Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Kesalahan Yang Tak Disengaja



Sebuah bola melambung tinggi kearah ring basket dan... Masuk!!!


"NOAH!!!!" Semua wanita menjerit memanggil nama pria yang baru saja memasukkan bola tersebut kedalam ring.


Leon berdecak. Apalagi saat Noah menunjukkan senyuman miring kepadanya. Tidak!! Dirinya tidak boleh kalah dari pria itu. Leon lalu mengambil alih bolanya dan mulai memantulkannya ke lantai.


Yupss, saat ini kelas mereka sedang dalam pelajaran olahraga. Dan olahraga yang mereka pilih adalah bola basket. Terdapat dua grup, yang masing-masing di pimpin oleh Leon dan juga Noah.


Hanya lelaki yang bermain, sedangkan para wanitanya duduk di pinggir lapangan sambil menyaksikan dua pria famous tersebut yang saling berebut mendapatkan bola. Bukan hanya dari kelas mereka, kelas lain pun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Bahkan mereka rela untuk membolos agar bisa menyaksikan pertandingan ini.


Sierra yang duduk di antara Olivia dan Alexa, hanya bisa diam dan memfokuskan tatapannya kearah suaminya. Wajah Noah tampak bersinar, walaupun wajahnya itu sudah di penuhi oleh keringat, tapi tidak mengurangi aura ketampanannya.


'Dulu aku pernah berpikir bahwa menikah denganmu hanya akan mempersulit hidupku. Tapi sekarang, bolehkah aku mengatakan pada dunia, bahwa aku adalah wanita yang paling beruntung karena telah memilikimu?'


Pertandingan masih berlangsung, hingga terdengarlah bunyi bel yang pertanda bahwa waktu istirahat telah tiba. Skor mereka 2:1, yang kali ini pertandingan di menangkan oleh tim dari Noah.


Perlahan, satu-persatu siswa keluar dari lapangan. Langsung saja siswi disana mendekat, baik kepada Noah ataupun Leon. Mereka berlomba-lomba memberikan minuman dan juga handuk kecil untuk kedua pria tersebut. Karena Noah menolak, jadi Gerald mengambil kesempatan dan menarik semua minuman yang para siswi berikan untuk Noah.


"Nanti akan kuberikan kepada Noah. Sekarang, kalian pergilah!" Gerald mengusir mereka menggunakan tangannya. Dan dengan santainya dia meneguk minuman yang di ambilnya dari salah satu siswi tadi.


Tiba-tiba Alexa dan Sierra datang menghampiri Noah. Alexa terlihat begitu ceria, kemudian wanita itu memberikan sebotol minuman kepada teman dari Gerald tersebut. Noah menerimanya, dan itu membuat Sierra menekuk wajahnya.


"Untukku?" Gerald menyodorkan sebelah tangannya.


Alexa lalu melirik minuman yang berjejer di samping pria itu.


"Bukankah kau sudah memiliki banyak?"


"Itu bukan milikku, tapi milik Noah."


"Benarkah? Tapi kenapa Noah justru lebih memilih untuk meminum-minuman yang kuberikan?" Alexa berpikir sejenak, di detik berikutnya dia tersenyum lebar.


"Noah, kau menyukaiku?"


Byurrr~


Tepat sekali. Saat Noah hendak meneguk minumannya, wanita tersebut justru bertanya sesuatu yang membuatnya terkejut.


"Kau menyukai Alexa?" Kali ini Sierra yang bertanya sambil menatap suaminya nanar. Noah yang mendapatkan tatapan seperti itu, jadi mengerut bingung.


"Tidak!!" jawab Noah setelah mengubah ekpresinya semula.


"Lalu, kenapa kau memilih minuman dariku?" Alexa memasang wajah sedih dan kecewa.


"Karena aku lebih menyukai air mineral, daripada minuman aneh yang mereka berikan." Noah berkata jujur apa adanya. Karena hanya Alexa lah yang memberikan air mineral kepadanya, sedangkan yang lain, lebih banyak memberikan minuman kaleng bersoda.


"Jangan langsung menilai, bahwa orang yang menerima sesuatu pemberian darimu, karena dia memiliki sebuah rasa suka terhadapmu. Bisa jadi, orang itu bersikap demikian karena memang sedang membutuhkan sesuatu barang yang kau berikan," sambung Noah. Dia lalu segera berdiri, kemudian melangkah pergi meninggalkan Alexa yang terdiam.


"Alexa, kau baik-baik saja?" tanya Sierra cemas. Wanita yang ditanya-nya, hanya mengangguk.


"Ayo..." Sierra dan Alexa lalu meninggalkan tempat tersebut.


...* * * ...


Olivia melambaikan tangannya dari tempat duduknya. Sierra mengangguk singkat, dia kemudian mengajak Alexa untuk menghampiri Olivia sambil membawa nampan masing-masing yang berisi makanan.


Entah karena tidak hati-hati, Sierra pun menabrak seseorang yang menyebabkan makanannya tumpah dan mengotori baju wanita yang di tabraknya tersebut.


Mendadak tangannya di tepis oleh wanita tersebut.


"Jangan sentuh aku!! Dasar kau wanita ceroboh."


"Haruskah kau berkata kasar seperti itu? Sierra sudah meminta maaf kepadamu," sahut Alexa yang tidak menyukai ucapan dari Selena.


"Kau pikir dengan minta maaf, maka bajuku akan kembali bersih, hah?" teriak Selena marah sambil menatap Alexa tajam.


"Tapi sikapmu itu berlebihan. Tidak seharusnya kau memarahinya hanya karena masalah sepele."


"Hanya masalah sepele kau bilang?" Selena tersenyum sinis, "Akan kutunjukkan kepadamu, masalah sepele yang kau katakan itu."


Selena kemudian mengambil mangkuk sup yang ada di nampan salah satu siswa, setelah itu dia mengarahkannya keatas kepala Sierra. Perlahan, sup tersebut di tuangkan dan membasahi kepala Sierra hingga ke bajunya.


"Apa yang kau lakukan?" Alexa memekik tidak percaya. Tiba-tiba Olivia datang dan mengambil mangkuk yang ada di tangan Selena, lalu di buangnya ke lantai.


"Kau benar-benar keterlaluan!!" desis Olivia. Selena hanya tersenyum miring sambil melipat kedua lengannya.


Alexa buru-buru membawa Sierra ke kamar mandi, dan di ikuti oleh Olivia. Mereka membantu Sierra untuk membersihkan sisa-sisa sayuran sup yang menempel di kepala wanita itu.


Sierra tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuhnya kaku bak sebuah patung. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana, karena untuk pertama kalinya dia rendahkan seperti ini. Di sekolahnya dulu, dirinya begitu di puja, tapi disini berbeda.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alexa bernada khawatir.


"Wanita itu benar-benar tidak bermoral. Ingin sekali aku menarik rambutnya tadi." Olivia mendesis kesal. Lalu di tatapnya Sierra yang hanya diam.


"Sierra, kumohon katakan sesuatu!!"


"Aku baik-baik saja." Sierra menampilnya senyum paksanya, "Ayo kita kembali ke kelas. Sebentar lagi guru akan tiba."


"Tapi, kau belum makan sama sekali."


"Tidak masalah, Alexa. Aku tidak lapar." Sierra berjalan lebih dulu, namun lengannya langsung di tarik oleh Olivia.


"Blazermu sangat basah, akan lebih baik jika di lepaskan," imbuh wanita itu.


"Tapi kemejanya juga ikut basah, Oliv. Lihat!! Pakaian dalam Sierra jadi terlihat."


"Alexa benar. Aku tidak mungkin melepaskan Blazerku." Sierra tersenyum menenangkan, "Aku baik-baik saja, jangan khawatir."


Alexa dan Olivia saling memandang untuk sejenak, sebelum akhirnya mereka kembali ke kelas. Disana, sudah terdapat Selena yang sedang mengobrol bersama teman-temannya.


"Lihat! Karena wanita itu berani mencari masalah denganku, maka aku harus memberinya sedikit pelajaran," ujar Selena sambil tersenyum remeh.


Olivia mengepalkan tangannya, dia hendak melangkahkan kakinya kearah wanita tersebut, tapi segera di tahan oleh Alexa. Sierra yang malu, hanya bisa berjalan dengan kepala yang menunduk.


Terlihat, ada sepasang sepatu yang menghalangi jalannya, sontak saja Sierra mendongakkan kepalanya untuk melihat pemilik dari sepatu itu.


"Ikut denganku!!" Noah mendadak menarik tangan Sierra. Entah kemana pria tersebut akan membawanya.


"Apa sebenarnya hubungan mereka?" gumam Olivia heran.


"Kau tidak tahu? Sierra itu sepupunya Noah. Maka dari itu, Noah begitu baik kepadanya," balas Alexa sambil membayangkan dirinya yang berada dalam posisi Sierra.


Tak sedikitpun Alexa mencurigainya. Tapi entah bagaimana jadinya jika dia mengetahui hal yang sebenarnya?