DIARY ZARA

DIARY ZARA
30. Proses Sidang perceraian



"Zara ini di print 2 rangkap, untuk dibaca saksi nanti di persidangan tanggal 20 Oktober 2022, saksi nya 2 orang mau siapa? "


Tiba-tiba ada pesan masuk di whats app dari pa penghulu yang mengurus perceraian Zara dengan Ditto dulu.


Zara kira semua urusannya sudah selesai, tinggal minta akta perceraiannya saja. Ternyata proses sidang nya di tunda selama 8 bulan, masya Allah, selama ini Zara telah melewati masa sulit dari bulan Februari sampai September, berjalan tertatih sendirian mencoba untuk bangkit dengan segala kekuatan dari Allah swt. Sama halnya dengan mobil. Proses pelepasan mobil pun ditunda selama 3 bulan.


"Ya Allah semoga ini adalah akhir, semoga setelah ini Zara tidak berurusan lagi dengan hal-hal rumit seperti ini. Dan semoga Ditto juga tidak muncul lagi. Biarlah dia tenang di alam nya. Biar Zara bisa memulai hidup baru yang lebih baik. Menutup semua cerita lama yang penuh drama. "


"Iya pa, saksi nya Ayah Zara aja ya pa. " Jawab Zara.


"Iya boleh, sama siapa? Tanya pa penghulu.


Siapa lagi ya, Zara harus mencari satu orang lagi untuk menjadi saksi proses perceraian ku di pengadilan.


"Kalo Zara datang ke pengadilan nggak pa? tanya Zara.


"Ga usah, kan udah pake pengacara, yang hadir nanti pengacara sama dua orang saksi saja. " Jawab pa penghulu.


"Oh iya pa. " Zara membalas.


Siapa lagi orang nya, ga banyak orang yang tau dan mengikuti cerita proses perceraian Zara dan Ditto waktu itu. Zara harus minta tolong ke siapa.


Rangga...


Tiba-tiba nama itu muncul lagi dikepala ku, nama orang yang selalu pertama muncul dikepala, jika Zara sedih, bahagia, butuh bantuan, selalu nama itu yang pertama.


"Apa a Rangga mau bantu aku ya? " Tanya Zara dalam hati.


Apa salahnya dicoba. Tanya aja dulu.


"Mau cerita boleh nggak? " Zara kirim pesan jam 6.26 pagi ke whats app a Rangga. Kemungkinan kecil banget untuk dibales.


"Boleh. " ternyata salah dugaan Zara. A Rangga langsung balas pesan aku. Berarti belum berangkat ke toko sepertinya masih dirumah.


"Zara kira, proses perceraian Zara dengan Ditto udah selesai. Ternyata pa penghulu semalem ngasih kabar, mau ngurus kepengadilan nya besok tgl 20 Oktober. Kan lucu ya. Dokumen nya dipending dulu katanya kemarin. " Jelas Zara pada Rangga.


Ternyata Rangga ga balas pesan aku.


"Ga apa-apa pasti udah ke toko, sibuk banget pasti nya. Belum di baca juga pesan Zara." Zara bicara dalam hati.


"Mau minta bantuan boleh? " Siang hari Zara kirim pesan lagi ke whats app a Rangga.


"Apa? " Sorenya Rangga membalas pesan Zara.


"Alhamdulilah. "Zara tersenyum membaca pesan balasan dari Rangga.


"Temenin si ayah jadi saksi dipengadilan mau? saksi sidang cerai aku sama Ditto? Tanya Zara.


"Pa penghulu minta 2 orang untuk jadi saksi, Zara ga tau mau minta tolong ke siapa selain ke A Rangga. Karena Zara hanya berani minta tolong sama kamu. " Jelas Zara.


"Aduh maaf banget ya Zara kalo masalah ini aku ga bisa. Kasarnya kan aku bukan siapa-siapa buat kamu sekarang. Mungkin Bisa kan minta tolong ke tetangga deket rumah aja." Jelas Rangga.


"Ya sih. " Zara menjawab.


A Rangga memang bukan siapa-siapa buat aku sekarang, bukan saudara, bukan teman, ataupun sahabat. Hanya saja setiap Zara perlu apa-apa yang paling pertama laki-laki yang selalu aku ingat setelah ayah, ya hanya Rangga.


"Takutnya kalo Zara minta tolong tetangga, Nanti ibu tau, dan Zara takutnya ibu shock terus sakit lagi. Karena setau ibu proses cerai nya udah selesai, karena udah lama juga kan. " Jelas Zara.


"Iya kalo ada. " Jawab Zara.


"Kalo sama aku, takutnya nanti ada omongan tetangga yang ga enak. Kenapa nyuruh orang jauh, bukannya minta tolong orang deket rumah aja. Magrib dulu yah, shalat dulu. " Rangga menjawab.


"Iya. " Jawab Zara.


Memang udah adzan magrib juga. Zara kira Rangga bales pesan whats app nya nanti malem, karena jam segini pasti baru pulang dari toko. Ternyata nggak, Langsung ngasih solusi dulu.


"Tanggal 20 sidang nya. Tadi Zara udah ngobrol sama Ayah. Malah ayah juga suruh Zara yang nyari orang buat saksi. Beneran A Rangga ga bisa bantu? " Tanya Zara sekali lagi.


"Maaf, tetep ga bisa. " Jawab Rangga.


Memang Rangga orang nya seperti itu. Kalo dia sekali bilang A ya A, ga akan bisa berubah jadi B. Meskipun ditanya berulang kali pun tidak akan merubah keputusannya itulah Rangga.


"Coba minta bantuan ka Maria kan bisa? " Jawab Rangga.


Hadeuh.. ka Maria punya anak kecil, mana bisa dia bantu urusan seperti ini.


"Kalo Zara nyuruh ka Maria, nanti ibu tau. Sekarang kondisi ibu juga lagi drop, karena kemarin bolak-balik Rumah sakit mau kontrol ga dapet no antrian. " Jelas Zara.


"Ka Maria nya jangan bilang sama ibu. " Jawab Rangga.


"Ya sudah lah nanti Zara cari orang lain aja. Siapa tau ada yang bisa bantu, makasih ya A Rangga. " Jawab Zara.


"Iya sama-sama. " Jawab Rangga.


Keesokan harinya, Ayah ingat kakak sepupu aku A Adit.


"Zara gimana kalo ayah telpon Adit aja, buat minta jadi saksi nanti. " Ayah berkata.


"Oh iya, coba telpon aja yah. " Jawab Zara dengan hati senang, semoga akhirnya ada yang bisa bantu.


Ternyata a Adit bersedia membantu Zara menemani Ayah ke kantor pengadilan Agama untuk mengikuti proses sidang perceraian Zara dan Ditto.


Alhamdulilah.


"Gimana udah ada orang nya Zara buat saksi? " pesan masuk dari pa penghulu.


"Ada pa. Berangkat jam berapa? Tanya Zara.


"Jam 6 pagi aja, pake mobil siapa? Tanya pa penghulu.


"Pake mobil bapak aja ya, soalnya mobil Zara kan udah ga ada sekarang pa. " Jawab Zara.


"Iya siap, cuman Ongkosnya 500 ribu." Jawab pa penghulu.


"Aduh, uang lagi uang lagi. Bulan ini pengeluaran Zara lumayan banyak. Tapi ya mau gimana lagi. Mudah-mudahan ada Rezekinya."


"Paling Zara nambahin 200 ribu buat bapa. Soalnya Zara harus ngasih A Adit dan Ayah Zara buat bekalnya. Masa ga dikasih pegangan kan harus makan nanti disana. " Jawab Zara. Karena kantor pengadilan nya jauh dari rumah Zara.


"Oh iya ga apa-apa, soalnya Ditto juga udah ngasih 250 ribu buat transportasinya." jawab pa penghulu.


Ya itu kan memang maunya Ditto. Sudah kewajiban dia yang harus mengeluarkan biaya, lagian Ditto sendiri yang minta bercerai, dan Ditto juga yang menggugat. Zara hanya mengikuti, semoga semuanya cepat selesai biar Zara bisa segera membuka lembaran baru dalam hidup yang lebih indah.