
"Kalian berdua sangat cocok, dan aku mendukung itu." Ucapan Alexa yang tiba-tiba, menarik perhatian dari penghuni meja tersebut.
"Alexa..." Sierra memohon melalui tatapannya, agar temannya itu berhenti berbicara yang tidak-tidak.
"Ada apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Sierra lalu melirik Noah, tak ada reaksi sama sekali yang suaminya tunjukkan. Bahkan dengan santainya pria itu menyantap makanannya yang terakhir.
"Kau lebih cocok dengan Bryan," pungkas Leon. Dalam sekejap, raut wajah Alexa berubah menjadi suram.
"Jangan membahas dia. Aku benci mendengar seseorang yang menyebut namanya, walaupun kutahu kau adalah teman terdekatnya."
"Seharusnya kau memberikan kesempatan kepadanya. Siapa tahu dia benar-benar akan berubah."
Sierra menggeleng tegas, menolak ucapan Leon.
"Dia tidak akan pernah berubah. Bermain wanita adalah hobinya. Dan jika Alexa ingin menerimanya kembali, maka dia harus berpikir ribuan kali."
Leon tersenyum sinis, "Kau seperti lebih mengenal Bryan daripada kami."
"Sudahlah. Tolong jangan bahas dia lagi," sahut Alexa dengan wajah memelas.
Akhirnya mereka sama-sama diam. Hingga, keempat orang itu memutuskan untuk pulang. Sebelum meninggalkan cafe, Sierra menatap Noah sejenak. Mereka saling berpandangan, sebelum akhirnya Sierra masuk kedalam mobil Leon. Sementara Alexa bersama dengan Noah di mobil pria tersebut.
Selama di dalam perjalanan, Sierra terdiam sambil melamun menatap keluar jendela. Dia memikirkan suaminya. Dan pertemuan mereka yang tidak di sangka ini.
Perlahan Leon mulai curiga. Melihat sikap antara Noah dan Sierra, dirinya jadi mengerti bahwa ada sesuatu di antara mereka, namun bukan hubungan sebagai saudara.
Apalagi saat tatapan keduanya bertemu, diam-diam Leon memperhatikan mereka. Jikalau Noah dan Sierra memang bersaudara, lalu kenapa keduanya saling diam ketika bertemu?
Kecurigaan Leon semakin besar. Dia ingin mengetahui yang sebenarnya. Dan pelan-pelan dia akan menguak kebenarannya.
...* * * ...
Dave telah tiba di Ravenna. Langsung saja ia memutuskan untuk menuju perumahan elite yang menjadi tempat tinggal Roby yang seperti anak buahnya katakan.
Rumah itu berpagar besi. Namun tak ada satupun penjaga disana, sehingga dengan mudahnya Dave beserta tangan kanannya memasuki pekarangan tersebut.
"Kau yakin jika ini rumahnya?"
"Tentu saja, Tuan," jawab Jayden.
Dengan langkah pelan Dave dan Jayden mendekati pintu utama, kemudian segera mengetuk pintu yang menjulang tinggi itu.
Cukup lama mereka mengetuknya, hingga muncullah seorang pria paruh baya yang membuka pintunya. Pria tersebut mengerutkan keningnya heran, saat mendapati dua pria asing di depan rumahnya.
"Kau siapa? Dan untuk apa kau kemari?"
"Aku ingin menemui Roby."
"Roby? Sepertinya kau salah rumah, Kawan."
"Aku tidak mungkin salah, Tuan. Aku sudah menyelidikinya, bahkan secara tak langsung aku melihat Roby memasuki rumah ini," jelas Jayden.
"Dengarkan aku. Rumah ini adalah milikku. Dan tak ada pria yang bernama Roby disini. Sebaiknya kalian pergi saja, dan cari di tempat lain."
Pria paruh baya itu hendak menutup pintunya, namun Dave dengan cepat menahannya menggunakan sepatunya.
"Jangan menyembunyikan dia dariku!" tukas Dave bernada peringatan.
Pria itu memutar bola matanya malas, "Dengar! Akulah pemilik rumah ini sekarang. Beberapa minggu yang lalu, aku memang membeli rumah ini dari seorang pria. Setahuku namanya bukan Roby. Dia memang sering berkunjung kemari untuk mengambil beberapa barangnya yang ketinggalan."
"Beberapa minggu yang lalu?"
"Hmm... Bisakah kau singkirkan kakimu?"
Dave segera menyingkirkan kakinya yang menghalangi pintu. Pria pemilik rumah inipun langsung menutup pintunya dengan kasar, sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Dave tidak mempermasalahkan itu. Dia menepuk bahu Jayden pelan, kemudian berjalan lebih dulu kearah mobilnya. Jayden lekas mengekori tuannya, dan tak lupa membukakan pintu mobil untuk Dave.
Hembusan nafas lelah keluar dari hidung Dave. Dia memijat pelipisnya sembari terus berpikir bagaimana cara menemukan Roby.
Lelah bercampur kecewa, Ia rasakan sekarang. Lelahnya mencari Roby dan Sherly, dan kecewa saat tidak kunjung menemukan keberadaan mereka.
Dave merenung. Dirinya berharap bahwa ada sebuah keajaiban yang akan datang, dan segera mempertemukannya dengan orang yang dia cari selama ini. Tak henti-hentinya batinnya meminta kepada Tuhan, agar mewujudkan keinginannya itu.
Tiba-tiba suara decitan ban bertemu dengan aspal, memekakkan gendang telinga Dave. Dia bahkan terkejut dengan Jayden yang mengerem secara mendadak.
"Kau sengaja ingin membuatku marah?" hardik Dave.
"Tidak, Tuan. Itu, disana..." Jayden menunjuk seseorang. Dave pun mengikuti arah tunjuknya, dan Bomm!!
Pria yang di carinya, akhirnya muncul juga. Dave tidak akan menyianyiakan kesempatan ini. Dia segera keluar dari mobilnya dan langsung berlari kearah pria tersebut.
Sementara Roby yang menyadari bahwa ada seseorang yang berlari kearahnya, spontan menoleh. Dia terkejut bukan main, sampai-sampai matanya terbelalak. Tidak! Dave tidak boleh menangkapnya.
"Roby, kumohon berhenti!!"
Sayangnya, pria itu tidak mendengarkan ucapannya. Roby terus berlari tak tentu arah, yang penting dia bisa berhasil lolos dari Dave.
Karena ingin membuat Dave berhenti mengejarnya, Roby tak jarang menjatuhkan barang-barang milik orang lain agar menghalangi jalan pria itu.
Tapi, Dave tidak kunjung menyerah. Karena dirinya yakin, setelah bertemu dengannya, Roby pasti akan kembali bersembunyi, namun dia akan memilih tempat yang akan sulit untuk Dave jangkau.
Sampai pada akhirnya, Roby menghentikan langkahnya di sebuah gang sempit.
"Sial!!"
Jayden menghalangi jalannya. Tak segan-segan orang kepercayaan Dave itu menodongkan pistol kearahnya.
"Bagus, Jayden." Dave mengatur nafasnya dulu, kemudian segera mendekati Roby. Begitupun dengan Jayden yang siap siaga agar pria tersebut tidak kabur.
"Dimana Sherly?" tanya Dave to the point, setelah berdiri di hadapaan Roby.
Roby justru tersenyum sarkasme, "Untuk apa kau mencarinya? Bukankah kehidupanmu akan jauh lebih baik tanpa dirinya?"
"Sayangnya tidak. Katakan padaku sekarang, dimana Sherly?"
Mulut Roby masih bungkam, dan enggan untuk menjawabnya. Dia bahkan memasang ancang-ancang untuk melarikan diri.
Jayden yang menyadari gerak-gerik dari pria tersebut, segera maju lalu melumpuhkannya. Dia bahkan memiting kedua tangan Roby agar tidak memiliki niatan lagi untuk kabur.
"Aku tidak ingin melukaimu. Aku hanya ingin tahu, dimana Sherly." Dave masih kekeuh dengan pertanyaannya yang di awal.
"Untuk apa kau mencarinya? Aww..." Roby memekik sakit, saat Jayden dengan sengaja menekan tangannya supaya dia menjawab pertanyaan dari Dave.
"Jangan kau menyakitinya, Jayden."
"Baik, Tuan." Jayden lalu mengendorkan kedua tangannya yang mengunci tangan Roby.
"Begitu sulitkah kau memberitahuku?" Wajah Dave berubah mendung.
"Sangat sulit. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dengan membiarkanmu menemuinya lalu menyakitinya seperti dulu."
"Aku tidak akan melakukan itu. Aku berjanji. Justru aku ingin menebus semuanya, kesalahanku."
"Sudah kubilang, aku tidak akan memberitahumu."
Habis sudah kesabaran Dave. Dia lalu memukul wajah Roby, hingga ujung bibir pria itu mengalami robek.
"Jangan membuatku semakin marah! Kau pasti masih ingat, bukan? Bahwa aku akan terlihat sangat mengerikan jika sudah marah," bentak Dave sambil mencengkeram kerah baju milik Roby.