DIARY ZARA

DIARY ZARA
52. Awal kisah



Zara menunggu toko seperti biasa, tapi Zara mulai kepikiran tentang A Deni.


"Ah, ini pasti gara-gara A Hilmi nih, jadinya Zara kepikiran A Deni sekarang. Ga apa-apa mungkin ya kalo Zara sedikit kepo tentang A Deni. Biar Zara tau aja. Karena A Rangga juga pernah bilang. "


"Pelajaran buat kamu. Jangan semudah itu buat membuka hati. Inget setiap orang punya watak dan cerita hidup yang berbeda beda. Kamu terlalu mudah untuk buka hati tanpa tau bagaimana status dia, kehidupan dia, watak dia. Dengan ngeliat dia baik lalu dengan mudahnya buka hati. Ga gitu konsepnya. "Jelas Rangga.


Zara cari di facebook, ga dapet. Zara cari di Instagram ternyata hanya punya satu postingan itu pun akunnya privat. Di tiktok ada kali ya.


Eh ternyata hanya ada dua video di tiktoknya.


"Meskipun apa-apa bisa sendiri, bukan berarti mau sendiri terus. temeninlah. "


Ada kata-kata dan foto dirinya, hanya video itu, tak ada yang lain, followers nya juga dikit banget.


"Ha.. ha... " Zara ketawa, mulai nih Zara kepo.


"Zara, inget jangan kebablasan, takutnya nanti kamu sakit hati lagi. " Zara bicara dalam hati.


"Sama ya konsepnya, Zara juga apa-apa bisa sendiri, Mandiri, wanita independen, dan tidak mau menyusahkan orang lain, karena jika berharap apapun kepada manusia yang ada hanya sakit hati. Tapi bukan berarti selamanya Zara mau hidup sendiri, Zara juga ingin ada seseorang yang bisa menemani hidup Zara, seorang laki-laki yang sholeh, baik, mampu menerima Zara apa adanya, bisa menghormati, melindungi dan menyayangi Zara dan juga Jarel. Tidak perlu laki-laki yang mapan, karena harta bisa dicari bersama-sama, asalkan laki-laki itu mempunyai ahlak yang baik, insya allah pasti dia bisa bertanggung jawab dunia dan akhirat." Zara bicara dalam hati.


"Apa kamu, senyum-senyum sendiri terus sekarang. Serem ayah liatnya juga. " Tanya Ayah dateng ke toko mengagetkan Zara.


"Ah ayah, ganggu orang seneng aja. " Jawab Zara.


"Ayah, liat nih. Ini namanya A Deni. " Zara memperlihatkan akun tiktok A Deni ke ayah.


"Ganteng, udah itu aja, cepetan nikah. Nanti ilang lagi. " Tegur Ayah.


"Ha.. ha... emang nya gampang. Kita lihat aja nanti, takutnya ilang lagi, karena setiap orang yang Zara suka pasti ujung-ujung nya ilang entah kemana. " Jawab Zara.


"Ya udah. "Jawab Ayah.


Zara kembali ke SR untuk belanja seperti biasa, agak semangat sekarang Zara belanjanya. Karena setidak nya ketika Zara belanja Zara bisa Lihat A Deni. Suka aja, dari pada terus-terusan di rumah.


Setelah dari sekolah Jarel, Zara langsung ke SR.


Sampai di depan SR, ternyata ada A Hilmi, teh Shifa dan juga A Deni di pintu depan.


"Aduh malu ya Zara, ga apa-apa Zara. Tarik napas.... hembuskan... relax..... ok jalan. " Zara bicara dalam hati karena untuk berjalan di depan A Deni tuh kok Jadi malu ya sekarang. " Zara bicara dalam hati.


"Hey.. " A Hilmi menyapa.


A Deni pun melihat ke arah Zara, yang tadi nya duduk membelakangi.


"A Deni tersenyum. "


"he.. he... " Zara hanya bisa senyum aja sambil membawa keranjang kosong masuk ke dalam SR.


Zara mulai mengisi keranjang belanja Zara dan menuju ke meja kasir.


"Zara minta KTP. " A Eko berkata pada Zara.


"Aduh, buat apa a, Zara bukan penjahat. " Zara menjawab sambil tertawa.


"Bukan, buat minyak curah, setiap pembeli minyak curah yang banyak A Fadli minta KTP nya buat dikumpulin. " Jelas A Eko."


" Oh gitu, tapi Zara ga bawa sekarang. " Jawab Zara.


"Ga apa-apa besok aja. " Jawa A Eko.


"Ok. " Zara menjawab.


Setelah semua selesai Zara menghampiri A Deni.


"Ini bonnya. " Zara memberikan bon belanja Zara untuk di cek.


"Oh iya. " Jawab A Deni.


"Zara hayu kita ke rumah, ngeliwet.. ngeliwet..iya ga a?" A Hilmi mulai lagi nih.


"Iya hayu, kapan? " Jawab A Deni.


"Hayu.. hayu aja, berangkatnya nggak. " Jawab Zara.


"Ha.. ha... " A Hilmi hanya tertawa.


A deni ke gudang untuk membawa barang belanjaan Zara sendiri tanpa minta bantuan anak-anak yang lain.


"Ini apa? " Zara menunjuk satu kardus.


"Minyak, minta KTP bawa ga?" Tanya A Deni


" Nggak, tapi kayanya ada fotonya bentar di cari dulu. " Jawab Zara.


A Deni kembali ke gudang.


"Ikat pake tali ya dusnya, biar gampang bawanya. " Zara menyuruh a Deni.


"Ok. " Jawab A Deni.


Hari ini A Adit libur, jadinya Zara harus naik angkot orang lain dari terminal.


A deni Jongkok di depan ku yang duduk di kursi sambil mengikat dus pake tali rapia.


"Ini foto KTP ku, mau di kirim apa gimana?" Zara memperlihatkan foto KTP Zara di handphone.


"Foto aja coba sini, diem dulu pegang hpnya? "Jawab A Deni.


"Blur ga? " Tanya Zara.


Karena memang tangan Zara gemetar megang hp nya.. ha.. ha... malu apa grogi entah lah.


"Sekali lagi. tahan dulu." A Deni mengarahkan kamera handphone nya di atas tangan ku yang memegang handphone sambil tersenyum.


"Simpen aja ya, ulang. Dari pada ngeblur. " Zara mencoba menyimpan hp di atas dus.


"Ga usah, udak kok. Nih. " a Deni memperlihatkan hasil fotonya.


Yang jadi Zara malu, karena foto KTP Zara belum memakai hijab. Maklum foto Zara usia 17 tahun.


"Siapa ya yang kemarin muncul di tiktok? " Tanya a Deni bertanya pada Zara sambil tersenyum.


"Ga tau siapa ya, emang kenal? " Tanya Zara malu.


"Kok bisa ketemu akun aku?" Tanya A Deni.


"He.. he... ga tau juga. " asli Zara malu, karena ketauan Zara kepo.


"A ngomong-ngomong dari tadi ada yang merhatiin loh. " Zara berkata karena tidak sadar anak-anak SR semua pada merhatiin Zara dan A Deni yang dari tadi ngobrol berdua, mereka melihat dari pintu gudang.


"Siapa? " Tanya A Deni.


"Tuh liat ke belakang. " Zara menyuruh A Deni melihat ke pintu gudang.


"Ha.. ha...." Mereka semua tertawa melihat Zara dan A deni. Apalagi si om yang bawa cemilan untuk anak-anak SR, semua lagi makan camilan dari si om sambil memperhatikan Zara dan A Deni.


"Aiishh.... " A Deni tersenyum.


"Udah ah, terimakasih. " Zara mengambil dus yang udah di ikat A Deni.


"Iya. " Jawab A Deni.


Anak-anak SR semua pada ketawa. Apalagi si om tuh ketawa nya paling kenceng.


Zara jalan ke Terminal sambil membawa dus-dusan belanjaan karena hari ini A Adit libur.


Di toko Zara merapikan barang belanjaan Zara. Zara senyum-senyum sendiri aja, kebayang A Deni.


Ya Allah ini nyata loh, bukan mimpi. Ternyata Zara masih bisa suka pada orang. Zara kira setelah Rangga, Zara tidak akan suka lagi pada laki-laki lain Ternyata ada yang bikin hati Zara kaya gini lagi. Rasanya gimana ya.


Ya Allah, tapi Zara takut. Karena setiap laki-laki yang Zara sukai ujung-ujungnya mereka menghilang. Apa A Deni juga nanti akan menghilang seperti yang lain.


Entahlah, yang pasti Zara yakin sekarang, setiap laki-laki yang menjauh dari Zara berarti laki-laki itu tidak baik untuk Zara.


Karena Zara selalu meminta dalam setiap do'a Zara pada Allah,


Ya Allah jika memang seseorang itu baik untuk Zara, dekatkan. Tapi jika laki-laki itu tidak baik untuk Zara maka jauhkan lah.


Semoga engkau bisa memilihkan laki-laki terbaik untuk Zara.


Zara rasa a Deni masuk kriteria Zara. Namun entahlah apa Zara masuk kriteria A Deni. Kita tak pernah tau. Karena Zara kan seorang Janda punya anak juga. Biar Allah yang memberikan jalan.


Cukup dalam hati saja, Zara mulai menyukai A Deni. Jangan pernah berharap lebih.