
Siswa maupun siswi mulai meninggalkan sekolah, tak ketinggalan Sierra. Saat ini wanita itu tengah berdiri di dekat gerbang dengan wajah kebingungan. Dengan siapa dirinya akan pulang?
Sierra menatap sekitarnya untuk mencari keberadaan suaminya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya, sontak saja dirinya berjengkit karena kaget.
Alexa tertawa melihat ekpresi temannya tersebut.
"Maafkan aku karena membuatmu terkejut."
Sierra hanya mengangguk singkat sambil tersenyum tipis. Dia kembali mencari keberadaan suaminya, namun tak kunjung dia temukan.
"Dengan siapa kau akan pulang?"
Mendadak Sierra menjadi gugup. "Aku... Aku pulang dengan jemputan."
"Benarkah?" Mata Alexa menyipit seolah tidak percaya.
"Tentu saja." Sierra mengakhiri ucapannya dengan tawa renyah.
"Oh iya, aku melupakan sesuatu. Apa hubunganmu dengan Noah? Sampai-sampai satu sekolahan ini selalu saja membicarakan tentangmu dan juga dia."
'Bagaimana ini?' batin Sierra di landa kebingungan. Disaat dirinya masih memikirkan jawaban dari pertanyaan Alexa, tiba-tiba ponselnya berdering singkat. Segera Sierra mengambil ponselnya itu di dalam tas, kemudian membuka pesan yang masuk.
^^^Aku menunggumu di tempat kau turun tadi. ✅ 1.34 PM^^^
^^^from: Noah^^^
Bibir Sierra mengerucut sebal. Tega sekali suaminya itu membuatnya harus berjalan 300 meter untuk menemuinya. Tapi, setidaknya dia memiliki alasan untuk pergi dan menghindari pertanyaan dari wanita di sampingnya kini.
"Emm, Alexa. Jemputanku sudah datang. Kalau begitu, aku pergi dulu." Sejurus kemudian Sierra berlari kencang tanpa memperdulikan Alexa yang berteriak memanggil namanya.
"Sierra, tunggu aku." Alexa hendak mengejarnya, namun sebuah tangan mendadak mencengkal pergelangan tangannya.
"Pulang denganku!!" Ucapan itu bagaikan sebuah perintah. Sayangnya, Alexa terlalu muak dengan pria ini.
"Aku tidak mau," tolaknya sambil berusaha melepaskan cekalan itu. Tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan pria tersebut.
Bryan lalu menarik tangan Alexa ke tempat mobilnya terparkir. Walaupun wanita itu sudah memberontak dan berteriak, tapi Bryan tidak memperdulikannya.
"Masuk!!" perintah pria itu setelah membukakan pintu mobilnya. Namun Alexa masih berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya.
"Aku tidak mau, Bryan. Jangan memaksaku!"
Tiba-tiba ada yang menarik tangan Alexa yang satunya, sehingga membuat cekalan Bryan terlepas.
"Jangan ikut campur!!" Bryan memberikan tatapan tajamnya kepada pria yang bersikap sok pahlawan.
Gerald tersenyum sinis, "Kau tidak tuli, bukan? Alexa sudah mengatakan bahwa dia tidak ingin ikut denganmu, tapi kau masih saja memaksanya."
Kesal dengan ucapan dan tindakan Gerald yang ikut campur dalam urusannya, Bryan pun menarik kerah jaket pria tersebut.
"Sudah kubilang, jangan ikut campur. Apa kau tidak dengar?"
Dengan santainya Gerald menepis tangan Bryan yang mencengkeram kerah jaketnya. Tanpa menanggapi gertakkan dari Bryan, Gerald lebih memilih untuk membawa Alexa pergi bersamanya. Namun baru saja kakinya melangkah, jaketnya justru di tarik dari arah belakang dan..
Bughh!!
Di detik berikutnya Gerald sudah tersungkur. Tidak sampai disitu, Bryan terus memukuli Gerald yang berada di bawahnya. Siswi-siswi yang menyaksikan itu berteriak histeris.
Alexa menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu ditatapnya ke sekelilingnya, tak ada yang berani melerai kedua pemuda yang sedang berkelahi tersebut.
Sampai, datanglah Leon dan Andrew yang mencoba melerai perkelahian itu. Bryan sudah berdiri karena di tarik oleh Leon, sedangkan Gerald masih terduduk di bawah. Alexa pun segera membantu pria itu untuk bangun, dan Bryan yang melihatnya kembali memanas. Dia ingin menghajar Gerald lagi, tapi di tahan oleh Leon dan Andrew.
"Masuk ke mobilmu," ujar Leon memerintah temannya tersebut.
"Tapi Leon, aku masih memiliki urusan dengan Alexa."
Bryan tentu kesal bukan main melihat mantan kekasihnya itu pergi bersama pria lain. Dia berdecak, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pekarangan sekolah.
...* * * ...
"Maaf. Karena ulahku, kau jadi terluka seperti ini. Dan terima kasih, karena kau telah membantuku untuk lolos dari Bryan," ujar Alexa sambil mengobati luka lebam di wajah Gerald.
"Its okey." Gerald tersenyum simpul, "By the way, apa yang Bryan inginkan darimu?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Hubungan kami sudah berakhir sejak lama, namun dia terus-menerus menggangguku."
Gerald mengangguk mengerti. Dari sikap Bryan tadi, dia dapat menebak bahwa pria itu masih memiliki perasaan kepada Alexa.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Gerald setelah beberapa detik terdiam.
"Mungkin taksi. Daddyku sibuk, jadi tidak bisa untuk menjemputku."
"Kalau begitu, pulang denganku saja."
Alexa tersenyum, lalu menggeleng pelan.
"Aku sudah cukup merepotkanmu."
"Aku tidak merasa di repotkan sama sekali. Ayo..." Tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu, Gerald sudah menarik tangannya lebih dulu. Dia mengajak Alexa untuk menuju tempat motornya terparkir.
...* * * ...
"Bagaimana sekarang? Semua orang bertanya tentang hubungan kita." Sierra memasang wajah lelah. Lelah dengan kenyataan hidupnya ini.
Noah yang sedang menyetir, tidak langsung menjawabnya. Dia tampak berpikir sejenak. Jujur saja, dirinya pun ikut bingung dengan pertanyaan tersebut. Andai saja pagi tadi dia tidak menolong Sierra, mungkin pertanyan itu tidak akan muncul.
"Noah, jangan diam saja. Apa yang harus kukatakan jika ada yang menanyakan tentang hubungan kita lagi?"
"Sepupu. Jawab saja seperti itu," putus Noah akhirnya.
Sierra mendengus, hingga dia memilih untuk diam. Apakah mereka akan percaya? pikirnya. Tak ada yang membuka suaranya kembali, hingga tibalah mereka di kediaman Wilson.
Melihat putra dan menantunya yang sudah pulang, Angel pun langsung menyambutnya dengan hangat.
"Bagaimana hari pertama di sekolah barumu, Sayang?"
Sierra tersenyum kecil, "Cukup melelahkan, Moms."
"Apakah Noah mengabaikanmu saat di sekolah?"
Mommy-nya mulai lagi. Noah lalu memilih untuk meninggalkan kedua wanita itu dan menuju ke kamarnya. Sierra hanya bisa menghela nafasnya melihat kepergian suaminya tersebut.
"Tidak usah kau jawab. Sebaiknya kau ganti bajumu. Setelah itu kau ajak suamimu untuk turun dan makan siang bersama," lanjut Angel. Sierra mengangguk, kemudian segera menyusul suaminya.
Dari sela pintu, Sierra dapat melihat Noah yang sedang duduk di sofa dengan kepala yang mendongak ke atas. Dengan langkah pelan dia menghampiri suaminya itu kemudian ikut duduk di sampingnya.
Keduanya saling diam dan sibuk berpikir. Hingga Sierra merasa jenuh dengan keheningan ini. Dia lalu menusuk-nusuk bahu Noah, sehingga membuat pemiliknya lekas menatap dirinya.
"Apa kita akan terus seperti ini?"
Dahi Noah mengernyit, "Maksudmu?"
"Maksudku, apakah kita akan menjalani hubungan pernikahan ini untuk selamanya?"
Sejenak Noah terdiam. Dia menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku tidak tahu. Kita lihat saja kedepannya."
Noah kemudian bangkit dan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Setelah itu dia berganti di kamar mandi. Entah mengapa, jawaban dari Noah tadi membuat mata Sierra berkaca-kaca. Sebelum air matanya jatuh, dengan cepat Sierra menghapusnya.