Cool And Cheerful

Cool And Cheerful
Kebenaran Yang Menyakitkan



Seperti yang di katakan oleh Roby semalam, ia akan mengajak Leon untuk menghabiskan waktu bersama. Dirinya sengaja mengajak pemuda itu ke tempat yang sudah ia janjikan dengan Dave, yaitu cafe X.


"Kau masuklah lebih dulu, Paman akan menelpon seseorang."


Tanpa adanya kecurigaan, Leon segera berlalu dari hadapan pamannya. Ia memilih tempat duduk di sisi pojok agar tidak menjadi pusat perhatian. Sementara Roby, pria tersebut sedang mencoba untuk menghubungi Dave.


"Kau dimana?" tanya-nya setelah panggilannya terhubung.


"Aku sedang dalam perjalanan. Disini lumayan macet, mungkin aku akan sedikit terlambat."


"Baiklah.."


Tutt..


Roby membuang nafasnya kasar. Tatapannya lalu tertuju pada seorang pemuda yang sedang menunggu kedatangan dirinya. Namun sayang, ia akan datang jika Dave telah masuk terlebih dahulu.


Di sisi lain, Leon merasa bahwa dirinya cukup lama menunggu, hingga ia memutuskan untuk memesan minuman lebih dulu, untuk dirinya dan juga pamannya.


Sesekali pemuda itu melirik kearah luar, dimana sang Paman tengah berada disana. Sampai minumannya datang, namun Pamannya tersebut belum juga kembali. Mendadak ia merasa aneh dan menganggap bahwa Roby menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tidak apa-apa, Leon. Tunggu lima menit lagi," gumamnya sambil mengaduk minumannya. Ia tidak mau terlalu curiga dan berpikir buruk pada pria yang begitu di sayanginya. Jika sampai dalam lima menit pamannya tak kunjung datang, maka dirinyalah yang akan menghampiri.


Hingga, ia melihat sepasang kaki di sampingnya, yang Leon kira adalah pamannya. Seketika ia mendongak, dan mendapati sesosok pria paruh baya yang terbilang cukup muda.


"Apakah kau Leon?" tanya pria tersebut dengan suara serak, bak menahan tangis.


Dengan raut wajah bingungnya, Leon mengangguk. Ia lalu menoleh kearah pintu keluar, tak ada tanda-tanda dari pamannya.


"Leon..." panggilan itu mengalihkan tatapan pemuda tersebut. Tiba-tiba pria asing itu memeluknya, yang membuat Leon merasa tidak nyaman dan lekas melepasnya.


"Aku tidak mengenalmu. Sepertinya kau salah orang!" tukas Leon. Ia bahkan sudah berdiri sambil merapihkan pakaiannya.


"Dia tidak salah, Nak." Seseorang menimpali ucapannya. Akhirnya sang Paman muncul juga.


"Paman, darimana saja? Aku menunggu sedari tadi? Dan siapa pria ini? Beraninya dia memelukku!!"


Roby mengulas senyumnya. Tangannya lalu terangkat untuk membelai kepala Leon dengan sayang.


"Dia... Daddymu yang sebenarnya."


Jduarr!!


Kedua mata Leon seketika berkaca-kaca. Bagaikan tak percaya, ia perlahan berjalan mundur dan menjauhi pria yang di maksud dengan Daddy-nya tersebut.


"Leon..."


"Untuk apa dia datang kemari? Aku tidak pernah menginginkan kehadirannya. Bahkan, selama ini aku tidak pernah bertanya tentang keberadaannya. Tapi kenapa sekarang kau justru membawanya kehadapanku, Paman?"


Hal yang Dave takutkan benar-benar terjadi. Anaknya tidak mampu untuk menerima kehadirannya. Ia justru menjauhinya, tanpa ada niat untuk memeluk tubuhnya atau menyapa, layaknya seorang anak yang merindukan kasih sayang dari ayahnya.


"Leon, jangan seperti itu, Nak!!"


Pemuda itu menggeleng tidak terima, "Aku tidak butuh kehadirannya. Kau sendiri tahu, bahwa selama ini hidupku hanya bersamamu. Tidak ada kehadiran dari seorang ibu, hanya bayangannya yang selalu datang menghampiriku. Lalu, diaa?? Datang kepadaku dengan air mata. Untuk apa? Apa kau pikir dengan air matamu aku bisa luluh? Kemudian dengan begitu aku akan memelukmu? Itukah yang kau inginkan, bukan?"


"Leon, jaga bicaramu!! Bagaimanapun juga dia adalah Daddymu!!"


"Lalu, aku harus apa, Paman? Memeluknya? Kemudian bertanya apa kabarnya? Haruskah aku melakukan itu kepada pria yang tidak bertanggung jawab ini?"


"Oke, fine. Aku rasa tidak ada yang perlu di katakan lagi. Kalau begitu, aku pergi!!" Leon kemudian berbalik. Ia terkejut saat mendapati Sierra di belakangnya, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Wanita itu telah mendengar dan melihat semuanya. Hal tersebut benar-benar mengejutkan dirinya. Awalnya ia hanya ingin menikmati pemandangan di pagi hari setelah mengantar adiknya ke Bandara, namun ia justru mengetahui hal yang tak terduga.


"Benarkah bahwa kau adalah anak dari Paman Dave?"


"Kau... mengenalnya?"


"Dia pamanku!!"


Lagi-lagi Leon mendapatkan kabar yang mengejutkan. Ia lalu mendongakkan kepalanya, untuk menahan emosi sekaligus menahan air matanya agar jangan sampai jatuh.


Tidak mendapatkan jawaban, Sierra segera menghampiri Dave yang tengah menatap Leon dengan tatapan terluka.


"Paman, benarkah jika Leon adalah anakmu?"


Dave tidak langsung menjawabnya. Ia memalingkan wajahnya, kemudian menyumpal mulutnya agar tak menimbulkan suara isakan. Melihat adegan seperti itu di depannya, membuat Sierra bisa menerka sendiri jawaban dari pertanyaannya.


"Siapa dirimu? Wajahmu tampak tidak asing bagiku?" Kini Roby bertanya kepada Sierra.


Lekas wanita itu menghapus jejak air matanya, kemudian ia mengulurkan sebelah tangannya kepada pria tersebut.


"Sierra Kristy Wilson..."


Mendengar kata Wilson di belakang nama Sierra, sontak membuat Roby terkejut. Sangking terkejutnya, ia bahkan membiarkan tangan milik wanita itu menggantung di hadapannya.


"Kau... anak dari Damian dan Angel?"


Sierra menggeleng. Ia menyadari bahwa Roby tidak menerima uluran tangannya, dengan segera ia menurunkan tangannya kembali.


"James dan Vika Williams.."


Mungkin sama-sama terkejut, jadi mereka tidak ada yang mengeluarkan suaranya lagi. Leon yang semula ingin pergi, justru tidak jadi karena merasa penasaran dengan kehidupan Sierra. Jika ia memang anak dari James dan Vika Williams, seharusnya nama belakang wanita tersebut adalah Williams, sesuai dengan kedua orangtuanya. Tapi bagaimana bisa ia malah bermarga Wilson?


"Tapi, bagaimana bisa?" gumam Roby, tapi masih dapat di dengar baik oleh Dave, Sierra maupun dengan Leon.


Sierra tidak ingin menjawabnya, karena hubungannya dengan Noah masih di rahasiakan hingga saat ini. Hanya orang-orang tertentulah yang akan di beritahu oleh dirinya.


"Paman, kau baik-baik saja?" Sierra lebih memilih fokus pada Dave yang nampak lemas. Ia kemudian meminta pria tersebut untuk duduk di salah satu kursi di dekatnya.


"Sebaiknya kita pulang saja."


Dave menggeleng, namun ia tidak mengeluarkan suaranya. Karena untuk saat ini, dirinya tidak sanggup untuk berbicara. Apalagi tatapan kebencian yang putranya berikan, semakin membuat Dave menjadi membungkam.


Sierra menyadari hal itu. Tatapannya lalu beralih kepada pemuda yang tak lain adalah teman satu kelasnya.


"Aku tidak akan heran jika kau mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti seseorang, karena itu memang sifatmu, pendiam dan dingin. Namun sekalinya kau berbicara, ucapanmu itu bisa langsung menusuk lawan bicaramu."


"Sierra, kau tidak tahu apa yang terjadi. Akan lebih baik jika kau diam," timpal Leon dengan tatapan tajamnya.


"See!! Aku baru saja mengatakannya, tapi dengan cepat kau mempraktekkannya. Sudahlah, Paman. Akan lebih baik jika kita pergi!!" Dengan perlahan Sierra membantu Dave untuk berdiri. Keduanya pun meninggalkan cafe tersebut tanpa melirik lagi kearah Leon maupun Roby.


Kecewa, sedih, marah, bercampur satu dalam diri Leon. Ia tidak tahu harus mengatakan apalagi kepada pamannya, sehingga ia memutuskan untuk ikut meninggalkan tempat itu dan pulang sendiri menggunakan taksi.


Roby tidak mencegahnya sama sekali. Ia tahu bahwa Leon ingin menenangkan dirinya dari hal yang membuatnya terkejut. Biarlah pemuda tersebut pergi ke tempat yang ia inginkan, selama itu masih dalam jangkauannya.