
Setelah menempuh waktu kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka tiba juga di lokasi. Semua siswa bergegas turun dari bisnya, mereka kemudian berkumpul sesuai kelas masing-masing seperti yang Mrs. Bella katakan.
"Baiklah. Kalian semua dengarkan aku. Aku akan menyampaikan beberapa hal mengenai camping yang akan kita laksanakan disini. Pertama-tama, mengenai masalah tenda. Dalam satu tenda, terdiri dari 4 sampai 5 orang. Kedua, tolong kalian menjaga kebersihan di tempat ini dan jangan membuat keributan atau kericuhan. Dan ketiga, jangan pergi jauh-jauh tanpa seizin pengurus atau penyelenggara camping. Kalian mengerti?"
"Mengerti, Mrs."
"Oke. Silahkan kalian ke tenda masing-masing. Dan ingat yang kukatakan tadi."
Satu-persatu siswa dan siswi membubarkan diri. Mereka menuju tenda yang sudah tersedia. Di setiap tenda, terdapat tulisan, contohnya, untuk kelas 12 A.
"Sepertinya kita tidak perlu lagi untuk mencari teman satu tenda. Kita bahkan sudah berjumlah empat orang," ujar Ashley sambil menata tasnya di dalam tenda.
"Kau benar." Davina menyahutinya. Helaan nafas lelah keluar dari bibir mereka, sehingga keempat wanita itu memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Mereka semua terdiam untuk sesaat. Sampai Selena membuka suaranya lebih dulu karena ia ingin merencanakan sesuatu.
"Bukankah keberadaan kita disini merupakan waktu yang tepat untuk memberi pelajaran kepada Sierra maupun Alexa?"
Ashley mengangguk pelan, dengan wajahnya yang masih terlihat bingung.
"Memangnya apa yang akan kita rencanakan?"
"Terserah. Yang pasti, mereka harus menerima konsekuensinya karena telah berani bermain api denganku."
"Aku masih tidak paham. Kenapa kau ingin sekali mengganggu mereka?" timpal Davina heran.
Selena mendelik kearahnya, "Bukan aku yang mengganggu mereka. Tapi mereka lah yang menggangguku lebih dulu. Apa kau lupa? Semenjak kedatangan Sierra di sekolah kita, aku selalu mendapatkan kemalangan karenanya. Oleh sebab itu, aku ingin mengakhiri kemalanganku, dengan cara memberinya pelajaran."
"Aku tidak yakin kau akan bisa melakukannya." Chloe berujar sambil mengeluarkan permen karet di saku celananya.
"Kau memang benar. Maka dari itu, aku membutuhkan bantuan dari kalian."
"Tapi, Selena.. Bagaimana jika rencana kita di ketahui oleh guru atau yang lainnya? Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi?" Davina memang takut jika berurusan dengan para guru, apalagi jika mereka mengadukannya kepada kedua orangtuanya.
"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi. Selama kalian diam, maka semuanya akan baik-baik saja." Selena tersenyum smirk, sambil membayangkan rencana yang akan di buatnya.
Di tenda lain, Sierra bersama kedua temannya dan di tambah dengan Leah dan Anne, sedang menata dan merapihkan barang-barang mereka.
Karena Selena dan teman-temannya sudah berjumlah empat orang, jadi Anne dan Leah ikut bergabung bersama Sierra. Tak ada kecanggungan di antara mereka, sesekali kelima wanita tersebut berbicara, bergurau bahkan tertawa bersama.
"Aku merasa lapar," ujar Leah sambil memegangi perutnya.
"Kau benar. Perjalanan jauh kita benar-benar menguras energi." Anne ikut menimpali.
"Bagaimana kalau kita keluar dan menemui Mrs. Bella?" usul Olivia, yang di setujui oleh teman yang lainnya.
"Kalian pergilah. Aku belum selesai merapihkan barang-barangku. Bawakan saja aku makanannya."
"Aku akan bersama Sierra."
Perasaan tidak enak muncul di benak Sierra saat Alexa lebih memilih untuk tetap tinggal bersamanya di tenda dari pada bersama dengan Olivia.
"Oke. girls, ayoo.." Olivia, Leah dan Anne meninggalkan tenda. Kini yang tersisa hanya Alexa dan Sierra.
Sierra berusaha untuk bersikap biasa sambil terus menata barang-barangnya. Namun ekor matanya tidak bisa berhenti untuk melirik Alexa yang sedang mempersempit jarak di antara mereka.
"Kau begitu dekat dengan Noah. Aku merasa bahwa kedekatakan kalian seperti saudara kandung."
Oh, Tuhan. Sierra benci berada di situasi yang awkward ini.
Sierra hanya mengangguk sembari menampilkan senyum tipisnya.
"Oleh sebab itu, aku ingin meminta bantuanmu. Kau pasti sudah sangat lama mengenal Noah. Dan mungkin, kau sudah sangat tahu bagaimana karakternya." Alexa menjeda ucapannya sebentar. Ia lalu merapatkan tubuhnya dengan Sierra, kemudian menggapai tangan wanita tersebut dan menggenggamnya.
"Tolong, dekatkan aku dengan Noah. Kau sendiri tahu, bukan? Bahwa aku menyukainya. Ahh, ralat... Maksudku, aku mencintai Noah."
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Sierra hanya bisa terpaku dengan air matanya yang sudah siap jatuh kapan saja.
"Kau temanku. Makanya aku meminta bantuanmu. Aku percaya kepadamu, Sierra. Jadi, kumohon jangan membuatku kecewa."
"Guys, ayo keluar. Mrs. Bella meminta semua orang untuk keluar dari tendanya." Tiba-tiba terdengar teriakkan Olivia dari luar.
Sierra segera menghapus air matanya. Ia lekas berdiri, kemudian tersenyum kepada Alexa.
"Ayo, keluar."
Dirinya tidak menerima ataupun menolak ucapan dari Alexa tadi. Namun, biarkan semuanya berjalan sesuai alur. Anggap saja ini sebagai ujian cintanya untuk suaminya sendiri.
...* * * ...
Di karenakan Leon dan teman-temannya tidak menerima anggota lagi untuk bergabung di tenda mereka, Rohan dan Nicky jadi bersama dengan Noah dan Gerald.
Keempat pria itu baru saja selesai menata barang-barang mereka, dan langsung saja mendengar teriakkan seseorang yang meminta mereka untuk segera keluar.
"Ada apa?" tanya Gerald pada siapapun yang ada di sekitarnya.
"Mrs. Bella meminta kita untuk keluar," jawab Olivia.
Gerald pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak berselang lama, Mrs. Bella muncul juga dan meminta mereka untuk makan siang terlebih dahulu di tempat yang sudah di siapkan.
Jikalau berbicara mengenai makanan, semua orang pun jadi bersorak kegirangan. Begitupun dengan para muridnya yang seketika menyerbu tempat makan yang berbentuk prasmanan.
"Noah, lihat!! Ada barbeque disini." Gerald berujar antusias. Melihat temannya itu yang sudah mulai melupakan ucapan Alexa pada minggu lalu, membuat Noah jadi tersenyum simpul.
"Kau bisa mengambil semuanya. Jika kau ingin, kau juga bisa mengambil punyaku."
"Tidak, terima kasih. Barbeque milikku sudah banyak." Pria itu segera menyingkir dan membiarkan orang lain untuk mengambil makanan juga.
Noah menggelengkan kepalanya, melihat begitu banyaknya makanan yang Gerald ambil. Sampai-sampai berbagai macam lauk di piring temannya tersebut menumpuk karena sangking banyaknya.
"Kau yakin bisa menghabiskannya?"
"Tentu saja. Kau jangan meremehkanku jika soal makanan, Noah."
Tawa kecil Noah terukir. Ia kemudian mulai menyantap makanannya, hingga tiba-tiba datanglah dua orang wanita yang menghampiri mereka.
"Boleh kami ikut bergabung?"
"Alexa, apa yang kau lakukan? Ayo kita pergi dari sini, dan jangan mengganggu mereka." Sierra berusaha untuk pergi, namun salah satu tangannya di pegang oleh Alexa.
Saat Noah akan menolaknya, Gerald justru memberikan jawaban yang tak terduga.
"Silahkan. Duduk saja. Lagipula, kursi di meja ini masih ada yang kosong."
Alexa tersenyum senang. Ia melepaskan tangan Sierra, kemudian mendaratkan bokongnya di samping Noah. Gerald lalu melirik Sierra yang hanya terdiam. Ia merasa iba pada gadis itu, hingga ia lekas menarik tangan Sierra agar ikut duduk bersama mereka.