Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Mengupas Masa Lalu



Ponsel berdering. Hal itu mengalihkan dunia Dave maupun Sierra. Lantas, Pria tersebut segera mengambil ponselnya di balik jas kemudian melihat nama yang tertera di layar benda pipihnya itu. Sebenarnya Dave sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun, namun melihat Roby yang menelpon dirinya, Dave takut jika sesuatu terjadi kepada Leon.


"Ada apa, Roby??"


Di sebrang sana, terdengar helaan nafas panjang dari lawan bicaranya.


"Aku.. kehabisan kata-kata untuk berbicara. Aku tidak tahu jika Leon akan bersikap seperti itu. Tapi kau tenang saja, aku akan berusaha untuk membujuknya. Yang harus kau lakukan saat ini adalah bersabar. Semua butuh proses dan waktu, begitupun dengan Leon. Kita tidak boleh egois dan harus memikirkan kondisi Leon setelah kejadian ini."


"Kau benar, Rob. Tolong jaga dia. Pastikan bahwa Leon dalam keadaan baik-baik saja."


"Kau tidak perlu khawatir."


Tutt...


Rasanya, Dave kesulitan untuk bernafas sekarang. Ia terus memikirkan apa yang telah terjadi pada putranya. Apakah ia baik-baik saja?


"Paman..."


Panggilan itu menyentakkan Dave. Ia baru sadar bahwa Sierra masih bersama dirinya. Perlahan, wajahnya mulai menunjukkan sebuah senyuman, senyuman yang amat tipis.


"Sebaiknya kau pulang, Sayang.."


Sierra ingin menolak, tapi...


"Suamimu akan khawatir kepadamu. Ini sudah sore, dan kau pergi sejak pagi." 


Dave benar. Entah sudah berapa lama ia berada di apartement pria ini. Sierra hanya ingin memastikan bahwa pamannya tersebut sudah dalam keadaan baik-baik saja.


"Kau yakin tidak apa-apa jika aku pergi?" 


Pria itu mengangguk, "Aku akan menelpon Naura untuk menemaniku disini."


Disaat Dave akan menempelkan ponselnya ke telinga, Sierra segera menghentikannya. Kedua matanya berkaca-kaca dengan tatapan yang tertuju kepada pria itu.


"Kau melupakan sesuatu, Paman. Bukankah Naura sudah di London? Apa Paman pikir dia akan langsung datang kesini setelah kau menelponnya?" 


Ketika itu juga Dave tersadar dan langsung mengingatnya. Betapa bodohnya dirinya hingga melupakan bahwa Sweet Cherry-nya telah pergi ke London.


Sierra tersenyum simpul. Ia lalu menggenggam tangan Dave, seraya berkata, "Aku yang akan menggantikan posisi Naura sekarang. Jika Paman membutuhkan sesuatu atau teman untuk bicara, maka dengan senang hati aku akan mendengarkannya."


Dave tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Baginya, Naura dan Sierra berbeda. Namun ia tidak ingin mengecawakan wanita di hadapannya ini, sehingga ia memilih untuk mengangguk saja.


"Pulanglah, Nak. Kau tidak perlu mencemaskan pria tua ini."


"Baiklah. Oh ya, Paman. Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menelpon Noah, tapi batrei ponselku sudah habis."


"Tentu saja." Dave segera mengeluarkan ponselnya di balik jas, setelah itu ia langsung memberikannya kepada Sierra. "Ambillah!"


"Aku akan menelpon Noah sebentar.." Wanita itu lalu lekas menjauh dari Dave. Ia memang akan menelpon seseorang, namun bukan Noahlah yang akan di telponnya.


Sebenarnya, batrei ponsel wanita itu masih penuh, hanya saja Sierra ingin menyalin nomor seseorang di ponsel milik Dave. Tanpa menunggu waktu lama, nomor yang di tujunya segera terhubung. Sierra dapat mendengar suara seorang pria di balik ponsel miliknya.


"Siapa ini?"


"Aku wanita yang bersama Paman Dave tadi. Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan."


"Baiklah. Kau ingin bertemu dimana?"


"Aku akan memberitahumu melalui pesan."


"Aku segera menunggu."


Panggilan pun terputus. Sierra bergeming sejenak, ia sedang memikirkan alasannya untuk Noah. Apa yang akan ia katakan kepada pria itu tentang kepergiannya yang begitu lama? Tiba-tiba ia teringat akan Davina. Yaa, Sierra bisa memakai Davina sebagai alasannya.


...* * * ...


"Maaf, telah membuatmu menunggu lama.." Sierra lekas mengambil tempat duduk di depan pria tersebut. Kini mereka saling menatap satu sama lain dengan pandangan serius.


"Kau ingin memesan sesuatu?" tanya Roby, Sierra langsung menggeleng.


"Aku kesini bukan untuk makan ataupun minum. Aku hanya ingin mengetahui semuanya. Bagaimana bisa bahwa Leon adalah anak dari Paman Dave?"


Roby tersenyum, "Aku akan memberitahumu. Tapi, setelah kau memberitahuku tentang dirimu. Jika memang kau adalah anak dari James dan Vika, bagaimana bisa kau menyandang nama Wilson?"


"Kenapa kau ingin tahu? Lagipula, kau tidak mengenal siapa orangtuaku."


"Aku sangat mengenal mereka," pungkas Roby cepat. "Kau ingin mendengarnya?"


Sontak saja Sierra mengangguk. Wanita itu lalu merapatkan kursinya kemeja, sembari mencondongkan tubuhnya kearah Roby.


"Katakan!!"


Pria tersebut terkekeh. Sekarang ia percaya bahwa wanita muda di hadapannya ini adalah putri dari Vika. Sifatnya yang lucu dan tidak sabaran benar-benar mirip seperti ibunya di masa muda dulu.


"Cepat ceritakan!!"


"Sabar, Sayang." Roby kembali tertawa kecil. Namun di detik berikutnya, wajah pria tersebut berubah menjadi serius. Ia berdehem singkat, sebelum memulai ceritanya.


"Dulu sekali... Aku, Dave, James, Vika, Angel, Sherly dan Calvin adalah sebuah rekan. Kami merupakan detective yang berasal dari New York. Dan Damian adalah target kami, karena ia merupakan seorang mafia."


Sierra menutup mulutnya tidak percaya. Daddy-nya adalah seorang mafia, tapi tak ada satupun anggota keluarganya yang memberitahu dirinya.


"Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai... Angel dan Damian saling jatuh cinta. Padahal di sisi lain ada Calvin dan James yang juga mencintai Angel. Namun James memilih untuk menyerah, sedangkan Calvin tidak. Dia terus mengejar Angel hingga ajal menjemputnya. Dan kau tahu? Yang paling berduka atas meninggalnya Calvin adalah ibumu, karena Vika sangat mencintainya. Ia menyesal karena belum bisa menyampaikan rasa cintanya sampai Calvin tiada."


"Lalu.. Bagaimana dengan Paman Dave? Apa yang terjadi padanya?"


Roby bungkam. Sebenarnya ia tidak ingin mengingat masa lalunya, tapi karena desakan dari wanita di hadapannya ini, mau tidak mau Roby harus mengatakannya.


"Dave dan Sherly menjalin hubungan. Sherly sangat mencintai Dave, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan pria yang kau panggil dengan sebutan paman itu. Disaat Sherly membutuhkan dukungan, dia justru tidak hadir dan sibuk dengan urusannya. Sampai pada akhirnya Sherly menyerah dan memilih untuk pergi. Padahal ketika itu, Sherly tengah mengandung anaknya, yang tak lain adalah Leon."


"Berarti, kau sangat mengenal keluargaku?"


"Tentu saja, Manis. Dan aku baru menemui keluarga Wilson dan juga Dave, namun aku belum bertemu dengan kedua orangtuamu sama sekali. Padahal aku sangat merindukan celotehan dari ibumu," kekeh Roby. Sierra pun mendengus sebal, karena menurutnya Roby telah mengejek Mamanya.


"See... Aku sudah menceritakan semuanya. Sekarang, gantian kau yang bercerita dan aku yang akan mendengarkan."


"Apa yang ingin kau dengar?"


"Semuanya. Dari awal kau di lahirkan," ujar Roby santai.


"Tidak ada yang menarik," celetuk Sierra tanpa minat.


"Baiklah. Kalau begitu, ceritakan saja hubunganmu dengan Wilson."


"Apa yang ingin di ceritakan? Aku menikah dengan anaknya, oleh sebab itu nama belakangku menyandang nama Wilson."


Roby terkejut bukan main. Jika dilihat-lihat, Sierra masih sangat muda. Ia bahkan belum menyelesaikan pendidikannya, bagaimana bisa ia justru sudah menikah.


"Kami di jodohkan, Aku dengan Noah," sambung wanita itu, yang mengerti akan raut wajah dari pria di depannya.


"Aku tidak bisa berkata-kata. Kenapa Angel dan Vika bisa setega itu? Kalian masih sangat muda, apakah kedua orangtuamu tidak memikirkan masa depanmu?"


"Justru karena mereka memikirkan masa depanku, oleh sebab itu mereka menjodohkanku. Awalnya aku tidak setuju, namun lambat laun aku mulai menyukainya."


Roby benar-benar tidak habis pikir. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, dirinya bukanlah bagian dari keluarga Wilson maupun Williams. Tapi ia menyakini, bahwa Sierra pasti bahagia berada dalam lingkungan Wilson.