
Melukis. Itulah yang saat ini Sierra lakukan bersama dengan teman sekelasnya. Dirinya yang tidak menyukai seni, akan terasa sangat sulit untuk melakukannya. Tak jarang Sierra melirik kertas kanvas milik teman-temannya untuk melihat hasil karya mereka.
"Sierra!!"
"Eh, iya?" Wanita itu tersentak kaget dan langsung menatap guru seninya yang sedang menatap tajam kearahnya.
"Bagaimana hasil lukisanmu? Tunjukkan kemari!"
Bagaimana ini? Ia hanya baru menggambar garis horizontal. Namun jikalau dirinya tidak maju sekarang, guru seninya itu akan bertambah marah.
Sierra meneguk salivanya susah. Ia lalu melirik semua orang yang ada disana. Tidak akan ada satupun dari mereka yang akan menolong dirinya. Dengan gerakan pelan, Sierra bangkit dari duduknya sambil membawa kertas kanvas miliknya.
Keberuntungan tiba-tiba datang, seolah dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Baru saja dia akan melangkah, suara bell justru berdentang dengan nyaringnya, pertanda bahwa mata pelajaran ini telah usai.
"Baiklah, kita lanjutkan minggu depan. Dan Sierra, kau perbaiki lagi lukisanmu, sebelum kau akan memperlihatkannya kepadaku dan juga teman-temanmu."
Sierra mengangguk, "Baik, Mrs."
Guru itupun keluar dari ruangan tersebut, dan di susul oleh anak muridnya. Mereka semua sudah pergi dan hanya tersisa Sierra dan kedua temannya.
"Kau selamat hari ini, Sierra." Olivia terkekeh melihat wajah temannya itu yang terlihat murung.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Ayo kita ke kantin."
Sierra mengangguki ajakan dari Alexa. Setidaknya, dia memiliki waktu selama seminggu untuk memperbaiki lukisannya. Yaa, walaupun Sierra yakin bahwa hasilnya tidak akan terlihat baik.
Ketika mereka masih melangkah menuju ke kantin, mata Sierra tak sengaja melihat seorang pria yang di temuinya di perpustakaan tadi pagi. Pria itu duduk sendirian di kursi panjang di bawah pohon besar.
Ingin sekali Sierra menghampirinya, namun saat ini dia sedang bersama dengan kedua temannya. Jika dia pergi menemui pria tersebut, apa yang akan Alexa dan Olivia pikirkan?
Mereka terus melangkah, hingga tibalah di pintu kantin. Tiba-tiba Sierra menghentikan langkahnya, sontak saja teman-temannya ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Alexa.
"Eugh, Aku... Aku sedang diet. Jadi, aku akan membeli minuman saja." Hanya kata itu yang muncul di otak Sierra, jadi secara spontan dia mengatakannya.
"Benarkah? Yang kulihat, postur tubuhmu ideal."
"Tidak, Oliv. Akhir-akhir ini berat badanku naik hingga 5 kg. Oleh karena itu, aku akan diet mulai sekarang." Sierra menunjukkan senyum yang menyakinkan, hingga Alexa dan Olivia akhirnya percaya.
"Jika kau sudah membuat keputusan seperti itu, kami bisa apa? Ayo Alexa.."
Sierra masih menampilkan senyumnya, ketika kedua temannya sudah menghilang di balik kerumunan, Ia pun langsung bergegas menemui pria yang dilihatnya tadi. Tapi sebelum itu, dia akan membeli minuman lebih dulu.
Sembari berjalan, Sierra menolehkan kepalanya ke area sekitarnya. Takut-takut jika ada yang memperhatikan dirinya. Setelah di rasa aman, ia semakin mempercepat lajunya hingga tiba di tujuannya.
Sierra bersyukur jika pria itu masih ada disana. Ia lalu segera menghampirinya, kemudian menyodorkan sekaleng minuman soda pada pria itu. Sedangkan pria tersebut tampak heran dengan kehadiran wanita yang berdiri di sampingnya, namun dia tak mengatakan satu katapun dan lebih memilih untuk mengambil minuman yang di berikan oleh Sierra.
Senyum Sierra pun langsung terukir. Dengan cepat wanita itu mendaratkan bokongnya di samping pria tersebut.
"Hari yang cerah," gumam Sierra sambil memandang ke atas langit.
"Kau benar," sahut pria di sampingnya sambil berusaha untuk membuka minuman di tangannya. Setelah tutupnya berhasil dia buka, baik dirinya maupun Sierra di buat terkejut dengan menyemburnya air soda itu.
Seketika Sierra menampilkan senyuman rasa bersalahnya.
"Maaf. Aku tadi berlari menuju kesini. Oleh sebab itu, airnya---"
Melihatnya, membuat Sierra tidak bisa untuk menahan senyumannya.
"Kenapa kau ada disini? Apakah kau tidak lapar?"
"Hanya ingin mencari udara segar. Tidak. Dan kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
"Karena aku melihatmu, makanya aku kesini."
Pria itu mengerutkan dahinya bingung, tapi sedetik kemudian dia memilih untuk diam.
Sierra menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Leon, saat di perpustakaan tadi---"
"Aku tidak ingin membahasnya," potong Leon cepat. Raut wajahnya terlihat masam, dan Sierra mengerti itu. Dia tidak akan berbicara, jika itu bisa menyinggung perasaan Leon.
Tidak ada yang bersuara lagi. Hanya semilir angin dan hembusan nafas mereka yang terdengar. Leon lalu meneguk sisa minumannya hingga tandas, kemudian melemparkan kaleng kosong tersebut kedalam tong sampah yang tak jauh darinya.
Dukk!!
Mata Sierra terpukau melihatnya. Dari jarak sepuluh meter, lemparan Leon tidak meleset sama sekali.
"Kau menyukaiku??"
"Eh?" Yang semula dirinya terpukau melihat aksi Leon, mendadak berubah menjadi bingung bercampur heran.
"Semua wanita menyukaiku, apa kau seperti mereka?"
Sierra menggeleng pelan, "Aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman, karena kita satu kelas."
Leon mengangguk mengerti. Dia kemudian lekas berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Pelajaran akan di mulai kembali. Sebaiknya kita ke kelas sekarang."
"Ah, iya. Kau duluan saja."
"Kenapa tidak mau pergi bersamaku?"
Dengan tegas Sierra menggeleng, "Aku tidak mau ada yang melihat kita sedang bersama. Kau sendiri tahu, bukan? Apa yang akan terjadi."
"Hmm... Aku mengerti." Leon pun segera meninggalkan Sierra. Saat melihat pria tersebut sudah menjauh, barulah Sierra mulai melangkahkan kakinya.
Sebelum menuju ke kelas, Sierra memutuskan untuk ke kamar mandi sejenak sekedar mencuci tangannya sembari merapihkan penampilannya.
Kamar mandi itu terlihat sepi, hanya ada dirinya disana. Tapi dia tidak tahu, mungkin saja ada siswi lain di dalam toilet.
Tak ingin terlalu memikirkannya, Sierra pun segera mencuci kedua tangannya. Setelah usai, ia merapihkan rambut sekaligus dengan seragamnya. Tak ada yang aneh di ruangan tersebut, hingga muncullah seorang pria dari salah satu toilet yang berada di belakangnya.
Sierra terkejut bukan main saat melihat kehadiran pria itu, belum lagi penampilannya yang acak-acakkan dan juga... resletingnya yang setengah terbuka. Dirinya ingin berteriak, namun mulutnya begitu kaku seperti baru saja di lem.
Pria tersebut membalas tatapan yang Sierra berikan lewat cermin. Wajahnya nampak datar, dan tidak ada rasa takut sama sekali di wajahnya itu. Tak ingin ada yang menyadari kehadirannya di kamar mandi wanita, pria itupun buru-buru pergi dan meninggalkan Sierra yang mematung.
Ternyata keterkejutan Sierra tidak sampai disitu. Tak sampai satu menit kepergian pria tadi, seorang wanita mendadak keluar dari toilet yang sama dengan pria yang baru saja pergi.
Wanita itu sedang mengancingkan kemejanya, dan saat menyadari bahwa ada Sierra disana, bukannya merasa takut karena ada yang mengetahui tindakkannya bersama pria di kamar mandi, dia justru tersenyum sinis.