
Selena dan Chloe memasuki ruangan Kepala Sekolah dengan raut wajah tenang. Bagaikan tak ada yang terjadi di antara mereka.
Tatapan Selena berpindah dari satu orang ke orang lain. Alisnya tiba-tiba menaik sebelah setelah melihat Ashley dan Davina yang terlihat takut.
"Adakah yang bisa jelaskan kepadaku, mengapa aku di minta untuk datang kemari?" Selena membuka suaranya lebih dulu. Mrs. Bella lalu maju perlahan untuk mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan kepada Sierra?"
"Memangnya apa yang kulakukan kepada wanita lemah itu?"
"Berhenti berpura-pura, Selena. Kau sangat memuakkan dan tidak jauh berbeda dengan teman-temanmu yang lain!!" sahut Noah geram.
Selena tertawa renyah, "Kau ini kenapa, Noah? Kenapa tiba-tiba marah kepadaku? Memangnya apa yang kulakukan?"
"Apakah kau dalang dari tersesatnya Sierra di percampingan kemarin?"
Tawa di wajah Selena seketika memudar. Ia terkejut dengan kalimat yang Noah lontarkan. Kedua matanya lalu berpindah kepada Ashley, namun temannya itu justru membuang wajahnya dan enggan untuk menatapnya.
...* * * ...
Setelah Mrs. Bella menerangkan semuanya dan berakhir dengan surat peringatan dan di skor selama seminggu, disinilah sekarang keempat wanita tersebut.
Selena mengendarai mobilnya dengan Chloe di sampingnya dan Davina bersama Ashley duduk di bagian belakang. Tak ada yang mengeluarkan suaranya sejak kepergian mereka dari sekolah.
Tiba-tiba Selena menghentikan mobilnya di tepi jalan, sontak saja teman-temannya menjadi bingung.
"Keluar!!" ujar Selena datar.
"Siapa yang kau maksud??" Ashley menyahutinya.
"Wanita yang duduk di sebelahmu!"
Dengan raut wajah bingungnya, Davina menatap Selena dari balik kaca spion.
"Kenapa kau memintaku untuk keluar?"
"Karena kau tidak pantas berada di mobilku. Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak membuka suara."
"Tapi, Selena---"
"Aku bilang, keluar!!"
Davina menarik nafasnya dalam. Ia lalu melirik Chloe dan Ashley, tidak ada satupun di antara mereka yang ingin membelanya. Davina pun segera keluar dari mobil Selena dengan raut wajah sedih.
Setelah memastikan bahwa Davina sudah keluar dari mobilnya, Selena lekas melajukan mobilnya tanpa memperdulikan wanita yang di sebutnya sebagai teman itu.
Davina kemudian melangkahkan kakinya menuju taman yang berjarak tak jauh dari temannya berada. Ia mendudukkan dirinya di salah satu bangku panjang yang menghadap langsung ke jalan. Tanpa terasa, air matanya meleleh mengingat betapa teganya Selena dan teman-temannya yang meninggalkannya sendiri.
"Kau tidak perlu menangisi apa yang telah terjadi.."
Mendengar suara yang tak asing tersebut, membuat wanita muda itu segera menoleh. Dilihatnya seorang pria tengah berdiri di sampingnya dan sedang mengambil ancang-ancang untuk duduk.
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau membolos lagi?" tanya Davina sambil mengusap air matanya.
"Menurutmu? Bagaimana bisa aku berada di sekolah, sementara kekasihku sedang menangis sendirian disini."
Perlahan, Davina menampilkan senyuman sendunya. Kepalanya lalu ia letakkan di bahu sang kekasih, yang tak lain adalah Andrew.
"Apakah kau marah kepadaku, sama seperti yang lainnya?"
"Sejujurnya, iya. Namun bagiku, ini semua bukanlah kesalahanmu. Kau bahkan adalah korban dari kejahatan Selena."
"Benarkah begitu?"
Andrew mengangguk, "Sebaiknya kau menjauhi mereka. Tidak sadarkah kau jika selama ini mereka hanya memperalat dirimu? Kau hanya di jadikan sebagai boneka dari kejahatan yang mereka lakukan."
"Tapi, Andrew... Aku tidak memiliki teman selain mereka."
"Heyy.. Kau masih memiliki aku. Aku bukan hanya sebagai kekasihmu, tapi aku juga bisa menjadi teman di dalam suka maupun duka yang kau rasakan."
Davina menegakkan kembali tubuhnya, ia lalu menundukkan pandangannya dan menatap kearah sepasang sepatunya.
"Ada apa, hmm? Apa kau memiliki masalah lain?" Andrew membelai kepala Davina dengan penuh kasih sayang.
"Aku.. Apa yang harus kukatakan jika bertemu dengan Sierra?"
"Apa kau yakin dia akan memaafkanku?"
"Tentu saja. Asalkan kau benar-benar meminta maaf dengan tulus."
Entah mengapa perasaan Davina menjadi sedikit lega setelah berbicara dengan kekasihnya ini. Ia pun lekas memeluk Andrew dan membenamkan wajahnya di dada pria itu. Tidak terbayangkan jika Davina tidak memiliki Andrew, entah apa yang akan ia alami dan rasakan.
"Terima kasih..." bisik Davina sembari mengangkat kepalanya untuk menatap sang kekasih.
Andrew tersenyum, lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir Davina.
"Terima kasih kembali, Sayangku... Jangan melakukan hal itu lagi, kau mengerti?"
Davina mengangguk sambil tersenyum manis. Ia lalu kembali membenamkan wajahnya di dada Andrew sembari menghirup aroma parfum dari pria tersebut.
...* * * ...
Noah sudah kembali ke kelasnya dan dirinya pun langsung di hujami tatapan intens dari teman sekelasnya. Orang pertama yang menghampirinya adalah Alexa. Wanita itu ingin memastikan perihal ucapan yang keluar dari mulut Noah tadi.
"Benarkah yang kau katakan tadi bahwa Sierra hanya menyukaimu?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari wanita di sampingnya, Noah lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya dan mendaratkan bokongnya di kursi miliknya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Noah!!" Rupanya Alexa tidak ingin menyerah. Ia terus mendekati Noah dan menuntut jawaban dari pria tersebut. Sayangnya, lagi-lagi Noah mengabaikannya.
"Alexa, lebih baik jangan mengganggu Noah untuk sekarang." Gerald menyahuti dan meminta Alexa agar menjauh dari Noah.
Akhirnya Alexa menyetujui ucapan Gerald walaupun raut wajahnya terlihat kecewa. Wanita itu kembali ke tempat duduknya semula dan tak henti-hentinya ia menatap kearah Noah.
Gerald yang melihat perubahan dari temannya, segera menghampirinya dan mengambil posisi di samping Noah.
"Apa yang terjadi di ruangan itu? Dimana Selena dan yang lainnya?"
"Mereka tidak akan datang ke sekolah selama seminggu."
"Kenapa?"
"Bagiku, itu pantas mereka dapatkan setelah membuat Sierra tersesat dan terluka."
Baiklah, Gerald mengerti sekarang.
"Lalu... Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan mengungkap tentang statusmu dengan Sierra?"
"Kenapa aku harus melakukannya?" Noah berujar santai, Gerald pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pemuda itu akhirnya memilih untuk kembali duduk di kursinya setelah gurunya memasuki kelas.
Di lain tempat, Leon bersama Bryan sedang berada di rooftop sekolah dengan sebatang rokok yang terselip di jari mereka masing-masing. Pikiran Leon berkelana dan memikirkan setiap kata yang tadi Noah ucapkan.
"Kau menyukainya!!"
Dahi Leon langsung mengkerut, "Siapa?"
"Kau menyukai Sierra, bukan?"
"Tidak!!" tegas Leon. Ia kemudian kembali menghisap rokoknya, di detik berikutnya asap rokok sudah mengepul di udara.
"Semakin kau membantahnya, maka akan semakin terlihat, Leonardo!"
Mendengar itu, membuat Leon tersenyum kecut. Baiklah, ia mengakuinya. Bryan benar, bahwa dirinya mulai memiliki perasaan terhadap Sierra sejak kedekatannya dengan wanita itu akhir-akhir ini.
"Jika soal perasaan, kau memang ahlinya, Bryan. Lalu bagaimana denganmu dan Alexa? Apa kau sudah melepaskannya?"
Bryan menggeleng pelan, "Aku tidak akan semudah itu untuk menyerah, Leon."
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Kembali merebut hatinya."
"Jika tidak bisa?"
"Jika tidak bisa, jangan salahkan aku yang akan berbuat nekat!"
Leon tertawa mendengar kalimat temannya yang bagaikan seorang psikopat. Padahal, Bryan mengatakannya dengan sungguh-sungguh dan siap untuk melakukan apapun asalkan Alexa kembali bersamanya.