DIARY ZARA

DIARY ZARA
42. Hubungan baik Ayah dan Anak



"Jarel lagi apa? " Ada pesan masuk di whats app dari Ditto.


"Aa nih ayah ada kirim pesan Whats app, mau di bales ga? " Zara memberikan handphone ke Jarel anakku.


"Lagi main. " Jarel merekam Voice note.


"Udah mandi belum? " Tanya Ditto.


"Mamah aa mau coba ngetik ya, aa bisa kok. " Jarel mau mencoba menjawab pesannya tidak pake voice Note.


"Boleh. "Jawab Zara.


"Belum. " Tulis Jarel di pesan, itupun lama banget dia ngetik nya. ha.. ha... ga apa-apa namanya juga belajar.


"Ih bau... " Ditto merekam Voice note nya.


"Bentar lagi. " Balas Jarel.


"Iya sayang, Ayah bentar lagi pulang kerja. Dadah." Ditto pun membalas pesan jarel.


"Iya. " Jarel kembali mengetik pesan balasan.


"Pinter udah bisa baca tulis. " Jawab Ditto.


"Iyah. " Jawab Jarel.


Siapa dulu yang ngajarin, padahal kan sebetulnya tanggung jawab mengajari anak tentang pendidikan itu adalah seorang ayah, namun kewajiban itu sekarang pindah pada Zara sepenuhnya.


"Ayah lagi apa? " Tanya Jarel disertai emot senyum.


"Mau pulang, tapi hujan. Ini masih di pabrik. " Jawab Ditto.


"Iya Ayah. " Balas Jarel.


"Jarel sudah sore, Mandi dulu. Kalau mandi udah bisa sendiri belum? " Tanya Ditto.


"Mamah aa mau mandi sendiri, kata ayah harus mandi sendiri. " Jarel bilang pada Zara.


"Iya nanti kalo udah gede. Sekarang dimandiin mamah aja dulu. " Jawab Zara.


"Pusing, si Ayah nanyainnya kebanyakan mamah, aa bales yang mana dulu. AA pusing kebanyakan. he... he.. "Tanya jarel pada Zara.


"Terserah aa mau balas yang mana dulu, satu-satu aja. " Jawab Zara.


"Pusing. " Jarel bales pesan Ditto.


"Hahh... pusing kenapa? Minta dimasakin air anget sama mamah mandinya. " Jawab Ditto.


"Pusing bales, bukan pusing sakit Ayah. Nanya nya ga usah banyak-banyak, jarel susah ngetiknya. " Jawab jarel di voice note.


"Oh...ha.. ha.. iya satu aja nanyanya. Maaf. " Jawab Ditto.


"Tuh kan si ayah teh, bilangnya nanya satu aja, ga usah banyak-banyak mamah, biar aa ga pusing. " Jarel lapor pada Zara.


"Iya. " Jawab Zara.


"Ayo mandi dulu, nanti kirim WA lagi ke Ayah. " Ajak Zara pada Jarel.


"Ayo. " Jarel langsung lari ke kamar mandi.


"Ayah, aa udah mandi. " Jarel mengirim pesan lagi pada Ditto.


"Wih hebat,, mandi sendiri? " Tanya Ditto.


"Sama mamah dimandiin. " Jawab Jarel.


"Ayah lagi apa? " Tanya Jarel.


"Ayah masih dipabrik, hujan. " jawab Ditto.


"Iya, disini juga lagi hujan. " Jawab jarel.


"Mamah aa mau kirim video-video ngaji aa, ke Ayah boleh? " Tanya Jarel pada Zara.


Jarel pun mengirimkan beberapa Video nya, video. sekolahnya juga pada Ditto.


"Ayah video aa Bagus gak?" Tanya Jarel.


"Bagus, ayah suka. Hebat Jarel anak pinter. " Jawab Ditto.


"Yeeyyy.. "Jarel balas senang banget dia.


Alhamdulilah, meskipun anakku harus melewati hal sulit, tak semua anak mengalami hal seperti itu. Namun semangat belajar nya tak pernah hilang, bahkan Jarel bisa membuktikan dengan segala prestasinya, kalau dia alhamdulilah baik-baik saja. Semoga Zara bisa selalu mendukung, dan menemani setiap pertumbuhan Jarel, terutama sisi emosionalnya yang sangat penting, untuk membentuk karakter anak. yang cerdas berahlak baik.


Jarel mengirimkan foto selfie nya di toko pada Ditto.


"Ganteng kan kalo udah mandi. " Jawab Ditto.


"Baju dari ayah dipake? Jaketnya kalo dingin di pake ya. " jawab Ditto.


"Iya. " Jawab Jarel.


"Semangat ya Jarel, Jangan nakal. Nurut sama mamah, ok. " Ditto membalas pesan Jarel.


"Iya. " Jawab Jarel.


Sekarang hubungan Ditto dan Jarel udah membaik, Alhamdulilah. Kalo memang sekedar seperti itu Zara ijinkan. Boleh-boleh saja, karena sampai kapanpun ga akan ada yang namanya bekas anak, atau bekas ayah. Lain hal nya istri dan suami, mungkin bisa saja di bilang bekas.


Kalo memang mau menjalin hubungan baik, silahkan saja, Zara sudah memaafkan. Asal jangan cari keributan lagi pada Zara. Zara tidak suka.


Mungkin Ayah, dan ibu ku juga belum bisa memaafkan Ditto, karena terlalu sakit hati atas segala kejadian yang pernah kami lewati dulu.


Namun Zara berfikir dewasa. Zara memaafkan namun tidak untuk melupakan kejadian-kejadian yang pernah Zara alami, karena itu sangat menyakitkan, dan itu adalah titik terendah dalam hidup Zara.


Untuk membenci rasanya tidak, biarlah. Karena ada pelajaran yang Zara dapatkan dari perpisahan Ditto dan Zara dan bahkan dengan kepergian Ditto, membuka peluang baru untuk Zara hidup bahagia kedepannya. Hidup bersama orang yang benar-benar bisa menghargai Zara, mencintai Zara, melindungi Zara, menerima Zara apa adanya. orang terbaik pilihan Allah yang pasti Allah berikan pada Zara suatu hari nanti.


Namun, jika sekarang Zara dan Ditto berhubungan baik pun. Itu adalah suatu kebaikan, karena jika kita punya satu musuh pun rasanya hidup tidak bisa tenang. Lain halnya ketika kita berada disekeliling orang yang baik, semua nya terasa menyenangkan dan hidup pun menjadi tenang.


Mungkin nanti Zara juga bisa berkomunikasi lagi dengan Ayah dan mamah mertuaku, jiga waktunya sudah tepat. Untuk sekedar menjalin silaturahmi yang baik.


Bukan untuk kembali bersama Ditto, karena kita sudah memilih jalan hidup masing-masing. Masing-masing punya Visi Misi tujuan hidup yang berbeda. Masing-Masing telah menemukan orang yang dicintai. Tapi kewajiban Ditto sebagai Ayah Jarel, mungkin masih ada, selama dia masih hidup.


Jika Ditto masih hidup, dan memiliki keinginan membiayai hidup Jarel, ya silahkan. Kalaupun tidak, Zara akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup Jarel. Menjadikan semuanya ladang pahala bagi Zara, ketika Zara membiayai Jarel yang sejatinya masih harus menjadi tanggung jawab Ayahnya, walaupun Zara dan Ditto. telah berpisah.


"Nek, " Pulang sekolah Jarel dan Zara mampir ke rumah Ibu.


"Aa baru pulang. " Tanya ibu.


"Iya, ni aa punya tas baru dari ayah. " Jarel menunjukan tas barunya pada ibu.


"Gimana kemaren ketemu ayah, seneng? " Tanya Ibu pada Jarel.


"Seneng. " Jawab Jarel.


"Gimana kemarin Ditto ketemu sama kamu, ternyata dateng lagi dia. " Tanya Ibu pada Zara.


"Ya begitulah, nanyain ibu juga. Zara suruh nemuin ibu aja, kalo berani. "Jawab Zara.


"Hahhh.. memangnya dia berani nunjukin Batang idungnya lagi didepan ibu. " Jawab ibu yang masih emosi.


"Ga tau, sudah lah bu, yang lalu biarkan saja. Kalo udah waktunya sadar, ga dikejar pun dia kembali. Kirain Zara udah mati, ternyata masih hidup dia. " Jawab Zara tertawa.


"Iya, udah sadar mungkin. Tinggal satu lagi yang belum sadar. " Ibu berkata pada Zara.


"Siapa?" Tanya Zara.


"Tuh si Rangga. " Jawab ibu.


"Ha.. ha... Rangga udah mati bu. " Jawab Zara.


"Lenyap bukan? " Tanya Ibu.


"Iya, sudahlah Zara mau pulang dulu bu. Ga usah bahas orang yang sudah mati. " Zara pamit pulang dari rumah ibu.