
"Ehem..." Jack berdehem singkat untuk mencairkan suasana. Ia lalu meletakkan minumannya dan mulai menatap serius.
"Kau terlihat seusia dengan saudariku. Hari ini dia sedang melakukan ujian di sekolahnya, lalu bagaimana dengan dirimu? Kau tidak mengikuti ujian itu?"
Wanita di depannya hanya menggeleng pelan. Ia tampak tidak menikmati obrolan ini, tapi Jack sepertinya tidak peka akan hal itu.
"Kenapa? Oh ya, kita belum berkenalan. Aku Jack, dan kau?"
Sesaat wanita tersebut melirik uluran tangan Jack, sebelum akhirnya ia menjabat tangan itu dan menyebutkan namanya dengan suara kecil.
"Davina..."
"Senang bertemu denganmu!!" Wajah pemuda itu nampak sumringah. Ia merasa telah mendapatkan teman baru.
"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak mengikuti ujian di sekolahmu?"
Tiba-tiba Davina tersenyum kecut, "Ujian sekolah di lakukan oleh mereka yang masih bersekolah, sedangkan diriku sudah tidak menyandang status sebagai siswi lagi."
"Kenapa? Apa kau sudah lulus?"
Kembali Davina menggelengkan kepalanya, "Bukan. Lebih tepatnya aku berhenti."
"Alasannya? Apakah kau memiliki sebuah masalah sehingga kau memutuskan untuk keluar?"
"Kau terlalu banyak bicara, Jack."
"Memangnya kenapa?" sewot pria itu.
Davina tidak menjawabnya. Ia lebih memilih untuk bangkit, karena dirinya masih memiliki sebuah urusan, apalagi jika bukan menjaga toko bunganya. Ibunya sedang sakit hari ini, jadi Davina lah yang menggantikannya untuk menjaga toko.
"Kau akan kemana?" tanya Jack yang ikut berdiri.
"Aku masih memiliki pekerjaan." Tanpa menoleh sedikit saja, Davina langsung pergi begitu saja. Jack yang merasa penasaran, segera mengeluarkan selembar uangnya kemudian lekas menyusul Davina.
Sayangnya, Davina mulai menjauh dari pandangannya. Jack lalu menuju tempat dimana mobil dan supirnya tadi menunggu. Ia langsung masuk begitu saja sehingga membuat kaget pria paruh baya di dalamnya.
"Ikuti wanita yang bersepeda disana!!" tunjuk Jack, Supirnya pun mengangguk dan langsung menginjak pedal gas.
Selama hampir setengah jam lamanya, Jack akhirnya melihat Davina berhenti mengayuh sepedanya. Wanita itu lalu menuntun sepedanya, kemudian meletakkannya di depan toko bunga. Jack bertanya-tanya, apa yang Davina lakukan disana? Apakah wanita itu sedang ingin membeli bunga? pikirnya.
Rasa penasaran Jack semakin besar saja. Ia pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan mencoba untuk memasuki toko bunga tersebut.
Tring!!
Sebuah lonceng berbunyi tatkala Jack membuka pintu itu.
"Selamat datang di The Flowers Girl," sapa Davina yang belum mengetahui siapa yang datang, karena dirinya sibuk menyusun bunga-bunga untuk di jadikan bucket.
Langkah demi langkah Jack menghampiri wanita tersebut, hingga dirinya telah berdiri tepat di hadapan Davina, dengan meja kecil sebagai pembatas layaknya seorang kasir.
Davina yang belum menyadari juga, lekas mendongak untuk menatap pelanggannya sembari tersenyum lebar. Namun saat dirinya tahu siapa pria yang ada di hadapannya, perlahan senyumannya itu memudar dan menghilang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Davina dengan nada tidak suka.
Seketika Jack menjadi kikuk. Ia lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum aneh.
"Maaf. Aku tadi penasaran kemana kau akan pergi, jadi.. aku mengikutimu sampai kesini."
"Dan sekarang kau sudah tahu, lalu kenapa kau masih ada disini? Cepat pergi!! Dan jangan coba untuk menggangguku!!"
"Aku tidak ingin mengganggumu, Davina. Aku justru ingin membantumu."
"Benarkah?" Davina melipat kedua lengannya di dada, "Apa yang bisa kau lakukan?"
"Aku... aku..." Pemuda itu nampak berpikir sejenak. Hingga ia melanjutkan kata-katanya sampai membuat Davina tercengang.
"Aku bisa membeli semua bunga-bungamu."
Dengan tegas Jack menggeleng, "Aku serius dengan ucapanku. Aku akan membantumu dengan cara membeli semua bunga milikmu. Jadi, kau tidak perlu repot-repot untuk menjualnya lagi."
Davina tidak membalas ucapannya. Ia hanya diam sambil memandang datar pemuda di depannya ini.
"Aku serius, Davina. Aku ingin membantumu."
"Jika kau merasa kasihan kepadaku, maka lupakanlah itu. Aku tidak butuh rasa kasihan darimu, maupun dari orang lain. Dan sebaiknya kau pergi dari sini. Kehadiranmu benar-benar menggangguku."
"Tapi, Davina..." Sebelum Jack menyelesaikan kata-katanya, wanita itu sudah lebih dulu mendorong pemuda tersebut agar segera keluar dari tokonya.
Tak lupa Davina menutup rapat pintu tokonya, agar Jack tidak berusaha untuk masuk kembali. Dari dalam tokonya, Davina dapat mendengar suara gerutuan dari Jack. Namun ia tidak perduli, dan lebih baik dirinya kembali melanjutkan pekerjaannya.
...* * * ...
"Niatku ingin membantunya, tapi dia malah mengusirku!!" Jack rupanya masih menggerutu walaupun kakinya sudah menginjak lantai mansion keluarga Wilson.
Ia akan menuju ke kamarnya, tapi sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya itu.
"Jack!!"
Refleks, pria yang bernama Jack tersebut menoleh. Disana, Sierra berdiri sambil menatapnya dengan antusias. Di detik berikutnya, Sierra sudah berlari dan memeluk tubuh Jack. Hampir saja Jack di buat terjungkal olehnya.
"Adikku yang menyebalkan, aku sangat merindukanmu..." Dengan gemasnya Sierra mencubiti pipi Jack, sehingga membuat si empunya menjadi kesal.
"Kau semakin tinggi rupanya," tambah Sierra sambil membandingkan tingginya bersama adiknya tersebut. Sayangnya, tidak ada sahutan ataupun reaksi dari Jack. Membuat Sierra menjadi heran, ada apa dengan adiknya ini?
"Ada apa denganmu? Kenapa kau tampak kesal seperti itu?"
Masih tidak ada sahutan. Jack hanya mendengus sebal, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju sofa. Sierra yang merasa penasaran, ikut menghampiri adiknya kemudian mengambil posisi di samping Jack.
"Jack, ada apa?" desak Sierra sembari menggoyangkan tangan pemuda tersebut.
"Menyebalkan!"
"Siapa yang menyebalkan?"
"Wanita itu. Aku ingin membantunya, tapi dia justru mengusirku. Benar-benar tidak sopan."
Sierra yang belum mengerti, jadi bingung sendiri. Siapa wanita yang Jack maksud? pikirnya.
"Siapa sebenarnya yang kau maksud? Aku benar-benar tidak mengerti, Jack."
Pemuda tersebut kembali mendengus, "Namanya Da--- Naura..."
"Danaura? Itukah namanya?"
"Ehh, bukan. Maksudku, itu Naura, bukan? Kenapa dia terlihat pendiam dan tidak bersemangat seperti biasanya?" Sierra mengikuti arah tunjuk adiknya. Dan benar! Ada Naura yang sedang menuju ke kamarnya dengan kepala tertunduk.
"Naura!!" Sierra lekas memanggilnya. Yang di panggil pun langsung menoleh.
"Kau baru kembali??"
Naura tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan. "Aku mampir sebentar ke taman X."
"Oohh.. Kenapa kau tidak bergabung bersama kami?" tawar Sierra. Sayangnya, Naura menggeleng pertanda ia menolak.
"Aku lelah. Aku akan bergabung, tapi nanti. Oh ya, senang bertemu denganmu, Jack." Selepas mengatakan hal itu, Naura kembali melanjutkan langkahnya.
Ada yang tidak beres, tapi Sierra tidak tahu apa yang terjadi. Sehingga ia memutuskan untuk tidak ikut campur, kecuali jika Naura sendiri yang memintanya.
"Naura semakin cantik saja," gumam Jack tanpa sadar.
"Heyy.." Sierra langsung memukul kepala adiknya. Bagaimanapun, Naura sekarang adalah saudarinya. Dan bagaimana bisa jika adiknya menyukai saudarinya? Bukankah itu tidak masuk akal?