
Sierra tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Dirinya tidaklah begitu polos, sehingga tidak tahu apa yang terjadi di antara dua lawan jenis di ruangan sempit dengan pakaian yang setengah terbuka.
"Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau menyukai Leon, tapi mengapa kau justru melakukan tindakan 'itu' bersama temannya?" Setelah sekian lama, akhirnya Sierra dapat mengeluarkan suaranya kembali.
Ashley memutar bola matanya malas, "Andai saja Leon mau melakukannya denganku, maka aku tidak perlu repot-repot untuk menggoda Bryan."
"Lagipula, permainan Bryan cukup hebat, dan aku menyukainya," tambah wanita itu sambil memoleskan lipstik di bibirnya.
Sierra hanya terdiam seribu bahasa. Pikirannya berkecamuk dan hatinya bergejolak.
Merasa bahwa urusannya sudah selesai, Ashley lalu bersiap-siap untuk pergi. Namun sebelum itu, dia menatap Sierra intens.
"Jika kau akan memberitahu semua orang tentang apa yang baru saja kulakukan dengan Bryan, Silahkan saja. Aku tidak akan mencegahmu. Tapi kau harus ingat satu hal, aku bisa membuat hidupmu menjadi tidak tenang. Camkan itu!!"
Ashley merapihkan pakaiannya sekali lagi, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan Sierra sendiri.
Sierra tidak dapat mengira bahwa takdirnya justru memperlihatkan sesuatu yang membuatnya merasa jijik. Dia ingin melupakan ini, dan semoga saja dia bisa melakukannya.
"Bryan, bisakah jika kau tidak menggangguku? Aku sudah muak dengan sikapmu ini."
Dari depan pintu kelasnya, Sierra dapat menyaksikan Bryan yang sedang berusaha mendekati Alexa. Sayangnya, wanita itu terus menjauh dan menghindarinya.
Tatapan Sierra kemudian beralih kearah Ashley. Wanita itu sedang berusaha untuk menggoda Leon seperti biasa. Baik Bryan ataupun Ashley, bersikap seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
'Sungguh akting yang luar biasa,' batin Sierra sambil menatap jijik keduanya. Dia lalu berjalan menuju kursinya, tapi Ashley mendadak duduk disana.
"Kau bisa duduk di kursi lain lebih dulu."
Dirinya yang memang tidak suka memperbesar masalah, memutuskan untuk mengalah. Tanpa menjawab ucapan dari wanita itu, Sierra kembali melangkah tak tentu arah. Hingga, Olivia melambaikan tangannya, dan memberinya kode agar segera mendekat.
"Ada apa?" tanya Sierra setelah berdiri di sampingnya.
"Duduk sini." Olivia menarik kursi kosong di sampingnya. Dan mempersilahkan temannya ini untuk duduk di dekatnya.
Sierra tersenyum, kemudian segera mendudukinya.
"Terima kasih."
Keduanya saling diam sambil mengamati seisi kelas mereka, yang dimana para penghuninya tidak jauh-jauh dari wanita penggoda dan pria tukang gombal.
"Oliv, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu saja. Kau tidak perlu izin seperti itu," jawab Olivia di iringi kekehannya.
"Emm... Apa hubungan Alexa dan Bryan?"
"Kau tidak tahu?" Sierra menggeleng.
Olivia jadi menganggukkan kepalanya singkat," Kupikir Alexa sudah memberitahumu. Jadi begini, dulu... Sewaktu kami baru pertama kali masuk ke sekolah ini, Alexa dan Bryan sempat menjalin hubungan. Tapi semuanya tidak berlangsung lama, saat Alexa menyaksikan sendiri bahwa Bryan sedang berciuman dengan wanita lain. Alexa yang marah, langsung mengakhiri hubungan mereka saat itu juga."
"Berapa lama mereka menjalin hubungan?"
"Kira-kira satu tahun lamanya. Aku agak sedikit lupa."
"Lalu Bryan, kenapa dia terus mengganggu Alexa?"
"Karena dia bilang, bahwa dia masih mencintai Alexa hingga detik ini. Bahkan, dia berjanji akan merubah dirinya menjadi lebih baik jika Alexa mau kembali bersamanya."
'Bullshit!!' Sierra menatap Bryan sebal. Berubah menjadi lebih baik katanya? Ciihh, hanya omong kosong bagi Sierra.
Dirinya begitu salut kepada Alexa. Temannya itu tak sedikitpun termakan bujuk rayu dari Bryan. Jikalau Alexa mau menerima Bryan kembali, maka Sierra akan menjadi orang pertama yang menolak dan menentangnya. Tidak perduli jika Alexa tidak akan menyukai kata-katanya, Sierra akan tetap mengatakan hal yang sebenarnya.
...* * * ...
Sepanjang perjalanan pulang, Sierra lebih banyak diam. Noah di buat terheran-heran dengan perubahan sikapnya ini.
"Apa mulutmu sedang sariawan?"
"Lalu kenapa kau diam? Biasanya, kau akan berkoar-koar seperti burung."
"Burung tidak berkoar, Noah. Tapi berkicau."
"Terserahlah. Jawab saja pertanyaanku yang tadi, kenapa kau hanya diam?"
Sierra menatapnya jengkel, "Apa sebenarnya mau-mu? Aku berisik, kau marah. Aku diam, kau justru banyak tanya."
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja."
Perkataan Noah membuat Sierra tertegun. Ia merasa bahwa darahnya berdesir dan jantungnya berdetak tidak normal. Dia lalu tersenyum malu-malu sambil menyenggol lengan Noah.
"Kau benar-benar mengkhawatirkanku? Kenapa? Apa kau mulai menyukaiku?"
"In your dream," ketus Noah.
Wajah Sierra langsung berubah menjadi kesal. Dia melipat kedua lengannya di dada sambil membuang wajahnya ke samping. Mengapa suaminya ini sangat datar, dan tidak ada keromantisan sama sekali?
Jujur saja, Sierra sering iri melihat pasangan yang begitu manis di sekitarnya. Tapi mengapa suaminya ini justru berbeda? Sesulit itukah suaminya untuk di taklukkan?
Noah menggelengkan kepalanya melihat sikap Sierra yang menurutnya kekanak-kanakan. Dia pun membiarkannya, dan tetap fokus mengemudi.
Rupanya Sierra tidak tahan, dia merasa gatal jika tidak berbicara mengenai apa yang ada di pikirannya.
"Noah?" panggilnya ragu.
"Hmm.."
"Aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Katakanlah!"
"Tadi, saat di sekolah, aku pergi ke kamar mandi. Awalnya tidak ada yang terjadi, hingga keluarlah seorang pria dari salah satu toilet."
"Apa yang pria lakukan di kamar mandi wanita?" Kening Noah mengkerut bingung.
"Itu dia. Setelah pria itu keluar dari kamar mandi, muncullah wanita yang keluar dari ruangan yang sama dengan pria tadi."
"Lalu, kau? Apa yang kau lakukan disana? Begitu betahnya kau di kamar mandi. Oh, atau jangan-jangan kau mengintip perbuatan mereka?"
"Mana mungkin aku melakukan itu!!" gerutu Sierra.
"Lalu apa yang kau lakukan disana?" Nada suara Noah meninggi.
"Kenapa kau justru marah kepadaku? Aku 'kan hanya ingin memberitahumu." Mata Sierra sudah mulai berkaca-kaca, dan siap untuk jatuh kapan saja.
"Seharusnya, jika kau tahu bahwa mereka melakukan perbuatan yang tidak baik, mengapa kau justru tidak pergi darisana? Jujur saja jika kau sengaja ingin melihat mereka."
"Aku ke kamar mandi karena ada urusan. Dan kurasa, aku tidak perlu memberitahumu."
Tepat setelah Sierra mengatakan hal tersebut, mobil yang di tumpanginya berhenti di halaman mansion. Dia menghapus air matanya, kemudian bergegas keluar tanpa mengatakan sepatah kata lagi.
Sierra terlihat begitu kesal dan marah atas penilaian Noah kepadanya. Seburuk itukah dia di mata suaminya? Bahkan untuk menoleh ke belakang pun, Sierra merasa enggan dan terus berjalan menuju kamar mereka (Sierra dan Noah).
Sierra tak sengaja berpapasan dengan Naura, namun dia seolah tidak melihatnya dan mengabaikannya begitu saja.
"Ada apa dengannya?" gumam Naura bingung sambil melihat wanita itu yang menaiki anak tangga.
Tahu-tahu Noah muncul, Naura pun segera menghadang jalannya.
"Ada apa dengan istrimu?"
"Aku tidak tahu," balas Noah acuh. Dia kemudian menyingkirkan Naura dari jalannya, dengan mendorong sedikit tubuh adiknya itu.
Naura berdecak sebal. Noah dan Sierra sama-sama mengabaikannya. Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka sehingga keduanya saling diam seperti itu? pikir Naura.