
Sejak pengakuan Alexa yang ia dengar tadi, Sierra menjadi pemurung. Bahkan, ia tidak bisa fokus ke mata pelajarannya yang sekarang. Sampai-sampai guru seninya sudah memanggilnya berulang kali, namun wanita itu tidak mendengarnya.
"Sierra?" Olivia menyenggol bahunya. Refleks, Sierra menoleh dan menatapnya bingung.
Temannya tersebut tidak mengatakan sepatah katapun, ia justru menunjuk guru seninya menggunakan dagu. Sontak saja Sierra menoleh. Dan benar saja, guru seninya itu sedang menatapnya garang karena panggilannya di abaikan oleh Sierra.
"Cepat maju ke depan! Dan jangan lupa membawa hasil lukisanmu yang kuminta pada minggu lalu."
Sierra mengangguk pelan. Perlahan, ia bangkit dan melangkahkan kakinya ke depan. Ia lalu membalikkan kertas kanvasnya dan muncullah hasil lukisannya.
Pasang mata memandang lukisannya takjub, begitupun dengan guru seninya. Namun Sierra tampak tak mendengar, seolah jiwanya sedang tidak berada disini.
"Lukisanmu sangat indah, Sierra." Puji-pujian mulai terdengar di telinganya.
"Kau boleh duduk. Dan biarkan lukisanmu tetap berada disini."
Sierra mengangguk. Ia segera berjalan ke tempat duduknya semula. Guru seninya tersebut mulai menjelaskan tentang lukisan yang ia buat. Sayangnya, Sierra tidak mendengarnya.
Hingga... Kelas mereka sudah selesai, baik Sierra dan Alexa belum ada yang ingin membuka suaranya. Hal itu membuat Olivia berdecak sebal.
"Ada apa dengan kalian? Bisakah salah satu di antara kalian menjelaskannya kepadaku?"
Semakin Olivia bersuara, maka kedua temannya itu semakin tidak ingin berbicara.
"Terserahlah." Akhirnya ia menyerah. Ketika Olivia hendak melangkahkan kakinya lebih dulu, tiba-tiba dari microfon sekolah terdengar suara seseorang yang meminta seluruh siswa dan siswi kelas 12 untuk berkumpul di aula.
Sejenak Olivia melirik temannya. Ia menggelengkan kepalanya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menarik kedua tangan temannya tersebut menuju ke aula.
Disana sudah sangat ramai. Hingga yang tersisa hanyalah bagian ujung aula yang mereka tempati.
"Aku penasaran. Apa yang akan Mrs. Bella sampaikan," ujar Olivia ketika melihat wali kelasnya sedang memegang microfon.
"Apakah kelas 12 sudah berkumpul semua?" tanya Mrs. Bella, yang di sambut dengan jawaban kompak dari para muridnya.
"SUDAHH."
"Baiklah." Mrs. Bella menarik nafasnya sebentar. "Disini, aku ingin menyampaikan sebuah pemberitahuan. Minggu depan, kita akan melakukan kegiatan camping bersama."
Langsung saja seisi aula disitu bersorak kegirangan. Bahkan tak jarang pula ada yang melompat-lompat karena sangking senangnya.
"Tolong, diam dulu! Mengenai camping yang akan kita lakukan, harus ada persiapan dan sebagainya. Namun kalian tenang saja, semuanya telah siap tersedia. Kalian hanya perlu membawa barang-barang yang menurut kalian penting. Dan saat camping akan berlangsung, tubuh kalian harus sehat. Jika dalam keadaan yang tidak sehat, maka akan di minta untuk tidak mengikuti camping. Kalian paham?"
"Paham, Mrs."
"Oke. Kalau begitu, kalian di persilahkan untuk bubar dan kembali ke kediaman masing-masing."
Semua murid secara bergantian meninggalkan aula. Ada yang menuju ke parkiran untuk mengambil kendaraannya, ada pula yang pergi ke kantin untuk mengisi kekosongan pada perut mereka.
Sementara untuk Sierra, ia langsung memasuki mobil Noah saat suaminya itu memberhentikan kendaraan beroda empat tersebut di sampingnya.
"Aku pulang dulu. Sampai jumpa..."
"Sampai jumpa.." Hanya Olivia yang menimpalinya, sedangkan Alexa tidak ingin melepaskan pandangannya dari Noah yang berada di mobilnya.
Setelah istrinya memasang seatbelt, Noah segera melajukan mobilnya dan meninggalkan pekarangan sekolah.
Keheningan terjadi karena kedua insan itu tidak ada yang membuka suaranya. Sierra terus melirik suaminya ragu sambil meremas jarinya gugup. Ia tidak bisa berdiam diri seperti ini.
"Noah??" Akhirnya, Sierra membuka suaranya lebih dulu.
"Ada apa?" jawab pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tidak ada yang melarangmu."
Sierra mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya menatap lurus ke depan, dengan pikiran yang menerawang entah kemana.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas, aku tidak menyukainya. Bagiku, dia tidak jauh berbeda dari Selena dan teman-temannya."
"Tidak. Alexa wanita yang baik, dia sangat jauh berbeda dengan Selena."
"Itu menurutmu. Tidak ada yang tahu isi hati seseorang."
Sierra memilih untuk bungkam. Jawaban suaminya sama sekali tidak memuaskannya. Walaupun Noah menjawab tidak, tapi itu tidak menghilangkan rasa ketakutan dan cemburu pada diri Sierra.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat murung dan tidak fokus saat di sekolah tadi."
Istrinya tersebut tidak menjawab. Noah meliriknya, dan semakin di buat aneh saat mata Sierra terlihat berkaca-kaca.
"Bisakah kau jelaskan kepadaku!!??"
Sierra tertawa pahit, dengan air matanya yang mulai turun begitu saja.
"Bagaimana rasanya jika kau berada di posisiku? Aku menyukaimu, begitupun dengan temanku. Aku harus memilih salah satu di antara kalian, cinta atau persahabatan."
Kini Noah mengerti. Tapi, bagaimana Sierra tahu tentang kejadian tadi? Apakah Alexa memberitahunya?
"Kau tidak perlu memilih. Jika kau bisa mendapatkan keduanya, mengapa tidak?"
"Kau benar. Jika suatu hari nanti temanku tahu, dia pasti akan marah kepadaku lalu memutuskan hubungan pertemanan kami. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Noah menghela nafas panjang, "Kau baru mengenal dirinya. Kau belum sepenuhnya tahu tentang watak dan sikap dari Alexa. Jadi, jika kau kehilangannya, itu bukanlah suatu hal yang buruk."
"Itu menurutmu. Siapa yang membantumu untuk terhindar dari masalah? Alexa yang melakukannya, bukan kau. Kau tidak pernah hadir saat aku membutuhkanmu, walaupun Daddy sudah memperingatimu untuk menjagaku dimanapun aku berada."
Noah tidak membalas ucapannya lagi. Karena sepenuh hatinya membenarkan kata-kata yang wanita itu ucapkan.
Sierra tersenyum kecut, "Beginikah rasanya berjuang sendirian? Rasanya begitu sakit. Apalagi saat kita memiliki banyak saingan untuk mendapatkannya."
Tepat sekali setelah Sierra mengatakan hal tersebut, mobil yang di tumpanginya berhenti. Namun sebelum keluar, ia menghapus jejak air matanya terlebih dahulu.
Noah mengusap wajahnya kasar. Kenapa ia selalu saja salah di mata istrinya? Tapi, ucapan Sierra memang benar adanya. Ia bukanlah suami yang baik. Harusnya ia bisa menjaga istrinya, namun dirinya tidak melakukan itu.
"Sierra..."
Panggilan itu membuat sang pemilik nama lekas menghentikan langkahnya yang akan menaiki anak tangga. Ia segera berbalik, dan mendapati Angel sedang tersenyum kearahnya.
"Kemari, Sayang."
Sierra tersenyum, kemudian mengangguk singkat.
"Ada apa, Moms?"
"Ini untukmu. Mommy membelinya dua dengan warna yang senada. Satu untukmu, dan satu lagi untuk Naura. Bukankah itu bagus?"
Sierra mengambil jaket yang di berikan oleh Mommy-nya. Ia menelisik jaket berwarna merah muda tersebut. Sedetik kemudian senyum simpul menghiasi bibirnya.
"Bagus sekali, Moms. Aku menyukainya. Terima kasih."
"Sama-sama, Sayang. Sebaiknya kau ganti pakaianmu, setelah itu turun ke bawah untuk makan siang bersama suamimu."
Sierra menggeleng, "Tidak, Moms. Aku sudah makan saat di kantin tadi. Aku akan ke kamarku untuk mencoba jaket pemberianmu ini."
"Baiklah." Angel mengusap sayang rambut menantunya sebentar, setelah itu membiarkan Sierra pergi ke kamarnya.
Tak berselang lama dari kepergian Sierra, nampaklah Noah yang memasuki mansion dan langsung menuju ke kamarnya juga.