Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Gerald Mengetahuinya



Sore menjelang, dan Noah baru saja kembali dari latihannya. Dia tidak sendiri, tapi ada Gerald yang ikut pulang bersamanya.


Mata Gerald menelusuri mansion itu. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kakinya disini. Rasanya, ada yang berbeda sejak kedatangannya pada bulan lalu.


"Gerald..."


"Mrs. Wilson..." Gerald menganggukkan kepalanya sopan saat Angel berada di hadapannya.


"Aku sudah lama tidak melihatmu. Kau sendiri?"


"Tidak. Aku bersama Noah, hanya saja dia lebih dulu menuju ke kamarnya."


Angel mengangguk paham. "Baiklah. Kau bisa menemui temanmu itu."


"Terima kasih, Mrs."


Angel pun pergi meninggalkan Gerald yang masih memandanginya. Setelah Angel tidak terlihat lagi, barulah Gerald mempercepat langkahnya untuk menuju ke kamar Noah.


Clekk~


Tidak ada siapapun di ruangan itu. Namun terdengar bunyi keran air dari dalam kamar mandi. Mungkin, Noah sedang membersihkan dirinya, pikir Gerald yang tidak ingin ambil pusing.


Ia sudah biasa datang kemari, sehingga Gerald merasa bebas untuk melakukan apapun. Tiba-tiba senyum smirk muncul di bibirnya. Ia lalu segera melangkah kearah lemari Noah, karena biasanya pemuda itu membeli pakaian keluaran terbaru.


Bukannya mendapati apa yang Gerald inginkan, dirinya justru di buat terkejut dengan pakaian wanita di lemari temannya tersebut.


"Apa ini??"


"Noah, aku dengar ada Ger..." Sierra yang baru muncul di balik pintu, seketika membulatkan matanya saat melihat aksi Gerald yang membuka lemari pakaiannya dan melihat isinya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Sierra.


Gerald meneguk ludahnya kasar. Sementara Noah yang mendengar teriakkan Sierra, segera keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


Mereka bertiga kompak melihat satu sama lain. Hingga akhirnya... Disinilah mereka sekarang. Makan malam bersama dengan yang lainnya di ruang makan, bahkan ada Damian disana.


"Kau sudah mengetahuinya sekarang. Kuharap, kau tidak memberitahu siapapun," ujar Angel pada Gerald. Baru saja dirinya menjelaskan yang tidak di ketahui oleh pria tersebut.


"Kau tenang saja, Mrs. Aku tidak akan memberitahu siapapun."


"Baguslah."


Wajah Gerald memang terlihat biasa, namun sebenarnya ia begitu kecewa tentang hal ini. Kenapa Noah tidak memberitahunya sejak awal? Bukankah dia temannya?


"Aku tahu, bahwa kau adalah teman terbaik Noah. Tapi, Gerald... Tidak semuanya harus Noah beritahu kepadamu. Ada kalanya Noah harus menyembunyikan sesuatu mengenai urusan pribadinya," jelas Damian yang menyadari kekecawaan pada raut wajah pemuda itu.


Gerald tersenyum, "Kau benar, Mr. Tidak semuanya harus kita beritahu kepada orang lain, termasuk teman kita sendiri."


"Aku senang jika kau mengerti."


Noah tersenyum lega. Ia lalu menatap pria yang merupakan temannya sejak kecil itu.


"Terima kasih."


Hanya anggukan pelan yang Gerald berikan. Semuanya kini kembali melanjutkan kegiatan makan malam mereka, sesekali di selingi dengan obrolan ringan mengenai sekolah.


...* * * ...


Sudah hampir 10 menit mereka duduk di kursi panjang di samping aula, namun baik Gerald maupun Noah belum kunjung membuka suara. Keduanya masih diam sambil memandangi siswa-siswi yang berlalu-lalang di hadapan mereka.


"Bagaimana rasanya?"


Noah menoleh, dengan kerutan di dahinya yang terlihat jelas.


"Maksudmu?"


"Bagaimana rasanya setelah menikah?" ulang Gerald.


"Entahlah. Aku sendiri tidak terlalu memikirkannya. Aku masih menjalani hari-hariku seperti sebelum menikah. Jadi, baik sebelum atau sesudah menikah, bagiku tidak ada yang berubah."


Gerald mengangguk mengerti. Ia membuang nafasnya panjang, kemudian kembali menatap temannya.


"Aku tidak tahu."


"Hanya ada dua jawaban, Noah. Iya atau tidak?"


"Sudah kukatakan, aku tidak tahu. Aku merasa biasa saja saat di dekatnya."


Mulut Gerald membentuk huruf O. "Berarti, kau belum mencintainya."


Noah tersenyum kecut, "Bahkan aku sendiri tidak yakin jika bisa mencintainya."


"Kau pasti bisa. Karena kau sering bertemu, berbicara dan bersamanya, pasti cepat atau lambat perasaan itu akan tumbuh."


"Ya.. ya.. ya.., urusan cinta memang kaulah ahlinya." Noah lalu meneguk sisa minumannya hingga kandas. Sementara Gerald, tatapannya justru terkunci kepada Bryan yang sedang menarik paksa Alexa agar mengikuti langkahnya.


Tangan pria itu mengepal marah. Dengan cepat dia melangkah dan menghampiri sepasang lawan jenis tersebut.


Gerald pun melepaskan cekalan tangan Bryan, kemudian menarik tangan Alexa agar bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Apakah seperti ini caramu memperlakukan wanita?"


"Diamlah!! Alexa, kemari!"


Alexa menggeleng sembari mengelus tangannya yang sakit akibat cekalan tangan dari Bryan tadi.


"Jangan membuatku marah, Alexa!! Aku tidak akan menyakitimu, jika kau mengikutiku."


"Bukankah sudah kukatakan padamu, aku tidak ingin memiliki hubungan lagi denganmu, walaupun sebagai teman sekalipun, aku tidak menginginkannya, Bryan. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama, akan lebih baik jika kita fokus pada kehidupan masing-masing."


Brukk!!


Tempat sampah yang Bryan tendang, seketika terjatuh. Pria itu mengacak rambutnya frustasi.


"Aku masih mencintaimu, tidak tahukah kau itu?"


"Tidak." Alexa menggeleng, "Kau tidak mencintaiku. Tidak ada sedikitpun cinta di matamu untukku. Yang kulihat, hanyalah sebuah obsesi belaka."


Bryan tertawa hambar, "Kau begitu naif. Tidak bisakah jika kau melupakan masa lalu di antara kita?"


"Kau pikir itu mudah? Andai saja kau tidak menunjukkan wajahmu di hadapanku, mungkin aku sudah melupakannya sejak lama."


Noah yang baru datang, dan Gerald yang sedari tadi berdiri di antara mereka, hanya bisa terdiam sambil mendengarkan semua kata-kata yang mereka ucapkan.


"Ikutlah denganku! Dan mari kita selesaikan semuanya. Aku janji padamu, aku akan berubah dan mencintaimu setulus hatiku."


Gerald berdecih sembari mengukir senyum sinis di bibirnya, "Aku tidak yakin kau akan melakukannya."


"Sebaiknya kau diam. Tidak ada urusanmu disini."


Sedangkan Alexa yang menatap Noah, tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Ia mendekati pria itu kemudian merangkul lengannya.


"Jika kau memang mencintaiku, maka hentikanlah itu. Karena saat ini, aku hanya menyukai Noah."


Bryan mengepalkan kedua tangannya. Kesal dan marah bercampur menjadi satu dalam dirinya. Tak ingin berada disana lagi, membuat Bryan segera meninggalkan tempat tersebut. Dan untuk Gerald, ia hanya bisa terdiam dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


Noah yang merasa risih, langsung melepaskan rangkulan tangan Alexa di lengannya. Ia lalu menatap datar wanita di sampingnya itu.


"Jangan lakukan itu lagi! Aku tidak menyukainya."


"Gerald, ayo..." Noah berjalan lebih dulu, dan menyisakan Gerald bersama Alexa.


Pria tersebut tidak berhenti menatap Alexa. Sayangnya, Alexa justru menatap kepergian dari temannya. Mata Gerald berembun, ia kemudian mendongak keatas dengan tawa pahit tersungging di bibirnya.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Gerald segera menyusul Noah dan meninggalkan Alexa sendiri.


Di sisi lain yang Alexa tidak ketahui, terdapat Sierra dan Olivia yang melihat dan mendengar semuanya. Awalnya kedua wanita itu sedang mencari keberadaan Alexa, namun mereka justru mendengar sebuah pengakuan dari wanita tersebut.


"Aku tidak percaya ini. Alexa benar-benar mengakui perasaan, bahkan di hadapan Gerald dan juga Bryan."


Sierra tidak mengeluarkan satu katapun, yang terdengar hanyalah helaan nafas kecewa dari wanita itu. Ia lebih memilih untuk pergi dari sana dan mencari tempat untuk menenangkan perasaannya.