
Ponsel yang mati, mengharuskan Alexa untuk berjalan kaki menelusuri trotoar, berharap ada taksi yang akan melintas di dekatnya. Namun seribu sayang, bukannya mendapatkan sebuah taksi, matanya justru melihat sesuatu yang membuatnya kesal.
Di sebuah gang sempit, terdapat Selena, Ashley dan Chloe yang sedang membully seorang wanita. Sementara Davina, lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya, Andrew.
Dari yang Alexa lihat, wanita yang di bully itu memakai seragam yang sama dengan dirinya maupun ketiga pembully tersebut. Sepertinya wanita itu bersekolah di tempat yang sama dengan mereka.
Alexa ingin meninggalkan tempat yang di pijakinya ini dan berusaha untuk mengabaikannya. Namun, tangisan pilu dari wanita yang di bully itu benar-benar menyayat hatinya.
Dia berpikir, bagaimana jika dirinya berada di posisi wanita itu? Sementara tak ada satupun orang yang akan menolongnya.
Alexa menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya secara cepat. Dengan keberanian yang ada, dia melangkahkan kakinya dan menghampiri mereka.
"Lepaskan dia!!"
Melihat ada yang datang, Selena dan kedua temannya langsung menoleh. Mereka tertawa mendengar gertakkan dari Alexa.
"Lihat! Kita kedatangan seorang pahlawan disini!" seru Selena sambil tersenyum miring.
"Kau benar. Apa yang akan dia lakukan dengan seorang diri?" tambah Ashley.
Chloe melepaskan cengkeramannya pada wanita malang tersebut.
"Haruskah aku yang menanganinya?"
Alexa mengepalkan tangannya gugup. Dirinya harus mengendalikan rasa takutnya. Dengan segenap keberaniannya, dia berusaha untuk mengancam ketiga wanita di hadapannya.
"Aku akan menelpon polisi jika kalian tidak ingin melepaskannya." Alexa sudah mengeluarkan ponselnya. Bahkan, dia sudah mencari nomor polisi dan tinggal menekannya saja agar panggilannya terhubung.
"Kau tahu, Alexa? Akan lebih baik jika kau pergi darisini, dan tidak usah ikut campur dalam urusan kami. Jangan sampai kami membuatmu bernasib sama seperti dirinya." Ucapan Selena terdengar seperti ancaman, tapi Alexa tidak akan takut.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu itu. Pergilah, atau aku akan benar-benar menelpon polisi."
Chloe menatapnya tajam, sedetik kemudian dia membuang nafasnya kasar.
"Tidak ada pilihan. Akan lebih baik jika kita mengalah, daripada harus berurusan dengan polisi."
Satu-persatu, Selena and the geng meninggalkan tempat itu. Alexa pun dapat bernafas dengan lega, dia lalu segera menghampiri wanita malang tersebut.
"Kau baik-baik saja?"
Wanita itu mengangguk, "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menolongku."
Alexa tersenyum simpul. Tak sampai lima detik, wajahnya berubah menjadi serius.
"Ada apa sebenarnya? Mengapa mereka mengganggumu?"
"Saat di sekolah tadi, aku tidak sengaja menabrak Selena. Aku sudah meminta maaf kepadanya, tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan mempermasalahkannya hingga membuatku seperti ini." Wanita yang diketahui bernama Sara itu, menangis sesegukan.
Seketika Alexa meresa iba. Dia pun membawa Sara kedalam pelukannya.
"Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja."
"Tapi, bagaimana jika mereka akan melakukan ini lagi kepadaku?"
Sara benar. Tidak menutup kemungkinan bahwa Selena bersama teman-temannya akan mengganggu Sara lagi. Apalagi mereka akan sering bertemu, mengingat bahwa mereka belajar di sekolah yang sama.
"Kau tidak perlu khawatir. Jika memang mereka melakukan ini lagi, kau bisa berteriak meminta tolong, atau mengancam mereka dengan menelpon polisi, seperti yang kulakukan tadi."
"Terima kasih banyak..."
Alexa mengangguk. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Sara dengan senyumannya yang menenangkan.
"Ayo... Aku akan mengantarmu pulang."
Sara hanya bisa mengangguk lemah dan mengikuti langkah Alexa yang menuntunnya. Dirinya benar-benar bersyukur bahwa ada yang membantunya untuk lolos dari Selena dan teman-temannya itu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi kepadanya.
...* * * ...
Kertas demi kertas berhamburan di lantai kamar mereka. Dengusan bahkan gerutuan, tak henti-hentinya keluar dari bibir wanita tersebut.
Sreekk!!
Entah sudah keberapa kalinya Sierra merobek kertas. Sebegitu burukkah lukisannya? Noah yang merasa penasaran, memungut satu kertas itu dan melihatnya.
'Gambar apa ini?' Noah menggelengkan kepalanya melihat isi dari kertas di tangannya yang merusak penglihatan bagi setiap mata yang memandangnya.
Kini dirinya bertanya-tanya, apa yang bisa Sierra lakukan? Tidak adakah suatu pekerjaan yang bisa di lakukannya dengan baik?
Noah pun berinisiatif untuk menghampirinya. Dia berdiri di belakang wanita itu sambil melihat kegiatan yang istrinya lakukan.
"Kau harus lebih banyak latihan dan menggunakan teknik dasar."
Mendengar itu, Sierra jadi memutar bola matanya malas.
"Apa kau tidak lihat? Aku sudah sedari tadi latihan, namun tetap tidak bisa."
"Karena kau belum menggunakan tekniknya, oleh sebab itu, hasilnya jadi terkesan buruk dan tidak memuaskan."
"Aku tahu kenapa kau berbicara seperti itu. Kau ingin merendahkanku lagi? Bukankah begitu?"
"Tidak terpikirkan olehku." Noah mengacuhkan ucapan Sierra. Dia lebih memilih untuk menarik kursi di meja rias dan membawanya ke samping istrinya.
"Apa yang kau lakukan disini? Sebaiknya kau pergi, dan jangan menggangguku!" ketus Sierra. Dia lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Aku tidak berniat untuk mengganggumu. Justru aku disini ingin membantumu."
"Aku tidak butuh bantuanmu."
Noah tersenyum remeh, "Kau yakin?"
"Tentu saja."
Akhirnya Noah mengalah. Bukan! Bukan berarti dia akan pergi meninggalkan Sierra. Dirinya justru ingin menyelesaikan perang dingin yang terjadi di antara mereka.
"Aku tahu jika kau marah kepadaku. Ucapanku yang kasar dan tidak menyenangkan, membuatmu jadi tersinggung. Tapi percayalah, tak sedikitipun niatku untuk menyakitimu. Hanya saja... Aku tidak ingin otakmu terkontaminasi dengan apa yang kau lihat di kamar mandi, seperti yang kau ceritakan kepadaku."
"Tapi kau tidak perlu marah seperti itu kepadaku. Bahkan, kau menilai negatif diriku."
"Maafkan aku, Sierra."
"Aku tidak melihat perbuatan mereka. Aku hanya tahu saat keduanya keluar dari ruangan yang sama, itu saja."
"Aku tahu." Noah mendesah pelan, kemudian meraih tangan Sierra di atas meja.
"Dan kumohon padamu, jika kau di hadapkan dengan hal seperti itu lagi, maka segeralah untuk pergi. Kau mengerti?"
Sierra mengangguk patuh. Noah pun jadi tersenyum lalu mengelus kepalanya lembut.
"Oh iya, jika aku boleh tahu, siapa mereka?"
"Bryan dan Ashley."
Pria itu tersenyum sinis. Dirinya tidak akan heran ataupun terkejut. Bukan hal yang aneh lagi jika kedua pasangan itu berbuat mesum, entah di sekolah maupun di tempat lain. Walaupun keduanya selalu mengatakan bahwa mereka mencintai orang lain (Leon, Alexa), tapi itu tidak membuat mereka untuk meninggalkan kelakuan bejatnya.
"Ada apa, Noah?" tanya Sierra yang menyadari perubahan raut wajah suaminya.
Noah menggeleng, namun masih dengan senyumannya.
"Sini, aku akan membantumu untuk memperbaiki lukisanmu."
Senyum Sierra pun langsung mengembang. Dia buru-buru merapatkan tubuhnya dengan Noah dan mulai memperhatikan gerakan tangan suaminya yang berada di atas kertas.
"Mula-mula...."