Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Patah Hati



Disini, Roby menunggu kehadiran Damian, setelah pria tersebut memintanya untuk datang ke salah satu kantor Damian yang berada di luar Sisilia. Semua itu di lakukannya agar tidak bertemu dengan Dave.


Tapi siapa sangka, bahwa Damian tidak datang sendiri. Ia datang bersama istri dan juga... Dave, pria yang sangat Roby hindari.


Roby pun langsung berdiri dengan ekpresi terkejut. Ia lalu menatap Damian, seolah meminta penjelasan darinya.


"Maafkan aku. Aku harus membawanya kemari, agar masalah kalian bisa segera di selesaikan," ujar Damian yang mengerti dengan tatapan itu.


"Kau tidak bisa pergi lagi, Rob." Dave menambahi sambil melangkah maju menghampiri pria yang selama ini di carinya. 


"Kau benar. Tapi, bukan berarti aku akan memberitahumu tentang sesuatu yang ingin kau ketahui."


"Sialan!!" Dave mengumpat kesal, ia lalu mencengkram kerah baju milik pria tersebut.


"Cepat beritahuku, atau..."


"Atau apa? Kau akan melenyapkanku?" Roby tertawa garing, "Aku sudah sering mendengar ancaman seperti itu. Dan itu tidak akan membuatku takut."


"Dave, Roby, sudahlah. Berhenti bertingkai!! Lebih baik kalian menyelesaikan masalah yang terpendam sejak lama." Angel menengahi. Perlahan, Dave melepaskan cengkeramannya dan memberi jarak antara dirinya dengan Roby.


"Aku tidak ingin menyakitimu, sungguh. Aku hanya ingin bertemu dengan Sherly, itu saja."


Roby tersenyum sinis, "Apa kau pikir Sherly ingin menemuimu?"


"Aku tidak tahu. Tapi, apa salahnya jika aku mencobanya. Aku akan memperbaiki hubungan kami yang telah rusak."


"Aku tidak yakin akan hal itu." Setelah berkata demikian, Roby hendak meninggalkan ruangan itu, namun dengan cepat Angel menghadang jalannya.


"Kumohon, Rob. Biarkan Dave menemui Sherly, kali ini saja. Seandainya Sherly tidak ingin menemuinya, maka Dave tidak akan pernah mengganggunya lagi," pinta Angel. Roby nampak mempertimbangkannya, sebelum akhirnya mengangguk singkat.


"Tapi tidak untuk saat ini. Aku ada kesibukan, mungkin di lain waktu. Dan tidak usah berpikir bahwa aku akan lari, karena aku tidak mungkin bisa enyah dari pandangan kalian." Benar! Pria tersebut tidak akan dapat menghilang seperti sebelumnya. Semua itu karena Damian sudah mengetahui identitasnya, jadi... kemanapun dirinya pergi, Damian pasti akan melacak keberadaannya.


Dengan langkah lebarnya, Roby meninggalkan ruangan itu. Dave menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia menghampiri Damian yang sedari tadi hanya diam saja.


"Terima kasih. Tanpa---"


"Tidak perlu berterima kasih. Semua ini kulakukan karena istriku, bukan karena aku menyukaimu," potong Damian dengan wajah tidak bersahabat seperti biasa.


Dave yang mendengarnya jadi tertawa. Ia menganggukkan kepalanya pelan, " Baiklah. Walaupun begitu, aku akan tetap mengucapkan terima kasih."


"Terserah kau saja!" ketus Damian.


...* * * ...


Tidak ada senyuman ataupun keceriaan yang tergambar pada wajah Naura seperti biasa. Langkahnya terlihat lunglai dengan pandangan yang terus-menerus menatap ke bawah.


"Naura..." panggilan itu mengalihkannya. Naura lekas mengangkat kepalanya, dan nampaklah Dave yang sedang melangkah kearahnya.


Pria itu tersenyum dengan sangat lebar. Naura tahu apa yang membuatnya begitu senang seperti sekarang ini.


"Kau sudah pulang?" Hanya anggukan kecil yang Naura berikan.


'Sesuatu yang menyenangkan bagimu, namun begitu menyakitkan untukku, Paman.' Naura tidak bergerak dari tempatnya, walaupun Dave sudah menarik tangannya.


"Ada apa?" tanya Dave yang bingung.


"Aku... Aku lelah. Aku sedang tidak ingin pergi kemanapun. Aku hanya ingin beristirahat, Paman."


"Apa kau sakit?" Dave menempelkan punggung tangannya di dahi wanita itu, tapi Naura lekas menurunkannya secara perlahan.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah." Naura menampilkan senyum paksanya untuk menyakinkan Dave.


"Baiklah. Bagaimana jika kau beristirahat di apartementku? Aku akan meminta izin kepada Mommymu."


Seketika Naura menjadi cemas. Ia ingin menolak, namun tangan Dave memintanya untuk diam. Tidak tahukah pria itu? Bahwa saat ini Naura sedang ingin menghindarinya.


"Oke. Mommymu mengizinkan," ujar Dave sembari memasukkan ponselnya ke saku celananya. Tangannya lalu tanpa permisi menarik tangan Naura agar mengikuti langkah kakinya, kemana lagi jika bukan ke mobil pria tersebut.


Sekitar hampir 1 jam lamanya menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di apartement Dave. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk Naura dan langsung menggandengnya menuju ke apartementnya.


Clekk~


Kamar tamu, yang biasa di pakai oleh Naura jika berkunjung kesana. Dave menuntunnya untuk duduk di tepi kasur, sementara dirinya memilih duduk di kursi rias agar berhadapan langsung dengan wanita itu.


Mereka saling diam dan saling memandang untuk sesaat, hingga Dave menyadari perubahan raut wajah Naura yang tidak terlihat seperti biasanya.


"Kau yakin jika baik-baik saja?" Nada suara Dave terdengar khawatir.


Naura segera mengangguk cepat, "Aku baik-baik saja, Paman. Oh ya, kau ingin memberitahuku apa?"


Ekspresi Dave kembali seperti semula. Senyumnya begitu tercetak sempurna di wajah tampannya yang tidak menua. Dengan riangnya ia menggenggam kedua tangan Naura.


"Kau tahu? Aku sudah menemukan pria yang menyembunyikan kekasihku. Dia akan segera mempertemukanku dengan kekasihku secepatnya."


"Oh, benarkah? Aku turut bahagia mendengarnya." Ucapan wanita itu tidak selaras dengan matanya yang tampak berkaca-kaca.


Dave tidak mengetahui itu. Ia justru langsung memeluk Naura dengan senyum yang tak pernah pudar. Sedangkan Naura sendiri, berusaha mati-matian untuk menyembunyikan isak tangisnya.


"Sebentar lagi aku akan memiliki keluarga, Naura. Sebuah keluarga yang sedari dulu aku impikan. Aku, istriku dan juga anakku, kami akan tinggal dan menghabiskan waktu bersama. Membayangkan itu, membuatku merasa tidak percaya."


Tidak ada sahutan. Dave pun berinisiatif untuk melepaskan pelukannya, tapi Naura justru mengeratkan tangannya yang melingkar di leher pria itu. Ia tidak ingin Dave melihat kesedihannya di atas kebahagian dari pria tersebut.


"Aku kehabisan kata-kata, Paman. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku hanya bisa mengatakan, selamat untukmu." Naura tertawa hambar. Tidak sebanding dengan air matanya yang terus berlinang.


"Terima kasih... Kau selalu ada untukku, Naura. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana jadinya tanpa dirimu. Kau wanita yang sangat baik, dan pria yang mendapatkanmu adalah pria yang sangat beruntung."


Pelukan itu semakin mengerat. Andai saja waktu bisa di hentikan, Naura pasti sudah melakukannya. Biarlah pelukan ini memakan waktu lama, karena mereka tidak tahu, apakah ke depannya mereka akan sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama seperti sedia kala.


Rasanya, tidak. Karena Naura yakin, dengan kehadiran wanita yang merupakan kekasih Dave, dirinya tidak akan sebebas dahulu dan sekarang ini untuk bertemu.


'Tuhan, bolehkan aku egois? Aku ingin memilikinya, walaupun kutahu itu hanyalah sebuah mimpi. Tapi, Tuhan... jika aku tidak bisa bersamanya, tolong bantu aku untuk memendam rasa ini dalam-dalam.' ~Naura Wilson~