Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Luka Lara



"Aku masih ada urusan di kantor. Dan kau, Noah.. ikut Daddy!!" Bagaikan sebuah perintah, Noah tidak bisa menolaknya. Angel dan Sierra lekas turun dari mobil, seketika itu juga Damian menginjak pedal gasnya dan meninggalkan pekarangan Mansion miliknya.


"Ayo, Sayang..."


Sierra hanya mengangguki ajakan Mommy-nya. Disaat mereka akan memasuki Mansion, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke kediaman Wilson dengan cara ugal-ugalan. 


Setelah mobil itu berhenti, sang pemilik kendaraan pun langsung keluar dan menghampiri kedua wanita yang masih terkejut melihat kedatangannya.


"Dimana Naura??" Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Hal itu membuat dirinya geram.


"Jangan diam saja!! Katakan kepadaku, dimana Naura berada?"


"Untuk apa kau bertanya tentang keberadaannya?"


Dave tidak tahu kenapa Angel berbicara dengan nada kasar seperti ini. Namun ia tidak menggubrisnya. Pria itu justru melenggang masuk dan lekas menuju ke kamar Naura. Berharap wanita mungil tersebut ada disana.


"Naura!!! Naura!!! Dimana kau???" Layaknya orang yang tidak sabaran, Dave terus berteriak walaupun tidak mendapatkan sahutan.


Pria tersebut sudah mencarinya di balkon bahkan ke kamar mandi, tapi hasilnya nihil. Ia merasa frustasi sekarang. Melihat Angel dan Sierra yang berdiri di ambang pintu, ia segera menghampirinya.


"Kemana Naura? Apakah dia sedang keluar?"


"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi. Untuk apa kau mencarinya??" Bukannya menjawab, Angel malah balik bertanya.


Dave benar-benar merasa frustasi. Ia bahkan menjambak rambutnya sendiri, dan Sierra yang melihatnya merasa tidak tega. Ia menghampiri pria paruh baya itu dan mengajaknya untuk duduk di tepi kasur.


"Kau tidak perlu mencari Naura lagi, Paman. Karena dia sudah pergi jauh."


Mendengar hal itu, sontak saja Dave menunjukkan ekpresi terkejut.


"Apa maksudmu? Kemana dia pergi?"


"Ke London, untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford."


Kejutan lagi. Dave tertawa dengan sangat keras. Ia menertawai dirinya sendiri. Baru saja ia mendapatkan kejutan dari Roby, bahwa Sherly sudah tiada. Dan sekarang, ia kembali mendapatkan kejutan yang tak terduga.


"Luar biasa!!!"


Pria itu terus tertawa hingga membuat Sierra beringsut mundur karena takut. Ia bersembunyi di balik tubuh Mommy-nya dan menunggu saja apa yang terjadi.


Tiba-tiba Dave menghentikan tawanya dan menatap kosong ke depan. Tak berselang lama, isakannya kembali muncul dan ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan besar miliknya.


"Mengapa ini semua terjadi kepadaku? Aku sudah kehilangan Sherly, dan sekarang aku kehilangan Naura."


"Dave, apa maksudmu? Ada apa dengan Sherly?" Angel tahu bahwa Dave akan menemui wanita itu bersama Roby. Tapi ia tidak tahu apa yang sudah terjadi.


"Sherly sudah tiada.. hiksss..."


Sama halnya dengan Dave yang baru mengetahui tadi, Angel tidak bisa berkata-kata dengan ekpresi tidak percaya. Ia terduduk lemas di kursi belajar Naura dan hanya bisa menangis disana. Sementara Sierra yang tidak tahu siapa itu Sherly, ia hanya bisa terdiam dan berusaha menguatkan Mommy-nya.


Angel mendengar rintihan pilu dari pria itu. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sosok seseorang yang paling di cintainya. Dengan bantuan Sierra, Angel bangun dari tempatnya dan mengambil posisi di samping Dave.


Jujur! Di dalam hatinya ia merasa kasihan kepada pria ini. Tidak ada satupun yang bisa mengerti Dave selain putri kecilnya itu. Oleh sebab itu, kenapa sedari dulu Angel hanya diam saja dan tidak mempermasalahkan kedekatan Naura dengan pria tersebut.


Angel memahami Dave yang tidak memiliki siapapun. Hanya seorang ayah, yang sibuk dengan perusahaannya walaupun usianya sudah memasuki kepala tujuh.


"Relakan dia, Dave..." Angel memberikan pundaknya untuk Dave agar bisa bersandar. Karena yang pria itu butuhkan saat ini adalah sebuah tompangan dan juga dukungan dari orang-orang di sekitarnya.


...* * *...


Dave's POV


Aku tidak tahu, kenapa nasib percintaanku selalu gagal. Selama belasan tahun aku menunggu dan mencari wanita dari masa laluku. Namun sebelum aku menemukannya, hadirlah sesosok wanita yang melengkapi hidupku. Dia adalah Naura, atau yang lebih sering kupanggil Sweet Cherry.


Senyumannya yang manis, tatapannya yang lucu dan tingkah yang menggemaskan, menghiasi hari-hariku. Pernah suatu hari aku membuat kesalahannya dengan membentaknya, tak kusangka ia jadi menangis karena ulahku itu.


Oh, mengingat hari itu aku menjadi merindukannya. Kami bertemu setiap hari tanpa adanya rasa bosan. Tapi kini, ia pergi meninggalkanku tanpa kata ataupun berpamitan terlebih dahulu.


Benar-benar sial. Aku mendapatkan kejutan tak terduga hari ini. Kupikir setelah bertemu dengan Sherly aku akan bahagia, ternyata tidak sama sekali. Aku justru mendapatkan luka yang begitu dalam hingga rasanya ada keinginan untuk menyusul wanita itu. Andai saja aku tidak ikut dengan Roby, mungkin saja Naura masih disini.


"Huffttt..." Kuterus melangkah tanpa arah dan tujuan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Tidak ada penyemangat ataupun teman yang bisa kuajak bicara.


Disaat aku akan melintasi penyebrangan, tiba-tiba seorang pria menabrakku. Wajahnya terlihat nampak terkejut, padahal aku yang di tabrak olehnya.


"Maaf, Tuan..." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulutnya. Setelah itu ia pergi dengan tergesa-gesa.


Aku membuang nafas kasar. Ketika akan melanjutkan langkah kaki-ku, justru mataku tak sengaja melihat sebuah kertas tergeletak tak jauh dari tempatku berada.


'Sepertinya ini milik pria tadi,' gumamku dalam hati sambil memungut kertas itu. Aku lalu membalikkannya, dan apa yang kulihat ini, membuatku sangat terkejut. Foto Naura. Bagaimana bisa? Siapa pria yang menabrakku tadi? Apa dia....


Karena penasaran, aku ingin mengejar pria tersebut. Tapi sayangnya ponselku berbunyi. Aku ingin mengabaikannya, namun dering ponselku tidak kunjung berhenti sehingga orang-orang di sekitarku mulai menatapku.


"Ckk, siapa yang menelponku tanpa henti?" Dengan kesalnya aku mengambil benda pipih itu di balik jasku. Ternyata Roby. Aku tidak tahu kenapa dia menelponku.


"Ada apa?" tanyaku to the point.


"Bagaimana dengan besok? Apa kau punya waktu?"


"Kurasa, iya."


"Baguslah. Aku akan meminta anakmu untuk datang ke cafe X. Kau datanglah pukul 9 pagi."


Perlahan, senyumanku mulai terukir. Setidaknya hari ini aku mendapatkan kabar baik, dari banyaknya kabar buruk yang kudapatkan.


"Terima kasih, Rob. Aku akan datang tepat waktu."


Panggilan kami pun terputus. Aku tidak jadi mengejar pria tadi, dan kuputuskan untuk kembali dan beristirahat. Sekaligus memantapkan hati untuk menemui anakku dan merangkai kata agar ia percaya bahwa aku adalah Daddy-nya.