
Satu, dua, hingga tiga puluh menit lamanya baik Jack maupun Davina tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Sejak kepulangan Aleca yang ingin mengambil pakaian dan juga alat mandi, kedua insan tersebut memilih untuk diam.
Davina, ia merasa tidak ada yang ingin di bicarakan, oleh sebab itu ia hanya diam. Sementara Jack, pria itu takut untuk bicara, apalagi melihat wajah Davina yang begitu datar, membuatnya semakin bergidik.
Jack tampak memperhatikan ruangan itu, dan tanpa dirinya sadari, Davina tengah menatapnya intens. Entahlah, wanita tersebut merasa bersalah karena selalu bersikap kasar kepada pria yang sering menolongnya.
Finally, Davina memutuskan untuk membuka obrolan terlebih dahulu. Ia berdehem singkat agar perhatian Jack teralihkan kepadanya.
"Ada apa? Apakah kau ingin minum?" tanya Jack yang sudah menatap Davina.
Wanita itu menggeleng pelan, ia tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Dirinya merasa canggung saat ini.
"Kau... apakah kau tidak pulang? Ini sudah malam, bagaimana jika keluargamu mencarimu?"
Seketika Jack menyunggingkan senyuman manisnya.
"Tidak, Davina. Aku sudah memberitahu saudariku bahwa aku akan pulang larut."
"Apa yang kau katakan kepada saudarimu itu?"
"Aku hanya mengatakan bahwa aku sedang menjaga temanku yang saat ini berada di rumah sakit. Oleh sebab itu, aku akan pulang agak larut."
Davina hanya mengangguk singkat. Ruangan itupun kembali hening seperti semula. Jack menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan wajahnya yang di penuhi dengan kebimbangan. Ia ingin bertanya, namun takut jika ucapannya nanti akan membuat Davina tersinggung atau terluka.
"Katakan saja jika ada yang ingin kau katakan!!" ujar Davina yang menyadari raut bimbang milik Jack.
"Eum... Berapa usia kehamilanmu?" Jack bertanya dengan ragu. Ia lalu melihat perubahan wajah Davina yang menyurut.
"Tidak usah di jawab jika pertanyaanku membuatmu merasa tidak enak," tambahnya.
"Tiga bulan." Davina menjawab dengan spontan. Jack tersenyum kecil, dirinya mengira bahwa wanita itu tidak akan menjawab pertanyaannya, namun ia salah.
"Ibuku pasti sudah memberitahumu segalanya. Benar, bukan?" sambung wanita itu sambil menatap kosong ke depan.
Pemuda tersebut mengangguk, "Maaf.."
"Untuk apa?" Kini perhatian Davina sudah teralihkan sepenuhnya kepada Jack.
"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa bersalah saja kepadamu."
Dahi Davina mengkerut aneh, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk diam. Begitupun dengan Jack yang kembali merasa canggung bersama wanita itu.
Tiba-tiba, terdengar bunyi pintu yang berderit. Dilihatlah bahwa Aleca telah kembali sambil membawa tas yang cukup besar di tangan kanannya. Tapi ia tidak datang sendiri. Di belakangnya terdapat sesosok wanita yang begitu Davina kenal.
Disaat wanita tersebut sudah masuk ke ruangan itu, kedua matanya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata milik Jack, yang tidak lain adalah adiknya sendiri.
"Sierra..." Mata Jack langsung membulat seketika. Ia terkejut melihat kedatangan kakaknya, apalagi kedekatan Sierra dengan Aleca semakin membuatnya tercengang.
"Kau... Apa yang kau lakukan disini?" Jack tidak langsung menjawab. Sepertinya pemuda itu tengah menyiapkan kata-kata untuk kakaknya tersebut. Sierra lalu beralih menatap Davina. Yang di tatap pun tampak salah tingkah dan memalingkan wajahnya begitu saja.
"Oohh, sekarang aku mengerti. Apa Davina yang kau maksud sebagai temanmu, hmm?" Sierra menggoda adiknya, dan hal itu sukses membuat Jack menjadi malu.
"Sierra, kau mengenal Jack?" tanya Aleca.
Secara spontan wanita bernama Sierra tersebut mengangguk.
"Dia adikku."
"Jangan menatapku seperti itu!!" gumam Jack dengan suara gemas. Ia merasa malu bila terus-menerus di tatap oleh Davina.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika Sierra adalah saudarimu?"
"Mana aku tahu jika kalian saling mengenal." Jack mendengus sebal.
"Sudah, sudah.. Kenapa kalian justru berdebat?" lerai Sierra sambil melangkah mendekati keduanya. Ia kemudian memberikan parcel buah kepada Davina, yang langsung di sambut hangat oleh wanita itu.
"Terima kasih... Oh ya, darimana kau tahu jika aku berada di rumah sakit?"
"Ibumu. Tadi aku mencoba menelponmu berulang kali, namun tidak ada jawaban. Tapi, tiba-tiba kau menelpon balik dan ternyata itu adalah ibumu. Dia mengatakan bahwa kau sedang berada di rumah sakit sekarang. Oleh sebab itu, aku langsung kesini dan... mendapatkan sebuah kejutan yang tak terduga." Di akhir kalimatnya, Sierra melirik kearah adiknya yang terlihat tengah cemberut.
"Maafkan aku, Sierra. Ponselku tertinggal di rumah, jadi aku tidak bisa menjawab telpon darimu."
"Tidak masalah. Aku sudah jauh lebih lega setelah bertemu denganmu dan melihat kondisimu."
"Terima kasih banyak.." Davina dan Sierra lalu berpelukan. Jack yang merasa di abaikan, memilih untuk bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa yang berada di ujung ruangan.
Mungkin karena Sierra sudah sibuk mengobrol bersama Davina, hingga tidak menyadari keberadaan adiknya sekarang. Sementara Aleca sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena saat tiba di rumahnya tadi, ia hanya mengambil barang-barang yang menurutnya di butuhkan selama berada di rumah sakit.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Sierra. Yang di maksud dengan 'dia' adalah bayi di dalam kandungan Davina.
"Dia baik-baik saja, Sierra. Karena dia kuat seperti ayahnya." Tanpa di sadari, Davina menyentuh perutnya yang sebentar lagi akan membuncit. Ia bahkan tidak tahu jika dari kejauhan Jack memperhatikannya.
"Aku tidak sabar untuk menunggu dia lahir ke dunia ini. By the way, apakah kau sudah menyiapkan nama untuknya?"
Davina menggeleng, "Aku masih bingung, Sierra. Aku bahkan belum mengetahui jenis kelaminnya."
"Kau tidak perlu khawatir. Ada aku yang akan membantumu untuk mencarikan nama anakmu nanti."
Seulas senyum hangat seketika mengembang di wajah Davina. Ia begitu bersyukur bisa memiliki Sierra menjadi temannya. Bukan hanya sebagai teman, bagi Davina, Sierra lebih dari pada itu.
"Oh ya, dimana Jack?" Mata Sierra mengamati seisi ruangan tersebut, dan menemukan adiknya sudah berada di pojok ruangan dengan wajahnya yang terlihat begitu mengantuk.
"Sebaiknya kau bawa dia pulang. Dia mungkin lelah karena seharian berada disini." Dagu Davina menunjuk Jack yang kini sudah memejamkan matanya. Ia lalu melirik sejenak kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Kau benar. Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Jaga dirimu dan kabari aku jika terjadi sesuatu." Davina hanya mengangguk. Sierra kemudian menghampiri Jack dan menggoyangkan bahunya agar terbangun.
Pemuda itupun kembali membuka sepasang matanya. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak, barulah setelah itu ia menatap kakaknya.
"Ada apa?"
"Ayo pulang!!"
Mendengar hal tersebut, Jack langsung mengalihkan tatapannya kepada wanita yang duduk di atas ranjang, hanya untuk beberapa detik. Setelah itu ia kembali menatap Sierra.
"Lalu, bagaimana dengan Davina?"
"Aku disini, Jack. Kau tidak perlu khawatir," timpal Aleca yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Baiklah.." Jack menunduk lesu. Sebenarnya ia ingin masih tetap disini. Tapi bagaimana lagi jika Sierra sudah mengajaknya untuk pulang.
"Cepatlah!!"
Dengan malas ia bangkit dari sofa, Jack kemudian lekas mengikuti langkah Sierra di depannya. Sebelum keluar dari ruangan tersebut, Jack menatap Davina untuk sesaat. Ada rasa di hatinya untuk tetap berada disana dan menemani wanita itu hingga membaik. Tapi apalah dayanya, jika sang kakak begitu kekeuh memintanya untuk pulang.