
Terdengar helaan nafas kasar dari mulut Noah. Pria itu memasukkan ponselnya ke saku mantelnya, kemudian menghampiri istrinya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau tidak tahan dengan cuaca yang sangat dingin?"
"Memangnya, jika aku memberitahumu, apa yang akan kau lakukan?"
"Setidaknya dengan kau yang memberitahuku lebih awal, aku bisa menjagamu. Kau sendiri tahu bagaimana reaksi Mommy jika sesuatu terjadi kepadamu?"
Sierra menundukkan kepalanya, "Maafkan aku yang merepotkanmu."
"Tidak masalah. Ayo, kita kembali kepada yang lainnya." Noah menggenggam tangan Sierra dan hendak membawanya pergi, namun istrinya itu justru menahan langkahnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin kesana."
"Lalu kau ingin kemana? Apa kau ingin kembali ke tendamu?"
Sierra kembali menggeleng. "Aku ingin disini, bersamamu."
Untuk sesaat Noah bergeming. Hingga akhirnya ia menuruti keinginan dari wanita itu. Noah lalu menarik tangannya untuk menuju ke tepi danau, tempatnya mengobrol dengan Gerald siang tadi.
"Aku tidak tahu jika di area camping kita terdapat sebuah danau." Mata Sierra tampak terpukau dengan hamparan danau di depannya. Dan jangan lupakan gemerlap bintang dan pantulan bulan di permukaan danau tersebut.
"Duduk sini!!"
Sierra menoleh. Dilihatnya bahwa sang suami sedang menepuk rumput-rumput di sampingnya, agar dirinya duduk di sebelah pria itu.
Tentu saja Sierra amat senang mendengarnya. Ia bergegas mendaratkan bokongnya di sebelah suaminya. Keduanya lalu terdiam sambil menikmati pemandangan di hadapan mereka.
Tiba-tiba Sierra meletakkan kepalanya di bahu Noah, sehingga membuat si pemiliknya segera menoleh.
"Terima kasih..."
"Untuk apa?" tanya Noah bingung.
"Semuanya." Rasanya, Sierra tidak ingin meninggalkan tempat ini. Ia ingin terus bersama Noah dan merasakan kehangatan yang suaminya berikan.
...* * * ...
Sierra baru kembali ke tendanya, dan langsung mendapatkan tatapan serius dari teman satu tendanya.
"Kenapa kau lama sekali? Sebenarnya kemana Noah membawamu?" Kening Olivia mengerut curiga.
"Aku hanya duduk di tepi danau."
"Benarkah?" Leah menambahi dengan kecurigaan yang sama dengan Olivia.
"Tentu saja. Lagipula untuk apa aku berbohong?" Tanpa memperdulikan tatapan dari teman-temannya, Sierra lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping Alexa.
Wanita itu memiringkan tubuhnya, sehingga membelakangi Alexa. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, Sierra hanya ingin menghindari tatapan dan pertanyaan yang akan di berikan olah wanita tersebut.
"Boleh aku tahu? Kenapa Noah menarikmu untuk pergi bersamanya?"
Benarkan!! Baru saja Sierra memikirkannya, sekarang Alexa benar-benar bertanya.
"Tadi Mommy-nya menelpon dan ingin berbicara denganku," jawab Sierra acuh.
Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku pernah melihat Mrs. Angel saat dia datang ke sekolah untuk rapat atau semacamnya. Dia begitu cantik, dan sangat ramah."
"Aku tahu."
"Oke. Kurasa kau sedang tidak ingin berbicara denganku." Alexa pun memutuskan untuk diam dan berusaha untuk tidur. Walaupun kenyataan ia tidak bisa terlelap hingga tengah malam tiba.
Di tenda yang berbeda, Noah sedang bermain game di ponselnya dengan posisi menelungkup. Ia begitu fokus pada gamenya, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seseorang.
Orang itu menatap Noah sinis. Ia kemudian segera mendekatinya, lalu melompat ke atas tubuh pria tersebut.
"Aww, apa yang kau lakukan?" pekik Noah yang merasa sakit sekaligus kaget.
"Dasar kau teman sialan. Karena kau, aku jadi malu."
"Sangat lancar. Sampai-sampai semua orang tertawa mendengar diriku yang bernyanyi."
Tawa Noah semakin keras. Rencananya berhasil untuk menjahili temannya ini. Gerald mendengus, ia lalu menyingkir dari atas tubuh Noah.
"Kemana kau membawa Sierra pergi? Dan kenapa lama sekali?"
"Ke tepi danau. Dia yang tidak ingin kembali, oleh sebab itu aku mengajaknya untuk duduk disana."
Mulut Gerald membentuk huruf O. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti.
"Apa yang kalian lakukan disana?"
"Menurutmu?" tanya Noah balik tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya.
"Menurutku, kau sedang memadu kasih bersamanya." Gerald tertawa dengan pikirannya yang kotor.
Noah mendelik sebal, "Apakah di otakmu hanya ada hal tentang semacam itu?"
"Itu hal yang wajar, Noah. Aku pria normal, tapi tidak tahu jika dirimu."
Bukk!!
Gerald seketika meringis sakit. Baru saja Noah meninju perutnya hingga menimbulkan suara bunyi yang cukup keras.
"Kau gila!!" rintih pria itu.
Noah tersenyum miring, "Kau menginginkannya lagi? Jika iya, katakan saja. Akan dengan senang hati aku melakukannya."
Selepas mengatakan itu, Noah membalikkan badannya untuk membelakangi Gerald. Di tenda tersebut hanya terdapat ia dan teman tidak tahu dirinya itu. Entah kemana Rohan dan Nicky saat ini. Noah tidak ingin memikirkannya. Ia lebih baik memejamkan matanya dan berusaha untuk terlelap.
...* * * ...
Sementara teman-temannya sudah terlelap dalam tidurnya, Selena justru masih sibuk berpikir dan merencanakan sesuatu.
Chloe dan Ashley tidak bisa di harapkan. Selena hanya bisa bertanya kepada Davina yang belum terlelap sepenuhnya.
"Selena, ini sudah larut. Sebaiknya kau tidur karena kita harus bangun pagi besok." Davina berucap sambil menguap sesekali.
"Tidak, Davina. Aku tidak bisa tertidur. Kau tidurlah lebih dulu."
"Baiklah."
Sekarang hanya dirinya yang terjaga. Selena mendesah pelan, kemudian memutuskan untuk keluar sekedar mencari angin.
Sepi. Kesan pertama yang Selena lihat. Sepertinya semua orang sudah terlelap dan hanya tersisa beberapa orang saja yang berjaga.
Tidak ada yang menarik baginya. Selena ingin masuk kembali ke tendanya, namun matanya justru tak sengaja melihat dua sosok pria dari balik pohon besar.
Karena penasaran, Selena segera mendekatinya. Sebenarnya ia takut, namun rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa takutnya itu.
Selena mengambil posisi yang aman. Ia bersembunyi di balik pohon yang tak jauh dari kedua sosok tersebut. Ia lalu mengintipnya, dan ternyata itu Leon sedang bersama Bryan. Tidak ada Andrew yang ikut bersama kedua temannya itu.
"Apa aku tidak salah lihat? Leon meminum alkohol bersama Bryan. Apa mereka tidak takut jika ada yang melihatnya?"
Dari tempatnya bersembunyi, Selena melihat sebuah sapu tangan berwarna baby blue di genggaman Leon. Pria itu mengamati sapu tangan tersebut dengan sangat intens.
"Sepertinya sapu tangan itu sangat berharga?" ujar Bryan sambil hendak menghidupkan sebatang rokok di bibirnya.
Leon tertawa, namun ia tidak menimpali ucapan dari temannya ini.
"Darimana kau mendapatkannya?" tambah Bryan.
"Dari Sierra. Dia memberikannya saat dia tidak sengaja menumpahkan minumannya di bajuku."
Bryan mengangguk singkat. Ia lalu mengeluarkan asap rokoknya dari mulut, hingga tercetaklah asap yang mengepul di sekitar mereka. Itung-itung agar tidak ada nyamuk yang mendekat😅.
Selena mendengarnya. Ia terdiam untuk beberapa saat. Kebenciannya terhadap Sierra semakin menjadi. Lihat saja besok, apa yang akan ia perbuat.