
Setelah makan siang bersama, Sierra, Angel, beserta Noah dan Naura duduk di ruang santai. Angel ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya agar semakin dekat.
"Twins, bisakah kalian berhenti bermain ponsel saat kita sedang duduk bersama?"
Sontak saja Naura dan Noah menghentikan jarinya yang menari-nari di layar ponsel mereka. Kedua saudara itu berpandangan sejenak, sebelum akhirnya meletakkan benda pipih itu ke atas meja.
"Itu lebih baik." Angel lalu mengalihkan tatapannya kepada Sierra yang hanya diam dengan kepala yang menunduk. Wanita tersebut berbeda, dia jarang sekali memainkan ponselnya jika bukan hal penting dan karena bosan.
"Dari tadi Mommy perhatikan, kau hanya diam. Apakah ada sesuatu masalah?"
Perlahan Sierra mengangkat kepalanya dan menatap ibu mertuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Nak, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja, hmm?" Angel menangkup wajah Sierra, bahkan dirinya terlihat khawatir sekarang.
"Mommy belum menjawab pertanyaanku. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" ulang Sierra dan mengabaikan kecemasan dari mertuanya.
"Tentu saja, Sayang. Katakanlah!"
"Apa alasan di balik perjodohanku dengan Noah?"
Angel mengulas senyumnya, "Bukankah kau sudah tahu? Kami melakukan ini semua untuk kebaikkan kalian, sekaligus memperat hubungan keluarga kita."
"Apakah dengan merenggut kebebasan kami adalah suatu kebaikkan?"
Naura maupun Noah yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam. Mereka ingin ikut bicara, tapi tidak tahu harus membela siapa. Sierra mengatakan hal yang benar, namun orangtua mereka juga benar dengan menjodohkan mereka sejak dini agar terhindar dari pergaulan bebas.
"Usia kami masih terlalu muda, Moms. Bahkan, Pendidikan kami pun belum selesai." Sierra menambahkan. Melihat Mommy-nya yang hanya bungkam, membuat Sierra memilih untuk pergi ke kamarnya.
"Apakah keputusan kami ini salah?" gumam Angel dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Wanita paruh baya tersebut lalu bangun dari duduknya, kemudian dengan langkah pelan dia menuju kamar miliknya.
Noah mengepalkan tangannya. Dia pun ikut berdiri, setelah itu menyusul Sierra yang sudah berada di dalam kamar.
"Haruskah kau berbicara seperti itu kepada Mommy?" Tatapan Noah begitu dingin dan menusuk. Dan untuk pertama kalinya Noah menunjukkan ekpresi seperti ini kepada Sierra, sehingga membuat wanita itu tidak dapat berkata-kata.
Prang!!
Tiba-tiba Noah melemparkan vas bunga ke lantai hingga pecah dan berserakan kemana-mana. Sierra menutup mulutnya tidak percaya. Air mata yang sejak tadi dia tahan, seketika terjatuh.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu tadi, hah? Karena ulahmu, Mommyku menangis. Dan dengan santainya kau duduk manis disini."
Sierra benar-benar tidak bisa untuk mengatakan sesuatu. Hanya isakan yang lolos dari bibirnya.
Noah berdecih, "Aku muak dengan sikapmu."
Hati Sierra benar-benar tersayat mendengarnya. Apalagi saat suaminya itu langsung pergi setelah mengatakan hal tersebut. Dia menggigit bibirnya kuat, untuk menahan isakan yang semakin keras.
'Salahkah jika aku mengutarakan isi hatiku?' batinnya pilu.
Jelas Noah begitu marah. Dia begitu memuja Mommy-nya, hingga siap untuk melakukan apapun untuk Angel. Bagi Noah, Mommy-nya itu bak seorang dewi. Tidak ada yang boleh menyakitinya, siapapun itu.
...* * * ...
Menjelang malam, saatnya bagi Angel untuk berada di dapur dan menyiapkan makanan. Bersama dengan beberapa pelayan, Angel memasak makanan seperti biasa. Namun kali ini, dia tampak tidak fokus dan lebih banyak melamun.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya salah satu pelayannya yang merasa janggal dengan sikap majikannya.
Bahkan hingga detik ini, Sierra masih betah di kamarnya. Biasanya, gadis tersebut akan keluar dari kamar untuk melakukan sesuatu. Angel masih memotong sayurannya dengan tidak fokus, tahu-tahu ada yang memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Maafkan aku, Mommy. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu dengan kata-kataku. Harusnya aku mengerti, apapun yang Mommy dan Mamaku lakukan, pasti itu semua yang terbaik untukku. Kumohon, Mommy jangan marah kepadaku..."
Angel dapat mendengar isakan dari wanita yang memeluknya ini. Dia lalu melepaskan sepasang tangan yang melingkar di perutnya, kemudian segera berbalik untuk menatap wanita yang sudah dia anggap sebagai putrinya.
"Dengarkan aku, Sayangku. Mommy tidak akan bisa untuk marah terhadap putrinya. Sekalinya seorang ibu marah terhadap anaknya, itu tidak akan berlangsung lama." Angel tersenyum sembari menghapus air mata Sierra.
"Mommy tidak marah denganku, kan?"
"Apakah Mommy terlihat sedang marah kepadamu?"
Sierra menggeleng, dia lalu memeluk Angel dengan sangat erat dan terisak di pelukan wanita paruh baya itu.
Dari balik pintu dapur, Noah mendengar dan melihat semuanya. Dia tersenyum tipis, kemudian segera menjauh dari area tersebut.
...* * * ...
Sierra menatap suaminya aneh. Tumben sekali Noah begitu baik pagi ini. Bukankah seharusnya dia di turunkan sebelum mencapai sekolah, tapi hari ini... Noah justru membawanya hingga ke parkiran sekolah. Apa dia tidak takut jika semua orang melihat mereka turun dari satu mobil?
"Noah, kau sehat, bukan?"
"Apa aku terlihat sedang sakit?" tanya Noah balik. Sierra bergeming, sebelum akhirnya mengikuti Noah yang keluar lebih dulu.
Beginilah yang terjadi setiap pagi, yaitu penyambutan untuk King Noah dan King Leon. Sierra yang baru dua hari bersekolah disini, sudah hafal dengan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi.
Dirinya begitu jengah melihat wanita-wanita itu yang berlebihan dalam menyambut suaminya. Sehingga dia memutuskan untuk langsung ke kelasnya saja.
Setibanya di depan kelas, Sierra yang hendak masuk justru di hadang jalannya oleh wanita berambut pirang dan berambut ungu, siapalagi jika bukan Selena dan Ashley.
"Pembicaraan kita kemarin belum selesai. Apa hubunganmu dengan Noahku?"
Sierra menghela nafasnya panjang. Sampai kapan dirinya akan mendapatkan pertanyaan seperti ini.
"Aku sepupunya."
"Benarkah? Aku meragukan itu," sahut Selena.
Saat Sierra akan membuka suaranya kembali, tiba-tiba datanglah beberapa orang pria dari arah sampingnya.
"Minggir. Jangan halangi jalanku!" ujar salah satu pria tersebut. Sierra segera menoleh, dan dirinya di buat terkejut saat mendapati bahwa pria yang berdiri di sampingnya ini adalah pria yang kemarin jatuh bersamanya.
"Leon, selamat pagi," sapa Ashley dengan antusias. Namun, pria itu tidak membalasnya, bahkan memperhatikannya pun tidak.
Leon justru menatap Sierra yang juga tengah menatap dirinya.
"Apa yang sedang kau lihat? Apa kau memiliki inisiatif untuk membuatku terjatuh lagi?"
Sierra mendelikkan matanya, "Aku tidak sengaja melakukannya kemarin. Maafkan aku."
Sayangnya, Leon mengacuhkan permintaan maafnya itu. Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam kelasnya. Selena dan Ashley langsung mengekori Leon dan tidak memperdulikan Sierra lagi.
Melihat tingkah dari teman sekelasnya tersebut, membuat Sierra mengelus dada. Mengabaikan sikap mereka adalah cara terbaik yang bisa dirinya lakukan.