DIARY ZARA

DIARY ZARA
46. Generasi Sandwich



"Om ini pesenan Zara. " Zara kirim kan order barang sembako Zara seperti biasa.


"Siap" Balas si om.


Lumayan banyak sih pesanan Zara, karena banyak stock barang yang kosong juga.


"Emang ada uangnya? " Tanya Ayah.


"Belum, pesen dulu aja, Kali aja dateng bareng nya besok, ga nanti malem. he.. he... " Jawab Zara.


"Oh iya mudah-mudahan ada. " Jawab Ayah ku.


Zara pesan barang dulu, untuk pembayaran nya Zara ngumpulin uang nya dari pagi sampe sore hasil dari belanja para pelanggan Zara ke toko. Ya seperti itu lah perputaran orang jualan yang modalnya alhamdulilah pas-pasan.


Yang terpenting adalah kebutuhan anakku terpenuhi, biaya ayah ibu ku terpenuhi, dan Zara sendiri bisa makan, cicilan terbayar tepat waktu. Itulah yang Zara penuhi saat ini.


Sorenya si om dateng nganter barang banyak banget.


"Om, masih sore kok udah dateng, kirain mau nanti malem jam 10." Tanya Zara keluar dari rumah.


"Malem minggu ah, harus beres sore-sore. " Jawab si om.


"Cie si om mau malam mingguan. " Jawab Zara.


"Nanti aja bayar nya, om mau ke grosir a Nandi dulu. " Si om kembali ke mobil nya.


"Om uang nya juga kurang. " Jawab Zara.


"Ga apa-apa nanti kesini lagi. Cek dulu aja barangnya. " Jawab si om.


"Ok. "Jawab Zara.


"Kurang berapa uang nya? " Tanya Ayah.


"Ga tau nanti Zara itung dulu. " Zara melihat bon barang belanjaan dari SR.


"Hahh.... lumayan masih gede, kurang nya 600 ribu. Ha.. ha.. " Zara tertawa sambil garuk-garuk kepala.


"Gimana dong?" Tanya Ayah.


"Bilang aja sama si om, barang nya ada semua ternyata, barang yang Zara pesen. Biasanya suka ada barang yang kosong. ini ada semua. ha.. ha.." Zara pusing, karena tidak biasa pembayaran belanjaan Zara kurang ke si om.


"Udah di cek? ada semua barang nya ga? " Si om dateng, kembali dari grosir a Nandi.


"Ada semua barangnya. Uang nya yang ga ada. he.. he... " Zara nutupin wajah Zara pake tangan, takut si om.


"Ngapain kaya gitu, pake ngumpet-ngumpet gitu. ha.. ha.. "Tanya si om.


"Takut om, uang Zara kurang soalnya. " jawab Zara.


"Kurang berapa? " Si om menghitung uang dari aku, sampai recehan nya juga aku kasih semua deh. Laci ku kosong sekarang.


"Ha. ha..." Zara ketawa.


"Malah ketawa. " Jawab si om


"600 ribu. " Jawab Zara.


"Ah, santai. Besok juga belanja lagi. " Jawab si om tersenyum.


"He.. he.. boleh ya, kurang nya besok ya. "Zara bicara pada si om, ayah ku ketawa-ketawa aja sambil menata mie instan di rak.


"Boleh.. boleh.. santai aja, ngapain takut. ga bakalan di gimana-gimanain kok, iya kan pa?" Jawab Si om, mengajak bercanda Ayah.


"Sip, makasih ya om, Zara punya hutang 600 ribu. " Jawab Zara.


"Ok. " Jawab si om.


"Terima kasih Zara. "Si om kembali ke grosir a Nandi karena mobilnya di parkir di sana.


"Sama-sama om. " Jawab Zara.


Nanti kalo Zara udah sukses, Zara ga akan melupakan kebaikan om, Zara pasti membalas semua kebaikan om, karena om selalu membantu Zara saat Zara seperti ini. Nanti Zara kasih hadiah om kalo Zara sampe menikah lagi terus dapet suami seperti yang selama ini Zara idamkan. he.. he...


Ayah dan Zara menata barang belanjaan di toko.


"Tuh, emang ada grosir orang yang seperti itu, udah di anterin, bayar nya kurang juga ga apa-apa. " Ayah ku bicara pada kopi yang sedang di tata di rak.


"Ayah ngajak ngobrol kopi? " Tanya Zara ketawa.


"Iya." Jawab Ayah tertawa juga.


"Iya, makanya Zara bersyukur banget, kalo A Rangga ga ngasih jalan seperti ini mungkin Zara ga akan berani minta tolong si om juga untuk nganter barang seperti sekarang. " Jawab Zara.


"Tuh kan, Rangga lagi. " Ayah tertawa.


"Eh, nggak. Zara lupa yah nyebut namanya lagi. " Jawab Zara.


"Bilang aja kangen. " Jawab Ayah.


"Nggak, gak boong. " Jawab Zara.


"Ha.. ha... " Ayah tertawa, karena memang tau seperti itu lah Zara.


"Om pesenan Zara udah dikirim. " Zara mengirim orderan barang sembako Zara hari minggu ke si om.


"Maaf Zara, hari ini ga bisa anter, besok aja ya. " Balas si om.


"Ya sudah om. " Balas Zara.


Ternyata belanjaan yang sabtu sore tuh habis lagi, apalagi rokok, aduh seperti nya ga bisa nunggu sampe senin sore kalo kaya gini.


Ya sudah Zara harus ambil sendiri barangnya ke SR.


Sampai di SR, seperti biasa Zara langsung ke kasir aja, karena beli rokok, ga yang lainnya.


"Sebentar ya di cek dulu. " Teh Syifa Membuka buku catatan nya.


"Iya. " Zara menunggu.


"Si om nya juga belum setor, nanti aja ga apa-apa ke si om pas nganter barang lagi ya." Jawab teh Syifa.


"Ga mau ah, Zara ga tenang kalo yang kemarin belum di bayar, jumlahin aja semua nya, yang 600 ribu hari sabtu, terus belanjaan yang hari minggu, sama belanjaan yang sekarang hari senin. Yah.. " Jelas Zara, sambil senyum.


"Oh ya udah, sebentar ya, di hitung dulu. " Jawab teh Syifa.


"Om Zara mau ngambil belanjaan yang hari minggu. " Zara bilang ke si om yang baru dateng bawa belanjaan rokok.


"Barang nya udah di mobil. Sebentar om bawa dulu ya. " Jawab si om.


"Iya. " Jawab Zara.


Zara melunasi pembayaran belanja Zara semua ke teh Syifa.


"Udah lunas ya semua, makasih. Tinggal nunggu barang nya di depan. " Jelas teh Syifa pada Zara.


"Siap teh. " Zara menjawab.


Zara duduk di kursi depan seperti biasa.


"Jauh ternyata rumah kamu Zara. " A hilmi bicara Pada Zara, dia lagi menyiapkan barang belanjaan orang lain.


"Ya lumayan a, bukan Jalur kelewatan angkot pula. "Jelas Zara.


"Iya, ke dalam lagi ya, pake ojeg kan?" Tanya A Hilmi.


"Iya, tapi tanggung kalo pake ojeg, deket. Paling jalan aja, kalo bawa barang kaya gini paling minta angkot nya anter sampe toko, tambahin ongkosnya. Dari pada pake ojeg. " Jelas Zara.


"Iya, mending gitu. "Jawab A Hilmi.


"Ayo atuh, anter lagi barang nya nanti ya sama A Hilmi aja. Temenin si Om. " Jawab Zara.


"Siap. Nanti ke sana. he.. he.. sebentar ya. " A hilmi di panggil a Fadli ke dalam karena lumayan rame juga SR hari senin pagi.


"Ok. "


Zara juga ke tempat frozen food dulu sebentar untuk belanja sosis dan nugget.


"Om yang ini bukan barang nya?" Zara kembali ke SR setelah membeli sosis.


"Iya, nanti sama mang Dedi di bantuin bawa nya." Jawab si Om.


"Iya, Mang Dedi ayo angkut." Ajak Zara.


"Siap, mana mobil nya, Kamu pake mobil box Zara? Kaya mobil sales distributor aja. Mang Dedi menunjuk ke arah mobil yang terparkir di depan.


"Bukan mang, pake angkot. Angkot warna pink sampe terminal, nanti dari terminal ganti angkot warna kuning. " Jelas Zara.


"Ha.. ha.. Warna warni ya sekarang mobil nya Zara." Mang Dedi tertawa.


"Iya, kan biar hidup nya juga lebih berwarna. " Jawab Zara.


"Buruan mang tuh ada angkot nya lewat. " Zara lari ke depan, manggil mamang angkot warna pink.


"Ya udah sana duluan, biar nanti barang nya Mang Dedi angkut. " Jawab Mang Dedi.


Anak-anak SR tertawa aja liat Zara, yang riweuh dengan belanjaan Zara sekarang. Tapi Zara seneng kok, meskipun ga bawa si putih ke SR (Mobil kesayangan Zara dulu) Tapi Zara masih tetep bisa belanja.


Zara senyum-senyum sendiri di angkot, dan bicara dalam hati.


"Begini amat hidup mu sekarang Zara. Mengalami lagi seperti ini. Tapi seru juga, suka teringat waktu perjuangan ku dulu mengejar angkot dan bis jam-jam setelah subuh, bahkan sebelum subuh, shalat subuh di mesjid dekat pabrik. berangkat kerja ke pabrik sambil bawa gorengan combro dan ubi di kresek. Orang-orang di dalam angkot suka aneh liatin kantong yang Zara bawa. Karena mengeluarkan aroma gorengan combro dan ubi yang masih panas, Zara hanya bisa memberikan ekspresi unjuk gigi kepada penumpang yang lain karena Zara bawa gorengan yang Wangi nya memenuhi seluruh angkot yang Zara tumpangi waktu itu.


Gaji bulanan Zara ketika Zara kerja di pabrik, Zara berikan pada ibu semua, untuk biaya hidup Ayah, ibu, zara dan juga kakak ku, suami kakakku, kekei kecil. karena mereka masih tinggal serumah bersama ibu, waktu kakak ku awal nikah.


Sedangkan untuk biaya hidup ku sehari-hari Zara ambil dari laba gorengan ibu, yang Zara jual di tempat kerja Zara. Jualan nya pun sering drama dengan security karena tidak boleh bawa barang dagangan ke area pabrik.


Kalo Zara ga jualan, Zara mau makan apa, terus ongkos angkot Zara tiap hari dari mana. Karena uang gaji bulanan Zara hanya Zara ambil 300 ribu untuk bayar bulanan kuliah S1 Zara kelas karyawan, semuanya diberikan pada ibu.


Si pembeli gorengan itu di office tempat kerja Zara adalah Ditto, dan tak lama setelah itu, Ayah Handoko memberikan hadiah rumah pada Zara sebelum menikah dengan Ditto, karena mengetahui perjuangan hidup Zara yang tak mudah dari Ditto. Ayah Handoko mengahargai kerja keras Zara dan sangat senang bisa menjadikan Zara menjadi menantunya. Sayangnya sekarang harus berakhir.


Entah hadiah apa yang Allah berikan pada Zara setelah perjuangan Zara sekarang.


Zara tidak akan mudah menyerah memang, karena tanggung jawab Zara banyak.


Zara harus menghidupi Ayah dan ibu, beda dari dulu, dulu belum ada Jarel. Sekarang tanggung jawab Zara bertambah, Zara harus bisa menghidupi Jarel juga. Belum lagi, kebutuhan pribadi Zara sendiri dan cicilan juga.


Satu-satunya sumber penghasil ku sekarang dari toko. Bagaimanapun caranya Zara harus bisa menjalankan usaha Zara dengan baik dan menutupi semua kebutuhan hidup juga.


Tidak mudah memang, tapi Zara yakin. Allah pasti bantu. Allah memilih Zara mempunyai tanggung jawab seperti ini, karena mungkin Allah juga tau Zara pasti mampu menghadapi nya.


Kita tidak bisa memilih terlahir kaya, tapi kita bisa berusaha untuk ketika meninggal nanti, kita dalam keadaan kaya.


Kita tidak bisa memilih terlahir dari keadaan keluarga berada, tapi kita bisa meninggalkan anak kita dengan bekal yang kita dapatkan semasa hidup kita. Agar kehidupan anak kita nanti terjamin.


Ayah dan ibu Zara memang memiliki keterbatasan dalam ekonomi, entah seperti apa pola hidup nya dulu sebelum Zara lahir. Sebelum Zara dewasa, Zara tidak tau seperti apa pola hidup yang mereka Jalankan.


Mudah-mudahan Rezeki Zara sekarang lancar, agar Zara bisa terus menghidupi mereka, kedua orang tua ku, bahkan terkadang kakak ku juga, meskipun dia telah berkeluarga, namun sering kekurangan secara ekonomi, belum Biaya hidup Jarel juga, dan juga biaya hidup ku sendiri.


Allah pasti memberikan Rezeki pada kami, semoga Zara bisa terus membahagiakan mereka, Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagian bagi Zara sekarang. Tak perlu mencari jodoh yang hanya membuang-buang waktu Zara. Fokus Zara sekarang adalah kebahagiaan keluarga Zara.


Semoga Allah memberikan hadiah kebahagiaan juga pada Zara, jika sudah tiba waktunya nanti. Zara yakin dan percaya.


Semangat untuk para pejuang pencari nafkah, salam untuk kalian para generasi Sandwich di luar sana.


Ingatlah, hidup ini memang tidak mudah, nikmati, jalani dan Syukuri.


Alhamdulilah.