Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Rencana Jahat Selena



"Kenapa kau memintaku untuk datang kemari?" tanya Bryan pada wanita di hadapannya.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Bryan, wanita itu membenarkan letak topi yang ia kenakan. Kemudian ia menyeruput minumannya sejenak.


"Apakah kau masih menyukai Alexa?"


"Jika iya, memangnya kenapa?"


Selena tersenyum smirk, "Aku bisa membantumu untuk mendapatkannya."


"Kenapa kau tiba-tiba ingin membantuku?" Bryan mengkerut heran. Ada apa sebenarnya dengan Selena?


"Tidak ada. Hanya saja, aku menyukai Noah dan Alexa pun begitu. Soo.. Jika kau bersama dengan Alexa, maka aku bisa mendapatkan Noah."


Entah kenapa ucapan Selena terdengar menggelikan bagi Bryan. Pria itu bahkan tidak bisa untuk menahan tawanya.


"Kau pikir aku bodoh, heh? Daripada Noah, kau lebih menyukai Leon, dan semua orang tahu itu."


Selena mendengus kesal, "Itu dulu. Menaklukkan Leon lebih susah dari perkiraanku. Oleh sebab itu, aku ingin beralih kepada Noah."


"Kau pikir Noah akan menyukaimu?" Bryan tersenyum mengejek.


"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, aku akan mencobanya."


Akhirnya Bryan mengangguk setuju. "Lalu apa rencanamu?"


Seringaian Selena mendadak keluar. Ia sudah menyiapkan rencana yang bagus untuk membalas perbuatana Alexa. Karena wanita itu, Selena harus mendapatkan sebuah tamparan dan juga penyitaan fasilatasnya dari Daddy-nya.


"Aku akan memberitahumu, tapi nanti. Kau cukup lakukan saja sesuai yang aku katakan."


...* * * ...


Davina meremas tangannya gugup. Ia lalu menoleh ke samping, dimana sang kekasih tengah duduk dan memberikan senyuman terbaiknya, seolah mengatakan bahwa kau bisa.


"Sampai kapan kami harus menunggumu untuk bicara?"


"Noah!!" Sierra memelototi suaminya. Tidak bisakah suaminya ini bersabar sedikit.


Kembali Davina menatap sepasang lawan jenis di hadapannya. Yups, dengan di temani kekasihnya, Davina menemui Sierra untuk meminta maaf. Namun ternyata Sierra tidak datang sendirian, melainkan bersama suaminya.


"Davina, kau ingin mengatakan apa?" tanya Sierra dengan nada lembut. Walaupun ia tahu bahwa Davina ikut andil dalam membuatnya tersesat, namun ia yakin sepenuhnya, bahwa Davina tidaklah memiliki niat untuk melakukan itu.


"Aku... Aku ingin meminta maaf atas kejadian itu. Karenaku, kau jadi tersesat dan terluka. Harusnya..." Davina tidak menyudahi kalimatnya, ia justru menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya.


"Harusnya apa?" ketus Noah.


Andrew hanya bisa menghela nafasnya melihat Noah yang memasang wajah tidak bersahabat dengan kekasihnya. Ia kemudian merangkul bahu Davina untuk menenangkannya.


"Harusnya.. aku tidak mengikuti ucapan dari Selena. Aku sudah mengatakan padanya, bagaimana jika orang lain bahkan guru sampai tahu. Tapi dia tidak peduli dan mengatakan, bahwa guru tidak akan tahu jika salah satu dari kami tidak membuka suara."


"Jadi, Selena yang memiliki niat jahat itu?"


Davina mengangguk iyakan pertanyaan dari Sierra.


"Dia tidak menyukaimu, karena kau selalu berdekatan dengan Leon. Bukan hanya Selena, Ashley pun juga begitu."


"Lalu, apa tujuanmu dengan mengatakan semua ini?" Noah bersidekap di dada, dengan menampilkan wajah datarnya.


"Aku hanya ingin meminta maaf, itupun jika Sierra memaafkanku."


"Heyy.. Mengapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja aku akan memaafkanmu." Sierra lalu berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Davina. Ia memeluknya dari samping, dan itu membuat Davina tidak kuasa untuk menahan isakannya lagi.


Sierra tersenyum simpul sembari mengusap punggung Davina.


"Sudahlah. Aku sudah memaafkanmu. Jadi kumohon, berhentilah menangis."


Setelah tangisan Davina mereda, Sierra pun kembali duduk di bangkunya tadi. Ia tersenyum, kemudian menggapai tangan Davina yang ada di atas meja.


"Mari berdamai dengan kejadian itu. Lupakan semuanya dan mari kita berteman mulai sekarang."


Tentu saja Davina tidak menyianyiakan kesempatan ini. Wanita itu mengangguk cepat dan tersenyum lega, akhirnya perasaan gundah di hatinya secara perlahan menguap setelah bertemu dan berbicara langsung dengan Sierra.


Cukup lama mereka mengobrol, hingga Sierra dan Noah memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore. Mereka bahkan tidak pulang dulu sehabis sekolah, dan langsung menemui Davina di cafe.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Andrew setelah kedua pasangan tersebut sudah pergi.


"Jauh lebih baik.." Davina tersenyum, kemudian ia bersandar pada dada kekasihnya itu. Andrew pun mengulurkan tangannya untuk membelai rambut sang kekasih. Perasaannya juga ikut lega melihat Davina yang tidak bersedih lagi.


Davina benar-benar merasa bersyukur karena memiliki Andrew sebagai kekasihnya. Entahlah, bagaimana jika tidak ada Andrew di sisinya, siapa yang akan menguatkan dirinya.


Walaupun Andrew tahu bahwa ia bukanlah wanita yang baik, namun pria tersebut tetap merangkul dirinya. Dan jika ia mendapatkan masalah, kekasihnya itu akan stay di sampingnya dan membantunya dalam menyelesaikan masalah tersebut.


'Jika kau tiada, maka aku pun akan ikuti tiada, Andrew. Aku sangat mencintaimu, dan kau pun tahu itu...' bisikan hati Davina yang benar-benar tulus.


...* * * ...


Malam-malam yang dingin, selalu Leon lewati dengan kesendirian. Tak ada yang menemaninya, baik teman maupun keluarga. Bahkan sejak kecil pun, dirinya sudah terbiasa sendiri. Hanya kepulan asap yang berasal dari sepuntung rokoknya yang tetap setia menemani.


Di malam ini, Leon terasa bimbang dan gundah. Ia ragu pada hatinya, apakah hatinya ini benar-benar menyukai Sierra atau tidak?


Di saat dirinya tengah merenung, tiba-tiba seseorang datang dan berdiri di sampingnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Refleks, Leon segera menoleh dan mendapati pamannya disana. Seketika ia meneguk ludah kasar, lalu segera membuang puntung rokoknya dari atas balkon.


"Kau tidak perlu membuangnya, aku tidak akan marah," sambung Roger yang mengerti bahwa Leon takut jika dirinya marah karena melihat pemuda itu tengah merokok.


Leon hanya mengangguk pelan. Ia kembali menatap ke langit, dimana sang bulan tengah bersinar terang di atas sana.


"Paman??"


"Hmm?"


"Seperti apa sosok Daddyku?"


Degg!


Pertanyaan tersebut seolah menjatuhkan Roger saat itu juga. Ia tidak tahu, mengapa baru sekarang pemuda di sebelahnya bertanya tentang sosok Daddy-nya.


"Apa kau memiliki fotonya?" Kembali Leon bertanya, sayangnya Roger hanya terdiam tanpa berminat untuk menjawabnya.


Pria berkepala empat tersebut lalu berdehem singkat, "Sebaiknya kau tidur, ini sudah larut dan kau harus bangun pagi untuk pergi ke sekolahmu."


Selepas mengatakan hal itu, Roger pergi meninggalkan Leon. Ia tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari pemuda yang sudah ia besarkan sejak kecil. Bagi Roger, cukup dirinya saja yang menjadi ayah untuk Leon.


Tanpa terasa, butiran bening menetes dari pelupuk mata milik Leon. Namun dengan cepat ia menghapusnya, kemudian tersenyum getir. Salahkah jika aku ingin tahu tentang Daddyku? pikirnya.


Entahlah, semuanya terasa menyebalkan bagi dirinya. Rasanya Leon ingin pergi saja dari sini, namun ia cukup menyayangi sang paman dan tidak tega harus meninggalkannya sendiri.