Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Pengorbanan Andrew



"Aku tidak menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Mungkin.. kau pun akan melakukan hal yang sama jika sesuatu terjadi kepada Sierra." Gerald tersenyum. Dari raut wajahnya, ia terlihat lebih lega sekarang.


"Bodoh!!"


Gerald langsung menoleh. Ia kembali tersenyum, namun kali ini senyumannya jauh lebih lebar.


"Heyy.. Noah Wilson, kenapa kau menangis?"


"Kau adalah pria terbodoh yang pernah aku temui!!" Noah mengusap air matanya. Sayangnya, butiran bening itu tidak mau berhenti keluar dari matanya.


"Haruskah aku memukul kepalamu agar kau sadar?"


Sontak, Gerald tertawa mendengarnya. "Lakukanlah!! Jika itu bisa membuat temanku ini berhenti menangis."


Bukannya berhenti, Noah justru semakin terisak. Ia tidak dapat menahan kesedihannya sekarang. Satu-satunya teman yang ia miliki, kini telah hilang kebebasannya, bagaimana bisa dirinya terlihat santai saat ini?


"Kenapa? Haruskah kau melakukan ini? Tidakkah kau berpikir bagaimana tentang masa depanmu? Orangtuamu?" sambung Noah.


Gerald bergeming. Pikirannya menerawang untuk sesaat. Dimana saat dirinya begitu terpukul karena kehilangan Alexa, membuat pikirannya menjadi tidak tenang jika belum membalaskan kematian dari wanita yang di cintainya itu.


Kemarin, adalah hari terakhir penantian Gerald dalam mencari Chloe. Saat melihat wanita tersebut, ia tidak bisa untuk menahan amarahnya hingga dirinya langsung menganiaya wanita itu ketika berada di dekatnya.


Awalnya Chloe sempat mencoba melindungi dirinya, namun karena Gerald yang telah kalap, membuat Chloe tidak bisa untuk menahan serangan bertubi-tubi yang Gerald berikan.


Setelah memastikan bahwa wanita itu telah tewas akibat perbuatannya, Gerald tidak melarikan diri atau berusaha untuk bersembunyi. Ia justru langsung datang ke kantor kepolisian dan mengatakan semuanya, entah itu kejahatannya maupun Selena dan Ashley.


Dan disinilah Gerald sekarang. Di balik jeruji besi, yang akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun ke depan. Sementara Selena dan juga Ashley, tengah di buru oleh kepolisian mengenai kejahatan yang telah mereka lakukan.


Masa depan... Kedua kata tersebut terdengar lucu bagi Gerald. Ia tidak memikirannya. Semuanya telah di atur, dan biarkan dirinya berjalan sesuai arus dan alur yang telah di tentukan oleh takdir.


Tiba-tiba Gerald berdecak sebal. Ia lalu menggaruk keningnya yang tak gatal dengan wajahnya yang nampak bingung.


"Huuhh... Harusnya aku jangan menyerahkan diri dulu. Padahal Selena dan Ashley masih berkeliaran di luar sana."


Tukk!!


Noah lekas menjitak kening temannya tersebut agar segera sadar. Tidak tahukah Gerald, jika ia menewaskan dua orang lagi, maka masa hukumannya akan di tambah bahkan bisa jadi seumur hidup. Itupun masih untung, bagaimana jika pihak korban meminta hakim maupun jaksa untuk memberikan hukuman mati kepada pria tak berakal itu.


"Jangan membuat aku semakin marah, Gerald. Atau aku..."


"Atau apa?" Gerald tersenyum jahil sambil mengelus keningnya yang lumayan terasa sakit akibat ulah dari Noah.


"Dasar psikopat gila!!" desis Noah.


"Yes, I'am!!" Pria di balik jeruji tersebut tertawa keras. Rasanya sudah sangat lama sekali dirinya tidak menjahili dan membuat Noah menjadi kesal bahkan marah seperti ini.


...* * * ...


"Bagaimana?" tanya Sierra setelah melihat suaminya keluar. Sebenarnya ia ingin ikut masuk ke dalam dan bertemu Gerald, namun Noah tidak mengizinkannya.


"Noah!!!" Wanita itu merengek karena sang suami tidak kunjung memberitahu dirinya.


"Aku akan menjelaskannya kepadamu, tapi nanti." Noah lalu membukakan pintu mobil untuk Sierra. Melihat suaminya yang nampak lesu dan tak bertenaga, Sierra pun lebih memilih untuk menurut ketimbang mengajaknya berdebat.


Selama di dalam perjalanan, Noah tidak membuka suaranya begitu pun dengan Sierra. Dirinya tahu bahwa jika sang suami sedang dalam dilema dan tidak ingin berbicara untuk saat ini. Oleh sebab itu, Sierra akan bicara bila suaminya mengajaknya untuk berbicara lebih dulu.


Di lain tempat....


"Aku benci yang namanya menunggu!!" Wanita yang duduk di kemudi, menggeram marah.


"Santai saja, Ashley. Tunggu sebentar lagi," jawab wanita yang satunya, yang tak lain adalah Selena. Saat ini wanita tersebut tengah menyalakan ujung rokok yang terselip di bibirnya.


Dan benar saja. Tak sampai 10 menit, wanita yang mereka tunggu akhirnya datang. Senyum licik pun terpancar dari kedua wanita di dalam mobil itu.


"Tunggu sampai dia akan menyebrang!!" Selena begitu intens mengamati wanita di tepi jalan di hadapan mereka.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga---


"Sekarang!!"


Ashley lalu segera menginjak pedal gasnya dengan sangat kencang. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi kearah wanita yang tengah menyebrang. Di detik berikutnya...


Brakk!!!


Terdengar suara hantaman yang sangat kencang. Semua orang yang berada di kejadian itu di buat kaget, hingga langsung menoleh kearah pria yang menjadi korban.


"Sial!! Bagaimana bisa kau salah sasaran, hah?" Hardik Selena. Ashley di buat kesal olehnya, hingga ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut sebelum ada orang lain yang menyadari kehadiran mereka.


Sementara di tempat kejadian itu, tangisan histeris terdengar dari seorang wanita yang tengah memangku kekasihnya.


"Kau akan baik-baik saja. Aku akan segera membawamu kerumah sakit hiksss..."


Wanita itu kemudian meminta seseorang yang sedang berada di dekatnya untuk menghubungi ambulans. Hanya 15 menit menunggu, ambulans telah datang dan petugasnya langsung bergerak untuk membantu pria yang terluka parah tersebut untuk masuk kedalam mobil.


"Aku mohon, lebih cepat!!" pinta Davina pada supirnya. Sang supir hanya mengangguk dan segera membelah jalanan menuju ke rumah sakit.


"Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku!!" Davina mencium punggung tangan kekasihnya, tanpa menghiraukan darah yang menempel di tangan tersebut.


Andrew tersenyum. Ia tidak menyesal sama sekali dengan apa yang telah ia lakukan. Jika saja dirinya tidak sadar dengan mobil yang melaju kencang kearah Davina, mungkin saat ini dirinya lah yang akan menangis pilu melihat kekasihnya yang terbaring tak berdaya.


"Aku mencintaimu..."


Harusnya Davina bahagia mendengar dua kata itu yang keluar dari bibir Andrew. Namun entah mengapa, kata-kata itu justru terdengar menyesakkan.


"Aku tahu.." bisik wanita tersebut dengan deraian air mata yang tak ingin berhenti keluar.


"Aku sangat mencintaimu. Hingga rasanya... aku siap untuk melakukan apapun agar kau selalu baik-baik saja dan bahagia."


"Hikss... Kumohon, jangan berbicara lagi. Simpan tenagamu, Andrew."


Andrew tertawa singkat, sedetik kemudian ia batuk dan keluar darah dari mulutnya. Dengan sigap Davina mengelap cairan itu dengan kain kasa yang terdapat disana.


"Kau wanita yang baik, oleh sebab itu aku mencintaimu. Tidak ada wanita yang sebaik dirimu di dunia ini." Pria itu tersenyum, ia lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah kekasihnya.


"Berjanjilah kepadaku!! Kau harus selalu bahagia, karena aku.. tidak bisa berada di sampingmu lagi."


"Andrew!!" Mata Davina menyorot marah. Ia tidak suka dengan kata-kata yang pria itu keluarkan.


"Aku mencintaimu, bahkan sampai Tuhan mengambil nyawaku!!" Tepat setelah Andrew mengatakan hal tersebut, tangannya yang berada di wajah Davina langsung terjatuh. Secara perlahan kedua matanya tertutup sempurna dan hanya menyisakan senyuman terbaiknya.