
Suasana di meja itu menjadi canggung. Apalagi Noah yang merasa tidak enak kepada temannya, Gerald. Karena seminggu yang lalu, Gerald sudah memberitahu semuanya, mengenai perasaannya kepada Alexa.
Tatapan Noah lalu berpindah kepada istrinya. Wajah Sierra saat ini sangat sulit untuk di pahami, pasalnya ia menundukkan kepalanya. Bahkan hidangan di depannya, ia abaikan begitu saja.
"Kenapa kau hanya makan sedikit, Noah?"
Noah tidak langsung menjawabnya. Ia menghembuskan nafasnya panjang, kemudian menatap dingin wanita di sampingnya.
"Bisakah jika kau pergi? Kau membuatku tidak berselera untuk makan."
"Kenapa kau berbicara kasar seperti itu? Aku 'kan hanya ingin makan bersamamu, apakah itu salah?"
"Sangat salah. Karena ada perasaan seseorang yang harus kujaga. Jadi, kumohon pergilah."
Sierra lekas mendongak dan menatap suaminya. Apakah Noah sedang menjaga perasaannya? Membayangkan itu, membuat Sierra jadi tersenyum kecil.
Sementara Gerald, ia berpikir bahwa Noah sedang menjaga perasaannya. Oleh sebab itu, Noah memilih untuk mengusir Alexa.
"Perasaan siapa yang sedang kau jaga? Apakah kau sudah memiliki seorang kekasih?" Dari nada suara Alexa, terdengar seperti tengah cemburu.
"Kau tidak perlu mengetahuinya. Pergilah!!" Untuk kesekian kalinya Noah mengusir Alexa. Tapi, wanita itu belum kunjung pergi.
"Noah..." Mendadak Alexa menyentuh tangan milik Noah di atas meja. Noah yang terkejut, refleks menepis tangannya hingga membuat Alexa terjatuh.
"Alexa!!!" Sierra dan Gerald berteriak bersamaan. Sierra lalu membantu temannya berdiri, sedangkan Gerald hanya bisa memandanginya tanpa berani untuk membantunya.
"Noah, tidak seharusnya kau membuatnya terjatuh seperti ini," ujar Sierra sambil memeluk Alexa yang menangis.
"Bawa temanmu itu pergi, Sierra." Hanya kalimat itu yang Noah katakan. Pria tersebut merasa tidak berselera lagi untuk makan, sehingga ia memutuskan untuk pergi dari sana.
Gerald menatap Alexa sejenak, sebelum akhirnya ia enyah dari tempat itu dan bergegas menyusul temannya.
Sierra menghela nafasnya. Ia kemudian membawa Alexa untuk menuju ke tenda mereka, karena semua orang tengah memperhatikan dirinya dan juga temannya ini.
...* * *...
"Kau seharusnya tidak melakukan itu. Kau sendiri tahu, bahwa Noah lebih susah untuk di taklukkan dari pada Leon. Jika pria itu sudah memintamu untuk pergi, maka segeralah kau pergi. Jika tidak, maka ini yang akan terjadi. Apa kau ingin semua orang memandangmu, sama seperti mereka memandangi Selena?"
Tangisan Alexa semakin menjadi setelah Olivia melontarkan kata-kata seperti itu. Saat ini Olivia dan Sierra sedang menemani Alexa yang tidak kunjung berhenti menangis.
Jujur saja, baik Olivia dan Sierra merasa kasihan dengan teman mereka ini. Namun apa yang bisa mereka perbuat?
"Ke-kenapa Noah terus menolakku hikss?"
"Karena kau bukan tipenya." Jawaban enteng Olivia, semakin membuat Alexa menangis keras.
Sierra meringis. Apa yang harus di lakukannya agar wanita itu menghentikan tangisannya?
"Emm, Alexa... Apakah ada yang terluka?" Alexa langsung menunjuk dadanya.
"Apakah dadamu sakit?" Sierra di buat cemas, namun ucapan Alexa justru membuatnya menjadi sebal.
"Sakit sekali, Sierra. Hatiku sakit saat mendengar penolakan dari sepupumu itu, hikss hikss..."
Olivia tertawa sembari menggelengkan kepalanya.
"Oh, astaga. Kau masih bisa bergurau di tengah tangisanmu ini, heh?"
"Siapa yang bergurau?" teriak Alexa kesal.
"Calm down. Kau tidak perlu berteriak seperti itu." Olivia mengusap telinganya. Ia tidak habis pikir, bahwa Alexa bisa lebih gila mencintai seseorang di bandingkan dirinya.
Di lain tempat, Noah sedang berdiri sambil memandangi hamparan danau di hadapannya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku, dengan pandangannya yang lurus ke depan.
"Dia yang memulainya. Kau sendiri melihatnya bahwa aku sudah memintanya untuk pergi, namun dengan beraninya dia menyentuh tanganku."
Gerald mengangguk paham. "Kenapa kau tidak memberitahunya tentang statusmu dengan Sierra? Mungkin setelah itu dia akan berhenti mendekatimu."
"Aku tidak yakin. Aku hanya takut, jika satu orang mengetahuinya, maka yang lainnya pun akan mengetahuinya juga."
"Kenapa memangnya? Daddymu berkuasa dan bisa melakukan apapun. Walaupun satu sekolah mengetahui hubunganmu dengan Sierra, pasti Daddymu akan bertindak dan membungkam mereka semua. Bukankah begitu?"
Noah meliriknya sinis, "Mulutmu itu, suka sekali asal berbicara."
"Memangnya apa yang salah dari ucapanku? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Kau memang benar. Daddyku bisa membungkam mulut mereka, namun tidakkah kau berpikir? Jikalau mereka mengetahui tentang kebenarannya, maka itu akan membuatku maupun Sierra merasa tidak nyaman saat di sekolah."
"Woww, pikiranmu sangat realistis, Dude."
"Apa kau ingin merasakan dinginnya air danau ini?" Noah memasang wajah datar, dan di sambut dengan gelakan tawa dari temannya tersebut.
"Tidak, terima kasih." Gerald lalu merangkul bahu Noah sembari berusaha menghentikan tawanya.
"Cepat atau lambat, mereka pasti akan mengetahui yang sebenarnya. Benarkan?"
"Kebenaran mana yang kau maksud?" Tiba-tiba ada yang menyahuti ucapannya. Sontak saja Gerald dan Noah jadi terkejut.
"Kenapa kalian diam? Jawab pertanyaanku tadi!" sambung Leon.
Gerald menatapnya kesal, "Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menguping pembicaraan orang?"
Leon tidak memperdulikan ucapan dari pria itu. Tatapannya justru terfokus kepada Noah.
"Kebenaran apa yang sedang kau sembunyikan?"
"Ckk... Noah, sebaiknya kita pergi dari sini. Perutku belum terisi penuh karena harus menyusulmu kemari." Gerald segera mengajak Noah untuk pergi dengan merangkul bahunya.
Di abaikan seperti itu, membuat Leon menjadi kesal. Ingin sekali ia menenggelamkan Gerald dan Noah ke danau di hadapannya ini, namun tak mungkin ia bisa melakukannya.
Satu hal pasti. Mendengar pembicaraan Gerald dan Noah mengenai tentang kebenaran, membuat Leon semakin di buat penasaran. Ia harus mencari tahunya. Jika perlu, ia akan kembali menguping pembicaraan mereka.
"Leonnn..."
"Oh, God." Leon mendesah lelah. Ia sangat mengenal suara itu.
"Aaa, Leon. Akhirnya aku menemukanmu.." Selena memekik bahagia. Ingin rasanya ia memeluk Leon, namun mana mungkin ia berani. Apalagi saat ini mereka sedang berdiri di pinggir danau. Bisa-bisa Leon mendorongnya ke danau itu.
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku?"
"Tidak."
Leon mengusap wajahnya kasar. Tanpa memperdulikan kehadiran wanita tersebut, ia bergegas pergi dari tempat itu. Tentu saja Selena tidak tinggal diam. Dengan cepat ia menyamai langkahnya dengan pria yang di sukainya.
Saat Selena hendak melingkarkan tangannya ke lengan Leon, ancaman dari pria itu seketika membuatnya menciut.
"Jika kau berani menyentuhku, maka aku tidak akan segan-segan untuk mendorongmu ke danau itu!"
"Baiklah," jawab Selena dengan nada lesu.
"Jaga jarak denganku!!" peringat Leon.
Tanpa mengatakan dua kali, Selena langsung memberi jarak di antara mereka. Dari pada dirinya harus menjadi korban. Lagipula ia tidak bisa berenang. Selena tidak yakin jika ada seseorang yang akan menyelamatkannya dari danau yang dingin itu.