
Sierra fokus memperhatikan seorang pria yang sedang duduk di meja belajar. Ia masih memikirkan ucapan pria itu saat di ruang tamu tadi.
"Noah?" panggilnya.
"Hmm.."
"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu soal Universitas Catania?"
"Aku tidak butuh persetujuanmu."
"Apa maksudmu, Noah? Ini mencakup masa depanku!!" protes Sierra.
"Kau tidak perlu memikirkannya, Sierra. Karena masa depanmu sudah ada di dekatmu."
"Maksudmu??" Alis wanita itu mengernyit bingung.
"Aku. Bukankah aku masa depanmu?" Noah sudah berbalik. Ia menaik-turunkan alisnya, seolah menunggu jawaban 'iya' dari istrinya tersebut.
Kedua mata Sierra seketika menyipit. Benarkah ini suaminya? Tumben sekali ia berkata seperti itu.
"Noah, ada apa denganmu? Kau nampak berbeda."
"Bisakah kau jelaskan kepadaku? Bagian mana yang membuatku terlihat berbeda?"
"Entahlah.." Sierra menggeleng, "Akan lebih baik jika aku tidur dan tidak memikirkannya."
Dan benar saja, ia segera menaiki tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya disana. Tak lupa ia menarik selimut hingga menutupi semua bagian tubuhnya.
Noah menggeleng heran melihat tingkah istrinya itu. Ia lekas bangkit kemudian menghampiri Sierra di atas tempat tidur.
"Kau akan kesulitan bernafas jika seperti ini," ujar pria tersebut sambil menarik selimutnya hingga sebatas leher istrinya.
Sierra terkejut hingga kedua matanya melebar. Ia pikir jika Noah akan berbuat sesuatu kepadanya. Tapi sepertinya ia salah besar. Mengingat itu, membuatnya menjadi malu sendiri.
"Tidurlah..." sambung Noah yang sudah ikut berbaring di samping Sierra. Bahkan pria itu sudah lebih dulu memejamkan matanya.
Sejenak Sierra tersentak. Sedetik kemudian ia mulai memejamkan matanya juga dengan posisi berbaring yang membelakangi Noah. Ia tidak ingin wajahnya berhadapan dengan suaminya, karena ia yakin bahwa dirinya tidak akan sanggup untuk menatap sepasang mata Noah dalam jarak yang sangat dekat.
...* * * ...
"Olivia..." Sierra berteriak memanggil sahabatnya itu. Sayangnya, yang di panggil tidak menghentikan langkahnya ataupun menoleh sedikit saja.
"Ada apa dengannya?" gumam Sierra bingung. Karena merasa aneh dengan sikap Olivia, ia pun segera menyusulnya.
"Olivia, ada apa denganmu?" tanya Sierra setelah menyamai langkah wanita tersebut.
Tidak ada jawaban. Wajah Olivia bahkan terlihat seperti tengah memendam kemarahan. Ia terus melangkah dan tidak menghiraukan ucapan wanita yang berada di sampingnya.
"Jika kau diam seperti ini, aku tidak akan tahu apa yang telah terjadi kepadamu."
"Memangnya apa pedulimu? Bukankah kau hanya memikirkan dirimu sendiri?" sentak Olivia tajam.
Sierra terkejut. Ia tidak menyangka jika Olivia akan berkata seperti itu.
"A.. apa maksudmu? Kenapa kau berkata sekasar itu?"
Olivia tertawa sinis, "Kupikir hubungan kita istimewa, ternyata aku salah. Mungkin aku yang terlalu berharap bahwa kau akan sama seperti Alexa. Tapi itu semua tidak akan mungkin, karena kalian berbeda."
"Sierra..." Leon tiba-tiba menghampirinya tanpa di minta. Melihat Sierra yang berlinang air mata, ia pun jadi cemas seketika.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Disaat Leon akan menyentuh bahunya, dengan cepat Sierra menepisnya dengan halus. Ia lalu menyeka air matanya. Tanpa mengatakan apapun, ia lekas pergi menuju tempat dimana Olivia berada. Ia harus meminta penjelasan kepada wanita itu tentang apa yang telah di lakukannya, sehingga membuat Olivia menjadi marah seperti sekarang ini.
Dilihatlah bahwa Olivia sudah duduk di bangkunya. Saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata milik Sierra, seketika ia memalingkan wajahnya dan enggan menatap wanita tersebut.
Sierra tidak tinggal diam. Ia langsung menghampiri Olivia dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Olivia... Jelaskan kesalahanku agar aku bisa mengerti. Jika kau hanya diam, bagaimana bisa aku akan tahu dimana letak kesalahanku?"
"Komohon, jangan diam saja!!" Sierra menyatukan telapak tangannya. Ia sudah terisak, tapi nampaknya Olivia tidak perduli.
"Jika dia tidak mau berbicara, kau tidak perlu memohon seperti itu." Tiba-tiba seseorang dari arah belakang Sierra menimpali. Ia adalah Noah. Dengan dinginnya ia menatap wanita yang duduk di hadapan istrinya.
"Noah..." Sierra menatap pria itu, seolah memintanya untuk berhenti berbicara. Karena ucapan yang keluar dari mulut pria tersebut, akan membuat hubungannya dengan Olivia semakin merenggang.
"Apa? Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya tidak kau lakukan!!" Noah lalu menghapus jejak air mata di pipi Sierra, dan hal itu di saksikan oleh semua penghuni di kelas mereka.
"Jangan menangis!! Aku tidak suka melihatmu menangis."
"Cihh.." Olivia membuang wajahnya. Noah yang mendengar decihannya tadi, sontak tersenyum sarkasme. Ia kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di atas meja, dengan tubuhnya yang ia condongkan kearah Olivia.
"Kau sangat berbeda jauh dengan Alexa. Alexa saja bisa memaafkan Sierra, lalu mengapa kau tidak?" bisik Noah, namun dengan nada meremehkan.
Merasa kesal dengan ucapan Noah, Olivia pun menggebrak keras mejanya sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Karena aku dengan Alexa berbeda. Tidak ada kesamaan di antara kami."
"Begitupun dengan Sierra," sanggah pria tersebut. "Dia tidaklah sama seperti Alexa. Dan kau pun tidak bisa untuk memintanya agar sama seperti temanmu itu."
Olivia spontan melirik Sierra yang masih menangis. Hanya untuk beberapa detik, setelah itu ia kembali menatap kesal kepada pria di depannya ini.
"Kenapa kau selalu saja ikut campur? Tidak bisakah jika kau hanya diam dan menyaksikan?"
Noah menggelengkan kepalanya dramatis. Ia lalu melipat kedua lengannya di dada sambil menilai Olivia melalui tatapannya.
"Kini aku tahu, kenapa Leon tidak pernah menyukaimu. Dari ucapanmu saja sudah membuat semua orang di sekitarmu merasa tidak nyaman, apalagi jika kau akan di jadikan seorang istri. Percayalah, hubunganmu dengan suamimu kelak tidak akan bertahan lama jika sikapmu masih seperti ini."
Kini Olivia terdiam. Sepertinya ia memikirkan perkataan Noah. Benarkah jika sikapnya ini membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman? Ia lalu memandang ke sekitarnya, dan seketika teman sekelasnya tersebut langsung membuang wajahnya ketika tatapan mereka bertemu.
"Kuharap kau mengerti sekarang!!" Noah kemudian berpindah kepada istrinya. Ia berdecak sebal saat mengetahui bahwa Sierra masih menangis.
"Sudah kukatakan, bukan? Bahwa aku tidak suka melihatmu menangis. Apa kau tidak mengerti juga?" Sambil mengomeli, Noah kembali menyeka air mata istrinya. Setelah itu, ia menarik tangan Sierra agar duduk di bangkunya.
"Noah... hikss..."
"Oh, God!!" Noah merasa putus asa melihat sang istri tidak kunjung berhenti menangis. Di satu sisi ia merasa kesal, namun di sisi lain ia merasa kasihan.
"Oke. Katakan!! Apa mau-mu?"
Sierra tidak menjawab, sehingga membuat Noah merasa gila karenanya. Disaat dirinya akan mengeluarkan suaranya, mendadak Olivia mendekati Sierra lalu mengulurkan sebelah tangannya.
"Maaf..."