
Pagi ini Jarel ikut belanja ke SR karena dia mau beli lato-lato mainan yang viral di tiktok.
Zara memakai baju kesukaan Zara yang berwarna pink, Zara merasa cantik jika menggunakan baju ini. Gamis panjang dengan bahan brukat didalamnya, tapi dilapisi kain luarnya yang terlihat sederhana, namun ketika melangkah dan berjalan akan terlihat mewah dan elegan.
Zara sangat memperhatikan penampilan saat ini, meskipun harus naik angkot, tapi tetap harus terlihat cantik, anggun, mempesona namun masih tetap sederhana. Itulah penampilan Zara sekarang. Lain halnya dulu, astagfirullah saking yang dipikirannya cicilan-cicilan dan cicilan, penampilan kaya upik abu pun tidak Zara hirau kan. Wajar Ditto mencari yang cantik di luar sana, namun kurang ngajar nya itu terjadi disaat sang istri babak belur kerja mati matian demi masa depan, eh dia malah asik asik selingkuh, luar biasa hebat ya.
Zara sampai di SR, tanpa basa basi langsung masuk mengambil keranjang belanja dan memilih barang belanjaan yang sudah Zara tulis dari rumah.
Selesai mengambil barang Zara langsung menuju meja kasir untuk membayar barang belanjaan dan menunggu A Eko menyiapkan belanjaan rokok Zara.
Jarel berdiri di depan Meja kasir sambil memainkan lato-lato yang baru saja di beli tadi diterminal.
"AA sini om pinjem boleh ga? " Tanya kasir baru pada Jarel.
"Boleh. " Jarel pun menghampirinya dan memberikan mainan lato-latonya.
Ternyata si om nya ga bisa mainin lato-lato nya.
"Wah masa kamu kalah sama anak kecil. " Goda a Eko sambil tangannya menyiapkan rokok.
"Ha.. ha... beneran aku ga bisa a. " Jawab si om nya ketawa.
"Nih, om balikin deh, ga bisa om mainin nya juga. " Sambil mengembalikan lato-lato nya pada Jarel.
"Teh, ini rokoknya, ini bonnya. Barang yang lainnya ditunggu didepan ya, Makasih." A Eko memberikan kresek rokok nya. Memang ini orang paling baik, sopan dan ga macem-macem.
"Sama-sama A." Jawab Zara.
Zara menghampiri A Deni yang duduk dikursi depan, memberikan bon belanja Zara untuk di cek dan disiapkan barangnya.
Ada ibu-ibu pelanggan juga yang duduk disamping Zara dan a Deni, menunggu suaminya sedang merapikan sendiri barang belanjaan nya ke motor.
"Neng sering belanja juga ya kesini." Tanya si ibunya.
"Iya bu." Jawab Zara.
"Sama ibu juga." Jawab si ibu nya.
"Pulang sama siapa?" tanya si ibu nya lagi.
"Dijemput angkot bu." jawab Zara.
"Suami?" Tanya si ibu nya.
"Bukan, saudara." Jawab Zara.
"Oh. Emang suami kerja dimana?" Tanya si ibu.
"Ga punya bu, udah cerai." Jawab Zara.
"Astagfirullah, sayang banget ya. Ga apa-apa Neng yang sabar ya, insya Allah nanti dapet gantinya yang lebih baik." Jelas si ibu pada Zara.
"Amin...mudah-mudahan ya bu."
"Bu nikah sama si bapa udah berapa tahun?" Tanya si A Deni yang ikut mendengarkan percakapan Zara dari tadi.
"Wah ibu sama bapak udah puluhan tahun, alhamdulilah sudah melewati segala macam ujian pernikahan." Jelas si ibu pada A Deni.
Zara hanya senyum melihat mereka, sungguh pasangan yang luar biasa. Masih mau berusaha bareng sampe kakek nenek.
"Den, laki-laki itu kalo mau nikah harus punya bekal." Jelas si ibu.
"Bekal nya apa bu? " Tanya A Deni.
"Seberapa siap kamu jadi Imam? kamu harus bisa membimbing anak orang, tanggung jawabnya besar loh. Baik atau tidak nya istri nanti tergantung bagaimana suami nya juga. Mampu ga menjadi Imam yang baik dalam rumah tangga. Melindungi Istri dan Anak-anak menjadi teladan bagi mereka. Karena suami itu bukan hanya tentang sanggup atau tidak nya memberikan nafkah materi pada keluarga. Tapi tanggung jawab nya lebih daripada itu. " Jelas si Ibu pada A Deni.
"Waduh, berat juga ya bu. " Jawab A Deni.
Zara sih hanya senyum aja mendengarnya.
"Ya sudah, belajar aja dulu. Ibu pamitan ya udah beres juga si bapaknya. " Jawab si ibu.
"Neng ibu duluan ya. " Si ibu juga pamitan pada Zara.
"Iya bu, hati-hati. " Jawab Zara.
Si ibu itu pun pulang bersama suami nya di motor.
Yang tersisa tinggal Zara Jarel dan A Deni yang duduk di satu kursi panjang di depan SR.
Keadaan jadi canggung lagi, pada-pada diem ga ngobrol sama sekali.
"Eh Zara. " Dateng mang Dedi dan si om keluar dari gudang.
"Apa mang Dedi. " Jawab Zara.
"Udah beres belum? Ayo bareng aja, si om juga mau anter barang kesana sekarang. " Tanya mang Dedi.
"Nggak ah, mau dijemput Angkot A Adit udah nelpon tadi. " Jawab Zara.
"Pundung mang Dedi Zara nya, minta maaf ya Zara. Ayo barangnya angkat aja, lama loh nunggu angkot. " Ajak si om pada Zara.
"Ga mau om. " Jawab Zara.
"Wah beneran ngambek, kudu dikasih apa ya mang Dedi Zara nya, biar kita berteman lagi. " Tanya si om ke mang Dedi sambil senyum senyum cengengesan.
"Jodoh mang. " Jawab Zara.
"Ok, siap teh nanti dikasih jodohnya. " Jawab mang Dedi.
Ternyata si om nya beneran langsung berangkat sekarang.
"Bener ga mau ikut? " Tanya si om dari dalam mobil, bersiap untuk berangkat.
"Nggak. " Teriak Zara karena si om nya di dalem mobil, mesin nya sudah menyala.
"Ya sudah. " Akhirnya si om pun berangkat duluan.
Zara masih menunggu jemputan A Adit.
Sesekali Zara melirik ke arah A Deni yang duduk sambil memandangi layar handphone yang sedang ia pegang.
"A Rangga. " Tiba-tiba A Deni menyebut nama itu.
A Deni melirik ke arah Zara, dan kami saling menatap sejenak.
"Ada apa? " Zara bertanya dalam hati namun itu tak bisa terucap.
Setengah berlari A Deni menuju bengkel sebrang SR Grosir yang dulu tempat dimana Rangga duduk disitu menghadap ke jalan. Saat Zara berkata.
"Ibu udah pulang dari rumah sakit, mau ketemu kamu. Kapan kamu mau ke rumah. " Tanya Zara
"Insya Allah nanti, setelah kerjaan selesai. Sekarang masih sibuk. "
Nanti nanti dan nanti, entah kapan dan bahkan tidak pernah terjadi sampai detik ini.
Dia berdiri ditempat dia duduk dulu, dia benar-benar terlihat di depan mata ku lagi, setelah sekian lama dia menghilang. Kenapa sekarang aku harus melihatnya lagi.
Rangga, muncul kembali di hadapan Zara.
Tangan Zara gemetar, setelah sekian lama Zara berusaha melupakan nya. Sekarang dia muncul lagi. Entah takdir atau apa, yang jelas pertemuan ini tidak direncanakan sama sekali.
"Ya Allah, kuatkan Zara, kuatkan Zara. Semoga dia tidak kesini. Ya Allah semoga Rangga tetap diseberang sana. Jangan biarkan kami dekat ya Allah. " Dengan gemetar Zara berdo'a dalam hati.
Zara memalingkan pandangan ke arah lain, padahal sebetulnya Zara tau A Deni kesebrang sana untuk menghampiri Rangga yang berdiri mungkin sudah sejak lama dia ada di situ.
Akhirnya A Deni pun kembali.
"Syukurlah Rangga tidak kesini. " Zara bicara dalam hati.
"Mi, Ada A Rangga tuh di sebrang. " A Deni memberi tahu Hilmi yang baru keluar dari SR.
"Wah bener? " Tanya Hilmi.
Zara lebih memilih main handphone dan pura-pura tidak peduli. Karena Jarel pun sedang sibuk main lato-lato duduk di tengah-tengah Zara dan A Deni.
"Hay bro, kirain udah 40 hari almarhum kamu. " Tiba-tiba terdengar suara di belakang kursi duduk Zara.
"Sialan lu, masih hidup lah." Jawab seseorang yang suara nya Zara sangat kenal.
Suara Rangga.
Pas Zara lihat ternyata Rangga sudah berada tepat dibelakang kursi Zara dan A Deni duduk, entah kapan dia berjalan kesitu. Tiba-tiba dia sudah ada duduk di atas motor yang berjajar didepan SR.
Rangga senyum dan menganggukan kepalanya. Tanda dia masih mengenal Zara.
"Astagfirullah, berani-berani nya dia muncul lagi. "
"He... " Zara balas senyum, sedikit terpaksa. Karena sebetulnya Zara ingin sekali menghampiri nya, memukulnya, menjambak-jambak rambutnya.
Seketika suasana SR jadi rame, ketika anak-anak SR keluar menghampiri Rangga, semua bersalaman kepada Rangga.
"A Deni tolong jangan kemana-kemana tetap duduk di sisi ku ya kumohon. " Zara berharap A Deni tidak ikut menghampiri Rangga juga.
"A Rangga sehat, udah nikah bukan kamu? " Tanya Citra yang langsung menghampiri Rangga.
"Nikah apaan, kerja juga nggak, anak orang mau dikasih makan apa? sembarangan. " Jawab Rangga.
"Kirain. " Jawab Citra.
"Eh kamu kemarin lamaran ya, selamat ya. Ga undang undang sih. " Tanya Rangga.
"Nanti aja pas akad. " Jawab Citra.
"Dari mana bro? " Jawab salah satu pelanggan laki-laki. Oh ternyata dia suami nya perempuan yang suka nempel ke A Rangga dulu.
"Abis dari polres bikin SKCK. " Jawab Rangga.
"Ngelamar kemana? " Tanya orang itu.
"Entahlah, susah cari kerjaan sekarang selalu Mentok, pasti butuhnya Sarjana. Atau ga di tanya pengalaman kerja. " Jelas Rangga.
"Heuhhh.. Apa aku bilang, cari kerjaan Zaman sekarang tuh susah, apalagi usia diatas 30." gerutu. Zara dalam hati.
"Kemarin di Bogor seminggu, aduh tidur nya juga menyedihkan, ga kuat aku. Balik lagi aja ke Sukabumi. " Jelas Rangga.
Mereka ngobrol banyak, dan Zara mendengar pembicaraan mereka sedikit sedikit.
"Zara relaks, tarik nafas tenang ya, liat sendiri oleh mu. Orang seperti itu kah yang kamu tangisi selama ini. Ternyata gak lebih tampan dari A Deni, kamu lihat sendiri Zara. Hidupnya ancur-ancuran sekarang. Zara kira Rangga lebih baik setelah segala hal yang dia perbuat pada Zara, Ternyata tidak sama sekali." pikir Zara dan bicara dalam hati.
"Pinter mainnya." A Deni mengajak Jarel bicara yang dari tadi duduk disebelah nya sedang main game di handphone Zara.
"Terima kasih A Deni. Setidaknya Zara bisa lebih kuat jangan beranjak ya tetap duduk di situ sudah cukup membantu Zara dalam keadaan ini." Zara bicara dalam hati sambil melirik ke arah A Deni. Ternyata tepat di belakang nya Rangga sedang menatap ke arah tempat duduk kami.
Wanita yang dulu selalu nempel pada Rangga pun ada bersama suaminya, mereka ngobrol. Iya sih teman. Tapi tidak seharusnya gandengan seperti dulu, ditempat umum tau batasan seorang muslim harusnya seperti apa, jangan kan saling rangkul. salaman pun seharusnya tidak bersentuhan antara laki-laki dan perempuan. Kalo memang santri beneran anak pesantren terdidik.
"Eh...itu...ini...itu. .. ini..." Tiba-tiba Mang Dedi datang sambil menunjuk ke A Rangga dan Zara.
"Rangga... Zara... Rangga... Zara.. " Mang Dedi menghampiri Jarel dan berbisik.
"A Itu Ayah baru dateng." bisik mang Dedi pada Jarel.
Jarel pun melihat ke arah A Rangga.
"Hehhhh...Bukan ayah baru, A Rangga itu." Jawab Jarel marah sambil memukul Mang Dedi.
Mang Dedi langsung lari kembali ke gudang.
Akhirnya A Adit pun datang.
"Alhamdulilah, tau gini pulang dari tadi Zara ikut si om." Zara menggerutu sambil membawa barang belanjaan Zara ke angkot A Adit.
A Deni pun langsung membantu Zara mengangkat barang belanjaan Zara.
Rangga yang duduk di motor melihat ke arah kami yang sedang membawa barang belanjaan bolak-balik ke dalam angkot.
Rangga pun akhirnya pindah ke kursi tempat duduk yang dipakai Zara tadi.
"Udah semua ya?" tanya Zara pada a Deni.
"Udah." Jawab A Deni.
"Terima kasih banyak a Untuk hari ini." Zara bicara dari dalam angkot di dalam hati sambil menatap punggung A Deni yang berjalan ke Arah A Rangga.
Zara lihat dari dalam Angkot, Rangga duduk di kursi itu berkumpul bersama anak-anak SR semua.