
Roger menutup rapat pintu ruangannya dan tak lupa untuk menguncinya jua. Ia bersandar pada daun pintu dengan nafas yang tak beraturan, seolah dirinya baru saja berlari untuk menghindari para penagih hutang.
'Apa aku membuat kesalahan dengan datang kemari?' Keresahan sedang Roger alami. Dia tidak tahu, sampai kapan dirinya akan terus menghindar dan bersembunyi.
Perlahan, tubuhnya merosot ke bawah dan ia pun terduduk di lantai dengan kedua lututnya yang terlipat. Air mata yang sedari tadi mengenang di pelupuk matanya, akhirnya jatuh juga.
"Apa yang harus kulakukan?" Rasanya, Roger ingin pergi. Namun ia tidak bisa menolak kerja sama dengan Damian. Karena itu satu-satunya cara agar ekonominya bangkit dan sama seperti dulu.
"Tidak. Aku tidak boleh egois. Ada seseorang yang harus kuhidupi dan kupenuhi kebutuhannya. Dia sudah cukup menderita bersamaku."
Roger lalu menghapus kasar air matanya. Ia segera bangkit, kemudian menuju ke kursinya. Di tengah langkahnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering, sehingga membuat Roger harus menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Nak?" ujar Roger setelah panggilannya terhubung.
"Paman, sepertinya aku akan pulang telat hari ini. Karena aku harus latihan basket terlebih dahulu."
Senyum simpul Roger terukir. "Baiklah. Berarti, Paman akan makan sendiri lagi."
Di sebrang sana Leon tertawa. "Jika kegiatanku sudah selesai, aku akan langsung kembali."
Roger mengangguk, walaupun dia tahu bahwa Leon tidak bisa melihat anggukkannya. Panggilan mereka pun terputus, dan Roger masih menatap layar ponselnya. Ia tersenyum miris, saat menyadari bahwa cepat atau lambat, Leon akan tahu yang sebenarnya tentang kehidupannya.
Dan Roger? Ia cukup bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Entah Leon akan tetap bersamanya, atau ia akan kehilangan Leon karena pemuda itu lebih memilih untuk tinggal bersama dengan ayah aslinya.
...* * * ...
Sierra bersama Alexa dan Olivia sedang berjalan menuju ke gerbang sekolah. Namun ketika mereka melewati lapangan outdoor, Noah tiba-tiba menghampirinya.
"Siang ini aku ada latihan basket. Jadi, aku meminta Naura untuk menjemputmu."
Sierra mengangguk kecil, "Oke."
"Hati-hati..." Setelah mengatakan hal itu, Noah segera kembali kepada timnya yang sedang berkumpul.
Mungkin wajah Sierra terlihat terpaku, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia bersorak senang. Secara perlahan sifat dingin suaminya itu mulai mencair dan tidak sungkan lagi untuk berbicara dengannya, walaupun di tempat ramai atau umum.
"Aku seperti bukan melihat Noah," gumam Olivia yang di angguki oleh Alexa.
"Dia tampak berbeda." Alexa terus memandangi Noah dengan tatapan memukau. Sierra yang melihatnya, jadi berdecak. Ia pun segera menarik tangan kedua temannya agar lekas meninggalkan tempat tersebut.
"Hari ini aku membawa mobil. Bagaimana jika kita mampir ke cafe sebentar?" ujar Olivia, saat mereka sudah berada di depan sekolah.
"Aku setuju. Bagaimana denganmu?"
Sierra tersenyum tidak enak, "Maafkan aku. Sepertinya, aku tidak bisa. Karena sebentar lagi Naura akan menjemputku."
Akhirnya Olivia mengangguk maklum. "Baiklah. Kalau begitu, ayo Alexa."
Mereka berdua pun pergi untuk mengambil mobil milik Olivia. Saat keduanya masih berada di area parkir, tahu-tahu datanglah sebuah mobil mewah berwarna putih di samping Sierra.
Sierra langsung tersenyum saat menyadari siapa pemilik mobil ini. Karena ia sering melihatnya bertengger di pekarangan mansion Keluarga Wilson.
"Kau membutuhkan tumpangan, Manis?" ujar pria pemilik mobil itu, setelah membuka jendela mobilnya.
Sierra tertawa kecil, kemudian mengangguk singkat. Ia lalu segera memasuki mobil tersebut, dan ternyata sudah ada Naura yang duduk di samping pria itu.
Dave kemudian melajukan mobilnya dan meninggalkan pekarangan sekolah. Dari balik kaca spionnya, ia menatap Sierra yang duduk di bagian belakang.
"Bagaimana rasanya di sekolah barumu?"
"Bagitulah, Paman."
"Oh ya, Sierra. Maafkan aku yang tidak bisa datang di acara pernikahanmu minggu lalu."
"Tidak masalah, Paman. Aku mengerti jika kau memiliki kesibukan."
"Aku merasa tidak enak padamu. Tapi kau tenang saja, aku akan secepatnya memberikan kado pernikahan untukmu dan Noah."
"Terima kasih, Paman."
Dave mengangguk singkat. Ia lalu melirik wanita di sampingnya, yang sejak tadi hanya sibuk bermain ponsel.
"Sepertinya kau tidak bisa lepas dari benda itu."
Naura menoleh. Dahinya mengerut bingung. "Aku hanya melihat-lihat instagramku."
"Hmm..." Deheman acuh Dave, di balas dengusan oleh Naura.
Kini ketiganya terdiam dan fokus pada kegiatan masing-masing. Hingga Sierra mengingat tentang kepergian Dave kemarin.
"Paman, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Kau tidak perlu meminta izin, Sweety."
"Eugh, apa yang Paman lakukan di Ravenna? Dan mengapa hanya Mommy yang Paman beritahu?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Naura langsung berhenti bermain ponselnya. Ia menyampingkan tubuhnya dan bersiap-siap mendengar jawaban dari pria di sampingnya ini.
"Aku memiliki urusan disana."
"Tapi kenapa tidak memberitahuku?" sungut Naura.
"Kau tidak akan mengerti, Sweet Cherry.."
"Apa yang tidak aku mengerti?"
Dave memilih untuk tidak menanggapinya. Berdebat dengan Naura, tidak akan ada habisnya.
"Apakah Paman kesana karena ada urusan bisnis?"
Dari balik kaca spionnya, Dave melemparkan senyum simpul kepada Sierra.
"Ya, seperti itulah."
"Aku tidak percaya.." Naura menatap Dave dengan penuh curiga.
"Terserah. Sierra, apa kau lapar?"
"Emm, aku rasa begitu." Sierra mengakhiri ucapannya dengan tawa kecil. Sementara wanita di samping Dave, bertambah kesal karena merasa di abaikan.
"Bagaimana kalau kita mampir sebentar ke tempat makan untuk mengisi kekosongan pada perut kita, Sweety?"
"Bukan ide yang buruk." Dave dan Sierra tertawa bersama, dan Naura memasang wajah masamnya karena dirinya benar-benar di abaikan.
Sepanjang perjalanan itu, hanya terisi obrolan dan canda tawa dari Sierra maupun Dave. Naura hanya bisa diam sambil melamun, entah apa yang sedang di pikirkannya.
Diam-diam Dave melirik Naura di tengah pembicaraannya dengan Sierra. Senyum tipis terukir di bibirnya, saat melihat wajah wanita itu yang tampak menggemaskan di matanya
'Kau tampak menggemaskan dengan wajahmu saat ini, My Sweet Cherry...'