DIARY ZARA

DIARY ZARA
64. Titik balik



Hari ini ada undangan pengajian di Masjid dekat rumah ibu. Sebelumnya Zara order belanjaan dulu lewat aplikasi SRC yang a Eko Ajarkan ke Zara.


"A Eko order, nanti siang di ambil ya." Zara kirim pesan WA jam 06.04, mungkin aja a Eko nya juga baru bangun. Belum berangkat ke toko, he..He...


"Ok Zara siap, awas lupa hari ini setengah hari." Eh ternyata langsung balas dia, pake emoticon lucu juga. Ha..ha... kirain masih tidur.


"Tutup jam berapa?" Tanya Zara.


"Jam 1." Balas A Eko.


"Oh iya Siap, soalnya mau ke pengajian dulu." balas Zara.


"Aman lah ya jam 1 an mah keburu." balas A Eko.


" Iya, biasanya nyampe jam 11 pengajian nya selesai nanti langsung ke situ." balas Zara.


"Ok siap" Balas A Eko.


"Makasih." Balas Zara.


"Sama-sama Zara." Balas A Eko.


Nah gini nih yang Zara butuhkan selama ini, ada orang yang mau bantu Zara masalah barang belanjaan. Zara bisa ngerjain yang lain, stock barang untuk toko aman. Terimakasih banyak A Eko udah mau bantu Zara. Semoga kita selalu jadi partner yang baik ya.


"Euhh cakep juga ini orang, fotonya di pantai kaya gini. pake Kemeja Hawai, kacamata item, celana pendek. Kok baru nyadar sih Zara A Eko itu ganteng juga ternyata." Zara bicara dalam hati sambil memandang foto profil what's app a Eko.


"Astagfirullah Zara, inget A Eko tuh hanya partner bisnis, kamu ga boleh punya perasaan yang lebih. inget ya hanya partner bisnis." Zara mencoba mengingatkan diri sendiri, jangan sampai kebablasan seperti yang sudah sudah.


"Aa ayo berangkat." Zara siap-siap ke acara pengajian nya tetangga ibu di masjid nya.


"Ayo mah berangkat." Jarel juga udah siap.


Sampai di tempat pengajian ternyata jemaah nya cukup banyak sekali, mungkin karena hari ini hari Minggu juga. Makanya banyak anak kecil juga yang datang.


Zara duduk bersama ibu dan juga kekey dan kakakku juga di teras depan masjid karena didalam masjid sudah penuh.


"Key liat keren ga?" Zara memperlihatkan foto profil WA A Eko pada kekey anak kakakku.


"Ganteng, kaya pa Jefri." Jawab Kekey.


" Pa Jefri siapa?" Tanya Zara.


"JeNov di sinetron." Jawab Kekey.


" Ha..ha .. artis. Kirain Zara siapa, bukan artis ini orang SR temen baru Tante " Jawab Zara.


Kita jadi ketawa ketawa aja. Lupa lagi di pengajian.


"A Eko, pa Jefri ... Ha. ha... Zara jadi pengen ketawa aja." Zara bicara sendiri sambil bisik-bisik dengan Kekey anak kakak ku.


Ternyata sudah jam 11 lewat acara nya belum selesai. pa Ustadz masih menyampaikan tausiahnya.


Aduh Zara udah liat terus jam di handphone takut SR keburu tutup.


Ternyata pengajian nya selesai jam 12 lebih.


"Aa pulang ke rumah nenek dulu ya, mamah mau ambil barang belanjaan ke SR." Zara titipkan Jarel di rumah ibu.


"Ok." Jawab Jarel.


Selesai Acara Zara langsung naik Angkot menuju SR, jam di handphone udah menunjukan 12.20.


"Keburu lah keburu, A Eko tunggu Zara. Jangan tutup dulu tokonya ya." Zara bicara sendiri didalam angkot.


Sampai di depan SR ternyata udah tutup tokonya tinggal pintu nya aja yang kebuka sedikit.


"A Hilmi tunggu, Zara mau masuk." Ada a Hilmi didepan pintu sedang mengikat barang belanjaan pelanggan yang terakhir mungkin.


"Tutup..tutup... " Jawab A Hilmi.


"Minggir ah permisi...." Zara menerobos pintu yang di jaga A Hilmi.


" 13.05." Zara langsung berdiri didepan meja A Eko. Dia ada dan berdiri disana.


"Hehe..he.. lewat 5 menit." Jawab A Eko.


"Angkot nya lama jalannya kaya kura-kura." Jawab Zara.


"Kopi nya belum?" Sambil Zara lihat bonnya.


"Oh iya lupa." Jawab A Eko.


"Hilmi tolong Kopi se dus buat J Store ambilin di gudang." Perintah A Eko ke A Hilmi yang baru kembali dari gudang.


"Zara aja A Eko jangan J Store manggilnya, malu." Zara berbisik.


"Ga apa-apa." Jawab A Eko sambil senyum.


"Ini Zara." A Hilmi membawa satu dus kopi pesanan Zara.


"Iketin." Pinta Zara.


"Euhh..... manja lagi mau nya di ikat ikat terus ya, ayo diluar aja sambil aku Anter pulang." Ajak A Hilmi sambil berjalan ke luar SR.


"Ha..ha..." Zara mengikuti nya dari belakang.


"a..." Ternyata a Deni ada di meja kasir. Zara menyapa sambil senyum aja, berlalu di hadapan a Deni mengikuti a Hilmi keluar.


"Terimakasih A Hilmi. Hayo cepetan pulang waktunya maen hari Minggu kerja terus." Zara pamitan ke a Hilmi.


"Iya nih, udah lelah dari pagi rame banget."Jawab A Hilmi.


"Semangat pejuang rupiah." Jawab Zara sambil berlalu pulang dari SR.


Untung aja kenal mereka, biarpun terkadang menyebalkan kan tapi mereka juga selalu bantu menyiapkan barang belanjaan Zara.


Saat menunggu toko, tiba tiba ada telpon masuk dari pa Toni Bank Mandiri.


"Assalamu'alaikum Bu, gimana kabar nya?" Pa Toni menyapa di sebrang telpon sana.


"Alhamdulilah pa baik." Jawab Zara.


" Hmmm... firasat baik nih sepertinya, ga ada angin ga ada ujan di telpon orang Bank." Zara bicara dalam hati.


"Begini Bu, Ibu masuk daftar top up kredit mau di ambil apa nggak Bu?" Jelas pa Toni langsung pada intinya.


" Ahha... benar kan dugaan Zara, pasti mau ngasih duit kalo orang Bank nelpon Zara." Pikir Zara.


"Oh gitu ya pa. Berapa emang pa?" Tanya Zara.


"70 juta Bu."Jawab pa Toni.


"Hah.... 70 juta, semudah itu Zara ditawarin pinjaman. Ambil nggak ya." Antara seneng dan mikir nih Zara.


"Masalahnya sekarang Zara ga ada suami pa, ga ada slip gaji." Jelas Zara.


"Ga apa-apa Bu, pinjaman yang kemarin kan atas nama ibu, dan usaha nya juga usaha ibu sendiri."Jelas pa Toni pada Zara.


Iya juga sih emang pinjaman KUR ini dari setahun yang lalu juga memang tanggung jawab Zara sepenuhnya.


"Ya udah pa boleh Zara ambil." Jawab Zara


"Siap Bu, saya proses ya. Saya hitung dulu sisa pinjaman yang kemarin sama cicilan perbulan nya nanti berapa." Jelas pa Toni


" Ok siap pa." Jawab Zara


"Ditunggu telpon saya ya Bu, nanti di kabari lagi." Jelas pa Toni pada Zara.


"Ok siap pa makasih." Jawab Zara.


"Sama-sama Bu." Jawab pa Toni.


Bener-bener ga nyangka Zara mau diberikan lagi pinjaman dari Bank. Padahal pinjaman yang kemarin juga baru satu tahun Zara cicil.


Tapi mungkin ini kesempatan emas bagi Zara, sayang kalo ga dimbil. Kesempatan Zara untuk mulai mengembangkan usaha Zara lebih besar lagi. Ada a Eko juga yang menjadi partner Zara sekarang.


Bismillah, semoga lancar kedepannya. Lagi pula jika Zara meninggal, pinjaman bank nya lunas karena ada asuransi. Tidak akan memberatkan ibu dan Ayah ku.


Semoga ini menjadi awal dari kebangkitan usaha Zara.


Berdo'a dan berusaha selalu.