Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Berita Mengejutkan



"Oh ya ampun, menyusahkan sekali!!" Ashley berdecak kesal, karena harus membawa barang belanjaannya sendiri. Semua ini di karenakan dirinya harus tetap bersembunyi di apartementnya, sampai keadaan mereda.


Dengan terseok-seok melangkah, Ashley menyeret barang-barangnya itu menuju sofa.


Bruukk!!


Ia lemparkan secara asal ke atas sofa. Setelah itu, Ashley merebahkan tubuhnya di sofa kosong yang bersebelahan dengan barang-barangnya tersebut.


Disaat dirinya hendak memejamkan mata, sebuah suara justru mengagetkannya. Ashley bahkan langsung menegakkan tubuhnya dan menatap wanita yang dengan santainya berdiri di hadapannya dengan sekaleng soda di tangannya.


"Kau sudah pulang? Aku menunggumu sedari tadi."


"Kau!!! Apa yang kau lakukan disini?" Ashley berteriak marah.


"Aku hanya mampir. Kebetulan aku mengetahui pin apartementmu, jadi aku tidak perlu menunggu di luar." Tatapan Selena lalu beralih pada barang-barang yang ada di sofa.


"Apa yang kau beli?"


"Bukan urusanmu. Sebaiknya kau cepat keluar dari apartementku, sekarang!!" tunjuk Ashley pada pintu utama.


Entah apa yang lucu dari perkataan Ashley, sehingga membuat Selena justru tertawa sangat keras.


"Kenapa kau begitu kasar, Ashley? Aku datang kemari hanya ingin menumpang sejenak."


"Aku tidak menerimamu disini." Ashley kemudian membawa langkahnya menuju pintu utama. Namun, sebelum ia dapat menggapai pintu itu, Selena lebih dulu berlari dan menghadang jalannya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" gertak Ashley yang mulai menipis kesabarannya.


"Kematianmu!!" sahut Selena sambil mengeluarkan belati dari saku celananya.


Sontak saja mata Ashley terbelalak. Siapa yang tidak terkejut melihat ada seseorang yang memegang belati dan mengarahkannya kepada kita.


"Kau gila, Selena. Singkirkan belati itu!!"


Sudut bibir wanita itu tertarik sedikit, "Kenapa? Kau takut?"


"Selena, cepat singkirkan!!"


Bukan menyingkirkannya, Selena justru semakin mendekat. Membuat Ashley beringsut mundur sambil menatap waspada wanita di hadapannya.


"Kau tahu? Sejak perkataanmu tempo lalu, membuatku sadar bahwa ucapanmu itu sangatlah benar, tidak ada yang tulus dari sebuah pertemanan." Selena tersenyum kecut, "Hubungan kita selama ini tidaklah lebih dari seorang teman yang saling ingin mengambil keuntungan, bukankah begitu?"


Tidak sampai disitu, Selena terus berbicara hingga tidak sadar jika mereka sudah berada di atas balkon. Ashley baru menyadarinya saat punggungnya menyentuh pagar pembatas, hingga membuatnya refleks menoleh.


"Ada apa? Kau takut, heh?" Wanita psikopat itu tertawa remeh. "Seharusnya kau tidak perlu takut. Bukankah kau selalu ingin mencoba sesuatu yang ekstrim?"


"Hentikan, Selena. Atau aku akan berteriak!!"


Ancaman Ashley bagaikan lelucon di telinga Selena. Ia tertawa, bahkan sangat keras.


"Silahkan!! Tapi aku tidak bisa memastikan, apakah saat ada orang yang ingin menolongmu, kau masih bernyawa atau tidak."


Glekk!!


Ashley meneguk salivanya susah. Sepertinya memang tidak ada jalan lain. Dia memiliki dua pilihan, mati karena terjatuh dari atas balkon apartementnya yang berada di lantai lima, atau mati karena di habisi oleh Selena menggunakan belati di tangannya.


Tanpa terasa air mata Ashley jatuh ke pipinya. Air mata yang selama ini tidak pernah keluar, namun sekarang, ia tidak bisa menahannya. Tidak ada pilihan lain, sehingga Ashley memilih opsi pertama. Tapi ia tidak akan membiarkan Selena hidup dengan tenang setelah menghabisinya.


"Ada kata-kata terakhir??" ujar Selena sambil mengacungkan belatinya tepat di depan wajah Ashley.


Wanita itu tersenyum, "Pergilah bersamaku!"


Suara hantaman keras terdengar, membuat orang di sekitarnya menjerit histeris menyaksikan hal tersebut. Darah bercucuran dimana-mana, bahkan kepala Selena tidaklah lagi utuh.


...* * * ...


Sierra mematung di tempatnya, saat menyaksikan siaran berita yang menampilkan kematian Selena dan Ashley secara tragis. Mereka di duga bertengkar hingga tidak sengaja terjatuh lalu tewas secara bersama.


'Kenapa kepergian mereka harus setragis ini?'


"Itulah takdirnya," timpal seseorang seolah mendengar kata hati Sierra.


"Apa maksudmu, Noah?"


"Seperti yang kukatakan, mereka tewas dengan cara seperti itu karena memang sudah takdirnya. Tidak usah jauh-jauh, contohnya kita. Bukanlah orangtuamu maupun orangtuaku yang membuat kita bersama, namun takdirlah yang menginginkan itu. Takdir ingin jika kita bersama dan melewati masalah yang ada dengan bersama jua."


Entahlah, ucapan suaminya tersebut terdengar asing bagi Sierra. Ia tersenyum sambil memandangi wajah Noah yang sedang fokus menyaksikan berita di hadapan mereka.


"Suamiku yang dingin, sekarang sudah mulai berubah dan banyak bicara."


"Memangnya apa masalahnya? Kau tidak suka jika aku banyak bicara?"


Seketika Sierra menggeleng. Ia lalu memeluk lengan Noah yang duduk di sebelahnya.


"Tetaplah seperti ini. Aku suka perubahanmu yang sekarang."


"Benarkah? Tapi... aku merasa asing pada diriku sendiri."


"Tidak, Noah. Itu karena kau belum terbiasa. Saat kau sudah terbiasa nanti, kau tidak akan merasa asing lagi. Suamiku yang dingin, akan berubah menjadi suami yang cerewet."


Mendengar itu, Noah pun tersenyum miring.


"Lalu bagaimana denganmu? Mana Sierra yang kukenal ceria? Akhir-akhir ini kuperhatikan, kau lebih banyak diam."


"Itu semua karena masalah yang selalu datang secara tiba-tiba. Membuatku kehilangan ceria yang kumiliki."


Sierra benar. Masalah yang datang menghampiri mereka, membuat perubahan dalam diri keduanya. Noah yang di kenal dingin, perlahan mulai banyak bicara. Lalu, Sierra yang selalu ceria, sekarang lebih banyak diam dan hanya tersenyum simpul.


Semua masalah yang mereka hadapi, di mulai dari perkemahan bulan lalu. Setelah itu, di lanjutkan dengan penculikan Alexa oleh Bryan. Dan masih banyak lagi masalah lainnya yang tidak ingin Sierra ingat kembali.


Namun, dari problem-problem tersebut, ada hikmah di baliknya. Sierra jadi lebih tegar dan kuat bila ada masalah lain yang menerpa. Bahkan, hubungannya dengan Noah pun menjadi semakin erat.


"Noah??"


"Hmm.."


"Aku merindukan masa kecil kita. Dimana, tidak ada masalah yang akan kita hadapi. Semuanya akan di selesaikan oleh Papa atau pun Daddy."


Noah tersenyum, "Kau memang benar. Aku pun merindukan masa kecil kita. Tapi, Sierra.. Waktu terus bergulir dan tanpa terasa cepat berlalu. Dan begitupun seterusnya. Kau yang dulu begitu kekanakan, perlahan mulai menjadi dewasa seiring dengan berjalannya waktu."


"Aku merasa bosan, Noah. Tidak ada yang istimewa dalam hidupku."


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan pernikahan kita? Apakah itu tidak istimewa bagimu?"


"Bukan, Noah. Bukan seperti itu maksudku," tukas Sierra cepat. Ia bahkan sudah menegakkan kembali tubuhnya sambil menatap suaminya dengan mata indah miliknya.


Noah tidak bisa membendung tawanya. Dengan gemasnya ia mencubit kedua pipi Sierra sejenak, kemudian ia memegangi wajahnya agar mata Sierra terfokus padanya.


"Dengar, dua minggu lagi kita akan cuti selama satu bulan. Mari kita nikmati waktu berharga kita dan pergi ke tempat yang kau inginkan."


Senyum bahagia terukir jelas di wajah Sierra. Ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya itu, hingga langsung memeluk tubuh suaminya tanpa sadar.