
"Zara masih online tengah malam begini? " Ada pesan masuk dari Ana, sahabatku yang kini sedang mengadu nasib bekerja di luar negeri.
"Baru pulang dari Rumah sakit. " Jawab Zara.
"Hah,, bukannya disitu tengah malam ya sekarang, Ana sih disini jam 10 malem." Jawab Ana.
"Jam 2 disini. "Jawab Zara.
"Mau nelpon boleh, Ana mau cerita banyak tentang kebenaran perbuatan mantan suami Ana, Zara." Tanya Ana padaku.
"Boleh telpon aja. " Jawab Zara.
Ternyata Zara dan Ana punya nasib yang sama, mantan suami kami memiliki cerita kelakukannya yang sama pula.
Tak terasa jam sudah menunjukan 03.30. Malam ini Zara benar-benar tak tidur sama sekali.
"Zara maaf nelpon nya kelamaan, udah dulu ya, takutnya mau istirahat kamunya. Tidur dulu lumayan. "Jelas Ana.
"Ha... ha... Udah pagi Ana, tanggung. Zara juga besok mau ada acara disekolah Jarel Maulid takut kesiangan bangunnya. Jawab Zara
Tak lama setelah telpon ditutup, Adzan subuh berkumandang. Zara mengambil air wudhu, shalat. Benar-benar ga tidur sama sekali Zara malam ini.
"Jam 6 ini yah, mana pa penghulu belum dateng yah? " Aku menghampiri Ayah didepan Toko ku yang sedang menunggu jemputan pa penghulu untuk berangkat ke pengadilan.
"Ga tau nih belum dateng. "Ayah menjawab
"Bukan pebisnis, jam karet gini. Waktu adalah uang kalo untuk pebisnis kecil kaya Zara." Zara tidak suka orang yang tidak disiplin waktu.
"De A Adit nunggu dipangkalan, kalo si Ayah udah berangkat kabarin. "A Adit nelpon Zara.
"Belum dateng a Pa penghulu nya juga. "Jawab Zara.
"Ok. A Adit tunggu didepan, dipangkalan ojeg. " Jawab Adit.
"Siap A. "Jawab Zara menutup telponnya.
Hampir jam 7 pa penghulu datang menjemput Ayah, mereka pun berangkat ke pengadilan Agama.
"Ayah pamit, do'ain lancar ya." Ayah pamit pada Zara.
"Iya, Zara do'ain. "Jawab Zara.
Jam 8 Zara dan Jarel berangkat ke sekolah untuk mengikuti acara maulid nabi di sekolah, ibu juga udah berangkat ke rumah sakit membawa no antrian yang semalam aku bawa dari Rumah sakit. Toko Zara tutup.
Zara berkumpul bersama ibu-ibu yang lain, kebetulan bulan ini Zara kebagian kelompok gizi di sekolah, jadinya Zara dan 6 ibu-ibu yang lain, menjadi seksi konsumsi di dapur untuk acara maulid nabi disekolah Jarel.
Alhamdulilah banyak sekali makanan pemberian dari orang tua murid yang lain, Zara dan ibu-ibu kelompok Zara menata nya di piring-piring untuk konsumsi anak-anak dan ibu-ibu lain yang datang ke acara.
Rame sekali jika ibu-ibu sudah kumpul. Didapur pun tidak lupa selfie dan video. Benar-benar kebersamaan yang menyenangkan, meskipun semalam Zara tidak tidur tapi Zara tidak merasa ngantuk sama sekali.
Sampai akhir acara, Zara membagikan konsumsi pada anak-anak. Senang sekali rasanya berada di tengah banyak nya anak-anak TK, teman-teman Jarel. Seperti ada kebahagiaan tersendiri.
Zara sekarang bukan Zara yang dulu lagi, Zara lebih suka anak kecil, berbagi dan memberikan kebahagiaan untuk banyak orang, itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Zara. Zara tidak ingin melihat orang yang bersedih, karena Zara pernah mengalami hal seperti itu. Bagaimana pahit nya kehidupan. Mulai detik ini sampai seterusnya Zara ingin membahagiakan banyak orang walaupun dengan cara sederhana.
Menebar kebaikan, memberikan senyuman kepada orang yang kita temui. Menjadi nilai positif bagi Zara pribadi. Zara merasa tak lagi sendiri didunia ini.
Ketika Zara selesai membagikan konsumsi kepada anak-anak. Ibu-ibu yang lain malah sibuk dengan makanan yang masih sisa banyak. Mereka bawa pulang dengan disertai canda tawa, heboh ibu-ibu kalo udah bertemu makanan kaya gitu.
Zara sih ketawa aja melihat tingkah mereka yang sama aja, seperti anak TK. ha.. ha...
"Zara ayo makan dulu, jangan bagi-bagi terus. Istirahat dulu. " Ibu kepala sekolah mengagetkan aku.
Selesai Acara, Zara merapikan karpet, menyapu lantai dan mengepel lantai, karena memang Zara tidak suka meninggalkan tempat acara kalo belum benar-benar selesai rapi seperti semula.
"Zara ga usah di pel ga apa-apa di sapu aja. " Ibu guru berkata pada Zara.
"Tidak apa-apa bu sekalian aja. Biar bersih ya. " Jawab Zara.
"Zara ada 3 orang ga masuk sekolah sakit, bisa bantu bawain ga, nanti kita Whats app aja suruh ambil ke toko Zara." Kebetulan anak-anak yang tidak sekolah pun tetangga dekat rumah Zara.
"Iya boleh, mana. Sini aku bawa aja. " Jawab Zara.
Ibu ketua grup orang tua pun memberikan 3 bungkusan konsumsi untuk anak-anak yang tidak hadir karena sakit.
"Itu makanan nya masih banyak, kamu belum bawa kan Zara, Ambil aja. "Bu ketua grup orang tua memberi tahu Zara.
Memang makanan nya masih banyak juga. Zara ambil untuk diberikan ke Chira anak kak Maria aja. Karena jika di bawa ke rumah Zara, ga ada orang juga. Siapa yang mau makan nanti.
"Chira. Ini mau ga Aa bawa makanan banyak. " Zara mampir rumah kak Maria, membawa banyak kresek makanan.
"Udah selesai acara nya Jarel? Tanya ka Maria.
"Udah, ini buat chira kue banyak. " Jarel memberikan kue nya kepada Chira anak kakak ku.
Seneng banget dia, karena memang Chira itu jago makan, jago jajan makanya badannya pun gendut, lucu. Gemesin pokoknya. Kalo liat tuh suka pengen nyubit. Tapi dia ga pernah mau aku gendong. Karena takut.
Sebelum sampai rumah Zara dan Jarel mampir ke rumah teman Jarel dulu untuk memberikan bingkisan konsumsi karena mereka tidak sekolah.
"Aa makan dulu yuk, nanti kita buka tokonya setelah shalat dzuhur aja. " Karena jika sekarang langsung buka toko. Zara pasti tidak bisa makan siang. Langsung diserbu pembeli.
Ayah juga ternyata jam 2 siang udah pulang dari pengadilan.
"Ayah pulang jam segini, kirain Zara sampe malem. " Tanya Zara.
"Ah.. paling 10 menit sidang nya. Ga kaya persiapan nya lama banget. " Jawab Ayah ku sambil tertawa.
"Emang gimana yah, coba cerita. " tanya Zara.
"Ya gitu, sebelum masuk ke ruang sidang ayah dan Adit di berikan pengarahan pa penghulu secara detail, sampai Ayah pun deg-degan gugup pas mau masuk ke ruang sidang. Kaya terdakwa kasus kejahatan aja. " Jelas Ayah.
"Ha.. ha.. terus? " Zara bertanya
"Dikasih satu pertanyaan ke Ayah, satu pertanyaan untuk Adit. Ketuk Palu udah selesai." Jawab Ayah.
"Ha..ha.. " Zara tertawa
"Tidak seperti yang ayah bayangkan sebelumnya. Rasa gugup, pas duduk didepan meja hijau, seperti terdakwa kasus berat, Gimana kalo kasusnya kaya kasus Sambo ga selesai-selesai. Seperti nya Ayah milih kabur deh. Ha.. ha.. " Jawab Ayah.
"Alhamdulilah yah udah selesai sekarang, memang ketika kita sudah selesai dengan masalah kita. Semuanya terasa biasa saja. " Jawab Zara.
Ternyata memang benar, sebesar apapun masalah yang kita hadapi sebenarnya tidak akan jadi rumit jika kita menghadapi nya dengan hati yang lapang dan tenang. Karena yang rumit itu bukan masalahnya. Namun pola fikir kita dalam mengahadapi suatu masalah tersebut.
Selalu ingat bahwa Allah memberikan ujian kepada hambanya tidak akan melebihi batas kemampuan seorang hambanya. Allah memberikan ujian seperti ini pada Zara Berarti Allah tau Zara mampu melewati nya.
"Aduh... ya Allah itu adalah kata-kata Rangga padaku dulu. " Zara bicara dalam hati.
"A Rangga Alhamdulilah Sidang nya udah selesai, masalah ku udah selesai sekarang. Alhamdulilah, terima kasih banyak. " Zara mengirimkan pesan pada A Rangga namun tak ada balasan dari Rangga.
Ibu juga ternyata sore udah pulang ke rumah, jadi Zara tidak perlu menyusul ibu ke rumah sakit.