat ya Allah Zara kuat. " Zara terus menekan botol minum yang di isi air panas pada perut Zara sambil tertidur telungkup. Karena jika si usus belum kembali ke tempatnya. Zara ga bisa ngapa-ngapain.
Ayah beres-beres toko sendiri. Sedangkan Zara di kamar berdua dengan Jarel.
"Zara kamu ga apa-apa kan? "Tanya ayah dari luar pintu kamar.
"Gak yah, bentar lagi tidur. " Jawab Zara. Zara ga mau ayah khawatir. Karena nanti juga pasti sembuh kok, butuh waktu aja. Pernah paling parah nya sebelum kontrol ke RS dulu itu 12 jam Sakitnya. Parah banget itu.
Sampai jam 2 malem Zara masih belum bisa tidur, namun sedikit demi sedikit benjolan nya mulai menghilang.
"Jleggg.... " ususnya terasa bergerak.
"Alhamdulilah. " si usus sudah kembali ke tempatnya.
Tinggal perih diperut nya yang masih terasa. Zara memejamkan mata mencoba tertidur. Mudah-mudah besok pagi terasa agak baikan.