
Setelah makan malam bersama, masing-masing anggota keluarga memasuki kamarnya. Begitupun dengan Noah dan Sierra. Wanita itu harus menyalin buku catatan Noah yang tak sempat dia pelajari.
Baru seperempat kertas, Sierra sudah merasakan pegal pada tangannya dan memutuskan untuk istirahat sejenak. Sembari mengibas-ngibaskan tangannya, tatapan Sierra tak sengaja tertuju pada suaminya yang sedang bermain game di atas kasur.
Tampan, kaya, keren, pintar dan berprestasi, semuanya di miliki oleh Noah. Pria itu nyaris sempurna, dan berbanding terbalik dengan dirinya yang bodoh dan ceroboh.
Sebuah dering ponsel tiba-tiba terdengar, Sierra pun tersentak dan langsung tersadar dari lamunannya. Dia lalu melirik ponselnya, begitu sepi, tak ada tanda-tanda sebuah panggilan atupun pesan yang masuk.
Ketika tatapan Sierra berpindah pada Noah, tampaknya pria tersebut sudah selesai dengan gamenya. Sepertinya dia sedang mengecek sebuah pesan yang baru masuk.
"Apa kau sudah masuk kedalam grup chat kelas?" tanya Noah tanpa mengalihkan pandangannya pada benda pipih di tangannya.
Sierra menggeleng pelan, "Belum."
Suaminya itu mengangguk singkat. Tak berselang lama, ponselnya berdering tanpa henti. Dengan cepat Sierra meraihnya untuk melihat pesan-pesan yang masuk. Dirinya terkejut, kemudian lekas menatap suaminya. Ternyata Noah baru saja memasukkannya kedalam sebuah grup chat.
Hanya untuk sekian detik Sierra menatap Noah, setelah itu dia kembali menatap layar ponselnya. Di bacanya satu-persatu chat yang ada di dalam grup. Teman-temannya tampak tak percaya jika Noah memasukkannya kedalam grup tersebut.
Sierra tersenyum kecil. Dia terus menscroll percakapan itu, sehingga ada sebuah pesan yang menarik perhatiannya.
...💦Science Student Team **💦...
Leah* : Saat aku keruang guru tadi, aku tak sengaja mendengar pembicaraan mereka mengenai Camping di alam terbuka. Dan kalian tahu, bagian mana yang menarik? Kelas kita akan di ikut sertakan dengan kelas sebelah*.
Olivia : Benarkah?
Selena : Kau sedang tidak mengarang cerita, kan?
Davina : Jika memang benar, maka aku tidak sabar untuk menunggu.
Begitulah kira-kira isi dari percakapannya. Seperti yang Davina katakan, jika itu memang benar adanya, maka dirinya tidak sabar untuk menunggu dan menantikannya.
"Noah, apa kau akan ikut...." Sierra tidak melanjutkan ucapannya, saat melihat pria yang akan di ajaknya bicara sudah tertidur.
Mungkin karena terlalu asik membaca setiap chat di dalam grup, dirinya sampai tidak sadar jika suaminya sudah menyelami alam bawah sadarnya.
Sierra menampilkan senyum tulusnya. Ia pun membereskan buku-bukunya, setelah itu berjalan kearah kasur.
Dilihatnya jika sang suami masih menggenggam ponselnya, Sierra lalu segera mengambil alih ponsel tersebut, kemudian di letakkannya di atas nakas. Setelahnya, dia menarik selimut untuk dirinya dan juga Noah.
"Kau memang terlihat kasar dari luar, namun aku yakin, kau pasti memiliki hati yang sangat lembut," gumam Sierra sambil menatap lekat suaminya.
Wanita itupun lekas merebahkan tubuhnya di samping Noah. Tak lupa meletakkan sebuah guling di antara mereka sebagai pembatas.
...* * * ...
Sierra datang ke sekolahnya lebih awal. Bahkan ketika dirinya hendak memasuki kelasnya, tidak ada siapapun di ruangan itu. Dia pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sembari menunggu kedatangan teman-temannya.
Sepi. Kesan pertama dirinya saat memasuki perpustakaan. Sierra terus melangkah secara perlahan, hingga dia tiba di rak-rak yang berjejer, dengan buku-buku yang tersusun rapi.
"Buku apa yang akan kubaca?" Wanita itu meletakkan jari telunjuknya di dagu, seolah sedang berpikir tentang buku apa yang harus di bacanya.
Kakinya terus berayun dari satu rak ke rak lainnya. Akhirnya dia memilih untuk mengambil buku novel saja. Namun setelah dirinya menarik sebuah buku dari rak, matanya justru yang tak sengaja melihat seorang pria sedang duduk di kursi sambil menatap kearah jendela.
Karena penasaran, Sierra pun menghampirinya. Semakin dekat, semakin membuatnya gugup.
Posisi pria tersebut membelakanginya, Sierra lalu mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menyentuh bahu pria itu.
Tapi kali ini, Sierra lah yang di buat kaget saat tahu siapa pria itu. Belum lagi matanya yang terlihat basah seperti baru saja selesai menangis.
"Kau...."
Mereka berdua saling berpandangan dengan waktu yang cukup lama. Hingga, pria itu tiba-tiba berdiri dari duduknya dan segera enyah dari sana.
Sierra hanya bisa memandangi kepergiannya dengan tatapan sendu. Pria tersebut terlihat kuat saat di hadapan orang banyak. Padahal sebenarnya, dia begitu rapuh di kala sendiri.
Secara perlahan, Sierra jadi mengetahui sifat dari teman-teman sekelasnya. Yang terlihat buruk di luar, belum tentu buruk di dalamnya. Begitupun dengan sebaliknya.
...* * * ...
Dave menatap nanar kertas laporan yang anak buahnya berikan. Hasil laporan itu menyatakan, saat Sherly pergi, dia sedang dalam keadaan mengandung. Dave dapat memastikan bahwa itu adalah anaknya. Karena dia tahu, Sherly sangat mencintai dirinya dan tidak mungkin wanita tersebut berselingkuh darinya.
"Apa ini alasan di balik kepergianmu? Apakah kau berpikir bahwa aku akan menyianyiakanmu setelah kutahu jika kau sedang mengandung anakku?"
Pria itu lalu mengusap wajahnya kasar. Dirinya seakan tidak percaya ini. Dia memiliki seorang anak dari kekasihnya, ironisnya, dia tidak tahu keberadaan mereka sekarang. Apakah Sherly berhasil melahirkan anaknya atau tidak?
Tahu-tahu seseorang memasuki ruangannya. Spontan, Dave tersentak dan menatap wanita yang baru masuk tersebut.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?"
Naura menunjukkan deretan giginya. Dia lalu menghampiri Paman Davenya dan langsung memeluk tubuh tegap itu. Tanpa Dave sengaja, dia menjatuhkan berkas laporan di tangannya. Naura segera melepaskan pelukannya, kemudian memungut berkas tersebut.
"Naura, kembalikan kepadaku."
"Tunggu sebentar, Paman." Disaat Naura hendak membukanya, tangan Dave dengan cepat mengambil alih berkas laporan itu.
"Kau tidak bisa mengambil bahkan membuka benda milik orang lain tanpa izin, itu tidak sopan."
Seketika Naura menundukkan kepalanya, "Maafkan aku."
Perasaan bersalah tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Dave merasa bahwa dirinya terlalu kasar terhadap Naura.Tangan besar miliknya pun terulur untuk menyentuh pipi milik wanita di hadapannya ini.
"Jangan melakukan itu lagi! Kau mengerti?" Naura hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah. Kalau begitu, kau berangkatlah ke sekolahmu. Hati-hati di jalan," tambah Dave.
"Hanya itu?"
Dave menaikkan sebelah alisnya pertanda bingung. Naura lalu menunjuk keningnya seolah memberi kode. Setelah dirinya paham, Dave langsung mendaratkan kecupan manis di kening wanita tersebut.
"Aku menyayangimu, Sweet Cherry." Itulah kata yang selalu ingin Naura dengar.
Naura membalas Dave dengan mencium pipi pria itu.
"Aku lebih menyayangimu."
Setelah urusannya selesai, Naura meninggalkan ruangan Dave untuk pergi ke sekolahnya. Sementara Dave sendiri, melangkahkan kakinya ke balkon. Pandangannya menerawang jauh.
"Jika anakku memang masih hidup, usianya pasti tidak jauh berbeda dari Naura."
Dirinya tidak akan menyerah. Jikalau Sherly gagal melahirkan anaknya, setidaknya Dave dapat bertemu dengan wanita itu dan menebus segala kesalahannya. Selama dia belum menemukan Sherly, maka hidup Dave merasa tidak akan pernah tenang.