
"Sebaiknya kita berpencar. Kau ke sebelah kanan, sementara aku akan ke sebelah kiri."
Noah mengangguk setuju. Kedua pria itupun berpisah untuk mencari keberadaan Sierra. Sesekali mereka berteriak memanggil nama wanita itu.
Hingga tanpa mereka sadari, langit mulai menggelap, namun Sierra belum kunjung di temukan. Leon dan Noah masih terus mencari ke tengah hutan tanpa berniat untuk kembali.
Di sisi lain, Angel dan Damian yang baru mendapat kabar, langsung pergi ke lokasi. Di dalam mobil, tak henti-hentinya Angel menangis dan berdoa agar Sierra baik-baik saja.
Ketika Damian baru menghentikan mobilnya, tanpa pikir panjang Angel segera keluar dan berlari menuju salah satu petugas penyelenggara camping.
"Bagaimana bisa putriku menghilang?" bentak Angel tanpa memperdulikan sekitar yang memandanginya.
"Maafkan atas kelalaian kami, Nyonya. Saat ini kami sedang berusaha untuk mencari keberadaan Sierra dengan di dampingi oleh petugas dari kepolisian."
"Sayang, tenanglah." Damian menghampirinya kemudian menarik Angel kedalam pelukannya.
"Bagaimana bisa aku tenang, Damian? Apa...apa yang akan kukatakan kepada James dan Vika bila mereka bertanya tentang Sierra?"
"Aku yakin, mereka pasti bisa menemukan Sierra."
Tiba-tiba Angel teringat akan Noah. Ia lalu melepaskan pelukan suaminya, dan mengedarkan matanya ke segala penjuru. Putranya tidak ada disana, tapi ia bisa melihat Gerald di salah satu kerumunan siswa.
Angel segera melangkahkan kakinya dan mendekati pemuda itu.
"Dimana Noah? Kenapa dia tidak bersamamu?"
Gerald yang semula sedang duduk, lekas berdiri dengan kepala yang tertunduk.
"Maafkan aku, Mrs. Maafkan aku yang tidak bisa menemani Noah. Aku ingin membantu mencari Sierra, namun petugas dari kepolisian melarangnya."
"Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana bisa Sierra menghilang? Apakah kalian tidak bersamanya?"
Gerald hanya diam tanpa berani mengangkat kepalanya. Ia sendiri ikut panik, tapi sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Berbicara dengan Gerald tidak membuat kepanikannya menghilang. Angel ingin mencarinya, namun semua orang tidak akan memperbolehkannya.
Sekarang, yang bisa Angel dan Damian lakukan hanyalah menunggu. Menunggu kabar dan hasil dari pencarian ini. Jika dalam 2 jam ke depan tidak membuahkan hasil, maka ia akan turun tangan dan mencarinya sendiri.
Di lain tempat, Sierra sudah terkulai lemas di bawah sebuah jurang. Tadi, saat ia masih berusaha untuk mencari jalan keluar, kakinya justru terpeleset dan berakhir dengan dirinya yang masuk ke sebuah jurang yang dangkal.
Tubuhnya benar-benar tidak berdaya. Ia tidak minum dan tidak makan, sehingga tubuhnya tidak memiliki energi lagi. Suaranya pun perlahan melemah, seiring dengan energinya yang terkuras karena terlalu lama menangis.
Wanita itu mendongakkan kepalanya. Bulan dan bintang bersinar terang di atas langit. Sierra bersyukur, setidaknya ada sebuah cahaya yang bisa meneranginya.
"Mama, Papa... Sierra sakit.. hikss..."
Prang!!
Tanpa di sengaja James menjatuhkan cangkir kopinya yang di berikan oleh Vika.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau justru menjatuhkannya?" Vika berdecak, kemudian segera memunguti pecahan beling di dekat kaki suaminya.
"Sierra..."
Spontan Vika menatapnya, "Ada apa? Kenapa kau menyebut nama Sierra?"
James menggeleng pelan dengan pikirannya yang berkelana, "Aku hanya merindukannya."
"Kau merindukannya? Sampai-sampai menjatuhkan kopi pemberianku?"
Tanpa memperdulikan gerutuan dari istrinya, James lekas mengambil ponselnya di atas meja lalu mendial nomor Angel. Tidak di jawab, dan itu semakin membuat James menjadi cemas.
Akhirnya satu-persatu James hubungi. Mulai dari Sierra itu sendiri, Noah, Angel hingga Damian. Sayangnya, tidak ada satupun yang menjawab panggilannya.
"Kenapa semua orang tidak ada yang menjawab telponku?" gumam James yang di landa kecemasan.
"Ada apa, Pa?" Tiba-tiba Jack muncul dan ikut bergabung dengan kedua orangtuanya di ruang santai.
"Tidak ada. Papa hanya merindukan Sierra."
"Coba kau telpon Naura," saran Vika.
"Hallo, Naura?"
"Ya, Papa?"
"Dimana Mommymu? Aku ingin berbicara dengannya."
"Mommy sedang keluar bersama Daddy. Aku tidak tahu mereka kemana. Saat aku bertanya, tidak ada yang menjawab."
"Lalu, dimana Noah dan Sierra?"
"Apa Papa tidak tahu? Sierra dan Noah sedang mengikuti camping yang di selenggarakan oleh sekolah mereka. Aku pikir Sierra sudah memberitahumu."
"Tidak. Sierra jarang menelponku dan memberiku kabar."
Di tempatnya berada, Naura hanya bisa bergeming. Ia pun sama, jarang memberi kabar kepada kedua orangtuanya. Bahkan, ia sering keluar tanpa izin dari anggota keluarganya.
"Baiklah. Maaf jika aku mengganggumu."
"Tidak pernah terpikirkan olehku jika Papa mengganggu waktuku. Papa tenang saja, setelah Mommy dan Daddy kembali, aku akan meminta mereka untuk menghubungimu."
James tersenyum, "Terima kasih, Sayang."
"Oke. Sampai jumpa, Pa."
"Sampai jumpa.."
Panggilan mereka terputus. James justru terdiam seribu bahasa tanpa menjelaskan sesuatu kepada istrinya.
"Bagaimana? Apa yang Naura katakan?" desak Vika.
"Aku akan ke Sisilia." Bukannya menjawab pertanyaan dari Vika, James malah mengatakan hal yang tak terduga.
"Kenapa Papa mendadak ingin kesana?" Jack ikut penasaran. Apa yang sebenarnya di katakan oleh Naura? Kenapa Papanya tiba-tiba ingin pergi ke Sisilia?
"Firasatku mengatakan bahwa terjadi sesuatu kepada putriku. Aku tidak akan bisa tenang, jika belum melihat sendiri keadaan dari Sierra." James kemudian bangkit, ia pun menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Vika dan Jack memandangi kepergian dari pria itu. Mereka tidak mengerti, mengapa James begitu kekeuh ingin pergi. Apakah Sierra sedang dalam bahaya?
Kembali ke Sierra. Wanita itu sekarang hanya bisa pasrah sambil menatap langit. Jikalau memang ia akan berakhir disini, semoga saja ada yang menemukan jasadnya. Agar keluarganya bisa mengkremasi tubuhnya dengan baik.
"Tuhan, jika aku tidak bisa keluar dari sisi, aku hanya meminta satu hal. Tolong jaga suamiku, beserta keluargaku. Berikanlah mereka kebahagian setelah kepergianku."
Sierra tersenyum simpul, walaupun air matanya tidak bisa berhenti untuk keluar. Ia lalu meletakkan kepalanya di bebatuan yang besar dan hendak memejamkan mata. Namun sayup-sayup telinganya mendengar seseorang yang memanggil namanya.
Bagaikan menemukan setitik cahaya di kegelapan, Sierra jadi bangkit kembali. Ia mendongak ke atas, dan nampaklah sebuah sinar yang di duga berasal dari senter seseorang yang sedang mencarinya.
Derap kaki terdengar mendekat. Sierra bisa merasakan bahwa bukan hanya satu, namun banyak orang yang sedang mencarinya.
"To... Ehmm..." Sierra ingin menjerit, namun tenggorokannya mendadak sakit. Mungkin karena kering, sehingga membuatnya kesulitan untuk mengeluarkan suara.
"Sierra...." teriak beberapa orang dari atas tebing. Sierra sangat mengenal suara itu. Ia tersenyum dan berusaha berdiri.
Di saat wanita tersebut ingin memunculkan dirinya di bawah jurang, kakinya justru tersandung batu dan ia pun terjatuh. Sakit sekali, sepertinya kakinya itu terkilir.
Orang-orang yang mencarinya hendak pergi, namun Sierra tidak bisa melakukan apapun. Ia memejamkan matanya dan berdoa. Setelah itu ia membuka matanya kembali dan...
"Noah!!!"
Mendengar ada yang memanggilnya, Noah pun lekas berbalik.
"Sierra? Itukah kau?"
"Noah, aku di bawah sini. Tolong aku..."
Langsung saja Noah dan petugas dari kepolisian mengarahkan senter mereka ke bawah. Dan dilihatlah Sierra yang berada disana dengan posisi yang tersungkur di tanah.
"Sierra..."