
Andai kata ia bisa berbohong, namun semuanya tidak mungkin. Damian sudah mengetahui identitasnya, dan tidak menutup kemungkinan kalau dirinya melarikan diri, Angel dan juga Dave akan mengejarnya atas bantuan Damian. Pria itu mempunyai segalanya. Kekuasaan, harta, bahkan wanita yang di cintainya. Sedangkan dirinya? Hanyalah seorang Lozer!!
Roby tidak bisa menampik kesedihannya. Ia hanya ingin jika Leon menganggapnya seorang ayah, tapi itu tidak mungkin. Ayah kandung Leon masih hidup dan mencarinya, mana mungkin ia sejahat itu. Bukankah ia sama jahatnya dengan Dave jika ia membalas perbuatan dari pria tersebut.
Roby mungkin memang membenci Dave, tapi saat melihat tangisannya di makam Sherly, ia menyadari bahwa pria itu benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Paman..." Panggilan itu membuyarkan lamunannya. Roby mengusap wajahnya terlebih dulu, barulah setelah itu ia mengalihkan pandangannya kepada seorang remaja yang berdiri tak jauh darinya.
"Ada apa, Nak?"
"Bukankah Paman tadi bilang ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"
"Oh, iya." Roby membuang nafasnya sejenak. Ia lalu mengajak Leon untuk duduk di sofa.
"Apakah besok kau memiliki acara atau urusan?"
"Tidak. Memangnya ada apa?"
"Besok Paman ingin mengajakmu jalan-jalan bersama. Bagaimana? Kau mau, kan?"
Pemuda itupun langsung tersenyum. Ia mengangguk. "Tentu saja, Paman. Aku akan senang, karena kita akan menghabiskan waktu bersama."
"Baguslah. Kalau begitu, sebaiknya kau tidur."
"Paman juga. Selamat malam."
"Selamat malam juga untukmu, Nak."
Kini yang tersisa hanyalah Roby dan keheningan malam. Pria tersebut menatap bulan dari jendela yang tidak tertutup dengan tirai. Ia berharap bahwa malam tidak cepat berlalu, sehingga dirinya tidak perlu membuat pertemuan antara Leon dengan Dave.
...* * * ...
Pukul 11.35 pm, Jack baru kembali ke istana Wilson. Ia masuk dengan cara mengendap-endap layaknya seorang pencuri. Dan ternyata lampu utama disana sudah di padamkan, yang tersisa hanyalah lampu-lampu kecil yang cahayanya meredup.
Pemuda itu dapat bernafas lega setelah tiba di depan kamarnya dan tak ada satupun orang yang menyadari kepulangannya. Ia kemudian lekas membuka pintu kamarnya dan segera masuk.
"Huffttt, syukurlah..." Jack mengusap dadanya. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia menutup kembali pintu kamarnya agar tidak menimbulkan suara.
"Akhirnya kau ingat untuk pulang!!"
Suara itu benar-benar mengagetkan Jack. Ia bahkan hampir melompat karena sangking kagetnya. Namun saat mengetahui bahwa itu adalah Sierra bukan Angel, ia kembali dapat bernafas lega.
"Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!!" dengus Jack. Dengan santainya ia berjalan menuju lemari untuk mengambil handuk.
"Apa dia begitu penting dari pada keluargamu?" Sierra melipat kedua lengannya di dada. Ia rasa tidak perlu menyebutkan namanya, karena adiknya cukup pintar untuk menebak siapa yang dirinya maksud.
"Ada apa denganmu?" Jack merasa tidak nyaman dengan sikap kakaknya yang seperti mengintrogasi dirinya. Toh, lagipula Davina adalah teman dari Sierra.
"Kau melewatkan banyak hal hari ini, hanya karena satu wanita." Helaan nafas lelah keluar dari bibir Sierra. Ia lalu menghampiri adiknya yang kini enggan untuk menatapnya.
"Naura sudah pergi. Padahal dia sangat berharap bahwa kau akan datang dan ikut serta untuk mengantarnya ke bandara."
"Naura? Pergi? Kemana, Sierra?" Jack cukup terkejut. Ia benar-benar sudah ketinggalan berita.
"Ke London, untuk melanjutkan studinya. Memang cukup terburu-buru, tapi tidak bisakah jika kau meluangkan waktu? Hanya untuk menemuinya sebelum pergi, tidak bisakah kau lakukan itu?"
"Sierra, aku..."
"Sudahlah, Jack. Kau tidak perlu mencari alasan. Besok kau akan kembali, jadi beristirahatlah agar kau memiliki energi." Sierra segera keluar, karena tak ingin terlalu lama berdebat dan mendengarkan alasan dari adiknya. Ia tidak mau penghuni mansion jadi terganggu karena pembicaraannya dengan Jack.
...* * * ...
Jack, dengan kepala tertunduk menghampiri Angel yang sedang membantu pelayan menata sarapan di atas meja. Angel yang menyadari akan kehadiran seseorang, lekas menoleh. Ia memberikan senyum hangatnya kepada pemuda tersebut.
"Ada apa, Jack? Apa kau membutuhkan sesuatu?"
Pria itu menggeleng. Ia lalu mengangkat kepalanya perlahan.
"Apakah Mommy marah kepadaku?"
"Apa maksudmu? Untuk apa aku marah kepadamu?" tanya Angel yang tidak mengerti.
"Kemarin, aku tidak ikut mengantar Naura. Aku kira, Mommy marah."
"Hanya karena hal itu?" Jack mengangguk. Spontan saja Angel tertawa. Di usapnya dengan sayang rambut pemuda itu layaknya anaknya sendiri.
"Mommy tidak marah, Sayang. Lagipula Mommy tahu bahwa kau sedang dalam masa-masa jatuh cinta. Mommy pernah dalam posisimu, jadi... Mommy mengerti akan hal itu."
"Tapi, darimana Mommy tahu?"
Angel tersenyum. Ia lalu menggeleng pelan, "Tidak penting. Duduklah, Mommy akan---"
"Selamat pagi..." ujar seseorang yang memotong ucapan Angel.
"Selamat pagi, Sayang.." balas Angel. Sierra pun tersenyum simpul. Namun saat matanya bertemu dengan sepasang mata milik adiknya, dengan cepat wanita tersebut mengubah ekpresinya.
"Kau tidak pergi lagi?" sindir Sierra sambil mendaratkan bokongnya di salah satu kursi.
"Sierra..." Angel menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat agar jangan memulai perdebatan.
"Mommy akan melihat Daddy kalian dulu, apakah dia sudah bersiap atau belum."
Sepeninggal Angel, Sierra tak henti-hentinya menatap Jack. Hal tersebut benar-benar membuat pria itu merasa risih. Walaupun ia berusaha untuk tidak memperdulikannya, tapi tetap tidak bisa.
"Berhenti menatapku!!"
"Apa kau sudah mengemasi barang-barangmu?" tanya Sierra dengan tatapan malasnya.
"Sudah." Kedua mata milik Jack tiba-tiba menyipit. Ia seperti tengah mencurigai kakaknya tersebut.
"Sepertinya kau tidak suka dengan kehadiranku disini. Benar, bukan?"
"Tidak. Aku menyukai kehadiranmu disini, tapi sifatmu yang liar, membuatku merasa tidak nyaman. Akan lebih baik jika kau kembali, dengan begitu, Mama akan mengawasimu seperti sebelumnya."
Jack mendengus. Itulah mengapa dirinya lebih nyaman berada disini. Mamanya terlalu Overprotective, sehingga ia tidak bisa merasakan yang namanya kebebasan.
"Tidak bisakah jika aku tinggal lebih lama disini?"
"Tidak!! Kau harus kembali, pagi ini. Ingat itu!!"
"Tapi, Sierra..."
"Tidak ada tapi-tapian. Jangan merengek seperti anak kecil."
'Benar-benar menyebalkan!!' Untuk kesekian kalinya Jack mendengus. Ia benar-benar kesal saat ini. Tak ada satupun yang bisa mengerti dirinya. Entah itu kakaknya, Mamanya maupun yang lain. Tak ada, dan tak akan pernah ada pernah bisa mengerti dirinya, kecuali Jack itu sendiri.